
Namun Kiandra menggeleng, dan berbisik pelan.
"Sepertinya anak kita mau melihat dunia, by!"
"Maksud kamu apa sayang?".
"Sepertinya.. Aku mau melahirkan sayang!!", bisik Kiandra yang sudah merasa sakit dibagian perutnya.
Tapi Arfan justru berteriak dan membuat seluruh orang yang berada disana tambah panik menoleh kepadanya.
"Pa.. tolong urusan acara pesta ini, Aku dan juga Arfan harus membawa Kiandra ke rumah sakit.
Karena situasi sekarang sudah tidak kondusif lagi maka pesta pun dihentikan seketika. Para tamu mulai meninggalkan ballroom hotel tempat acara pertunangan tadi di langsungkan.
Sementara itu Arfan dan juga Alvaro langsung membawa Kiandra masuk dalam mobil. "Hey.. kenapa kamu ikut masuk juga dalam mobil ini? Varo kamu seharusnya melanjutkan acara pertunanganmu?", seru Arfan yang panik dan mendadak menjadi bodoh.
"Arfan.. kalau aku tidak ikut siapa yang akan menyetir mengantar Kiandra ke rumah sakit. Sedangkan kamu pasti sibuk memberi keterangan pada Kiandra", balas Alvaro sinis.
"Ya.. kamu benar, aku sampai lupa akan hal itu. Ayo cepat bawa mobil ini".
"Kak, aku ikut ya?", ucap Lidya yang tiba sudah berada dalam mobil.
"Kamu kenapa ikut, cepat turun!", ucap Alvaro marah.
__ADS_1
"Cepat jalan mobilnya aku sudah tidak kuat, Sakit!"
"Iya sayang, kita akan segera ke rumah sakit", seru Arfan yang duduk di samping istrinya.
"Hey kenapa kamu sibuk melihat kami? Cepat hidupkan mesinnya!", seru Arfan pada Alvaro.
Alvaro segera menyalahkan mesin mobil dan tancap gas meninggalkan halaman parkir hotel menuju rumah sakit dan membiarkan Lidya ikut.
Keluarga Arfan dan juga orang tua Kiandra juga menyusul berbondong-bondong menuju rumah sakit tempat Kiandra akan melakukan persalinan.
Kini Kiandra sudah berada di depan IGD Rumah sakit dan segera diletakkan di atas brangkar pasien. Kiandra segera di masuk keruang penanganan bersalin. Saat mereka sudah sampai di pintu ruangan Arfan dan Alvaro juga ingin ikut menemani proses persalinan Kiandra.
"Maaf Pak, yang harus menemani ibu di dalam hanya suaminya. Diantara bapak berdua siapa suaminya?", ucap perawat itu.
"Akuu", ucap mereka barengan.
"Apa maksudmu Varo? Disini aku suaminya?", ucap Arfan tegas.
"Tapi aku ayah anak itu", bisik Alvaro di telinga Arfan.
"Baik kamu masuklah!!, Tapi nanti izinkan aku mengazani anakku!", bisik Alvaro lagi agar tidak terdengar oleh Lidya.
Arfan memilih masuk dan meninggalkan Alvaro dan Lidya di luar. Lidya yang melihat betapa khawatir Alvaro saat ini. Apalagi tadi Alvaro juga ingin menemani persalinan Kiandra membuat tanda tanya besar di otak Lidya sekarang.
__ADS_1
"Apa seperti itu perhatian kakak ipar pada istri saudaranya?"
"Apa ada hubungan lain di antara mereka?"
Di dalam ruangan Arfan memberi dukungan pada Kiandra untuk melahirkan. "Tarik nafas dalam dalam buk, tahan.. Hembuskan perlahan dan dorong", ucap Dokter
"Lakukan kembali buk", ucap Dokter memberi doktrin pada Kiandra.
Sementara itu Arfan mengelus kepala istri dan membisikkan Takbir, Tahlil, dan Tahmid ke telinga Kiandra.
"Sedikit lagi buk, Kepala anaknya sudah mulai kelihatan buk. Tarik nafas dalam dalam dan keluarkan pelan pelan".
"Aaahhgg", ucap Kiandra panjang.
"Selamat Ibu bapak anaknya laki-laki", ucap dokter kandungan tersebut dan langsung menyerah pada perawat untuk di bersihkan terlebih dahulu.
"Bukankah waktu USG anaknya cewek yang dok? Kenapa yang keluar laki-laki?", ucap Arfan bingung.
"Terkadang prediksi mesin bisa juga salah pak, Semua ketentuan Allah", ucap Dokter itu.
"Silahkan pak, anak sudah bisa di azankan".
Arfan langsung mengazani anak tersebut dan setelah selesai membawa bayi itu kedepan pintu sebentar. "Alvaro sekarang kamu azani anak ini", ucap Arfan.
__ADS_1
Alvaro langsung mengazani anaknya itu sambil meneteskan air matanya. Ada rasa bersalah yang menyelimuti perasaan Alvaro pernah menolak keberadaan anaknya ini.
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya yang memberi masuk bagi Author. Author mau bilang sabar menunggu kelanjutan cerita ini. HP author sedang rusak jadi lama untuk menulisnya.