
Setelah urusannya dari perusahaan Flower selesai dia melajukan mobil ke cafe sahabat yang bernama Adit. Sejak kecelakaan itu baru kini dia bertemu dengan sahabatnya itu lagi.
" Varo, Loh Alvaro kan? Loh sudah sadar? ", ucap Adit yang tidak percaya bisa bertemu Alvaro lagi. " Kapan Loh sadarnya? "
" Iya ini gue bro, Bagaimana kabar Rendi ? Gue sadar baru kira-kira satu bulan ini ", ucap Alvaro.
" Loh tidak tau keadaan Rendi? Apa orang tua lo tidak mengatakannya? "
"Memang kenapa dengan Rendi?, Ucap Alvaro mengernyitkan keningnya.
" Rendi dinyatakan meninggal menuju ke rumah sakit saat kecelakaan itu! Loh saat itu juga kritis" ucap Adit.
pesanan yang dipesan Alvaro akhirnya datang menghentikan pembicaraan mereka. Sedangkan Asyik menyantap hidangan sayup-sayup terdengar suara perempuan bernyanyi dengan merdu. Lagu yang menggambarkan perasaan Alvaro saat ini.
*Ini salahku
Terlalu memikirkan egoku
Tak mampu buatmu bersanding nyaman dengan ku
Hingga kau pergi tinggalkan aku
Terlambat sudah
Kini kau telah menemukan dia
Seseorang yang mampu membuatmu bahagia
ku ikhlaskan kau bersanding dengan nya
Aku titipkan dia
Lanjutkan perjuangan ku untuknya
Bahagiakan dia, Kau sayangi dia
Seperti ku menyayanginya
__ADS_1
Kan ku ikhlaskan dia
Tak patas ku bersanding dengannya
Kan ku terima dengan lapang dada
Aku bukan jodoh nya*
Sepenggalan lirik itu membuat Alvaro menangis meratapi nasibnya yang sudah mencintai Kiandra. Tapi kini sudah terlambat. Alvaro menatap pada gadis yang sedang bernyanyi di atas panggung itu. Seorang gadis belia yang cantik, tinggi, dan berkulit putih. "Siapa gadis itu?", tanya Alvaro pada Adit sahabatnya.
"Gadis yang mana kamu maksud?", tanya Adit karena sibuk dengan ponselnya dan tidak memperhatikan arah pandangan Alvaro.
"Gadis yang sedang bernyanyi itu?", ucap Alvaro
"Ohh.. itu Lidya, dia bekerja menghibur di cafe ini sampai sore. Dia masih SMA kelas tiga".
"Kenapa loh bertanya tentang dia?".
"Tidak ada, Gue suka saja dengan suaranya".
"Loh bernyanyilah disana. Sudah lama tidak mendengarkan suara loh!".
"Silakan Pak", ucap gadis itu.
"Aku bukan bapak mu! Kapan aku punya anak kayak kamu", ucap Alvaro ketus.
"Sudahlah Varo, jangan berantem disana! Jadi nyanyi nggak nih?", teriak Adit menghentikan perdebatan itu.
"Ini pak gitarnya!", Gadis itu menyerahkan Gitar pada Varo.
"Hai.. Aku temani aku nyanyi disini!", Alvaro segera menahan gadis itu untuk turun.
"Baiklah".ucap gadis itu kembali duduk di samping Alvaro.
"Mau nyanyi lagu apa, Pak?", Ucap gadis itu. Alvaro yang mendengar selalu di panggil Bapak menahan rasa kesalnya.
Alvaro mulai memetik senar gitarnya dan mulai mengeluarkan suara merdunya dan berduel dengan Lidya.
__ADS_1
Pagi telah pergi
Mentari tak bersinar lagi
Ntah sampai kapan ku mengingat
Tentang dirimu
Ku hanya diam
menggenggam menahan sgala kerinduan
memanggil namamu
Disetiap malam
Ingin engkau datang dan hadir
Dimimpiku Rindu
Dan waktu kan menjawab
Pertemuan ku dan dirimu
Hingga sampai kini
Aku masih ada disini
Ku hanya diam
menggenggam menahan sgala kerinduan
Memanggil namamu disetiap malam
Ingin engkau datang dan hadir
Dimimpiku Rindu
__ADS_1
Semua pengunjung cafe bertepuk tangan mendengarkan kolaborasi yang bagus antara Alvaro dan juga Lidya. Setelah menyanyi lagu Alvaro kembali ke meja yang masih ada Adit yang menunggunya.