
Ketika siang hari Abraham membawa makan siang istrinya kekamar mereka
Ceklek
Suara pintu yang terbuka tidak membuat Clara terbangun dari tidurnya, Abraham mendekati ranjang mereka lalu meletakkan nampan berisi makan siang istrinya tersebut
"Sayang bangunlah waktunya makan siang" Ucap Abraham berbisik ditelinga Clara, namun Clara tidak terganggu sama sekali dengan suara tersebut
"Sayang" Abraham mencoba lagi dengan mengecupi pipi istrinya
Clara menggeliat dan membuka matanya dia terkejut melihat wajah Abraham sangat dekat dengan wajahnya
"Apa yang kau lakukan?" tanya Clara dengan ketus
"Waktunya makan siang sayang" Dia sudah biasa dengan reaksi istrinya yang masih belum memaafkannya namun dia akan selalu berusaha memperbaiki segalanya
"Aku belum lapar" jawab Clara dan memejamkan matanya kembali
__ADS_1
"Tapi kau harus makan sayang agar bisa minum obat. Aku suapi ya?" Abraham mengambil mangkok dari nampan diatas meja dan mengambil sesendok bubur lalu dia arahkan kemulut istrinya
"Sayang" Panggil Abraham lagi
CKK
"Kau sangat berisik! bisakah tidak menggangguku?" Clara sudah tidak akan menutupi rasa bencinya lagi kepada suaminya ini, selama dirumah sakit dia berusaha menekan rasa bencinya karena tidak ingin dilihat Arsen dan dia juga cukup mempunyai rasa malu jika sampai perawat melihat bahwa hubungann rumah tangganya tidak baik-baik saja
Abraham melihat tatapan tidak suka dari istrinya tapi sungguh ini adalah waktunya minum obat, Abraham lalu membantu menegakkan duduk istrinya. Clara tidak menolak ketika dibantu untuk sedikit tegak, Abraham tersenyum
Lalu dia mengambil mangkok itu kembali lalu mengambil sesendok meniupnya dan diarahkan kearah mulut istrinya, Clara membuka mulutnya dan menerima suapan itu, hal tersebut membuat senyum Abraham mengembang karena istrinya masih mau mendengar permohonannya untuk makan.
"Ini akibatnya jika kau mengganggu tidurku" Clara tersenyum setelah melihat wajah Abraham penuh bubur dari mulutnya
Abraham mengusap bubur yang kebetulan berada dikedua matanya, Abraham tersenyum dia tidak akan emosi
"Sayang, tidak baik membuang-buang makanan, masih banyak diluar sana yang tidak bisa makan" Abraham tersenyum lalu menjulurkan lidahnya untuk mengambil bubur yang meengenai disekitar bibirnya
__ADS_1
"Ini sangat enak sayang" ucapnya dengan senyum menggoda, Clara yang melihat itu justru dia yang menjadi emosi
"Menyingkirlah kau terlihat menjijikkan dan jangan mengganggu tidurku, aku akan makan ketika sudah lapar tidak perlu kau paksa" Jawab Clara emosi
Abraham tersenyum lalu mengambil beberapa lembar tissue yang berada dimeja lalu membersihkan wajahnya
"Tapi ini sudah waktunya makan obat sayang, sedikit saja ya" Abraham masih mencoba membujuk istrinya yang telah menunjukkan kembali rasa tidak sukanya
"Jika kubilang tidak ya tidak! Apakah selain bajingan yang mencelakai istrinya kau juga seorang yang tuli? berhentilah membuatku mengulang-ulang perkataanku
"Sa-sayang please jangan ungkit-ungkit itu lagi, aku akan berubah sayng menjadi lebih mengutamakan kalian. Kalian adalah nyawaku sayang" Abraham berkata dengan sangat lirih, dia sedih jika ada yang menngingatkan akan kondisi istrinya yang terluka karenanya
"Ck, kau sangat cengeng, berhentilah berperan seolah-olah kau adalah korban, menyebalkan!" Clara benar benar kesal melihat kecengengan suaminya ini
"Baiklah maafkan aku, tetapi kau harus tetap makan sayang, satu suap saja ya?" Abraham masih mencoba mengubah pikiran istrinya
Clara yang emosi lalu menangkis mangkok bubur itu hingga berhamburan kelantai dengan mangkok yang pecah
__ADS_1
Prangggg....
"Inilah akibat jika kau terlalu memaksa untuk dimaafkan" Ucap Clara dingin