
Kerja tim itu dilakukan bersamaan, bukan satu persatu dan mengandalkan kemampuan per orang
⏳⏳⏳
"Nol bantuin ngapa sih dari pada rebahan mulu disana" Febri yang belum juga berhasil mendirikan tenda akhirnya mengeluh
"Lah kan kemaren Lo udah sepakat mau numpang di kasur pompa gue, asal elo yang bikin tenda" ujar Arnol tanpa beranjak dari kasur pompa yang sudah dipompanya
"Nyesel gue Nol kalo kayak gini ceritanya" dengan kesal Febri memukul mukul pasak dengan palu.
"Santuy aja Feb, tar rubuh tenda mahal gue" Arnol berkomentar lagi sambil mengubah posisi tidurnya, dengan jengkel Febri membanting palu ke samping
"Lo bikin sendiri, gue nebeng tidur tempat Hafiz" ujarnya merajuk
"Lah marah anaknya, woy jan ketularan El dikit dikit marah" Arnol duduk diatas kasur pompa, menatap kepergian Febri kearah tendang Hafiz.
Beberapa tenda memang disediakan dari sekolahan, bagi anak orang kaya yang sering melakukan camping seperti Arnol, lelaki itu memilih membawa tenda sendiri, selain ukurannya luas juga tidak takut jika harus mengganti tenda baru andai tenda yang digunakannya rusak.
Arnol menatap bangunan tenda yang sama sekali belum jadi. Lalu dia merebahkan badannya dan menatap langit.
"Kalo gue sekamar sama El, pasti udah beres, anak itu emang gak bisa bagi porsi di tim, tapi anak itu gak pernah ngandelin orang lain, pasti semua dikerjain dia sendiri, gak kayak Febri yang sukanya ngeluh" Arnol tiba tiba teringat akan El.
Bagaimanapun menurut Arnol, El adalah lelaki yang Simple, dia tidak mau dibuat ribet hanya untuk meminta temannya mengerjakan bagian di tim, kalau El mampu semua bagian akan dilakukannya sendiri. Arnol menyukai lelaki itu, meski lelaki yang duduk disebelahnya terkesan pelit namun El selalu mencontekinya meski harus dipaksa setengah mati oleh Arnol. Ah membayangkan mengenai El entah kenapa Arnol jadi rindu dia.
"Nol" kali ini Hafiz berdiri disebelahnya sambil berkacak pinggang, mantan ketua OSIS yang jabatannya baru dilepas beberapa bulan yang lalu itu menatap Arnol dengan teduh.
"Ye mau ngotbahin gue, iya deh gue udah siap" Arnol duduk menyilangkan kakinya. Lalu meletakkan kedua tangan diatas paha seperti orang yang akan bertapa.
"Lo kan tidur setenda sama Febri, seharusnya elo bareng bareng bikin tendanya jangan nyuruh Febri" nasihat Hafiz sambil memukul bahu Arnol pelan.
"Iya tenang aja" Arnol melirik kearah Febri yang habis mengadu ke Hafiz, dasar cowok tukang ngadu.
"Lo gak bisa kan Feb bikin tenda?" Tanya Arnol yang dijawab dengan gelengan.
Arnol berdiri lalu pergi kearah lokasi kelas lain yang hanya dipisahkan dengan tali rapiah saja.
"Bedulll" Arnol merangkul Gibran temannya dikelas lain.
__ADS_1
"Ngapa lo?" Gibran menoleh nya sambil menyeruput es teh
"Lo mau duit gak? Dua ratus ribu" Arnol mengeluarkan uang seratusan
"Tau aja Lo gue lagi gak ada duit" uang itu di terima Gibran tanpa curiga
"Nah, Lo kan udah nerima duit gue, lo buatin deh gue tenda" Arnol berkacak pinggang sambil menaikan alisnya
"Bangke Lo, gue kira lo cuma cuma ngasih duit gue, ternyata ada buntutnya juga"
Mendengar keluhan Gibran Arnol kontan tertawa. Lelaki itu bahkan sudah bersiap pergi kearah tenda Arnol yang belum selesai sama sekali, bagi anak gunung seperti Gibran, membuat tenda adalah hal yang mudah. Anak penjelajah itu bahkan kakinya lebih gesit dibandingkan Arnol.
⏳⏳⏳
Al hanya tidur tiduran sambil main ponsel didalam tenda, tidak ikut permainan olahraga pantai atau juga ikut mencari kayu bakar untuk persiapan unggun nanti malam. Al hanya bermalas malasan saja didalam tenda.
"Al, keluar deh temen temen manggang ikan" saat mendengar kata makanan Al langsung berdiri dan keluar dari tenda.
Didepan tendanya, Arnol, Hafiz, Gandi, Febri, Kharisma dan Sena tengah membakar ikan dan beberapa makanan laut. Jangan tanya mereka dapat dari mana, tentu saja Arnol yang membelinya dipasar. Anak kota seperti mereka tidak akan mau bersusah payah mencari ikan di pantai atau sungai dekat dengan lokasi camping.
"Udah mateng?" Tanya Al kepada teman temannya
"Nih" Kharisma yang dari tadi mengipasi ikan panggang akhirnya berdiri membawa setusuk ikan untuk Al.
Perempuan itu tersenyum sambil membenarkan kaosnya "he he makasih ya ma"
Ivana baru ikut bergabung sambil membawa selembar kertas yang di sodorkan kearah Hafiz
"Absen kelas Fiz"katanya lalu melirik kearah Al dan Kharisma "Kharisma si bucin nya Al" ledek Ivana
"Kalian kenapa sih gak balikan aja, perasaan camistrinya dapet gitu" Arnol memberi saran ke keduanya
Al hanya mencomot ikan itu lalu berhenti dan menatap kearah Arnol dengan serius.
"Kan Al udah punya El" jawab Al seperti sedang menegaskan kalau dia sudah memiliki pacar, suasana setelah jawaban Al terasa tidak enak.
Secara tidak langsung Kharisma baru saja ditolak melalui pertanyaan orang lain. Dan itu yang paling menyakitkan, belum berjuang sudah tumbang. Seuasana canggung yang datang tiba tiba membuat semua orang disitu merasa tidak enak apalagi Kharisma dengan ekspresi wajah masam.
__ADS_1
"Eh iya tar kegiatan abis ini apa Fiz?" Tanya Ivana mencoba mengalihkan suasana.
"Tar cuman buat tenda soalnya udah sore. Malem nanti api unggun sambil kenalan sama kelas lain" Hafiz selaku ketua tim camping menjawab
"Terus besok ?" Arnol ikut menyambung
"Palingan olahraga per kelas gitu, kalo gak salah sih olahraga tembak tembakan" Hafiz menjedanya "Ada juga penjelajahan alam sama bakti sosial"
"Wah seru tuh, gue bisa nembak orang orang yang gak gue suka" Arnol mengarahkan jari tangan membentuk pistol kearah Febri "Duaar" dan Febri yang baru saja tertembak berlagak seperti tumbang.
"Biadap kau Arnol" ucapnya terjatuh keatas tanah.
Melihat gaya akting Febri yang luar biasa teman temannya kontan bertepuk tangan. Al sudah duduk diatas kayu menatap arah Hafiz yang tengah mengipasi ikan juga Sena yang masih meniup niup ikan kemudian di berikan nya ke Ivana.
"Oh ya Al, si El kemana sih kok gak ikut?" Tanya Hafiz disela dia mengipasi ikan
Al berhenti mengunyah. Menatap api yang membara membakar ikan ikan diatasnya. Tatapan itu jauh berkelana mengikuti El, kemana lelaki itu hingga keukeuh tidak ikut acara camping?.
"Al juga gak tahu" katanya lirih
"Gue kira si El bakalan ikut, soalnya gue udah nempatin posisinya buat jaga di pos ke tiga" kata Hafiz membalikan ikan "Dia kan orangnya datar, cocok lah kalo jaga pos aura ketegasannya bakalan ditakutin temen seangkatan kita" imbuhnya
"Jaga pos?" Ulang Arnol "emangnya ada yang mau ngirim surat?"
Hafiz geleng geleng saat mendengar pertanyaan dari Arnol yang tidak masuk akal itu.
"Itu tar pas malam terkahir ada acara jurit malam" kata Hafiz menjelaskan "Per posnya kan bakal di tungguin" imbuhnya lagi
"Jurit atau parit sih gue kagak ngerti?" Arnol menggaruk kepala dan memakan ikan bakarnya
"Ah susuh jelasinnya, pokoknya ikutin aja lah gimana alurnya nanti" Hafiz berdiri dan meletakkan ikan bakar beserta udang dan makanan lain ke atas piring.
"Nih bagiin ke yang lainnya" kata Hafiz kemudian berjalan pergi.
"Lah dia yang dari tadi ngipasin gak ikut makan?" Tanya Sena sambil berdiri setelah duduk jongkok
"Hafiz itu vegetarian, dia gak makan makanan yang kayak gini" jawab Gandi
__ADS_1
Al hanya diam saja menikmati udara panas yang menerpa wajahnya. Camping ini hanya dilaksanakan dua hari tiga malam, dengan banyak kegiatan. Untuk makan, semuanya catring dalam artian akan ada makanan berbentuk prasmanan di depan tenda panitia.
*note : jangan lupa vote *