
Disinlah sekarang Abraham disebuah ruang tunggu rumah sakit untuk menunggu istri keduanya, wajahnya tidak menunjukkan rasa panik atau khawatir. Wajahnya konsisten menunjukkan raut dingin dengan tatapan kosong ntah apa yang ada dipikirannya saat ini
Saat sedang dalam lamunannya pintu ruangan tempat sang istri dilakukan tindakan terbuka menunjukkan seorang perawat keluar dengan ekspresi panik
"Selamat siang pak, kemungkinan istri anda akan melahirkan prematur pak. Pendarahannya cukup banyak dan sangat disayangkan istri bapak terlambat dibawa namun syukurlah bayi dalam kandungan ibu masih bisa diselamatkan namun resikonya kita tidak tahu apakah anak bapak akan mampu bertahan nanti karena kondisi janin masih sangat muda" ucap sang perawat panjang lebar untuk menjelaskan kondisi sesungguhnya sang pasien dan pihak rumah sakit butuh persetujuan Abraham untuk melakukan tindakan
"Lakukan yang terbaik untuk wanita tersebut dan bayinya" balas Abraham datar, dia tidak akan pernah mengakui Key adalah istrinya, tidak! hal itu tidak akan Keysha dapatkan.
Sejenak perawat terkejut mendengar perkataan Abraham namun kembali menetralkan raut wajahnya dan kemudian menuntuk Abraham untuk menandatangani surat yang menjelaskan bahwa apapun hasil dari tindakan yang akan dilakukan pihak medis maka keluarga tidak menuntut
Disinilah Abraham berdiri saat ini disebuah ruangan yang menghadap sebuah inkubator dimana seorang bayi yang masih sangat kecil dengan detak jantung yang terlihat menyesakkan dada Abraham, entah bagaimana dia merasa sangat terenyuh bahkan hatinya terasa sangat sakit melihat bayi yang berjenis kelamin perempuan tersebut terlihat seperti sedang berjuang untuk tetap hidup
__ADS_1
"Maafkan daddy" ucap Abraham sendu dan tanpa dia inginkan air matanya jatuh, Abraham menyentuh kaca yang menjadi penghalang antara dirinya dan sang bayi. Abraham menyentuh kaca tersebut seolah menyentuh sang bayi
"Maafkan daddy" ucapnya lagi, lalu Abraham memilih keluar dari ruangan tersebut dan menemui dokter sang bayi
"Selamat siang dok" sapa Abraham ketika dia sudah dipersilahkan masuk keruangan dokter sang bayi
"Selamat siang pak Abraham, ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter tersebut dengan ramah
"Tergantung apa yang ingin bapak lakukan, kalau boleh tahu tindakan apa yang ingin bapak lakukan?" tanya sang dokter
"Sa-saya ingin dokter melakukan tes DNA antara saya dan bayi tersebut dok" ucap Abraham
__ADS_1
Sejenak dokter tersebut terpaku dengan permintaan Abraham, pantas saja Abraham tidak pernah berkata bayi saya atau anak saya sejak tadi ternyata bayi tersebut tidak diakui Abraham
"Baiklah pak, tentu saja bisa dan tidak akan berbahaya kepada sang bayi" balas dokter tersebut mencoba untuk tidak terpengaruh dengan urusan pribadi sang pasien
Abraham tersenyum senang, akhirnya dia memiliki harapan untuk kembali kepada sang istri pertama dan anaknya karena memang Abraham meyakini bayi perempuaan tersebut tidak miliknya walau dia sempat goyah ketika melihat bayi tersebut
"Kira-kira berapa lama hasilnya keluar dok?" tanya Abraham
"dalam 14 hari hasilnya akan keluar pak" jawab dokter tersebut
Abraham menganggukkan kepala tanda mengerti dan setelah tidak ada pertanyaan lagi kepada dokter tersebut Abraham pun berpamitan keluar, dia tidak kembali melihat sang bayi maupun istri keduanya
__ADS_1
Abraham memutuskan pulang sejenak karena dia meraasa tubuhnya sangat lelah, dia butuh mandi dan beristirahat sejenak. Lalu bagaimana dengan Key? dia bahkan tidak tertarik untuk megetahui kondisi wanita tersebut