
Orang lain lebih mampu membahagiakan mu sedangkan aku?
⏳⏳⏳
Bahkan selama pertandingan dimulai, Al hanya menggesekan sepatunya, dia ingin pulang dan mencari El, sungguh, dia tidak senang berada di barisan tribun penonton sepak bola seperti ini. Ivana dan Arnol berteriak kencang, dia meneriaki Kharisma dengan Sena yang sedang oper operan bola
"Gollllll" begitu suara mc sepak bola meneriaki saat Kharisma mencetak go di gawang lawan
Ivana berdiri beserta Arnol yang dengan semangat menepuki aksi mereka dilapangan hijau. Diam diam, Al hanya mendegus, kalau dia punya pilihan mungkin dia akan pergi, kemanapun asal tidak disini.
"Gila Kharisma keren ya?" Ivana berkata dengan kencang didekat telinganya Al
Dan Al hanya bisa mengangguk pasrah tanpa mampu menolaknya. Arnol yang masih semangat terus berdiri, bersiul kearah keduanya.
"Mas, duduk woy, kita juga pengen nonton" barisan belakang seperti kesal dengan Arnol yang masih berdiri
"Maaf" kata Arnol langsung duduk
"Elo sih" Ivana menyalahkan.
Berkali kali yang menarik perhatian Al adalah sepatu Kets nya yang sengaja dia gesek gesek. Al tidak suka pertandingan seperti ini, apalagi itu dilakukan oleh orang lain dan bukan El.
"Ivana, masih lama ya?" Tanya Al yang sudah jenuh dengan pertandingan
"Gue gak tahu" jawab Ivana masih tertawa "Nol masih lama?" Ivana balik bertanya pada Arnol
"Apa mang Fatah jualan duren?"
Asli gak nyambung, Ivana geram dan menimpuk kepala Arnol dengan air mineralnya.
"Sakit bego" cicit Arnol "tinggal Lima menit lagi" kata Arnol
"Lima menit lagi Al" Ivana kembali menjawab pertanyaan Al yang tadi sempat digantungkan.
Al menarik nafas lega, setidaknya dia tidak perlu duduk disini lebih lama lagi. Begitu bunyi peluit dua kali yang mengakhiri permainan, Al langsung berdiri dengan tas ransel dan berniat pergi.
"Mau kemana Al?" Tanya Ivana
"Mau pulang, kan pertandingannya udah selesai" jawab Al dengan polos
"Ihh sini dulu" Ivana menarik tas ransel Al sehingga gadis itu kembali duduk disebelahnya.
"Kan kita tadi berangkatnya berlima jadi pulangnya juga harus berlima" tukas Ivana.
__ADS_1
"Tapi kan Al pengen pulang Ivana" Al merengek, dia sudah tidak tahan duduk disini.
"Bentar aja, kita tunggu Sena sama Kharisma" kata Ivana
Beberapa siswa siswi dari SMA Mesma juga ikut menonton, ada yang berbisik bisik membicarakan mengenai pesona Kharisma saat main, ada juga yang tengah membicarakan pesona Sena. Intinya di barisan tribun yang diduduki Al, semuanya tengah membahas mengenai para pemain dari sekolahnya.
Kharisma dengan handuk yang menempel di rambut berjalan, sambil mengelap rambut basah yang disiram dengan air, dia berjalan kearah Al.
"Kak Kharisma tadi kakak keren banget" puji salah satu siswa dibarisan tribun depan.
Kharisma hanya tersenyum "thanks" katanya terus melanjutkan langkah
Begitu berada didepan Al, Kharisma menoleh ke arah dua siswa yang ada disebelah Al, lalu tersenyum kearahnya
"Boleh ikut gabung duduk gak?" Tanya Kharisma pada dua siswa yang tidak dikenali
Mereka berdua yang diusir halus saling pandang, lalu mengangguk dan pergi. Begitu tempat duduk disebelah Al kosong, Kharisma langsung mengisinya
"Giman main gue tadi?" Tanya Kharisma
Al hanya menatap arah depan, menatap beberapa siswa siswi yang sedang berbisik membicarakan mereka berdua
"Bagus kok, selamat ya Kharisma atas kemenangannya" kata Al sambil menatap wajah Kharisma "ngomong ngomong Al boleh pulang sekarang gak?, Al udah pengen pulang" kata Al selanjutnya yang membuat alis Kharisma terangkat
"Gak tahu nih si Al, perasan dari tadi mau pulang mulu" timpal Arnol sambil memakan ciki nya
"Abis Al gak terlalu suka sama bola" jawab Al jujur sambil tersenyum
"Gak suka bola atau gak suka sama yang mainnya" cicit Ivana
Mendengar itu Al tidak lagi menjawab dia langsung duduk dengan lemas. Menjawab kalimat Ivana hanya akan membuat mereka berkelahi lagi. Tidak lama Sena datang kearah mereka, dengan membawa empat buah botoh mineral dan disodorkan ke temannya satu persatu.
"Boleh pulang Ma, jadwal latihannya nanti di share di grup sama pak Bambang" kata Sena kepada Kharisma
Kapten kesebelasan yang baru saja terpilih itu mengangguk
"Kalau gitu elo boleh pulang Al, tapi dengan satu syarat, harus gue yang nganter" kata Kharisma kepada Al
"Eh gimana kalau kita nongkrong dirumahnya Al" celetuk Ivana
Al melongo, kenapa harus nongkrong di rumahnya, kenapa tidak dirumah Kharisma, Sena atau yang lainnya?
"Tapi papa Al kan belum pulang kerja" Al mencoba mencari alasan untuk menolak mereka
__ADS_1
"Kan bokap elo gak pernah marah kalau kita main" ujar Arnol yang sepertinya setuju dengan ide Ivana
"Kuy lah, kebetulan gue juga males balik kerumah" Sena langsung menuruni tribun untuk mengambil tas
Sedangkan Al, dia mengutuk ide Ivana yang tidak tepat waktu, kenapa mesti sekarang, disaat dia ingin segera pulang dan mendatangi tempat latihan tinju El.
⏳⏳⏳
Ibnu langsung pulang beserta beberapa petinju yang sudah di adu dengan petinju Ginanjar. El duduk di kursi sambil mengatur nafas. Dipukul habis habisan oleh lima orang membuat badannya terasa sakit.
"El, maaf" Erik yang sudah membawa tas ransel menatap El sekilas lalu berjalan pergi begitu saja.
El tidak marah dengan lelaki itu, wajar untuk petinju menuruti perintah Ibnu, orang yang menyokong para petinju jalanan untuk bisa berlatih dan bermain di ring tanpa dipungut biaya.
Suara kursi bergerak membuat El menoleh, Ginanjar memberikan kotak obat kepada El.
"Lo obati luka elo" kata Ginanjar dengan perasaan bersalah.
"Gue boleh nginep disini gak bang?" Tanya El kepada Ginanjar
Lelaki yang ditanya langsung menoleh, menatap wajah babak belur El yang rasanya tidak mungkin pulang kerumah dengan kondisi seperti ini.
"Gak boleh" kata Ginanjar "Lo bolehnya nginep dirumah gue"
"Gak usah bang, gue takut ngerepotin" kata El
"Apa sih El, Lo tu murid gue, udah jadi tugas gue buat ngelindungin elo" kata Ginanjar "karena gue, elo jadi kayak gini" terusnya
"Makasih bang" El menunduk
Ginanjar memukul pelan tekuk El lalu berdiri dan berdehem. Menatap lelaki yang dingin itu masih saja terlihat santai ditengah kondisinya seperti ini membuat Ginanjar merasa iba
"Yaudah yuk cabut, obati luka elo di kostan gue" kata Ginanjar
El mendongak, tersenyum dengan perih "Gue masih pengen nemuin orang dulu bang" kata El
"Yaudah gue balik duluan, Lo tahukan kostan gue dimana?" Tanya Ginanjar yang hanya diangguki oleh El.
⏳⏳⏳
Di keadaan El seperti ini dia teringat akan Al, gadis itu pasti sedang mencemaskannya yang pergi begitu saja. Didepan rumah Al, El hanya bisa berdiri memaku, apalagi mendengar suara tawa dari ruang tamu.
Ada mobil milik mama tirinya terparkir didepan rumah Al, itu artinya mereka sedang bersama. Dengan keadaan lemas El memilih pergi saja, dia tidak ingin mengganggu kebahagiaan Al saat ini. Lagipula kehadirannya dihidup Al selalu membuat gadis itu menangis. Sedangkan orang lain mampu membahagiakan Al.
__ADS_1