AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Tujuh Puluh Delapan


__ADS_3

Gue suka sama elo


⏳⏳⏳


Sudah dua minggu El dirawat di rumah sakit Surabaya, hingga tiga hari yang lalu dia sudah kembali kerumah di Jakarta, hari ini El sudah diijinkan Glori untuk pergi sekolah, El diantarkan supir Ella, sengaja Ella tidak memberikan ijin El naik motor meskipun dia sudah menyakinkan bahwa dirinya sudah membaik.


Sedikit cerita mengenai tiga hari El dirumah, ada banyak perubahan yang terjadi dirumah megah itu, Ella lebih membuka diri untuk El, lebih memberi perhatian yang  dulu tidak didapatkannya. Masalah Glori lelaki itu tetap bersikap sama, membandingkan antara El dan Kharisma, menekan kedua anaknya untuk menjadi apa yang dia ingin, selalu pulang tengah malam dan pergi saat pagi, El tidak banyak berbicara dirumah itu, selalu mengunci diri di kamar.


Kharisma? Ah lelaki itu hampir terlupakan, Kharisma jarang pulang kerumah, dia sibuk bermain sepak bola dan berkumpul dengan teman temannya, kalau pun dirumah, mungkin Kharisma lebih banyak menghabiskan waktu didalam kamar, begitu pun El, jadi keduanya tidak banyak menghabiskan waktu berdua, kadang hanya berbincang di waktu jam makan, selebihnya seperti orang asing.


El memaklumi itu, baginya tidak mudah menerima kehadiran orang asing di hidupnya, Kharisma masih butuh waktu untuk benar benar menerimanya, tidak seperti Ella, mungkin wanita itu mudah menerima El karena dimatanya El adalah seorang anak, seorang putra yang membutuhkan kasih sayang dari ibu.


Kini, El sudah berada di sekolahan, berjalan di lorong seperti orang asing, siswa siswi banyak yang menatapnya seperti aneh, ah mungkin kabar kalau dirinya dan kapten kesebelasan disekolah adalah saudara tiri. Bukan El yang menjadi penyebab hebohnya berita itu tapi Kharisma yang namanya sudah di agung agungkan disekolahan.


El berbelok kearah roftof langganannya, menikmati udara pagi diatas sana. Melihat keseliling, menunggu kedatangan Al tapi gadis itu tidak kunjung datang, ada dua puluh menit El menjemur dirinya diatas roftof lalu turun dan bertemu dengan Ainun yang bertampang kusut, tapi wajah itu langsung cerah ketika melihatnya.


"Haiii temen" Ainun melambaikan tangan tanpa digubris oleh El, lelaki itu lebih dulu berjalan sambil menggendong tas ransel dengan bahu sebelah kanannya .


El hanya menjawab dengan geraman, tidak menoleh dan diikuti Ainun dari belakang.


"Eh tar baliknya gue boleh nebeng gak?" Ainun berjalan disebelah El


El menoleh dan menarik sudut bibir "gue gak bawa motor" katanya membuat wajah Ainun berubah kecewa


"Gitu deh, pas gue mau nebeng malah gak boleh, kan kita bestfriend" Ainun nyengir


Mendengar kata bestfriend yang seperti menggelitik untuk El, lelaki itu tertawa. Yah hanya tawa biasa yang menunjukan sedertean giginya.


"Sejak kapan kita jadi temen?" El menaikan alis


Ainun meninju perut El dengan pelan, terasa seperti sebuah gelitikan saja untuk lelaki berwajah dingin itu.


"Sialan Lo" umpat Ainun "itung itung lah Lo bantuin adek temen elo sendiri"


El menaikan alis "Gue sama Erik gak temen, tapi musuh diatas ring"


"Sialan" Ainun mencubit perut El, hingga lelaki itu harus menghadang tangan Ainun dan sedikit mencondongkan perutnya kebelakang, Ainun dan El tertawa beriringan.


Tepat saat itu, Al berdiri dengan tampang kaku melihatnya.


⏳⏳⏳


Pagi sekali, sekitar jam tujuh, Al buru buru datang kesekolah, dia sudah memesan banner bertuliskan selamat datang untuk kehadiran El kesekolah hari ini.


Bahkan sudah mempersiapkan segala aksesori yang akan digunakan untuk menyambut kedatangan pangerannya. Diperkirakan, El akan masuk kelas sekitar jam delapan kurang lima menitan, jadi pagi pagi sekali Al menghias kelas, memberi aksesoris dibelakang pintu juga memberikan hiasan dan beberapa hadiah coklat diatas meja El.


"Pagi cabeeeeeeeeee" suara Arnol menggelegar, begitu dia membuka pintu balon yang diletakan di atas pintu langsung berjatuhan


"Apa nih?" Arnol kaget, dan begitu melihat tampang Al yang ditekuk lelaki itu nyengir "lah gue kira bukan cabe Al, tapi cabe cabe lain" lirihnya yang tidak tahu kalau di kelas hanya ada Al saja


Arnol ini selalu memanggil siapapun siswa cewek dengan sebutan cabe jadi jangan heran jika dia selalu memanggil Al dengan sebutan cabe.


"Ih Arnol benerin gak!" Pekik Al dari arah meja El.


Lelaki itu bergegas membereskan balon, tapi terlambat karena teman sekelasnya sudah berhamburan memasuki kelas dan membuat balon bertebrangan karena angin yang dihasilkan dari langkah mereka.


"Ihhh kalian itu, Al kan mau nyambut kedatangannya Ellll" Al berteriak, memaki beberapa anak anak yang melintasi karpet merah yang sudah siapkan Al.

__ADS_1


"Astaga si El itu siapa sih? Anak presiden? Pakek acara di sambut segala" celoteh Gandi yang baru saja terkena pukulan dari sapu oleh Al.


"Dia itu pangerannya Al" jawab Al tak mau kalah


Gandi meletakkan tasnya diatas meja tanpa menyahuti kalimat Al lagi, sedangkan Arnol lelaki itu masih setia memunguti balon yang sudah ditendang beberapa teman sekelasnya.


"Jam delapan pas, olahraganya dilapangan depan" instruksi Hafiz sambil melihat sekeliling yang dipenuhi balon, karpet merah dan banner bertuliskan selamat datang El Nevaro


"Ini ada apaan sih?" Tanyanya polos kepada Arnol yang baru selesai meletakkan kembali balon ditempat semula,


"Lah gak tahu, kerjaan si Al tuh" katanya


"Yuk kelapangan depan, kita mau olahraga" terik Hafiz kembali


Seisi kelas hendak berjalan keluar kelas tapi teriakan dari Al membuat mereka berhenti


"Bentar, tunggu, tunggu duluuu" cegahnya


Al memberikan banner yang meminta teman sekelasnya untuk berdiri dibelakang pintu sambil membawa banner


"Kalian pegang ini ya" katanya


"Please deh Al, kita ini mau kelapangan, keburu telat" kata Celly mulai jenuh


"Iyaa, Al juga mau kelapangan, tapi sebentar lagi El pasti masuk kekelas" katanya dengan cengiran


"Bukan nya elo udah putus ya sama si El, kok Lo mau maunya si nyiapin kayak gini" celetuk Febri


"Bentar lagi juga balikan kok, kemarin kita udah pelukan" kata Al tanpa sungkan lagi


"Serah deh serah, udah kalian turutin aja ketimbang makin panjang ocehannya" Arnol bergegas meminta mereka memegang benner seperti yang diinginkan,


"El udah jalan kesini" katanya tanpa perduli dengan Ainun yang sedang berbincang bersama El


"Tiga langkah lagi" kata Hafiz datar


"1 2 3" Al membuka pintu lebar-lebar lebar hingga balon berhamburan turun dari pintu, saat itu terjadi El sedang tertawa dan memegang tangan Ainun di perutnya.


Melihat pemandangan tidak biasa yang disajikan El, wajah Al berubah datar dan kecewa. El baru menyadari ketika ada deheman dari Arnol, menatap arah depan dimana teman sekelasnya seperti berwajah canggung menatap El dan Ainun, melihat wajah kecewa Al yang dibungkus Serapi mungkin.


Ainun juga merasa canggung, gadis itu mengusap tekuk, dan menepuk lengan El.


"Gue ke ke kelas dulu ya" ucapnya bergegas lari menuju kelasnya


Sedangkan teman sekelasnya sudah melepaskan pegangan pada benner, dan berjalan keluar kelas.


"Al, tugas kita udah ya, gue ke lapangan dulu" kata Arnol memberikan benner ketangan Al.


Kelas benar benar sepi, sungguh hanya ada heningan yang lama, hanya ada tatapan Al yang jatuh kelantai.


"Al gue___" kalimat El terpotong


"Ini cuman sambutan biasa aja kok" katanya meletakkan benner dan membereskan kekacauan yang sudah dia perbuat.


Al memunguti balon bahkan meneruskannya dengan jarum pentol yang dia minta dari Anisa tadi.


"Gue bantuin" El ikutan memungut balon yang sama didepan Al.

__ADS_1


"Gak usah" katanya berwajah cemberut "Ini juga ulah Al, biar Al yang nyelesaiin sendiri" katanya langsung menggulung karpet yang dia pinjam di mushola sekolah.


"All, Lo marah" El menarik tangan Al


"Enggak, Al gak marah" katanya masih berusaha merapikan kelas


"Gue gak suka elo ngelakuin kayak gini" kata El yang membuat pergerakan tangan Al berhenti.


Al berdiri, menatap El sambil membawa balon yang dia kumpulkan dari meja El.


"Lo cuman buang buang waktu bikin kayak gini Al, gue gak suka, gue gak suka sama suprise suprise yang Lo buat, ini kekanam Kanakan sumpah" kata El


Hati Al terasa teriris, apakah usahanya di bilang kekanak Kanakan?, apalagi saat Al menatap tampang datar tanpa rasa bersalah sama sekali membuat dia ingin menangis.


"Iya, Al masih kekanak-kanakan yang dewasa disini cuman El" katanya bergegas keluar kelas menuju lapangan


Ah tidak, El mengusap wajahnya frustasi, dia tidak bermaksud menghina Al, hanya saja El tidak mau Al terlalu berlebihan dalam mencintai El, ini hanya membuang tenaganya, lagi pula hal semacam ini lebih pantas untuk anak SMP, mereka bukan anak kecil lagi yang harus disambut seperti ini.


⏳⏳⏳


Karena belum terlalu sembuh, El tidak mengikuti olahraga dan hanya berdiri di pinggir lapangan, melihat teman temannya sedang bermain sepak takraw, menatap wajah memerah Al yang kelelahan.


Lama kelamaan, hanya berdiri dan melihat teman sekelasnya bertanding, El merasa bosan sendiri, dia berjalan jalan menyusuri koridor sekolahan, berharap dia bisa menghabiskan jam perlajaran olahraga dengan mengelilingi sekolah. Hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya


El menaiki roftof sambil membawa minuman yang dia beli dikantin tadi, menatap dari atas anak anak yang sedang olahraga dilapangan tengah. Saat dia sedang menikmati kesunyian, suara pintu roftof dibuka membuat El menoleh, dan itu Ainun yang berjalan membawa setumpuk buku.


"Hey, dunia sempit ya, disini gue ketemu sama elo" ujarnya berjalan mendekati El sembari tersenyum


"Lo sendiri ngapain disini?" Tanyanya


"Gue?" Ainun menunjuk dirinya sendiri "Kebetulan gue lagi bosen dikelas jadi pengen cari tempat yang sepi" Ainun meletakkan buku paket diatas meja yang sudah rusak.


"Tumben disini?"


"Perpustakan lagi penuh, banyak anak kelas tiga yang lagi persiapan ujian, bentar lagi kan udah ujian" Ainun membuka bukunya dan mulai mencoret kertas demi kertas.


El tidak lagi menanggapi kalimat Ainun. Dia meneguk minuman yang tadi di belinya, sambil menatap arah langit yang bergerak menutupi matahari.


Diam diam Ainun menghentikan gerakan tangannya, dia menatap El yang terpapar sedikit sinar matahari, wajahnya begitu menyilaukan, kedipan matanya begitu memukau.


"El, Lo udah punya pacar belum?" Tanyanya


El menoleh kearah Ainun lalu menggeleng, ah memang begitulah kenyataannya, hubungan El dan Al sudah berkahir sangat lama, sebelum semester 2.


"Si Al itu?"


"Udah putus" El meneguk minumannya, bayangannya mengarah ke Al, dia teringat mengenai hubungannya dan merasakan betapa menyayat hati saat tahu kenyataan mengenai itu.


"Lo pernah bilang kan, siapapun boleh ngungkapin perasaan mereka" Ainun berdiri dan mendekati El.


Lelaki bernama El Nevaro itu menaikan alisnya sambil memutar mutar botol minuman.


"Gue suka sama elo"


Putaran dari botol minuman El terhenti, El menatap wajah Ainun yang menatapnya dengan serius. Wajahnya begitu tenang, El masih berusaha mencerna maksud dari ini semua


"Ha ha ha ha" dan yang terjadi selanjutnya adalah tawa El yang menggema.

__ADS_1


Tanpa tahu, dibelakang pintu roftof Al berdiri mendengarkan pembicaraan mereka. Lalu salah sangka dengan tawa El.


__ADS_2