Aku Menikahi Kekasih Kakak Ku

Aku Menikahi Kekasih Kakak Ku
BAB 45


__ADS_3

Sesuai dengan janji yang telah dibuat oleh Papa Arif. Kini keluarga Alvaro yang di wakilkan papa dan mamanya bertemu dengan orang tua Lidya di sebuah restoran ternama di kota tersebut.


Kini papa Arif, mama Hana sedang menunggu kedatangan pihak keluarga Lidya di sebuah ruangan VVIP. Tidak berselang lama akhirnya papa dan mama Lidya datang. Mereka langsung membahas keinti mengapa mengadakan pertemuan ini.


"Pak Arif, Bapak kenal dengan Lidya anak saya? Ada apa dengannya pak?"


" Eh iya Pak, Maksud kami mengundang bapak dan ibu orang tua Lidya untuk memelamar anak bapak? Apa bapak bersedia?"


"Tentu kami bersedia pak, Apalagi Saras juga menyukai anak pak Arif". Iya ternyata Lidya dan Saras bersaudara seayah dan berlainan ibu.


"Maaf Pak, Saya melamar anak bapak yang bernama Lidya bukannya Saras !",


"Bukannya sebelumnya kita sudah membiarkan tentang Saras dan Alvaro pak? Kenapa bapak malah melamar putri kecil saya yang bernama Lidya? Apalagi Lidya masih sekolah sekarang? Bagaimana dia bisa membina rumah tangga?", ucap papa Lidya heran.


"Benar waktu itu bapak meminta anak saya untuk Saras putri bapak. Tapi saya tidak pernah menyetujui nya kan !"


"Sekarang saya dan juga istri melamar untuk putri bapak yang lain yang bernama Lidya! Apa bapak bersedia?".

__ADS_1


"Saya tidak mengerti?"


"Ma.. tolong Ajak ibu Lidya keluar dulu! Pesan saja ruangan lain. Papa ingin berbicara dengan rekan bisnis papa ini !".


Mama Hana mengajak calon besannya ini meninggalkan ruangan itu dan memilih menghabiskan waktu ke Mall terdekat dari sana. Sementara dalam ruangan VVIP kini hanya tinggal Papa Arif dan Papa Lidya. Papa Arif menceritakan apa yang selama ini dihadapi oleh Lidya ketika Papanya tidak berada di rumah, dan Lidya yang di tuduh mencuri perhiasan istri papa Lidya.


Selama ini Lidya juga mencari kerja part time untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan bagaimana pertemuan Lidya dan Alvaro. Papa Lidya yang mendengar bagaimana keadaan putri selama ini merasa bersalah tidak memperhatikan kondisi putrinya itu.


"Maafkan saya pak, Saya tidak tahu kalau selama ini putri saya tersiksa berada di rumah istri pertama saya".


"Jadi bagaimana pak, Apa bapak menerima lamaran anak saya?"


"Baiklah pak, tapi saya mohon jangan buat Lidya hamil dulu. biar dia selesaikan sekolah SMA dulu".


"Baiklah kalau kita berdua telah sepakat".


Papa Arif segera menghubungi istri untuk masuk lagi dalam ruangan tersebut. Lima belas menit kemudian pintu ruangan terbuka dan masuklah Mama Hanna dan ibu tiri Lidya.

__ADS_1


"Bagaimana Pa, apa kita bisa melamar Lidya?"


"Kami berdua telah sepakat Ma, Tinggal kita menentukan tanggal baiknya saja".


"Tapi mbak, Lidya tidak tinggal bersama sama kami. Bagaimana acara bisa terlaksana kalau pengantinnya tidak ada?", ucap Mama Saras.


"Tenang saja mbak, Lidya ada bersama kami. Tidak baik membiarkan perempuan dan laki-laki tinggal satu atap tanpa ikatan yang jelas".


"Bagaimana kalau dalam minggu ini pak?"


"Apa itu tidak terlalu buru -buru ya?", ucap Mama Saras lagi.


"Ma jangan buru buru begitu? Apa mama lupa kita belum mengadakan acara tunangan lagi? Sebentar lagi juga Kiandra mau melahirkan", ucap Papa Arif mengingatkan.


" Benar saya lupa, begini saja kita mengadakan tunangan anak kita akhir minggu ini dan sekalian kita bahas tanggal baik untuk pernikahan mereka, bagaimana?"


"Menurut saya itu lebih baik. kalau begitu kami permisi dulu bapak dan ibu Arifin.

__ADS_1


__ADS_2