
Bagaimana aku bisa membuatmu bahagia kalau kerjaanku hanya menyakitimu saja
⏳⏳⏳
El sengaja berangkat lebih awal dibandingkan biasanya, dia juga tidak pergi ke roftof seperti hari hari biasanya.
Dia langsung pergi ke kelas mencari Ivana, tapi dikelasnya hanya ada beberapa teman yang tidak dikenal oleh El. Lalu ada Gandi yang sudah bertompang dagu sambil fokus ke game. Kadang El merasa heran dengan lelaki yang duduknya didepan El itu, setiap hari Gandi selalu menghabiskan waktu untuk bermain game, kadang memang dia tidak keluar kelas, tidak pergi istirahat dan hanya memainkan gamenya.
El menggeser kursi dan duduk, geseran itu sedikit di toleh oleh Gandi tapi lelaki itu tidak mengatakan kalimat sepatah apapun. El duduk, membuka buku apa saja, berharap sebentar lagi Ivana akan datang.
"Goodd morniiiing" itu suara Arnol, lelaki dengan kepedean radius 160 derajat.
El menyapa lelaki yang saat ini melambaikan ke isi kelas.
"Pagi El Nevaro Semanding, anaknya bapak____" Arnol berhenti, dia menggaruk tekuknya karena tidak mengenal nama bapak El
"Lo anaknya bapak siapa El?" Tanya Arnol
El melirik tajam, pertanyaan mengenai siapa papanya, siapa keluarga nya, itu adalah pertanyaan yang tidak pernah disukai oleh El, dan lelaki yang kini berwajah keras itu tidak menyukainya.
"Santai aja dong El" Arnol meletakkan tas di mejanya lalu berjalan meninggalkan kelas. Mungkin menghindari tatapan amukan milik El yang setajam itu.
Tidak lama, Ivana datang dengan wajah cemberut, dia meletakkan tas dan berniat pergi, tapi lebih cepat langkah El yang menyusul kepergian Ivana. Di koridor depan kelasnya El langsung memanggil dengan suara berat khasnya
"Ivana" panggilan itu membuat Ivana menoleh tapi langsung berubah masam begitu tau siapa yang memanggil.
"Gue mau ngomong sama elo" kata El memulai
"Ngomong tinggal ngomong aja" Ivana bersidekap sambil cemberut, tatapan matanya penuh kobar kebencian dan El tidak tahu alasan kenapa Ivana selalu memiliki tatapan seperti itu padanya.
"Lo ada masalah apa sama Al?" Tanya El memasukan tangannya kedalam saku, sebuah kebiasaan.
Ivana memutar mata malas, "udah bertindak jadi pacarnya Al sekarang" cibir Ivana tajam
__ADS_1
"Gue cuman pengen tahu" El ikut emosi mendengar nada bicara Ivana se menyebalkan itu.
"Gue kasih tahu ya El sama elo, urusan gue sama Al biar kita berdua yang nyelesaiin, elo gak usah ikut ikutan!!"
Tahu kalau Ivana tidak akan memberikan jawaban dari apa yang di cari, El menyerah. Terlalu sulit membujuk makhluk bernama wanita di muka bumi ini, apalagi El tidak memiliki kepandaian seperti itu.
"Terserah elo" katanya bergegas pergi ke roftof.
Disana El hanya berdiri memandangi isi sekolahannya dari atas. El selalu suka berada disini, tanpa seseorang yang akan mengacaukannya, melihat bagaimana kehidupan orang orang yang selalu bergerak penuh keramaian, dunia orang orang yang tidak sesepi dunia El.
"Ellll" suara itu mulai terdengar akrab ditelinga El, mulai menyapanya diatas sini setiap lagi.
El menoleh, tanpa berbicara sepatah katapun, tapi dia terus menatap wajah cantik milik Alriestella.
"Tadi Al nyariin El, tapi gak ketemu" Al mendekati El, lalu membuka tasnya dan mengeluarkan kotak bekal
"Mama buatin El nasi goreng, ini spesial Mama yang bikinin" kata Al dengan penuh semangat.
El tidak menjawab, tapi hanya melihat Al begitu semangat mengeluarkan kotak bekal dan membukanya untuk El, tiba tiba El merasa menjadi orang istimewa saat ini. Aneh, istimewa kenapa, apa anak haram ini bisa memiliki perasaan semacam itu.
Perempuan itu menatapnya dengan perasaan terluka, memangnya kenapa, memintanya untuk berhenti memperhatikan El itu sesuatu yang tidak mungkin, Al selalu senang memperhatikan El, Al selalu merasa semangat tiap kali menyiapkan bekal ini, apalagi tiap kali El menyantapnya, Al merasa usahanya selalu dihargai
"Kenapa?" Tanya Al
"Gue cuman gak mau elo repot, lagi pula gue udah sarapan dirumah"
"El gak suka masakan mamanya Al?" Tanya Al sambil bergerak mendekati El
Lelaki bertubuh jangkung dengan wajah dingin itu hanya diam saja tidak menjawab.
Menunggu El menjawab pertanyaannya, membuat Al memegangi kotak bekal dengan perasaan terluka.
"El gak suka sama masakan mamanya Al? " Kali ini nada bicara nya Al menaik, El kaget
__ADS_1
El menoleh dan begitu melihat mata Al sudah basah oleh air mata, hatinya terasa sakit.
"El selalu kayak gitu, El gak pernah ngehargai usahanya Al" Al berteriak kencang, lalu meletakkan kotak bekal dengan asal diatas meja rusak, dia berlarian menuruni roftof
Ditinggalkan Al begitu membuat El merasa bersalah, maksud dia meminta Al berhenti hanya agar Al tidak selalu datang kesekolah siang hari, tidak direpotkan untuk membawakan makanan yang belum tentu selalu dimakan oleh El. Beberapa kali karena El merasa kenyang, El selalu tidak memakannya.
⏳⏳⏳
Al dengan mata basahnya berlari dan menenggelamkan wajahnya. El jahat, El tidak pernah mengerti perasaan Al. Tanpa sengaja Al terisak diatas lipatan tangannya, Al merindukan Ivana, kenapa gadis itu kasar pada dirinya pagi ini, saat mereka bertemu di gerbang sekolah.
Ivana menatapnya dengan tatapan sinis, lalu menolak untuk pergi ke kelas bersama sama. Apa yang telah diperbuat Al hingga Ivana marah padanya begini?
"Be cabe, Lo kenapa pagi pagi udah nangis?" Arnol duduk di kursi Hafidz, meletakkan ponselnya dan menatap rambut Al.
Dari tenggelaman wajahnya diatas lipatan tangan, Al menggelengkan kepalanya
"Lo masih berantem sama Ivana?" Tanya Arnol
Suara langkah seseorang yang mendekati membuat Arnol menoleh, El dengan tisu menyodorkan kearah Al. Lelaki itu berdiri kaku tanpa mengucapkan kalimat apapun.
Arnol menatap keduanya lalu heran.
"Kalian abis berantem ya?" Tanya Arnol ikut campur
El tidak menjawab, Al pun juga hanya menangis sesegukan. El hanya bingung bagaimana caranya membuat seorang perempuan diam, membuatnya berhenti menangis dan memaafkan kesalahan El.
Tisu itu hanya dipandangi oleh El, tisu yang sama sekali tidak disentuh oleh Al, bahkan gadis itu masih setia membisu
"Lo bilang dong El kalau lo disini, hibur dia, apa kek, bilangin kalau Doraemon bakalan datang dan nyelamatin bumi, jangan diem aja" Arnol gemas sendiri dengan interaksi keduanya yang kaku.
Menurutnya El itu manusia paling kaku yang pernah dia temui, mungkin kalau ada rekor "coldest men" Arnol akan memilih El.
Dan sampai isakan Al sedikit mereda, El hanya berdiri kaku tanpa berbuat apa apa, dan itu membuat Arnol gemas sendiri.
__ADS_1
"Astaga, kutu beruang, titisan Berung kutub, elo hibur si Al kek, jangan diem aja kayak manikin" Arnol berdiri sambil memegang kedua tangannya karena gemas
"Untung aja gue dilahirkan jadi cowok, jadi gak mungkin suka sama elo, coba kalo gue dilahirkan jadi cewek, bisa mampus gue" katanya bergegas pergi karena tidak tahan melihat keduanya.