
"CEPAT NYALAKAN MOBILNYA" Teriak Abraham begitu sampai dihalaman rumahnya
Sang supir yang terkejut mendengar teriakan majikannya semakin terkejut melihat keadaan ketiga majikannya ini namun dia tidak sempat menikmati keterkejutannya untuk menerka-nerka gerangan apa yang terjadi, dia langsung berlari membuka pintu belakang dan berlari kearah kemudi
Abraham menidurkan Clara dibangku belakang, ketika Abraham juga ingin mendudukkan dirinya dibangku belakang dia mendengar suara teriakan sang anak semata wayangnya
"JANGAN SENTUH MAMAKU" Arsen mendorong Abraham untuk menjauh dari bangku belakang dan dia langsung mengambil posisi duduk dan mengambil kepala Clara untuk di pangkunya
Tidak ingin berdebat dengan sang anak akhirnya Abraham memutuskan duduk disamping supir
"Mama... Arsen sangat menyayangi mama" Arsen menundukkan kepalanya dan berbisik ditelinga Clara dengan sangat lirih namun masih mampu didengar Abraham karena dia memang selalu melihat kebelakang
"Mama please wake up, Arsen tidak bisa hidup tanpa mama. please don't leave me..." Arsen menangis sendu dia menggigit bibirnya untuk menahan isakannya
Abraham yang melihat betapa terpukulnya sang anak melihat kondisi ibunya tersebut tanpa bisa ditahan dia ikut meneteskan air matanya tangannya terkepal berusaha menahan diri dia berbalik badan tidak ingin melihat pemandangan yang menyayat hati tersebut
Sementara disebuah gedung pencakar langit seorang pria berdiri dengan memandang foto-foto yang dikirim oleh anak buahnya
"Apa yang terjadi? bukankah kemarin dia membabi buta menghajarku karena mencintai istrinya?"
"Ckkk... dasar pria bodoh" pria tersebut tersenyum miring melihat isi foto-foto tersebut
__ADS_1
Sementara didalam mobil Abraham mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu sahabatnya pemilik rumah sakit yang cukup terkenal
"Halo"
"Alex tolong aku, aku akan tiba dirumah sakitmu tolong persiapkan dokter terbaikmu istriku terluka" Ucap Abraham setelah mendengar suara sahabatnya
"Apa yang terjadi?" tanya pria yang berprofesi sebagai dokter sekaligus pemilik rumah sakit tersebut
"Aku akan menceritakannya nanti" balas Abraham dan menutup telponnya lalu dia menoleh kebelakang
"A-arsen maafkan papa, papa tidak sengaja mendorong mama sayang"
pandangan ayah dan anak ini bertemu, Abraham melihat sudah tidak ada lagi tatapan teduh sang anak, tidak adalagi pandangan polos anak-anak disitu
"Jika terjadi sesuatu kepada mama sampai matipun Arsen tidak akan pernah memaafkan papa" balas Arsen dengan nada dingin
Pandangan mereka terputus ketika supir berkata mereka sudah sampai dirumah sakit, terlihat Alex dan timnya sudah siap dengan brankar pasien. Alex yang hapal mobil sang sahabat berjalan mendekati mobil tersebut
"Abraham apa yang ter... WHAT THE ****!" Maki Alex ketika melihat kondisi istri sahabatnya bukan hanya itu Arsen sianak tampan dan ceria itu juga berlumuran darah
"Bawa brankar itu kemari cepat" Alex berteriak memanggil timnya awalnya dia berpikir Clara hanya terluka ringan namun sahabatnya ini yang berlaku berlebihan
__ADS_1
Setelah memindahkan tubuh tak berdaya Clara ke brankar akhirnya mereka masuk kedalam rumah skait dengan langkah cepat, Abraham yang melihat sang anak ikut berlari akhirnya memutuskan untuk menggendong Arsen. Arsenpun tidak menolak karena dia tidak ingin tertinggal dia ingin selalu mengikuti sang mama
"Tunggulah disini, aku dan dokter terbaik rumah sakit ini akan berusaha sebaik mungkin" Alex menghentikan langkah Abraham yang akan ikut masuk keruang operasi
"Om Alex tolong selamatkan mama Arsen om" Arsen lebih dulu membuka suara
"Tentu" Balas Alex dan dia menggangguk kearah Abraham dan berbalik masuk keruang operasi
Abraham mendudukkan Arsen dibangku ruang tunggu
"Tunggu papa disini, jangan kemana-mana" titah Abraham dan pergi meninggalkan Arsen
Dia berjalan kearah tangga darurat
Ahkkkkkkk
BUG...BUGGG....BUGGG
Abraham berteriak dan meninju dinding ruangan senyap itu hingga kepalan tangannya itu terlihat berdarah
"Apa yang sudah kulakukan..." Abraham menangis ditangga darurat itu, bahkan tubuhnya gemetar dia tidak mampu lagi menahan kesedihannya
__ADS_1