
Tidak lama setelah kepulangan Abraham dan Arsen akhirnya Alex keluar dari ruangan operasi yang disambut dengan raut penasaran kedua orang tua Abraham
"Bagaimana keadaan Clara nak Alex?" tanya Anastasya ketika sudah berdiri dihadapan Alex
"Clara sudah melewati masa kritisnya tante om, untuk keadaan selanjutnya menunggu Clara sadar untuk kita observasi apakah ada cidera lain akibat benturan tersebut. Setelah ini Clara akan dipindahkan keruang perawatan" Jawab Alex
"Baiklah nak, terimakasih telah menyelamatkan menantu kami" ucap Bram
Walaupun belum tahu pasti keadaan Clara setidaknya melihat menantunya masih bernafas sudah hal yang melegakan bagi mereka
Saat ini semua orang sudah berada diruang perawatan Clara untuk menanti wanita cantik tersebut membuka natanya
Arsen terlihat berada disamping Clara dengan terus menggenggam tangan sang mama, sementara Abraham hanya mampu duduk disofa yang terdapat diruangan itu karena Arsen tidak mengizinkan pria itu mendekati mamanya
Gio juga berada disitu, dia tersenyum melihat sahabatnya ini yang tidak berkutik oleh anaknya sendiri sebab beberapa menit yang lalu bahkan Arsen sampai mengamuk ketika melihat sang papa yang menggenggam tangan mamanya
"Rasakan, berhati-hatilah ternyata anakmu sepertimu sangat keras kepala dan pendendam" Gio berbisik ditelinga Abraham
__ADS_1
Abraham tidak menanggapi kalimat mengejek Gio, dia hanya fokus kearah istri dan anaknya
"Mama... Arsen sudah disini. mama jangan lama-lama tidurnya ya, i miss you ma" Arsen terus berusaha berbicara kepada Clara berharap sang mama mendengarkan dan segera bangun
"Mama, Arsen sepertinya besok tidak sekolah ya? Arsen tidak bisa meninggalkan mama sendiri disini"
"Mama tidak akan sendiri nak, papa akan menjaga mama disini" Abraham menyambung saja perkataan anaknya
Arsen tidak menggubris perkataan Abraham, karena malam semakin larut Arsen akhirnya naik keranjang Clara yang memang ranjang itu cukup besar
Abraham yang melihat ada kesempatan untuk mendekati istrinya pun dengan perlahan mendekat setelah melihat Arsen sudah terlelap
Dia mendudukkan dirinya dibangku yang sebelumnya diduduki Arsen
"Maafkan aku sayang" Abraham menggenggam tangan Clara dan mengecupinya bertubi-tubi, rasa bersalah itu benar-benar menguasai jiwanya
"Bangunlah sayang, aku janji aku janji bahwa hanya ada kita bertiga sampai akhir. Aku sangat mencintaimu istriku, CUP" Abraham mengecup bibir pucat istrinya, dan dia juga terlelap dengan posisi duduk namun tangannya tetap menggenggam tangan istrinya
__ADS_1
Pagi hari....
Sebelum Arsen bangun Abraham terlebih dulu bangun dan membersihkan diri
"Selamat pagi" terlihat Alex masuk dan beberapa perawat untuk memeriksa keadaan Clara
"Kenapa istriku belum juga sadar? bukankah obat biusnya seharusnya sudah habis?" Tanya Abraham
"Sabarlah mungkin istrimu tidak ingin membuka matanya jika ada kau" Alex berkata dengan nada mengejek, sebenarnya itu candaan agar tidak terlalu larut dalam kesedihan tapi sepertinya Abraham yang sedang di fase sensitif tidak menangkap itu sebagai candaan
Dia menarik kerah jas dokter Alex
"Apa maksudmu? jangan bicara sembarangan atau aku akan menutup rumah sakitmu ini. istriku harus bangun" Abraham berkata dengan nada emosi namun suaranya tetap kecil takut membangunkan anaknya, dia juga tidak mau anaknya melihat lagi dia yang sedang emosi
"ups sorry bro, aku hanya bercanda" Alex menarik perlahan tangan Abraham agar terlepas dari kerah jasnya
"Kau harus bisa megontrol emosimu, jangan sampai Arsen mencontoh dirimu yang emosian itu" tanpa melihat kearah Abraham Alex mencoba memberikan masukan
__ADS_1