
Sahabat terbaik adalah dia yang tetap di sebelahmu tidak penting bagaimana dunia memandangmu
⏳⏳⏳
Kharisma duduk di kelas sambil mengamati arah jendela, melihat Al dan El yang berjalan beriringan. Kenapa Tuhan tidak adil? Kenapa orang yang di benci justru menjadi seseorang yang paling beruntung di dunia ini.
Diam diam Kharisma mengepalkan tangannya, kalau El tidak masuk kerumahnya, mungkin Ela tidak akan menangis setiap malam, melihat penghianatan dari Glori, kalau El tidak masuk kerumah ini, Kharisma tidak akan tertekan setengah mati dan membenci Glori lelaki yang dulu adalah panutannya.
"Ma, ntar kita ada tandingan sama SMA Pelita" kata Sena ikut duduk dimeja dan menatap kearah jendela
"Oke"
"Oh ya,anak anak setuju buat jadiin elo kapten di tim kesebelasan" ujar Sena
Kharisma hanya mengangguk saja, baginya ditunjuk menjadi kapten kesebelasan hal yang biasa. Kharisma sering tiba tiba ditunjuk, mainnya juga bagus, Kharisma adalah juaranya olahraga, hampir semua olahraga lapangan dia geluti, dari futsal, basket, volly, sampai bulutangkis
"Tar sore kan?" Kharisma mempertegas jam pertandingannya
"Yo'i"
Sena sudah keluar karena Kharisma tidak tampak antusias, dia masih terus menatap jendela dimana disana ada El dan Al yang duduk tidak jauh dari taman belakang kelasnya.
Dulu Glori begitu bangga padanya, bangga pada prestasi Kharisma di olahraga, tapi tidak untuk sekarang, semenjak lelaki bernama El Nevaro yang tiba tiba menggunakan marga ayahnya, kebanggaan itu tidak lagi dia dapatkan.
⏳⏳⏳
Al masuk kedalam Kelas dan tidak menemui Ivana, entah kemana perginya sahabat Al itu. El duduk ditempatnya, dia duduk dan mengerjakan tugas seperti biasa, tidak lama, Arnol datang membawa seplastik roti yang diletakkan di meja Al.
"Be, gue kasih roti"
Al nyengir "makasih Arnol, selalu baik deh" puji Al yang langsung membuka plastik berisikan roti dan makanan ringan
"Oh ya, Arnol ngeliat Ivana gak?" Tanya Al tidak lama setelah membuka bungkus roti
"Gak tahu, tadi sih pas jam istirahat dia disini" Arnol mengambil duduk di tempat Febri.
"Lo tahu si Gandi pergi kemana gak?" Tanyanya
Al menggeleng "bukannya Arnol tadi sama Gandi ya?"
Entah kenapa wajah Arnol tidak sesemangat sebelumnya, dia murung, menarik nafas dan membuangnya seperti tengah menyingkirkan beban
"Si Gandi agak beda hari ini" kata Arnol dengan suara lirih
"Kenapa? " Al bersimpati,
__ADS_1
"Entah" Arnol menggeser kursi begitu melihat Ivana melangkah mendekati meja Al.
"Vana, Lo kemana sih, dicariin kembaran elo tuh" tunjuk Arnol kearah Al
Ivana hanya meliriknya sekilas lalu melotot pada Arnol dengan tajam "berhenti manggil gue Vana, nama gue I V A N A" tekan Ivana di namanya
Al terkekeh melihat ekspresi ketakutan yang ditunjukan oleh Arnol.
"Yee gitu aja ngambek" Arnol menyisir rambut "tau ah, Hayati mau nyari Gandi dulu" katanya yang langsung pergi.
Ivana mengambil duduk di tempatnya tanpa sepatah kata, agak aneh untuk Ivana yang biasanya selalu menyapa Al entah dimana pun, mungkin perempuan itu sedang tidak enak badan.
"Ivana mau roti, tadi Arnol yang beliin" tawar Al pada Ivana
Perempuan itu melirik kantong plastik didepannya "gak makasih" kata Ivana cuek
Aneh, perempuan itu belum pernah bertingkah seperti itu, apalagi berkata sejudes dan hampir meninggi seperti tadi
"Ivana marah sama Al?" Tanya Al memepetkan kursinya
Ivana tidak menjawab, dia diam saja, mencoret coret kertasnya dengan asal sampai kertas didepannya itu sobek.
"Ivana bukunya Ivana sobek" Al memperingati, kasihan kan kalau Ivana harus membeli buku tulis
"Terserah gue Al, ini kan buku gue" Ivana berkata seperti itu dengan nada marah
"Ivana, Al kalo ada salah, Al minta maaf" Al mendekati Ivana, mencoba berbicara lebih pelan
"Diem deh Al" bentak Ivana
Tidak lama mis Ani datang ke kelas, dengan gaya cooll sambil membawa buku absen ditangan. Al mengurungkan niatnya untuk menanyakan alasan Ivana bisa sekasar itu padanya.
"Gimana perkembangan latihannya?" Tanya Mis Ani
"Lancar Bu" jawab sekelas dengan kompak
Al tidak fokus mendengarkan penjelasan mis Ani mengenai cover lagu kebangsaan yang baru saja terputar, dia lebih fokus pada Ivana yang Hanya diam saja.
Apa Ivana ada masalah di rumahnya? Atau dengan orang lain.
"Baik, mis harap kalian akan menampilkan lagu paling bagus di akhir semester besok" kata mis Ani "sekarang mis kasih kalian waktu untuk latihan per kelompok, tapi ingat" nada mis Ani berhenti "jangan bikin gaduh kalau latihan diluar. Hargai kelas Lain yang sedang belajar"
Arnol sudah berdiri dan mengajak kelompoknya untuk latihan di luar, menghirup udara luar dan tentu saja bisa melihat adik kelas nya yang cantik cantik. El mengikuti Arnol dari belakang, disusul Ivana yang dengan sewot bahkan meninggalkan Alriestella.
Diluar, Al hanya duduk sambil mengamati sikap Ivana yang mendiami nya. Tidak berselera melakukan rutinitas bucinnya, bahkan dia tidak menanyakan kabar pacarannya atau menyapa El yang di anggurkan sedari tadi.
__ADS_1
"Gue pinjem gitar bentar ya " Arnol berdiri, berjalan ke kelompok Febri yang teman sekelompok nya membawa dua gitar.
Setelah mendapatkannya Arnol kembali duduk disebelah Al, dia memberikan gitar itu yang hanya diterima tanpa semangat.
"Be, ayo dong semangat, objek bucin elo udah disini nih" komentar Arnol saat melihat tampang kusut Al.
Sebenarnya Al bukan tidak semangat karena El, tapi karena didiami secara mendadak oleh Ivana. Tanpa tahu kesalahannya tiba tiba keadaan terasa canggung.
Al menerima dan mengatur senar dengan lagu yang akan di nyanyikan
"Jadi kita bawain lagu yang kemarin?" Tanya Al kepada Arnol
"Jadi dong"
Al memulai menggenjreng gitarnya, masih menatap kearah Ivana yang diam cemberut.
"Lagu apa?" El yang notabennya pendiam tiba tiba bersuara, menanyakan lagu apa yang akan dibawakan Kelompoknya
Sebenarnya juga El tidak begitu peduli dengan kelompok ini, tapi dia memperdulikan Al yang sepertinya sedang ada masalah dengan Ivana.
"Gabungin lagu lagu lawas" jawab Arnol yang sudah mencari lirik di Google
"Ayok mulai"
Keadaan seketika hening, Al tidak memetik gitarnya, dia menunduk, mencengkram gitar dengan kuat.
"Maaf Ivana" kata Al lirih
Keadaan di kelompoknya entah kenapa jadi terasa aneh, Arnol mengelus tekuknya saat merasakan atmosfer canggung, saat dia baru menyadari keanehan dari kedua sahabatnya itu
"Lo lagi ada masalah sama Al?" Tanya Arnol hati hati, melihat Ivana yang diam cemberut begitu jadi mengingatkan Arnol pada macam betina.
Ivana masih diam tanpa menyahuti, dan Al malah menangis sesegukan. El menarik nafas, bersidekap, menatap kedua orang yang terasa lebay untuknya ini , bahkan menjadikan dirinya tidak nyaman duduk dan menyaksikan dua orang bersahabat tengah bertengkar.
"Lo ada masalah apa Al?" Tanya Arnol yang tidak mendapatkan jawaban dari Ivana.
Al menggeleng karena memang tidak tahu, Ivana masih saja diam membisu, seperti mulutnya benar benar terkunci rapat.
"Lo gak kasihan ngeliat temen Lo nangis?" El angkat suara, tidak tega melihat Al yang biasanya ceria jadi menangis seperti ini.
"Gak usah ikut campur!!" suara Ivana justru meninggi.
Al mendongak "Al ada salah apa sama Ivana?, kalau Al ada salah Al minta maaf" kata Al dengan suara tersedat sedat
"Lo ada masalah sama gue?" Tanya El pada Ivana
__ADS_1
El tahu, kalau sejak awal Ivana tidak menyukai dirinya bahkan tidak suka akan kabar Al dan El yang berpacaran, apa marahnya Ivana ini karena dirinya?
"Bagus kalo Lo sadar" Ivana bangkit dan masuk kelas.