
Acara pembukaan hotel berjalan dengan lancar. Para tamu undangan sudah mulai meninggalkan aula hotel untuk pulang dan ada juga yang sudah memesan kamar di hotel tersebut. Jadi mereka memilih istirahat di kamar yang telah di pesan.
Alvaro berniat meninggalkan hotel untuk pergi bertemu dengan Adit di sebuah Club malam. "Alvaro kamu mau kemana?kamu tidak istirahat di kamar hotel?", tanya papa Arif.
"Aku ingin keluar sebentar pa! ", ucap Alvaro. Sebenarnya Alvaro ingin menenangkan pikirannya setelah tadi merasakan pergerakan anaknya. Tadi sayang dia tidak bisa leluasa mengelus perut Kiandra tadi.
Sesampainya di club Alvaro langsung menuju meja bartender. Sementara Adit tidak terlihat batang hidungnya dimana. "Mungkin dia bersama wanita sekarang di salah satu kamar", gumam Alvaro dalam hati.
Alvaro memilih keluar dari club tersebut. Dia memilih melajukan mobilnya ke arah rumah dari pada balik ke hotel lagi. Dari kejauhan Alvaro ada wanita yang diganggu dua orang preman.
" T tolong jangan ganggu saya! ", ucap seorang wanita ketakutan. Dia berusaha berlari dari preman itu. Tapi langkah preman itu lebih lebar dan berhasil menangkap wanita itu kembali.
"Mau kemana kamu manis? Temani kami malam ini", sambil menggendong wanita itu.
Bbruukkk
Sebuah pukulan mendarat di punggung salah satu preman itu. Preman lain ikut membantu melawan pria itu. Sementara wanita itu pergi untuk bersembunyi. perkelahian tak bisa dielakkan yang mengakibatkan kedua preman itu babak belur.
pria itu langsung membawa wanita itu ke dalam mobilnya dan pergi dari sana. "Terima kasih Om", ucap wanita itu.
__ADS_1
" Kenapa kamu memangilku Om? Aku bukan suami tante kamu! ", ucap Alvaro. pria yang telah menolong.
" Kamu, gadis yang bernyanyi di cafe Adit kemarin kan? Apa yang kamu lakukan tengah malam begini di jalan? Apa kamu mau menjual diri? ", ucap Alvaro.
Plak
Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi Alvaro. " Om jangan sembarangan Menuduh? ", ucap Lidya. Lidya baru saja pergi dari rumah orang tuanya.
" Sekarang tunjukkan dimana rumah kamu cewek bar bar? ", ucap Alvaro emosi. Sudah ditolong bukan Terima kasih yang didapat malah sebuah tamparan.
" Aku tidak punya rumah! ".
"Aku ikut Om saja! "
"Hai sudah berapa kali aku bilang jangan panggil Om. Namaku Alvaro ".
"Baik Alvaro, Namaku Lidya".
" Berapa umur kamu? Seenaknya panggil Alvaro saja? ".
__ADS_1
" Jadi aku harus panggil apa Om marah? Alvaro juga marah? "
"Panggil Kak Varo! paham tidak! "
"Baik Kak Varo".
Alvaro melajukan mobilnya ke sebuah Arpatemen. Sesampainya di sebuah apartemen mewah milik Alvaro. Lidya melihat Gedung Apartemen yang menjulang tinggi dengan mata yang takjub.
Alvaro mengajak Lidya masuk ke gedung apartemen itu, masuk ke dalam lift dan menekan nomor lantai menuju Arpatemennya. Pintu Apartemen terbuka Lidya yang melihat ruangan yang sangat mewah , Interiornya yang di desain sangat unik sesuai dengan hobi Alvaro yang menyukai seni dan di dalam banyak koleksi miniatur moto GP yang tertata rapi di sebuah lemari pajangan.
"Masuklah", ucap Alvaro dengan ekpresi datarnya.
"Wow, ini koleksinya bagus sekali!", seru Lidya yang ingin menyentuh sebuah motor miniatur.
"Jangan sentuh ! Nanti pada hilang! Kamu duduk saja di sofa itu!", seru Alvaro yang berjalan masuk menuju kamarnya.
"Hai kak Varo, tunggu! Aku lapar ?" seru Lidya menghentikan Alvaro.
"Coba kamu lihat dalam kulkas sana! Apa masih ada stok makanan".
__ADS_1
Lidya berjalan menuju kulkas yang di tunjuk Alvaro tadi. Dalam kulkas hanya ada telur dan sosis. Lidya beralih melihat isi lemari gantung. Disana terdapat beberapa mie . Lidya dengan sigap mengolah Mie tersebut, membuat dua porsi mie rebus.