
Percayalah dunia tidak akan berhenti hanya untuk menunggu kau sembuh dari patah hati
⏳⏳⏳
Alriestella hanya berdiri didepan pintu mobil Arnol tanpa memasukinya. Perempuan itu menoleh kanan dan kiri, dia tengah menunggu sesuatu tapi entah apa yang membuatnya betah berdiri didepan pintu mobil. Bahkan Jovan dan Bella saja sudah menunggu kepergian Al.
"Al nunggu apa lagi sih?" Tanya Arnol akhirnya muncul dari balik pintu
Lelaki peranakan Cina-Batam itu menatap sahabatnya yang berdiri gelisah.
"Emmm sebentar aja, siapa tahu El kesini" kata Al masih terus menatap arah jalan
"Yaelah Al, udah mau jam berapa ini, kita bisa ketinggalan bus Lho" Arnol berjalan lebih dulu dan masuk kedalam mobil.
Al menghela nafas dengan gusar, akhirnya dia melangkah masuk kedalam mobil dan duduk di kursi penumpang bersama dengan Arnol. Al memang meminta Arnol untuk menghampirinya dan pergi ke sekolah bersama. Hari ini adalah hari pemberangkatan kegiatan camping. Meski kegiatan yang ditunggu Al selama tiga tahun, tapi entah kenapa rasanya Al enggan pergi.
"Japan pak" titah Arnol kepada supir.
Lelaki yang kini mengambil ponsel dan memainkan game itu tampak santai saja tanpa melihat kegelisahan Al.
"Arnol, bisa berhenti di minimarket dekat cafe Om Welno gak?" Tanya Al terdengar memohon.
Arnol menatap wajah Al yang seperti benar benar ingin pergi kesana, dengan pasrah Arnol menyuruh supirnya untuk mampir sejenak didepan minimarket yang ada di barisan cafe Welno.
Sampai disana, Al terlihat terburu buru dan lantas berlari memasuki gang sempit yang tidak diketahui oleh Arnol. Lelaki itu hanya memandang sahabatnya yang hilang ditelan belokan gang sempit.
Disana, Alriestella menapaki lantai gedung tua yang membuat pantulan bunyi dari sepatunya nyaring terdengar. Ketika membuka pintu yang selalu menjadi tempat El bertinju, Al langsung melihat Erik berdiri dengan sarung tinju diatas ring, juga melihat Ginanjar yang sedang memberi aba aba perintah. Di kursi tribun penonton, beberapa lelaki kekar tengah menunggu giliran untuk latihan, tapi tidak ada El disini, bahkan saat kaki Al berpijak pada dasar tangga Al tidak melihat El disini
Seluruh orang disana menatap Al dengan tatapan heran. Aneh saja kalau ada perempuan siang siang di markas petinju gelap seperti ini. Terlihat juga gadis ini sangat polos.
"Lo, Lo pacarnya El kan" Erik yang tengah berpegangan pada tali ring menunjuk kearah Al
Perempuan itu lantas mengangguk senang saat mendengar ada yang mengenalinya "El nya ada gak?"
Erik menggeleng "dia gak dateng hari ini, katanya ada urusan mendadak" ucap Erik membuat hati Al terasa dipatahkan
"Huh" helaan itu terdengar berat, Al lantas berpamitan setelah mengucapkan kata terimakasih, dan kembali ke mobila Arnol yang menunggunya didepan minimarket.
__ADS_1
Disana Arnol berdiri didepan bamper mobil, menatap dengan alis yang bertautan saat kedatangan Al dengan wajah di tekuk.
"Lo nyari apa sih Al?" Tanya Arnol
"Nyari El, El beneran gak ikut, Al cuman mau mastiin siapa tahu dia berubah pikiran pas liat Al mau berangkat" ucapnya dengan nada memelas.
Arnol memutar bola mata "terus ngapain elo kesana? Emangnya disana rumahnya El?"
Al menggeleng "Bukan, El suka disana"
"Yaudah buruan masuk, kita hampir telat"
"Tapi El nya gimana?"
"Lo kan bisa nelfon dia, suruh dia kesekolahan" Arnol gemas sendiri meladeni Al yang super duper lemot.
"Tapi El gak pernah ngasih nomornya ke Al"
Mata Arnol langsung membulat sempurna, apalagi setelah mendengar penjelasan Al yang memukul leher Arnol hingga lelaki itu berdecak dan menggeleng
"Astaga, jadi kalian selama ini pacarannya gimana Surtiiiiiiii" Arnol menggenggam kedua tangannya didepan wajah Al sebagai reaksi gemas darinya
"Ya ampun bisa gila gue lama lama ngeliat hubungan kalian" Arnol lantas masuk kedalam mobil sambil memijat pelipisnya,
Diikuti Al yang juga masuk kedalam mobil dengan perasaan kecewa. Mobil yang mereka tumpangi masih saja diam ditempat, tidak bergerak karena Arnol masih mengatur nafas.
"Lo beneran gak punya nomornya El?" Tanya Arnol berharap jawaban kali ini tidak membuatnya terkejut lagi.
"Hiih" Al justru bercimbik "Al bukan bilang gak punya nomornya El, Al punya tapi bukan dari El"
"Gue gak perduli Elo dapet nomor El dari mana yang jelas sekarang telfon dia" titah Arnol dengan setengah membentak
Al lantas mengambil ponsel dan mencari nama "Pacar❤" di ponselnya, saat jari jempol Al hendak menekan, Al lantas menghentikannya dan menatap kearah Arnol.
"Gak papa nih Al nelfon El, kan El gak tahu kalau Al punya nomornya El"
Arnol menarik nafas dan menghembuskan perlahan, memukul jok depan dengan perasaan gemas bercampur jengkel.
__ADS_1
"Lo berani ngeklaim El sebagai pacar elo yang jelas jelas dia manusia tapi elo takut buat nelfon El ?" Arnol melotot "buruan telfon El gue gak mau ketinggalan bus karena eloooo" teriaknya
Mau tidak mau, Al menekan panggilan di nomor yang dia tulis sangat lama, tapi belum pernah di coba untuk dihubungi. Saat bunyi sambung terdengar jantung Al langsung berdetak.
"Halo"
"Halo El, ini Al, El sekarang dimana?" Tanya Al begitu panggilan terhubung
Suara El tidak lantas menyahut. Sangat lama panggilan terjeda.
"Gue lagi ada urusan" ucapnya
"El beneran gak ikut camping?" Tanya Al lagi, berharap jawaban yang diberikan El berbeda
"Gue gak ikut"
Seiring kalimat El, rasanya hati Al selalu teriris, gadis itu menghembuskan nafas dengan lemas.
"Yaudah kalo gitu, tapi El beneran gak ikut camping? Kalo Al kenapa napa gimana?"
"Lo gak akan kenapa napa, ada guru disana" kata El terdengar mantap "Gue lagi ada urusan"
Dan panggilannya harus tertutup sepihak, seperti hubungan mereka yang semakin hari dirasa seperti keputusan sepihak saja, dan pihak yang paling memiliki kuasa untuk itu adalah El.
"Gimana dia mau ikut?" Tanya Arnol yang sedari tadi penasaran dengan hasilnya
Al hanya menggeleng dengan kecewa, bahkan dia menatap arah depan dengan tatapan kosong. Camping tidak akan menyenangkan setelah ini tanpa seorang El Nevaro.
"Tukan, apa gue bilang, orang kayak El itu gak bakalan ikut kegiatan kayak gini" ucap Arnol seperti meluapkan kekesalannya "Gue perhatiin si El itu anti sosial , setiap kali ada olahraga tim, dia selalu jadi orang yang egois nguasi permainan, bahkan gak pernah bisa nempatin porsi untuk tim dan dirinya" celoteh Arnol
"Lo kenapa sih Al masih aja bertahan buat orang kayak dia? Udah tahu dia gak pernah peduli sama elo, Lo ingat kan gimana elo susah payah ngedekor ruang seni cuman untuk ngerayain aniv seminggu jadian kalian, tapi apa hasilnya? El gak dateng sama sekali"
Perkataan Arnol seolah tombak yang menancap di dadanya, semakin Arnol berkata tombak itu terasa semakin dalam tusukannya. Al hampir menangis bahkan saat Arnol terus saja membicarakan kejelekan El, rasanya air mata Al ingin menetes.
"Arnol udah stop, El gak kayak gitu orangnya, mungkin dia punya alasan tersendiri kenapa bisa kayak gitu" Al masih saja membela El.
"Terserah deh Al, ngomong sama orang yang udah bucin akut emang susah" kata Arnol "pak jalan pak" titah Arnol pada supir.
__ADS_1
Ya setidaknya, dunia akan terus berputar meski kita sedang terluka sedang mengharapkan dunia untuk berhenti sementara tapi semua tidak akan berjalan sesuai rencana kita. Percayalah, patah hatimu harus dipaksa sembuh seiring waktu, itu hukum dunia yang harus mulai kau pelajari.