
"Terluka adalah fase dimana kita paham apa yang kita butuhkan"
⏳⏳⏳
Saat pintu itu terbuka empat orang laki laki tengah bermain ps di bawah tangga. El ragu untuk melangkah, tapi mau kemana lagi dia pergi jika bukan kamarnya. Pelarian dia hanya sampai pukul tujuh malam, selebihnya Glori meminta dia untuk berada di rumah.
Sewaktu Eviana meninggal karena kecelakaan malam itu ,Glori mengajaknya ke rumah, El menolak, dia lebih baik tinggal sendiri dari pada harus mengacaukan kebahagian keluarga Glori, ayahnya. Tapi alasan pendidikan lah yang membuat El terseret kedunia Glori, El sempat mengajukan permintaan, dimana dia ingin pulang jam tujuh untuk melakukan hobinya. Glori memang tidak tahu hobi apa yang dimaksud El, selama El tidak membuat ulah, Glori akan menurutinya.
Pada langkah kedua, salah satu teman Kharisma menoleh, lelaki dengan potongan cepak, alis tebal, tengah mengangkat dagu.
"Siapa Ma?"
Orang yang dipanggil langsung menoleh, menatap dengan cengiran licik di wajahnya
"Anak haram" tukas Kharisma lalu mengalihkan ke arah layar.
Sepertinya ps lebih menyita perhatian ketimbang kehadiran adik tirinya.
Tidak ada yang berniat melajutkan pembicaraan, El meneruskan langkah, menapaki anak tangga untuk menuju kamarnya
"Lo lihat anak haram yang gak punya malu tadi, dia masih bertahan di rumah orang"
Saat ucapan dari Kharisma terdengar, El menghentikan langkahnya
"Ha ha " respon yang diberikan teman teman kharisma terbilang sederhana. Mungkin agak sungkan jika membahas masalah keluarga.
"Yah, gue sih maklumin, dia sama aja sama kayak mamanya. Yang satu pelacur yang satu anak haram"
Kalimat itu membuat El mengeratkan gertakan gigi. Dia tidak mau mendengar apapun lagi, dia melangkah masuk. Membanting pintu dan merebahkan diri di kasur.
__ADS_1
Kalau ada pilihan yang lebih baik, dia juga tidak ingin terlahir dari rahim seorang wanita simpanan. Dia juga tidak mau selalu di hina perihal siapa ayahnya.
Kalau dia bisa memilih, lebih baik dia tidak lahir ke dunia, lebih baik dia tidak lahir di rahim ibunya. Sejauh apapun dia meminta , rotasi hidupnya akan terus berputar seperti ini.
Anak haram, mungkinkah sebuah kesalahan?
El menghela nafas, menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
El tidak bisa membenci ibunya ,tidak akan. Apapun alasan dia menjadi wanita simpanan, El akan menerimanya, mungkin memang rotasi kehidupan yang diberikan oleh Tuhan harus seperti ini.
Tok tok tok
Terdengar ketukan dari luar pintu. El membuka pintu , menatap Glori yang tengah melempar senyuman kearahnya.
"Boleh papa masuk?" tanya Glori
El mengangguk, memangnya punya hak apa dia untuk menolak.
"Papa sudah lama tidak masuk kesini"
Glori menjelajahi setiap sudut kamar, memperhatikan lebih seksama tugas Kimia milik El yang dia gulung di atas meja. Gulungan karton itu Glori buka dan dibaca sekilas.
"Dulu sejak Kharisma dan teman temannya menepati ruangan ini untuk main game, papa membenci ruangan ini"
Glori belum memindahkan arah fokus dari tugas kimia El.
"Tapi semenjak kamu tinggal disini papa selalu ingin kesini"
Akhirnya karton itu kembali dia gulung. Berbalik badan dan menatap wajah kaku anaknya. Dia menepuk bahu El.
__ADS_1
"Gimana sama hobi kamu? Lancar?"
El mendongak, menatap binar mata hitam kecoklatan milik Glori, keriput keriput di sudut kelopak matanya, serta rambut yang hampir memutih. El memang tidak terlalu dekat dengan Glori, dia hanya tahu kalau lelaki didepannya ini adalah ayahnya saat dia menginjak SMP.
Hobi? El menyukai bertinju diatas ring. Menurutnya dengan dia melakukan hal itu, dia bisa membalaskan semua rasa sakit yang dia miliki. El selalu memiliki dunia yang sempit di mana gerak dirinya dibatasi oleh kata "anak haram"
Sedangkan saat di ring, El merasa bahwa dia menemukan dunia luas miliknya.
El mengangguk tanpa minat, dia berjalan kearah meja belajar. Membuka buku dan menjawab soal soal Fisikanya.
"Kalau begitu selamat belajar ya"
Setelah itu hanya terdengar suara pintu yang ditutup, itu artinya Glori sudah keluar dari kamar El.
Dia menatap soal fisika, menjabarkan soal itu lebih detail. Sejak kapan soal soal angka itu bisa membuatnya mengalihkan masalah, sejak dia kehilangan teman pertamanya di SD, sejak dia kehilangan berharganya waktu istirahat. Sejak itu soal soal seperti mampu mengistirahatkan dirinya pada masalah. Sejak soal itu mampu membuatnya seperti orang yang anti sosial, sejak saat itu soal membuatnya menjadi orang yang sulit berbicara dengan orang lain.
Diluar, suara gaduh menghentikan pergerakannya.
"Kenapa emang, benarkan kalau dia anak haram?"
Suara teriakan dari Kharisma membuat dia langsung menutup buku.
"Jaga ucapanmu" itu suara yang sangat lantang sampai masih bisa dia dengar dari dalam kamar.
El tidak mampu bergerak, kehilangan hak nya untuk benafas. Rasanya benar benar mencekat. Dia tidak bisa keluar rumah, terasa seperti terjebak didalam sel tahanan.
"Kalau gitu papa milih Kharisma atau El"
El tidak tahu jawaban apa yang akan diberikan oleh Glori. Yang jelas saat ini nafas nya benar benar sulit. Dia seperti kehilangan oksigen. El ambruk, jatuh kebawah lantai.
__ADS_1
Ruangan kamar seolah tengah berputar putar memberi sebuah tekanan lebih pada dirinya. El kehilangan pertahanan. Dia hampir lelah membuka mata, nafasnya benar benar seperti tercakat, berhenti bersama detingan jam. Oleh apapun, dia benci berada di kondisi ini.