
Tanpa mu, waktu terasa berputar sangat lama, dunia teras tidak sedang gembira
⏳⏳⏳
El berdiri sebelum Alriestella menanggapi ungkapan hatinya barusan. Menutupi rasa gugup, El berdehem.
"Lo berharap gue ngomong kayak gitu" katanya langsung menjatuhkan ekspetasi Al yang sudah terbangun bagus sedari tadi.
"Jadi El tadi bohong?" Tanya Al dengan wajah polosnya
El menarik sudut bibir begitu tulus, dan Al tidak melihat tawa itu dari bibir seorang El. Ikut berdiri dan bersebelahan dengan El, Al menyenggol lengan El.
"Jadi kapan El berencana suka sama Al nya?" Tanya Al "ini udah lama Lho kita pacaran tapi El gak pernah bilang suka sama Al?" Bibir Al sengaja di kerecutkan
El tidak lagi perduli dan justru berjalan lebih dulu, menghirup udara sambil bersiul. Alriestella tidak akan diam sampai disitu, dia sudah menggandeng lengan El dan ikut berjalan sambil menyandungkan lagu "my heart"
"Kalo besok El udah suka sama Al, bilang bilang Al ya" Al menyandarkan kepalanya di lengan El
Dan lelaki yang hanya diam saja tanpa bersuara itu mengangguk pelan. El tidak ingin menunjukan perasaannya terhadap siapa pun, karena nanti, entah kapan Al akan mengetahui mengenai status anak haramnya. Dan sebelum itu terjadi El harus meninggalkan Al supaya gadis itu bisa baik baik saja setelah mendengar kabarnya
Langkah mereka terhenti didepan gerbang rumah Al, perempuan yang kini menyembunyikan anak anak rambut dibelakang telinga, tersenyum. Menggoyangkan tangan El sambil memainkan jari jemari lelaki dingin ini.
"El sering sering minum air anget ya" pesan Alriestella tanpa melepaskan genggaman di jari jemari El
Lelaki itu menaikan alis "maksud Lo?" Tanyanya
"Iya, biar kedinginannya El bisa sedikit menghangat" Al tersenyum "Apa mau Al hangatin?" Godanya sambil merentangkan tangan
"Udah sana masuk" El mengarahkan dagu ke rumah Al.
Al sebenarnya enggan masuk, perlahan dia membuka kunci gerbang, lalu masuk kedalam gerbang dan keluar lagi.
"Dada pacarnya Al " kata Al melambaikan tangan
El hanya diam saja tanpa membalas lambaian tangan itu, berulang ulang dengan tersenyum Al melambaikan tangan nya, El masih saja diam.
"Dadaaaa" ulang Al
"Dadaaaaa pacarnya Al" kata Al lagi
"Dada"
"Buruan masuk!!!"
Ketika suara berat dan dingin milik El Nevaro terdengar, Al langsung masuk kedalam sambil berjalan mundur, melihat lelaki itu yang masih saja berdiri didepan gerbang rumahnya. Saat Al sudah masuk kedalam pintu rumah, Al mengintip El Nevaro dari jendela, melihat lelaki itu yang perlahan membalikan badan dan berjalan pulang.
__ADS_1
"Al dari mana aja kamu?" Suara Bella yang terdengar dibelakang membuat Al menoleh
"Habis jalan jalan sama El" katanya berlagak seperti anak kecil
"Kenapa gak bilang dulu sama temen temen mu, mereka khawatir" Bella mengusap rambut putrinya
Wajah ceria Al yang semula perlahan lahan tertekuk, Al hanya memainkan ujung piyama Bella
"Mereka gak ada yang suka sama El" Tutur Al
"Kok gitu?"
"Apalagi Ivana, Ivana gak suka Al pacaran sama El" kata Al dengan nada suara yang mendayu
"Yaudah, pasti Ivana punya alasan tersendiri kenapa dia bisa gak suka sama El"
Al langsung memeluk Bella, memang di kondisi apapun kalimat dari Bella selalu membuatnya tenang.
⏳⏳⏳
"Ihhh lama banget sih sekolahnya" Al sedari tadi hanya berdecak tidak jelas, apalagi jam sekolah yang semakin lama tanpa kehadiran seorang El Nevaro.
Arnol menatap tingkah Al yang sedari tadi hanya mondar mandir tidak jelas, memperhatikan lebih seksama dan mengangkat alis dengan heran.
"Abis Al jenuh banget di sekolahan, Al pengen pulang" rengek Al
"Lo tu di sekolahan beberapa jam udah kayak di Kurung di sekolah setahun"
"Emangnya Arnol gak pengen pulang?"
"Gue?"
Al mengangguki pertanyaan Arnol. Lelaki yang kini menyisir rambut kebelakang itu tertawa lebar, seolah pertanyaan dari Alriestella mampu menggelitik perutnya
"Gue pasti pengen balik lah, ngapain lama lama disekolahan" katanya di akhiri dengan tawa yang menggema
Tidak lama Febri datang kekelas, dia membawa beberapa makanan ditangan. Duduk di sebelah Arnol yang hanya ditatap lelaki itu tanpa minat.
"Eh tumben si El gak berangkat?" Tanya Febri kearah Al
Perempuan yang sedang ditanyai itu langsung gugup, tidak mungkin kan Al bilang kalau El habis kalah dalam tinju dan mukanya babak belur.
"El lagi mencret" kata Al asal
"Ha ha ha" Arnol tertawa kencang "pantesan kemarin dia buru buru pulang ternyata dia udah kebelet"
__ADS_1
Untunglah pernyataan dari Al tadi tidak membuat dua temannya curiga, justru sedang menertawai El saat ini.
"Ngomong ngomong muka El yang kaku itu kalau lagi mencret ekspresi nya gimana ya?" Tanya Febri membayangkan sambil memakan ciki nya
"Palingan juga nahan boker sambil tegang" Arnol tertawa di ujung kalimat
"Al" panggilan dari arah samping membuat Al menoleh, Ivana berjalan dengan buku paket tebal di tangannya.
Lalu meletakkan dimeja guru dan menghadap teman sekelas yang sedang gaduh karena menunggu kedatangan guru.
"Bu Niken gak masuk" kalimat dari Ivana itu langsung di sambut sorakan gembira "Tapi gantinya kalian disuruh ngerjain tugas dari halaman 56 sampai 58" kata Ivana
Beberapa siswa langsung berebut mengambil buku paket yang tadi dibawa Ivana, sedangkan perempuan itu sambil membawa buku paket dia duduk di sebelah Al.
"Ntar malam jalan yuk" ajak Ivana
Al hanya melongo "jalan? Jalan kemana? Kan biasa kita jalan, apalagi Al, Al kalau abis manggung pasti pulang kerumah jalan kaki"
"Ih maksud gue bukan gitu Al" Ivana gemas sendiri "Jalan ke mall, sama Sena sama Kharisma" Ivana menaikan alisnya berulang ulang
Ah, Al tidak suka pergi dengan dua lelaki itu.
"Gue gak diajak nih?" Tanya Arnol
"Gak"
Mendengar itu Arnol bercimbik, dia langsung membawa buku paket yang tadi diambilkan Febri ke mejanya
"Kayaknya Al gak bisa deh Ivana"
"Kenapa sih gitu, kan gue kangen bisa jalan jalan berdua" Ivana masih merayu supaya Al mau diajak pergi bersamanya
"Tapi kan ini kita gk berdua, tapi berempat"
"Mereka itu cuman ojek kita aja" Ivana masih merayu sekuat tenaganya
"Tapi__"
"Pokoknya iya, gue gak butuh penolakan" kata Ivana memotong kalimat Al
Dan perempuan yang kalimatnya terputus tadi hanya bisa menunduk pasrah. Apalagi sekarang Al merasa Ivana sudah menjadi orang yang berbeda, Ivana selalu memaksa apa yang menjadi keinginannya, dan Al sulit menolak itu.
"Nanti gue jemput jam tujuan ya" tutur Ivana dengan nada semangatnya
Al hanya mengangguk saja, dia tidak ingin berdebat lagi dengan Ivana, sudah cukup kemarin dia ketakutan untuk kehilangan Ivana. Al menatap arah depan membayangkan El Nevaro yang saat ini sedang apa? Apakah lelaki itu memikirkan tentangnya atau tidak, memikirkan ciuman yang semalam mereka lakukan.
__ADS_1