
Bagaimanapun hutang harus dibayar
⏳⏳⏳
Arnol membawa Kharisma dan Ivana ke tempat di mana dia sempat mengintip dari dekat kotak sampah. Tapi sudah tidak ada siapapun yang bisa mereka temui.
"Mana orangnya?" Tanya Ivana meninggi
"Ya jelas gak ada lah, kan tadi gue udah bilang kalo Al sama El nya di bawa mobil" Arnol ikut ngegas
"Udah sekarang Lo tahu gak nomor platnya?" Tanya Kharisma
Arnol menggeleng dengan cengo membuat Kharisma mengusap wajah frustasi.
"Terus sekarang kita cari merekanya gimana?" Tanya Kharisma geram
"Bentar deh, dulu gue pernah nganterin Al nyariin El, di deket sini, siapa tahu tempat itu bisa ngasih petunjuk ke kita"
Kharisma, Ivana dan Arnol buru buru naik mobil, Arnol memberikan arahan menuju mini market dan meskipun baru pertama kali, dengan gugup Arnol memimpin jalan menuju gang sempit kearah gedung, tidak ada apa apa disini, tapi kemana Al pergi waktu itu, disini hanya ada ruko ruko tidak terpakai, gedung kumuh sisa kebakaran.
"Lo yakin ini tempatnya?" Tanya Ivana
Arnol mengangguk "Kita coba masuk dulu"
Kharisma menarik tangan Arnol, dan menarik nafas
"Kita cuman buang buang waktu disini, Lo tahukan Al dalam bahaya" wajah Kharisma tampak begitu tegang
"Ya gue tahu, cuman kita kudu cari petunjuknya dulu" Arnol berniat melangkah kesalah satu ruko, tapi sebelum dia beranjak seseorang keluar dari pintu gedung tua, seorang laki laki bertubuh kekar dengan perempuan berambut sebahu. Mereka saling pandang, dan Ivana mengerutkan dahi.
"Ainun, Lo ngapain disini?" Tanya Ivana mulai curiga.
Ainun melambaikan tangan saat mengenali didepannya ini adalah Ivana.
"Gue nganterin Abang tinju__" belum selesai Ainun berkata Erik menarik tangan adiknya untuk jangan memberitahu hal lebih.
"Tenang bang, mereka temen satu sekolahku kok" jelas Ainun pada Erik
"Kalian sendiri ngapain?" Tanyanya
"Kita nyari El" celetuk Arnol
"El gak ada disini!" kata Erik tajam
Ada yang mencurigakan dari pernyataan Erik barusan, bahkan lelaki itu seperti terburu buru menjawabnya. Kharisma melangkahkan kaki mendekati Erik, menatap wajah lelaki yang baru pertama kali dia temui itu.
__ADS_1
"El sama Al dalam bahaya" ujarnya lemah
Erik menatap Kharisma "maksud Lo?"
"Gue ngeliat dia dipukul sama orang terus di bawa pergi, dan temen kita namanya Al dia juga ikut dibawa" jelas Arnol
Erik menatap tajam kearah Arnol dan menarik kerah lelaki itu, di dorongnya hingga Arnol terpojok di dinding.
"Lo jangan maen maen sama gue" tekan Erik
"Bang, jangan gitu" Ainun berusaha melerai.
"Su_su_sumpah gu_gu_gue gak bohong" Arnol sampai terbata bata
Erik melepaskannya meski begitu dia tidak langsung percaya. Diajaknya mereka memasuki gedung yang hanya ada Ginanjar duduk sendiri di tribun penonton. Ginanjar menatap kedatangan Erik yang membawa orang tidak dia kenal.
"Kenapa?" Tanya Ginanjar
Mata Erik meminta Arnol menjelaskan mengenai apa yang baru saja dia jelaskan. Ginanjar menatap Arnol dan lelaki yang menjadi fokus itu lantas tergugup.
"Jadi gu_gue, gue tahu El sama Al di bawa pergi tiga orang" jelasnya gugup setengah mati
"Ciri cirinya gimana?" Tanya Ginanjar
"Badannya keker keker, yang satunya agak cungkring tapi gak cungkring amat, rambutnya diikat, yang dua rambutnya plontos. Oh ya, yang mukul El punya tahi lalat di dagu" Arnol berusaha menjelaskan setengah mati
Ginanjar mengangguk, dan tanpa babibu lagi semuanya lantas beranjak pergi ke Surabaya.
⏳⏳⏳
Al berlari setengah mati, jalanan kecil, serta banyak rerumputan ini membuatnya terjatuh berkali kali. Al sering menoleh kebelakang, takut jika ada orang yang mengikutinya. Dia berjalan mencari jalan.
"Mama Al takut" lirihnya dalam ketakutan.
Lokasi yang digunakan markas tinju di Surabaya tidak terletak di kota, melainkan di desa. Gedung yang sudah tidak lama terpakai, berada di dekat tebing. Al masih terus berjalan sampai benar benar menginjakkan kakinya di sebuah jalan. Dia menangis, saat melihat kilatan lampu yang menyorotinya Al langsung terduduk, dia takut jika itu salah satu dari anak buah Leo ataupun Ibnu.
Dua mobil itu terlihat berhenti, tapi lampunya masih menyorot terang, Al benar benar takut, dia sudah pasrah bahkan jika harus mati dan menjadi budak **** nya Leo, Al sudah pasrah.
"All" suara lembut itu membuatnya mendongak, Ivana berdiri menatap Al
"Ivanaaaa" begitu melihat Ivana berada di hadapannya. Al lantas menangis dan memeluk Ivana.
"Lo gak papa kan?" Ivana sedikit mendorong Al hingga pelukan mereka terlepas, Ivana memeluk Al kembali.
"Al takut Ivana, Om Leo hiks " Al terisak "Om Leo jahat"
__ADS_1
"Jadi yang ngelakuin ke elo ini Leo?" nafas Ivana memburu, dia marah setengah mati
"Siapa Leo?" Tanya Ginanjar
"Leo itu, Om yang pernah memperkosa Al,"
Al masih berada didalam dekapan Ivana, mereka masih membisu, hanya suara Al dan kalimat penenang yang berusaha mati matian dikeluarkan Ivana.
"El dimana?" Tanya Erik tak sabaran menunggu tangis Al reda.
Al melepaskan pelukan dan menatap Erik.
"El masih disana, dia sendirian, tolongin El, dia udah babak belur, dia udah banyak dipukulin" Al menangis sesegukan
"Sekarang, kalian semua balik ke Jakarta, biar gue sama Erik yang nyusul El" kata Ginanjar langsung berjalan kearah mobilnya.
Semuanya diam saja, baik Kharisma dan Arnol masih bingung. Ivana membimbing Al masuk kedalam mobil di bantu oleh Ainun, sedang Arnol dan Kharisma mereka masih mematung di luar mobil.
Kharisma melangkah mendekati Ginanjar, dia menarik tangan Ginanjar hingga lelaki itu menatapnya.
"Lo bisa jamin keselamatan El?" Tanyanya
Ginanjar mengurungkan niatnya membuka pintu, dia menatap Kharisma
"El itu udah gue anggap kayak adek gue sendiri, gue pasti nyelamatin dia pakai nyawa gue" Ginanjar menepuk bahu Kharisma.
Lelaki yang kini menggenggam kuat tangannya iu teringat kalimat Ella. Didalam kamar El itu perempuan yang melahirkannya pernah bercerita bagaimana baiknya El selama Ella dirumah sakit.
Kharisma menarik pintu mobil dan ikut masuk.
"Gue ikut, gue gak yakin nyerahin keselamatan adik gue ke elo" tuturnya
"Lo yakin?" Tanya Erik dari arah depan
Kharisma mangangguk. Tidak lama Arnol juga membuka pintu dari samping dan duduk disebelah Kharisma, lelaki itu menatap ketiganya sambil menarik nafas.
"El pernah baik ke gue, jadi gue mau nolongin dia" katanya
"Mereka gimana?" Tanya Ginanjar
"Gue udah bilang sama Ivana, buat berhenti di kantor polisi, gue udah nelfon bokapnya Al sama____" Arnol berhenti dan memandang Kharisma "bokap elo"
Saat mendengar itu Kharisma langsung menyenderkan kepalanya di sandaran kursi. Glori? Apakah lelaki itu akan datang? Untuk menyelamatkan El atau dirinya? Siapa yang lebih berarti bagi lelaki itu?
"Sorry Ma, gue rasa bokap elo perlu tahu keadaannya El, gimanapun El juga anaknya" ucap Arnol hati hati
__ADS_1
"Terserah elo" Kharisma memandang arah samping.