Aku Dia Bagimu

Aku Dia Bagimu
Bab 78


__ADS_3

Setelah berkendara akhirnya Abraham sampai dirumahnya, Abraham terdiam sebentar didalam mobilnya sambil memandang pintu rumahnya. Dia bingung cara menghadapi Clara, tidak hanya Clara. Sumpah dia bingung caranya membawa dirinya keluar dari masalah yang dihadapinya saat ini


"Huh" Abraham membuang kasar nafasnya lalu keluar dari mobil


Dia memasuki rumahnya dan mendudukkan tubuhnya disofa ruang keluarga


"Tolong bawakan aku air dingin bu" katanya kepada seorang pelayan yang sudah cukup berumur


"Ba-baik tuan" ucap pelayan tersebut gugup, nampak keraguan didalam wajahnya antara memberi tahu tuannya atau tidak akan kepergian nyonya mereka


Namun dia tidak punya cukup keberanian biarlah tuannya tahu sendiri


Setelah bebrapa menit akhirnya pelayan tersebut kembali dengan segelas air dingin lalu dia meletakkan dimeja didepan Abraham


"Silahkan tuan" ucap pelayan tersebut


"Terimakasih bu, apakah istriku masih mengurung diri dikamar Arsen?" tanya Abraham sembari mengambil gelas berisi air dingin tersebut


Mendapat pertanyaan seperti itu membuat si ibu pelayan gugup seketika


Abraham yang melihat raut wajah gugup sang pelayan menjadi bertanya-tanya


"Ada apa?" tanyanya


Namun pelayan tersebut justru semakin gugup


Merasa tidak sabar Abraham meletakkan kasar gelasnya lalu berlari kekamar sang anak, seketika dia berpikir buruk.


Brakkkk


Abraham membuka kasar pintunya namun sang istri tidak ada

__ADS_1


"Sayang" panggilnya dan berjalan kekamar mandi


Namun sama istrinya tidak berada disitu, seketika Abraham berputar arah dan berlari kekamar mereka


Brakkk


Pintu terbuka namun istrinya pun tidak ada dia memeriksa setiap ruangan


Deg


Semua kosong


Detak jantung Abraham sudah seperti jantung pelari maraton, dia berlari kebawah


"Dimana istriku?" teriaknya dari tangga sambil berlari


Hal tersebut membuat seluruh pelayan kaget bukan main


"Tu-tuan nyonya Clara telah pergi" ucap si ibu pelayan yang tua tadi


"Pergi apa maksudmu? kemana istriku pergi ini adalah rumahnya?" tanya Abraham sengit


"Nyo-nyonya ke-keluar dari rumah ini tu-tuan"


"KEMANA?" Teriak Abraham, sumpah dia tidak berpikir bahwa istrinya akan meninggalkannya


Sang pelayan hanya menggeleng


Tiba-tiba Abraham teringat bahwa Clara menitipkan anak mereka kepada orang tuanya, dengan segera Abraham merogoh sakunya dan mengambil ponselnya lalu mendial nomor orang tuanya


"Mami apakah anakku disitu?" Abraham langsung mencecar kepada sang mami begitu panggilannya diterima

__ADS_1


"Abakmu? kenapa mencari anakmu disini?" malah sang mami balik bertanya karena merasa aneh dengan pertanyaan sang anak


"Ja-jadi anakku tidak disitu?" ucap Abraham terbata, jika sang anak tidak disitu menajadi tidak mungkin jika istrinya disitu dan jika anaknya tidak dirumah orang tuanya artinya anaknya pasti bersama istrinya dan itu berarti saat ini dia ditinggalkan oleh anak dan istrinya


"Tidak ada ap..?" tanpa mendengar kalimat selanjutnya dari sang mami Abraham langsung membanting Hp nya hingga hancur berkeping-keping


"Aaaaaaaaaa" teriaknya menggelegar


Dadanya terasa sangat sesak, dia melihat kebetulan yang tidak jauh dari ruang tengah tersebut stick golf nya


Diraihnya stick tersebut dan Abraham mulai membabi buta menghancurkan seisi ruangan, hal itu membuat para pelayan berteriak histeris dan berlari kearah dapur


Mereka takut menjadi sasaran stick golf sang tuan


Pelayan yang lebih tua tersebut menangis melihat tuannya begitu histerisnya, dia sudah mengabdi kepada Abraham sejak dulu dia bekerja dengan orang tua Abraham dan berlanjut dia dipindahkan kerumah Abraham dan Clara begitu kedua insan tersebut menikah


Takut terjadi sesuatu yang buruk pelayan tua tersebut menelpon nomor Gio yang memang sudah dihapalnya


"Halo buk?" jawab Gio yang memang juga menyimpan nomor pelayan Abraham tersebut karena diapun sudah sangat mengenal pelayan tua ini


"Ha-halo nak Gio tolong tuan Abraham" ucapnya terisak


"Apa yang terjadi buk?" tanya Gio panik dan dia yang kebetulan sedang berada diruang kerja dirumahnya bangkit berdiri untuk menuju rumah Abraham


"Kenapa sangat ribut?" tanya Gio ketika mendengar segala teriakan dan barang barang berpecahan


"Hikssss tolong datang nak Gio, tolong selamatkan nak Abraham" isak si ibu pelayan


Tanpa banyak tanya Gio mematikan telepon tersebut dan menuju mobilnya untuk menuju kediaman sang sahabat sekaligus bosnya


Ketika Abraham menyerahkan tugas perusahaan kepada dirinya setahun ini memang mereka sudah jarang bertemu dan Gio pun sedikit menarik diri karena dia tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga sahabatnya tersebut namun dia selalu berdoa agar semua baik-baik saja dan memang selama setahun ini dia merasa tenang akan rumah tangga sang sahabat hingga masuknya telepon yang mengagetkannya

__ADS_1


__ADS_2