AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Enam Puluh Delapan


__ADS_3

Bahkan ketika orang lain menganggap aku tidak berarti aku ingin sahabatku selalu mau berdiri disebelahku


⏳⏳⏳


Al masih berdiri diatas gerimis hujan. Dia menatap arah depan, dibelakangnya sudah berbunyi klakson yang seolah memaki untuk Al segera pergi, tapi Al tidak beranjak.


"Al Lo ngapain sih hujan hujanan" Kharisma datang membawa payung yang dia dapat dari dalam.


Al tidak menjawab, menatap dengan sayu seolah dia merasa El sudah pergi.


"El pergi" katanya lirih yang hampir ditelan suara rintikan hujan.


"Udah biarin, masuk dulu, badan elo udah basah" katanya


Al menggeleng, matanya sudah berkaca-kaca, dia menatap wajah Kharisma yang tengah menatapnya.


"El pergi, gak tahu dia kemana" kali ini kalimat itu di ikuti dengan tangis.


"Pergi kemana, dia pasti pulang kerumah gue" Kharisma menarik Al ke depan teras rumah Bianca. Lelaki yang berdiri tegap itu lantas masuk kedalam meninggalkan Al sedirian didepan kelas.


"Astgaaaa Al, kenapa elo bisa basah" Ivana dari pintu belakang lantas terkejut melihat Al sudah basah, apalagi matanya terlihat sembab.


"Lap dulu" Kharisma datang membawa handuk dan mengelap wajah serta rambut Al "kenapa sih elo selalu ngelakuin hal yang bikin diri elo sendiri terluka cuman buat orang lain?"


Al sesegukan "El kayaknya bener bener ninggalin Al" katanya dengan isakan.


"Please deh Al, Lo udah sadar beberapa hari dan sekarang mau balik jadi bucinnya El?" Ivana memutar bola mata dengan malas.


Al menatap Ivana, matanya yang basah langsung diseka dengan kasar.


"Dia itu cowok yang cuman bisa nyakitin elo, kenapa sih elo masih bela belain buat ngejar dia" nada suara Ivana Menaik


"Ivanaaa" kali ini Al hampir memekik "Ivana kan sahabatnya Al, seharusnya Ivana dukung sama apa yang Al pilih"


"Dan pilihan elo yang bikin elo sakit, itu yang elo sebut pilihan" Ivana dan Al saling pandang "sahabat mana yang rela ngeliat sahabatnya ngemis ngemis cinta buat cowok brengsek kayak dia"


"El gak brengsek" mereka berdua adu mulut.

__ADS_1


Ivana terlalu kesal dengan watak Al yang sulit untuk di nasihati, menurutnya Al egois, dia hanya mementingkan hatinya sendiri, pilihannya yang justru membuat Al menderita. Sedangkan Al, perempuan ber dres merah itu mempercayai apapun pilihannya.


"Gak brengsek kata elo? Cowok kalo udah berani kasar ke cewek namanya apa kalo bukan brengsek?" Ivana ngotot "******** atau biadab?"


Al lantas memandang Ivana dengan kesal.


"Ivana ternyata bukan sahabatnya Al" katanya "Kalo Ivana ngaku sahabatnya Al seharusnya Ivana itu selalu dukung bukan ngehalangi kayak gini, El emang kasar tapi itu dulu" Al berteriak "Ivana gak tahu kan gimana baiknya El ke Al?" Al langsung berlarian menerjang hujan.


"Alll" Kharisma berteriak mengejarnya dan ikut terguyur air hujan, Kharisma berusaha mengejar lalu menarik tangan Al hingga perempuan itu menoleh nya.


"Lo mau kemana?" Tanya Kharisma yang sudah basah kuyup


"Nyariin El"


"Lo gila ya" suara Kharisma benar benar keras "Dia aja gak perduli sama elo, dia udah ninggalin elo dan sekarang elo mau nyari dia"


"El gak ninggalin Al" Al masih keukuh


"Sadar Al, dia itu gak pernah cinta sama gue, berapa kali gue harus ngomong soal ini"


Al menangis sesegukan hingga matanya memerah, dia menunduk, terjatuh keatas jalan raya sambil tersedu sedu. Kenapa El begitu kejam pada dirinya, kenapa hanya dia yang begitu mencintai setulus hati?


"Sudah lama Al kita tidak bertemu dan kamu masih cantik seperti dulu" katanya


"Ayo terus jalan" titah lelaki itu pada supir yang perlahan menaikan kaca mobil


⏳⏳⏳


El membawa motornya begitu keras, sudahlah dunianya sudah berkahir sekarang. Meski tubuhnya dibasahi oleh air hujan tapi dia tetap membawa motornya secepat kilat, membawa tanpa menghiraukan apapun lagi.


Mungkin sudah beberapa jam yang dia habiskan dengan naik motor yang dibelikan Glori, hingga dia sampai di gedung tua, ya lagi lagi gedung tua adalah gedung sebagai tempat markas petinju jalanan.


Di Pintu utama, sebuah anjing menggonggong menyambut kedatangan El, lelaki berjaket hitam itu membuka jaket yang sudah basah, lalu berjalan dan menemui dua laki laki bertubuh kekar yang sedang menjaga tangga masuk.


"Gue El" kata El lirih


"Ngapain lo disini?" Salah satu lelaki yang memegang anjing hitam teratai itu menatap El dengan sengit.

__ADS_1


"Nyari bang Ibnu, mau ngelunasi hutang"


Mendengar itu lelaki yang memegang anjing tertawa, seperti kalimat El adalah lelucon di panggung lawakan.


"Sampe mati Lo gak akan bisa ngelunasi hutang" kata lelaki itu "Bukain bro" meski begitu lelaki yang baru saja menertawainya meminta temannya membuka pintu.


El lantas masuk tanpa menghiraukan makian dua orang penjaga tangga itu, biarlah, orang orang berhak memakinya. Dia terus menapaki tangga hingga berada didalam ruangan yang luas, banyak laki laki bertubuh kekar berada disini, laki laki yang dengan iris mata memandanginya seperti sedang menemukan mangsa baru.


"Bos ada tamu" ujar salah satu diantara mereka


Ibnu yang sedang duduk di kursi megah milik nya menoleh kebelakang dan terseringai kecut melihat kedatangan El tanpa ekspresi.


"Waoooww ada petinju legendaris" Ibnu bertepuk tangan dan mendekati El.


"Ngapain lo disini?" Nada bicara Ibnu langsung berubah, apalagi kini Ibnu menekan tengkuk leher El begitu keras.


"Gue mau ngelunasi hutang"


"Heh" Ibnu tertawa "Pakek apa?" Dia memiringkan kepala "orang miskin kayak elo gak pantas ngereceh kayak gitu" Ibnu menekan tengkuk El.


"Gue mau jadi petinju legendaris yang Lo bilang tadi, disini" El menunjuk lantai "Di Surabaya, sebagai petinju elo"


Ibnu terdiam, dia tersenyum menatap El, kemudian berjalan kemeja utamanya dan menuangkan alkohol kedalam gelas. Memutar mutar gelas itu dan meneguknya.


"Hajar broo" perintah Ibnu ke anak buahnya.


Semua yang disana seperti para anjing yang siap merobek robek kulit El, mereka memasang kuda kuda. Sedangkan El, lelaki itu memasang kuda kuda pertahanan, memutar bola mata selincah mungkin. Bagaimana mungkin enam orang bertubuh kekar melawan satu orang bertubuh kecil seperti El?.


"Hiaa" teriakan dari salah satu petinju Ibnu mengawali penyerangan terhadap El.


Tinjuan, tendangan semuanya didapatkan El, namun lelaki itu tetap bisa melawan meskipun tanpa pendukung sama sekali. Satu orang dibelakangnya menendang di bagian punggung lalu didepannya lagi menendang  di bagian perut.


El kewalahan tapi dia tidak menyerah, El memukul petinju yang lain, menendang di bagian pergelangan kaki, siku siku bahkan meninju di bagian mata.


Tidak ada peraturan untuk permainan macam ini, jenis permainan yang sangat berbeda dengan dirinya bermain diatas ring.


Bugh

__ADS_1


Satu orang petinju memukul tekuknya dengan kayu, El terjatuh ke atas lantai, bersama dengan itu dia melihat Ibnu tertawa menyeringai.


Mata El perlahan lahan tertutup, sangat tertutup hingga hanya kegelapan yang dia temui, dan bayangan Al yang tersenyum padanya perlahan lahan mulai jelas, semakin jelas lalu menghilang dan menyisahkan kegelapan saja.


__ADS_2