AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Empat Puluh Dua


__ADS_3

Memahami dan dipahami


Siapapun ingin menerimanya


⏳⏳


Akhirnya setelah tiga hari El alpa dari sekolah, lelaki yang kini berjalan santai di koridor kelas berangkat juga. Mungkin kelas akan disebut ramai oleh Al hari ini. Di depan pintu kelas Arnol yang tengah berdiri sambil mengemut permen menatapnya.


"Eh eh, ada anak baru" goda Arnol ketika melihat El akan melintasi pintu dengan tatanan poni menutupi dahi, biasanya El akan menyisir rambutnya ke atas, poni yang sengaja diturunkan itu agar menutupi lebam yang belum sembuh di dahinya.


"Bentar dulu dong, di ospek dulu" ujar Arnol menyetop langkah El


Lelaki yang lebih jangkung dari Arnol menatapnya dengan dingin, menarik nafas dan bersiap berkata sepedas cabai.


"Oke, Lo boleh pergi, gue males denger ocehan elo" kata Arnol sebelum El berkata padanya


El melangkah sebelum sampai di kursi, Suara Arnol terdengar menggema


"Itu sampah dilaci elo kerjaan gue, abis gue pikir elo gak bakalan sekolah makanya gue jadiin kotak sampah" teriak Arnol membuat El menoleh


Lelaki yang kini beringsut di pintu meringis saja saat mata tajam El menghunus ke arahnya.  Lelaki yang berada di pintu hanya cengengesan tanpa dosa, Arnol mengangkat dua jari tanda damai yang justru tidak di gubris oleh El.


"He he sory El, Lo buang ya" ucap Arnol sudah berlari pergi.


El melangkah kearah mejanya dan ketika dia melihat kearah laci, sungguh terkejutnya El saat tahu apa saja isi di dalam lacinya. Bungkus kuaci yang bertebaran, plastik plastik ciki cikian belum lagi ada bekas gorengan yang sudah membusuk.


"Huh" El dengan pasrah mengambil kotak sampah yang ada di sudut kelas lalu berjongkok dan memunguti sampah yang ada dilaci.


Belum puas lacinya yang bau, ternyata laci Arnol juga penuh dengan sampah, tidak tahu apa saja yang dimakan lelaki itu saat jam belajar. Hingga laci Arnol penuh dengan sampah.


"Selamat pagi pacarnya Al" suara Al yang berada didekat El membuat lelaki yang kini mengangkat bekas gorengan mendongak.


El tidak berekspresi tapi menjawabnya dengan angkatan dari alis.


"El lagi ngapain sih?" Tanya Al ikut berjongkok dan menatap isi laci El yang begitu bau


"Iuyyy" Al mengipasi hidungnya dan berdiri "Ini pasti kerjaannya Arnol"

__ADS_1


Al berkacak pinggang sedangkan El dia memungut sampai bersih laci El dan Arnol, El melakukan itu hanya karena tidak mau mencium bau busuk gorengan dari laci milik Arnol.


"Ihh itu anak emang sering gitu, semua meja dikelas ini udah jadi korban tempat pembuangan sampah nya Arnol" celoteh Al yang berjalan mengikuti El membuang sampah.


"El udah sarapan, tadi Al buatin nasi goreng"


El memukul mukul kotak sampah yang masih tersisa gorengan basi di dalamnya. Lalu terbatuk dan mengipasi depan wajah, mengusir bau.


"Gue gak nafsu makan setelah liat kayak ginian" ujar El berjalan ke toilet.


"Yah nanti siapa dong yang makan nasi gorengnya Al" Al masih mengikuti El dari belakang seperti anak kecil.


Begitu langkah kaki Al melangkah diambang pintu El melotot kearahnya. El hanya tidak habis fikir dengan perempuan yang selalu berjalan dibelakangnya seperti pengikut dewa.


"Lo tahu kan ini toilet cowok" kata El dengan sarkatistik.


Al justru hanya cengengesan tidak jelas "Al tunggu disini" Al menarik kaki yang berada diambang pintu tanpa malu


⏳⏳⏳


Al tampak begitu antusias, juga Arnol yang sudah merencanakan akan membawa apa nantinya di acara camping tahunan untuk kelas tiga. Sedangkan El, lelaki itu tampak diam saja, memang dia sering diam, tapi kali ini dia diam karena dia tidak berniat ikut acara seperti itu.


"Gue ntar mau bawa kasur pompa dari rumah, gue gak bisa tidur kalo gak pakek kasur" Arnol sudah mengoceh barang apa yang wajib dia bawa kepada Febri


"Gue ntar ikut tidur sama elo ya Nol" kata Febri


"Enak aja" Arnol memandang dengan sinis


Sedangkan Gandi, lelaki itu hanya sibuk bermain game tanpa ikut menimbrung pada obrolan. Biar nanti dia camping ditemani ava mobil lagend


"Fiz, Lo mau ikut? " Tanya Febri


"Ikut dong, entar kalo gak ikut nyesel"


Karena mereka mengobrol di meja Arnol sehingga El selalu mendengarkan obrolan mereka, tidak ada satupun yang berani menanyakan apakah El akan ikut atau tidak, meskipun berkali kali Febri memberi kode melalui tatapan matanya untuk meminta Arnol menanyakan apakah El ikut atau tidak.


"Pacarnya Al" Al langsung menghampiri El yang tengah mengerjakan soal esai Tri out.

__ADS_1


El mendongak dan menatap Al, kemudian dari bibir yang hampir tidak pernah  tertawa itu dia menarik sudut bibir , tipis tapi begitu hangat di hati El.


"El ikut gak acara camping?" Tanya Al


Lelaki yang tidak ditanyai teman temannya itu menggeleng "Gue gak suka acara camping" kata El kembali fokus pada soalnya


"Ihhhh El, ini tu acara tahunan kelas tiga, kalau El gak ikut nanti pas lulus El nyesel, lagian nanti kan kita bisaaa__" Al menghentikan kalimatnya sambil tertawa cengengesan


Arnol tidak tahan untuk tidak mengomentari keduanya, sungguh meskipun sedari Al datang ke arah mejanya dia sudah berjanji dengan penuh keyakinan ksatria bahwa tidak akan ikut nimbrung pada obrolan keduanya tapi jika melihat Al yang bucin seperti itu membuat Arnol gemas.


"Udah be kalo orang gak mau gak usah di paksa" kata Arnol "Lo juga gatel banget sih jadi cewek"


Al bersungut "biarin" katanya


El menatap Al yang tengah cemberut, lalu tersenyum tipis. Karena senyum dadakan dari El. Febri yang tengah meneguk air langsung tersedak.


"Lo udah makan?" Tanya El


Al menggeleng "belum kalo sama El, El mau ngajak Al makan, ayuk lah Al selalu siap" kata Al dengan wajah berseri.


"Lo kesedak kadal atau gimana sih Feb, perasaan tinggal minum air kok pakek kesedak" Arnol memukul bahu Febri dengan kencang


"Lo bisa senyum El?" Tanya Febri yang langsung dipandang dengan tajam "ma-maksud gue, senyum elo manis tadi" terus Febri langsung menggeser kursi dan pergi .


"Feb tungguin" Arnol dan Hafiz ikut bubar, tidak tahan juga melihat kebucinan Al yang sudah mendarah daging.


"Mau makan? Makan apa?" Tanya El dengan nada suara yang manis.


"Emmm apa aja yang penting makannya ditemenin El" lelaki itu berdiri dan langsung digandeng oleh Al.


Saat melihat Al yang menggandeng tangan El kelas langsung gaduh dengan "cie cie" dadakan. El tidak peduli, dia terlalu masa bodoh dengan lingkungannya. Saat di koridor El melepaskan cekalan di lengannya dan menggandeng tangan Al menuju kantin,  El pergi ke kantin kedua kali bersama Al.


Disana, seluruh siswa memandang keduanya, aneh, tentu saja, dikantin kebanyakan dipenuhi oleh siswa siswi yang lapar tapi Al dan El justru bergandengan tangan dan menganggap kantin ini seperti taman.


Ivana, Sena dan Kharisma memandang keduanya dengan heran. Apalagi Kharisma yang tersenyum miring tidak senang, dibarengi oleh Ivana yang mengangkat tangan memanggil Al.


"Al duduk sini" panggilnya

__ADS_1


__ADS_2