
"
Ketika kamu peduli dengan apa yang kamu abaikan saat itu, apa yang kamu abaikan terasa benar benar indah"
⏳⏳
El Nevaro semanding, hanya tidak senang dengan orang baru. Hanya tidak mau seseorang tahu akan rahasianya. Dia duduk di kursi, tanpa memperdulikan Arnol, Gandi, Hafis dan Febri yang membicarakannya. Agaknya dia sudah kesal dengan segala omongan orang orang yang membicarakannya dibelakang.
Sambil membaca buku bahasa inggrisnya dia tetap tidak peduli, padahal Arnol sengaja mengencangkan suaranya.
Gadis pengganggunya belum kembali dari perpus, entah apa yang dia lakukan disana. Sejujurnya daripada duduk sebangku dengan Arnol, dia lebih nyaman duduk sebangku dengan gadis itu. Maksudnya bukan dia menyukai, hanya saja ketika dia meminta gadis itu diam, setidaknya dia langsung diam.
Bel masuk berbunyi, miss Ani masuk kedalam kelas dengan membawa tas. Dia adalah guru pelajaran Seni budaya. El tidak terlalu senang dengan mata pelajaran ini. Dia tidak berbakat dalam hal seni.
Ternyata gadis yang ditinggalkan di perpus itu, membawa gitar di belakang miss Ani. Dia tersenyum, sepertinya memang dia gemar tersenyum, entah apapun itu.
"Dengarkan. Hari ini kita akan belajar tentang musik" tukas Miss Ani.
Seni bukan hal ditakuti bagi siswa, bukan seperti matematika yang kalau ujian dadakan akan langsung membuat jiwa merosot. Tidak, semua siswa terlihat biasa saja kecuali El. Lelaki itu berdecak, dia tidak senang dengan seni, tidak bisa bermain alat musik, atu membuat karya karya yang luar biasa.
Miss Ani mencontohkan tangga nada Diantonis dan tangga nada diantonis Mayor.
Mis Ani memberi contoh tangga nada dantonis dengan tujuh buah nada dalam satu oktaf yang teratur. Sedangkan Alriestella dia diberikan tugas Miss Ani untuk mencontohkan tangga nada diantonis mayor.
Al tentu paham, dia berdiri ditengah kelas,
Dia memulai dan mengawali nada dengan Do= C, mempunyai pola interval 1,1,1/2, 1,1,1/2
Mereka bertepuk tangan ,sejenak El mengakui bahwa Al memang pandai bernyanyi, suaranya tadi bahkan mengalun dengan lembut.
Semua siswa bertepuk tangan sambil bersorak, mis Ani ikut bertepuk tangan dengan wajah kagum.
"Baiklah, itu jenis tangga nada, sisanya kalian cari di internet" ujar miss Ani.
"Sekarang miss mau, kalian membuat empat kelompok, boleh campur cewek sama cowok"
Semua siswa masih sibuk menyimak. Tidak untuk El, lelaki itu justru mengeluarkan buku matematika dan mengerjakan soal soal.
"Nanti kalian instrumenkan lagu apa saja, sekarang silahkan kalian bagi kelompok sendiri sendiri"
Miss Ani kembali duduk. Menatap layar laptop dan mengetik. Al yang mendengar perintah miss Ani kontan berlari mengambil pena dan secarik kertas. Dia sudah berdiri sambil berniat menulis nama kelompok yang tentu saja siapapun ingin satu kelompok dengan Al, gadis itu akan membuat nilai seni budaya mereka diatas KKM.
"Eh gue ikut elo Al" ujar Celly yang dari arah depan.
"Enak aja, gak bisa, Alriestella bareng gue" Ivana kontan menghadangi Al dari Celly
__ADS_1
Gadis itu sibuk mencatat, dia langsung menarik nafas
"Jangan ada yang masuki El Nevaro Semanding, dia udah jadi kelompok Allll"
Pekikan dari Al membuat teman sekelasnya berhenti gaduh. Tak terkecuali El, dia mendongak menatap Al yang sibuk mencatat dibelakang punggung Ivana.
"Hey Al, lo ngelupain gue"
Arnol langsung berlari. Merebut kertas Al dan membaca nama yang tercantum di sana.
"Lah, gue gak mau sekelompok sama El, coret aja si El"
Ivana yang ikut membaca nama kelompok yang ditulis Al langsung protes.
"Gak bisa dong, Al sama El kan udah sepaket. Gak bisa dipisahkan" kata Al
"Zat Senyawa kali gak bisa dipisahkan" cela Arnol
"Gak bisa dipisahkan tapi bisa diuraikan" celetuk Febri dari belakang
"E busyet, elo gak masukin gue di kelompok elo Al?" tanya Febri yang baru selesai membaca nama kelompok Al
Al menggeleng dengan tega.
"Jahat banget sih elo, elo lebih milih El ketimbang gue"
"Tu kan si Febri marah, elo sih" Ivana menyalahkan Al
"Kok jadi Al yang salah. Kan kata miss Ani harus empat orang" Al membela diri
"Iya. Makanya elo coret nama si El" tukas Arnol
Al menggeleng dengan tegas, dia melirik El yang justru tampak acuh dengan pembagian tugas kelompok seni budaya.
"Al gak mau. Al sama El itu gak bisa dipisahin"
"Iya, udah kayak Al El Dul tau gak, heran gue"
Arnol melempar kertas kearah wajah Al. Gadis itu berdecak.
"Udah ah, Al mau ngumpul nama kelompoknya dulu"
Dia berjalan kedepan. Memberikan kertas nama kelompok ditumpukan meja miss Ani.
Miss Ani membaca nama satu persatu kelompok, kemudian berdiri dan menulisnya dipapan tulis.
__ADS_1
"Jadi ini nama kelompok yang sudah kalian tentukan sendiri" ujarnya.
"Ingat, tugas ini akan saya nilai setiap pertemuan. Tidak perlu buru buru karena penilain terbaiknya akan diambil bulan depan" miss Ani menarik nafas "jadi setiap pertemuan. Kalian harus ada kemajuan. Lagu boleh kalian memilih sendiri"
Miss Ani melirik jam "ada waktu dua puluh menit, silahkan kalian duduk berdasarkan kelompok dan diskusikan, mau pakel alat musik atau memadukan dengan dance"
Al dengan semangat berdiri, berlari kearah meja El.
"Gandi, minggir, kamu kan bukan kelompok Al"
Gandi yang tengah bermain ponsel melirik. "Lo selalu ngusir gue" protesnya
"Kata miss Ani. Kita harus duduk berdasarkan kelompok, Gandi kelompok berapa?"
Gandi berdiri, menggeretak gigi dengan gemas. Setelah Gandi pergi, Putra yang duduk disebelah Gandi juga pergi bergabung dengan kelompoknya.
Kali ini Al duduk didepan El, menatap lelaki itu yang tengah menyelesaikan soal ke empat.
"Ivana, kamu mau diskusi enggak?" Al berteriak. Sejak dia berjalan kesini, Ivana tidak berniat bangkit sama sekali.
"Kita mau bawain lagu apa?" tanya Al dengan semangat.
"Terserah elo aja Al, kan elo yang lebih pinter soal ini" kata Arnol
El tidak banyak menanggapi diskusi mereka, bahkan dia cenderung cuek. Memilih menyelesaikan soal ketimbang ikut berdebat, alat musik apa yang akan mereka gunakan nantinya.
"Pokoknya gue mau bagian piano aja" decak Arnol
"Gak bisa dong Arnol, kan Al yang mau bagian piano" tukas Al
"Gak mau, gue yang piano"
"Enggak, pokoknya Al"
"Stoppp" Ivana melerai "elo berdua yang capek capek nentuin mau alat musik apa, sedangkan dia sibuk sama pelajaran matematika"
Ivana menyindir El. Lelaki yang disindirnya mendongak. Menatap mata Ivana dengan tajam
"Lo sebenernya niat gak sih diskusi" timpal Arnol.
"Gue gak minta jadi bagian kelompok kalian kan" jawab El tegas.
"Yaudah kalau gitu elo kita coret aja dari kelompok" seloroh Ivana tajam
"Gue juga gak keberatan gak ada elo dikelompok kita" tambah Arnol
__ADS_1
"Fine, gue keluar" jawab El tegas