
Bahkan kamu tidak tahu apakah mencintaiku atau berpura pura mencintaiku
⏳⏳⏳
Ivana pergi dari depan kelas dengan perasaan dongkol, sumpah dia selalu membenci El Nevaro, semenjak ada cowok itu, Al jadi melupakan dirinya, dia selalu ditinggalkan hanya untuk mengejar El. Salahkah kalau sahabat yang sudah lama berteman merasa cemburu?.
Sampai dikantin, Ivana celingukan, dia menunggu kedatangan Sena, teman Arnol. Sudah lima menit anak itu belum juga datang, sampai Ivana berniat kembali ke kelas, tapi di ujung jalan, Sena datang tanpa rombongannya, tumben.
Lelaki itu langsung duduk didepan Ivana sambil tersenyum
"Udah lama ya nunggu?" Tanya Sena basa basi
Sena mengangkat tangan, memanggil pelayan kantin.
"Mau pesen apa, biar gue yang bayar" tawar Sena kearah Ivana.
Sebenarnya Ivana dan Sena tidak terlalu akrab, hanya beberapa kali bertemu, meski dulu mereka satu sekolahan saat SMP, pernah bertemu itupun karena Arnol
"Gak gak usah. Gue udah sarapan kok tadi" tolak Ivana halus
"Oh oke" Sena menatap pelayan kantin yang menunggu pesanannya "Nasi goreng sama es teh aja" kata Sena membuat pelayan itu pergi
"Ada apa tumben elo ngajak gue ketemu?" Tanya Ivana merasa ada yang aneh
"Gak boleh ya?" Sena tertawa "padahal gue pengen kenal" sambungnya
Ivana menarik sudut bibir, syukurlah kalau niat Sena kesini hanya untuk mengenalnya. Dia kira Sena berniat yang lain, misal menjahati Arnol.
"Boleh aja sih gue kira lo ada masalah sama Arnol" kata Ivana memberitahu kecurigaan nya
"Gak lah" pesanan Sena datang, lelaki dengan kulit maskulin itu menarik piring dan menyantapnya
"Bdw, lulus ini elo mau kuliah dimana?" Tanya Sena sambil mengunyah nasinya, Ivana hanya sebagai penikmat cogan didepan yang tangah menatap sarapan
"Belum kepikiran sih"
"Gimana kalau ikut gue, rencana sih gue pengen ke IPB, " Sena menawari untuk pergi ke kampus yang sama
__ADS_1
"IPB ?" Ivana mengulang "gue belum mikirin sih, ntar gue coba pikir pikir lagi"
Sena mengangguk, tetap menyantap nasi goreng lalu menyeruput es tehnya.
"Tumben sendiri?" Tanya Sena
Ivana mengernyitkan dahi lalu berdehem "lagi berantem sama Al" kata Ivana memberitahu
Sena menyudahi makannya Setelah mengakhiri dengan menyesap es teh, lalu piring beserta gelas di pindahkan ke sebelah kanan. Supaya tidak menghalangi pemandangan.
"Kenapa, bukannya udah temenan dari jaman SMP ya?" Sena seperti tertarik
"Iya sih, gitu deh" Ivana merasa ke sulit untuk membaginya
"Santai aja sih, cerita aja sama gue, siapa tahukan gue bisa kasih solusi" Sena berkata bijak
Ivana menimangnya, menatap arah depan dimana dia sedang melihat Al berjalan sendiri dengan cepat. Tumben, biasanya perempuan itu selalu bersama dengan El.
"Dia kan punya pacar, semenjak dia sama pacarnya itu, Al jadi lupa sama gue"
Mendengar itu Sena tertawa "oh cemburu sesama teman" Sena mengangguk anggukan kepala
"Gak sih, menurut gue fine fine aja, gue juga pernah ngerasain cemburu sama teman gue sendiri" Sena tidak menyalahkan kemarahan yang kini di rasakan Ivana "Apalagi temen yang udah deket banget" Sena melanjutkan
"Gue sebenarnya gak suka Al pacaran sama El, gimana ya, El itu kaku gitu terus agak kasar sama Al" cerita Ivana "kadang aja gue suka kesel kalo liat Al terlalu ngejar ngejar sama El, kayak di dunia ini El itu punya kuasa buat seenaknya sama Al" imbuh Ivana geram saat mengingat beberapa potong kejadian yang memperlihatkan sikap arogan El
"Wajar lah kalo elo bersikap kayak gitu, apalagi dia pacaran sama cowok kasar" Sena menatap ivana "Eh bukannya si Al Al itu dia mantan pacarnya Kharisma ya?" Tanya Sena
Ivana mengangguk "Gue gak tahu sih alasan mereka putus apa, yang jelas sikap El sama Kharisma itu bedaaaa banget, kalau boleh nih ya, mendingan Al itu balikan lagi sama Kharisma daripada harus sama El" celotehnya
Sena tertawa "Emang lebih enak ngendaliin perasaan diri sendiri sih dari pada perasaan orang"
Ivana menopang dagu sambil memainkan plastik bekas sedotan didepannya. Plastik itu ditarik tarik hingga menjadi beberapa bagian.
"Gue udah bilang beberapa kali sama Al, tapi cewek itu masih aja keras kepala" Ivana berkata dengan nada lirih
"Yaudah gak usah elo pikirin deh" kata Sena mengelus bahu Ivana "Lo pernah gak denger kalimat kayak gini "Mudah membangkitkan perasaan dari masa lalu dibanding menciptakan perasaan di masa depan" " kata Sena
__ADS_1
Ucapan Sena itu membuat pandangan Ivana terangkat, dia menatap mata Sena.
"Maksud elo?"
"Gini, si Al kan dulu pernah suka sama Kharisma, jadi mudah aja kalau bikin Al punya perasaan kayak gitu lagi"
Sena menggeser kursinya "Sering sering aja si Kharisma sama Al di temuin, kalau bisa sih di kasih waktu berdua, siapa tahukan mereka beneran CLBK" saran Sena
"Gue cabut ke kelas ya, bentar lagi jam masuk" kata Sena melirik arloji dan berjalan pergi.
Ivana terdiam sejenak, membuat Al melupakan El dan membuat gadis itu kembali memiliki perasaan cinta pada Kharisma. Kalau dia melakukan itu, jahatkah dia pada Al.
Ivana menggeleng, tidak, dengan siapapun Al jatuh cinta itu urusan Al, yang penting gadis itu bisa bahagia.
Ivana kembali kekelas sambil menyandungkan beberapa lagu, sampai diambang pintu ketika melihat Arnol pergi dari kursi Hafis dan melihat bahu Al naik turun, Ivana langsung murka. Seumur umur dia tidak pernah membuat sahabatnya menangis.
"Lo ngapain Al lagi?" Todong Ivana begitu dia dekat dengan El
Lelaki yang sedang ditodong dengan pertanyaan itu hanya bisa menatap Ivana tanpa menjawabnya, dia menarik nafas lalu menghembuskan nya
"Gue gak ngapa ngapain dia" jawab El dengan suara berat
Seluruh perhatian teman sekelasnya sudah tertuju ke Ivana dan El, perlahan Al juga mangkat kepalanya, dia menyeka air mata dengan punggung tangan
"Ivana, El gak ngapa ngapain Al kok" kata Al memegang lengan Ivana supaya dia berhenti memberi tatapan mengintimidasi seperti itu
"Diem deh Al" Ivana menepis tangan Al "Lo emang selalu gitu semenjak pacaran sama El, Lo susah dibilangin, udah berapa kali sih gue bilang sama elo kalo dia itu gak sayang sama elo" Ivana mengatakan kalimat itu dengan nada keras.
"Maksud Lo apa?" Suara berat El terdengar, entah kenapa saat mendengar Ivana berkata seperti itu El merasa tidak terima
"Benerkan kalo elo gak pernah suka sama Al!!!"
Bentakan dari Ivana itu mengundang Arnol untuk datang, Febri dengan mulut penuh gorengan serta beberapa siswa yang tadinya duduk di depan kelas jadi ikut masuk. El masih saja diam, tidak menjawab barang sepatah pun ,sepertinya Al juga menunggu jawaban El , berharap lelaki itu berkata kalau dia menyukai Al.
"Elll" Al menggoyangkan tangan El, lelaki itu hanya menoleh tanpa bisa menjawabnya
Bahkan ketika guru masuk ke kelas, semua kerumpulan itu berhamburan bubar tapi baik El, Ivana, dan Al masih berdiri.
__ADS_1
"Ngapain masih berdiri, sana duduk" suara intrupsi itu membuat ketiganya kembali ke tempat masing masing.