AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Lima Puluh Dua


__ADS_3

Obsesi bukan bagian dari perasaan, obsesi ada hanya karena penciptaan dari gensi yang menyamar menjadi cinta


⏳⏳⏳


El duduk di halte bus, menunggu jemputan bus yang akan membawanya ke Jakarta. Namun selama menunggu bus itu datang, dia membayangkan kenangan kenangannya di Surabaya.


Bus datang beberapa menit setelah bayangan mengenai dirinya lenyap, mengenai El saat duduk di SMA dan dengan ke sendirian. El naik keatas bus dan kembali tertidur, memejamkan mata untuk kembali ke Jakarta.


⏳⏳⏳


Sekitar pukul tujuh malam El baru saja sampai didepan rumah, tangan El tergantung diknop pintu, saat suara debat dari Glori dan Ella terdengar, El menghentikan langkahnya untuk mendorong knop pintu. Dia berdiri didepannya, dengan setia mendengarkan setiap kata yang di ucapkan oleh Glori dan Ela.


"Kalau dari awal kamu gak pacaran sama Eviana, El gak mungkin ada" ujar Ela dengan nada suara yang tinggi


"Jaga bicaramu, bahkan aku gak pernah tahu kalau Eviana selama ini mengandung anak ku, kalau saja aku tahu dari awal mungkin___" Glori menghentikan ucapannya


"Mungkin apa? Kamu mau menikahinya?" Tanya Ela dengan suara isakan diakhir kata "apa gak cukup selama ini kamu nyakitin aku, kamu selingkuh sama perempuan di luar sana, apa gak cukup Glori?" Ela benar benar menangis


"Itu semua karena kesalahanmu, kamu gak pernah bisa bikin rumah ini nyaman untukku" elak Glori tidak mau disalahkan atas kelakuannya "Toh juga El sudah besar"


El menggenggam tangannya, kalimat toh El sudah besar membuatnya marah. Apa kalau El masih kecil Glori akan kembali membuangnya, apa tidak cukupkah Glori membuat Eviana dan El menderita tanpa sosok ayah dan suami. Kenapa lelaki itu terlihat santai bahkan menghadapi Ela yang istri sahnya.


El berbalik badan, tapi begitu hujan mengguyur dia berhenti melangkah, menatap dengan tatapan paling menyedihkan yang pernah dia rasakan. Glori tidak tahu alasannya ke Surabaya, El pikir saat dia meminta ijin kepada Glori tiga hari yang lalu. Lelaki itu akan sadar ulang tahun Eviana, ternyata tidak, Eviana tidak lebih dari seorang wanita penghibur untuk Glori.


El melangkahkan kaki menerjang hujan, dia berlarian dibawah guyuran hujan hingga tubuhnya basah. Ditengah larinya, El berhenti, dia kembali menggenggam tangannya. Susilit inikah bertahan hanya untuk menyelesaikan sekolahnya?.


⏳⏳⏳


Lingkaran yang begitu besar dengan api unggun tinggi membuat suasana camping jadi meriah, beberapa kali tadi Arnol tampil membawakan lagu, juga Al yang menyumbangkan suaranya untuk memeriahkan acara api unggun.


"Semuanya udah kenal kan" suara intrupsi dari Hafiz membuat yang lainnya berteriak iya dengan kompak


"Gimana sekarang kita main trut Or dare?" Tanya Hafiz meminta persetujuan


"Oh permainan yang sering dimainkan di cerita *******?" Celetuk salah satu siswa yang langsung ditanggapi dengan tawa


"Anjay anak orange men"


"Tar jangan aja ada yang minta buat nyium salah satu cewek yang dia suka, bisa langsung beraroma 19+ ni acara" sambung yang lainnya


Hafiz berteriak kembali untuk menghentikan kegaduhan. Suara dari toa speaker yang dia bawa sepertinya berhasil membungkam yang lainnya.


"Acara nya Simple, nanti ada musik yang mengiringi bola untuk kalian lempar ke temen sebelah kalian. Kalau musik selesai, bola harus berhenti, dan orang yang dapetin bola berdiri ditengah tengah buat di lempar pertanyaan dari temen yang lainnya" kata Hafiz menjelaskan permainan.


"Ada batasan pertanyaan gak Fiz?" Tanya Arnol


"Ada. Minimal pertanyaan tiga, semua kelas boleh ikut ngasih pertanyaan, Oh ya jenis pertanyaan gak boleh memicu perdebatan" imbuh Hafiz "oke kita mulai ya, Aga, mulai musiknya, Andin kasih bolanya" perintah Hafiz kepada anggota OSIS kelas dua.

__ADS_1


Mereka langsung melaksanakan perintah sesuai yang diminta Hafiz, begitu suara musik menyala, semua orang mengikuti lirik musik dan melempar bola ke teman disebelahnya. Tengah asik asiknya menikmati musik tiba tiba musik berhenti dan bola tidak bergerak di anak kelas IPS.


"Maju maju maju" sorak teman temannya


Lelaki yang baru saja mendapatkan kesialan langsung maju kedepan, berdiri didepan lingkaran. Dia berdehem sebelum mengambil toa speaker yang tadinya berada ditangan Hafiz.


"Selamat malam" sapa siswa IPS itu "Nama gue Jaka dari kelas IPS 3" Jaka memperkenalkan diri "Ada yang mau ditanyain?" Suara Jaka terdengar serak serak basah sehingga para siswi langsung memokuskan arah ke Jaka.


"Gue" ada anak salah satu siswa laki laki mengangkat tangan.


"Truth Or deer?"


"Deer" kata joko


"Selama Lo hidup Lo pernah ajeb ajeb berapa kali?" Pertanyaan itu langsung di sambut dengan tawa yang menggema dari peserta camping


"Anjay pertanyaan macam apa itu?" Timpal Jaka terlihat malu


"Harus jujur Ka" teriak Febri dengan lantang


"Oke, sebagai cowok paling berani, gue bakalan jawab " Jaka menarik nafas "gue ajeb ajeb udah ada enam kali"


Jawaban dari Jaka membuat tawa yang menggema dari peserta, apalagi Jaka berkata seperti terlihat pede sekali.


"Lanjut" kata Hafiz


Saat cewek itu berdiri, Jaka seperti terhentak, lalu menarik nafas dan menatap cewek yang kini maju selangkah dari barisannya tadi.


"Kenapa elo mutusin gue?" Tanya cewek itu yang langsung membuat peserta kaget.


"Harus truth Or deer dulu gak sih?" Jaka seperti terlihat ingin mengalihkan dari pertanyaan cewek tadi


"Jawab aja Ka" Arnol memanasi


Jaka menatap wajah ceweknya, lalu tersenyum "Karena Tuhan kita beda, kita gak mungkin bersama, kita juga beda perasaan Sa" Jaka menatap mata berkaca kaca dari perempuannya


"Awalnya gue mikir kita bisa jalanin ini semua meski kita beda agama, tapi semakin hari gue sadar, kalau rasa elo ke gue bukan perasaan cinta Sa, tapi perasaan obsesi doang, Lo cuman obsesi ke gue"


Jawaban dari Jaka membuat Al langsung merubah ekspresinya, perasaan obsesi?. Apa perasaan El juga demikian? El tidak pernah menyatakan kalau dia mencintainya, tapi El mengikatnya sebagaia pacar.


Tepukan tangan itu lantas membuyarkan lamunan Al. Musik dan bola beriringan melanjutkan permainan, dan begitu musik berhenti untuk kedua kali, bola berada ditangan Kharisma. Lelaki itu maju kedepan lalu di tepuki tangan dari para perempuan. Kharisma adalah siswa populer meski dia baru pindah, gelarnya sebagai kapten sudah menjadi rahasia umum apalagi ketampanannya.


"Nama gue Kharisma Semanding, gue anak IPA 4" Kharisma memperkenalkan diri.


"Semanding?" Rancau Arnol menggumam "Kok kayak gak asing sama namanya ya?" Imbuhnya lagi.


"Gue" salah satu anak perempuan mengangkat tangan

__ADS_1


"Truth Or deer ?" Tanya perempuan itu


"Truth"


"Udah punya pacar?" Pertanyaan itu disambut dengan tawa apalagi sebuah pertanyaan yang mewakili para penggemar Kharisma.


Kharisma berdehem menghilangkan rasa malunya lalu mendongak kembali dan menatap wajah perempuannya dengan flat.


"Belum, kenapa Lo mau jadi pacar gue?" Tanya Kharisma selanjutnya lalu di akhiri dengan tawa "sayangnya gue udah suka sama orang lain" dan dia benar benar tertawa.


"Oke lanjut, gue yakin banyak yang pengen nanya sama kapten kita" kata Hafiz


"Gue" salah satu anak perempuan mengangkat tangan "truth Or deer?" Tanyanya


"Deer"


"Tembak cewek yang elo suka kalo ada disini, telfon cewek yang elo suka kalau dia gak ada disini" perintah perempuan itu sambil tersenyum senang.


"Wah yang ini agak susah" ujar Kharisma seperti enggan melakukan perintahnya


"Gak bisa ditolak Ma" ucap Hafiz.


Di arah lain Arnol, lelaki itu masih terus membatin nama marga yang digunakan Kharisma.


"Sst" Arnol memanggilnya Hafiz dan lelaki yang dipanggilnya menoleh


"Apa?"


"Minjem absen kelas kita dong"


Hafiz lantas menyodorkannya begitu saja lalu menatap Kharisma yang tengah mempertimbangkan perintah dari salah satu siswa tadi. Dan Kharisma menarik nafas panjang lantas dia berjalan mengelilingi lingkaran, mencari seseorang yang dia sukai.


Kharisma berhenti didepan Al, menatap perempuan itu seteduhnya lalu maju selangkah.


"Al" panggil Kharisma membuat Al menatap Kharisma


"Gue suka sama elo, Lo mau jadi pacar gue gak?"


Al seperti tersentak oleh pertanyaan itu, dia melongo, diam memaku ditempat tanpa bergerak sedikit pun.


"Udah kan, langsung ke pertanyaan terakhir deh Fiz" Kharisma buru buru menyairkan suasana, agar teman seangkatannya tidak terlalu fokus pada perintah tadi.


"Selanjutnya siapa?" Tanya Hafiz


"Gue" Arnol mengangkat tangan lebih tinggi, sambil menatap absen kelas yang dia baca.


"lo ngapain si Nol ngangkat tangan, Lo suka sama Kharisma? Atau mau minta jurusnya biar tenar?" Goda Febri yang berada disebelah Arnol

__ADS_1


"Enggak, gue cuman penasaran, nama elo kan Kharisma Semanding, nah nama El juga pakek Semanding, kenapa nama kalian bisa kebetulan sama?" Tanya Arnol membuat Kharisma langsung menatapnya tajam


__ADS_2