
Dari pandangan Abraham dapat Key artikan bahwa Abraham berharap dirinya menjawab Tidak
Melihat tatapan tersebut membuat Key tidak sampai hati untuk menjawab bahwa Bayi itu adalah milik Abraham
“Sebaiknya kita sama sama menunggu hasil tes keluar” jawab Key dan memilih meninggalkan ruangan tersebut
Abraham menatap kepergian Key dengan sejuta kerisauan
Abraham menghembuskan nafasnya kasar lalu memilih keluar dari rumah sakit sekarang tujuannya adalah menemui mantan istrinya
Abraham yakin bahwa Clara pasti ada di butik miliknya, kerinduan ini rasanya sudah tak terbendungnya lagi terlebih setelah bayi yang dikandung Key keluar membuatnya tidak perlu menunggu lama untuk melakukan tes DNA
Setelah berkendara sekitar 45 menit akhirnya Abraham sampai di butik Clara
Abraham belum turun dari mobil dia masih mengamati butik sang mantan dari dalam mobilnya, tak lama terlihat pintu butik terbuka dan menunjukkan dua anak manusia berbeda jenis kelamin keluar dengan beriringan
Melihat keakraban diantara dua manusia tersebut membuat tangan Abraham terkepal erat, bahkan raut wajahnya sudah memerah menandakan bahwa saat ini Abraham sedang sangat emosi
“Kita tidak saling mengenal tapi kenapa kau selalu hadir diantara wanitaku, tidak dahulu tidak sekarang. Dulu mungkin aku memilih mengalah tapi sekarang jangan harap!” Gumam Abraham sembari matanya bak elang yang mengintai musuhnya dengan tajam
__ADS_1
Abraham memutuskan keluar ketika dia merasa sudah tidak sanggup lagi hanya menjadi pengamat
“Ara” panggil Abraham begitu dia keluar dari mobilnya
Deg
Panggilan tersebut membuat Clara dan Zack menoleh, Clara terpaku melihat Abraham berada dihadapannya
Abraham berjalan dengan penuh keangkuhan diwajahnya untuk menunjukkan kepada pria yang disamping sang mantan istri bahwa dia sangatlah tidak sebanding dengan Zack
Clara tidakmelepaskan pandangannya dari Abraham, kerinduan yang dia coba pendam saat ini tiba-tiba menguap ketika melihat sosok yang dia rindukan berada didekatnya
Namun diantara semua kerinduan tersebut tiba-tiba Clara merasa sedih melihat sosok Abraham
Semua itu lenyap, berganti dengan sosok kurus nan tak terurur
“Apakah istri barunya tidak mengurusnya” batin Clara
“Ba-bagaimana kabarmu?” Awalnya Abraham berjalan dengan percaya diri namun setelah berdiri tepat dihadapan Clara seketika dia gugup
__ADS_1
Rasanya rindunya sudah tidak tertahannya lagi, Abraham mengepalkan tangannya erat bahkan dengan sengaja membuat kukunya menancap dikulitnya agar sakit yang dia rasakan membuatnya tetap dalam keadaan sadar. Agar tubuhnya tidak spontan memeluk mantan istrinya tersebut
Clara terpaku melihat Abraham yang berada dihadapannya, dia sudah tidak ingin beradu urat lagi terhadap Abraham. Dia sudah merasa lebih ikhlas sekarang
Clara menyunggingkan senyum manisnya sekilas
“Baik, Arsen juga baik. Namun sayang dia ada kegiatan ekstra disekolah jadi belum bisa pulang” jawab Clara
“Aku tahu” balas Abraham yang memang mengetahui seluruh jadwal sang anak
Clara hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti
“Bisakah kita bicara?” Tanya Abraham
“Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, bukankah semua sudah selesai?” Balas Clara
Abraham menggeleng cepat
“Tidak ada kata selesai antara aku dan kamu Ara, tidak ada!” Tekan Abraham
__ADS_1
Clara menghembuskan nafasnya kasar dan tersenyum miring, dia ingin membalas dengan kalimat sindirannya namun diurungkan karena sudah tidak ingin ada perdebatan lagi diantara mereka
“Baiklah, katakanlah! Apa ini tentang Arsen? Aku sudah membujuknya untuk menemui kamu namun sepertinya dia masih butuh waktu. Maaf aku belum bisa membujuknya” Clara berucap seakan mencoba menjawab hal yang akan dikatakan Abrahm