
Kadang yang mematahkan mimpi seorang anak bukan orang lain, tapi orangtua nya sendiri
⏳⏳⏳
Glori duduk diatas meja kerjanya sambil berpikir. Melihat usaha keras yang dilakukan El hanya untuk membuktikan bahwa mimpi Kharisma itu benar, sebenarnya menyentuh untuk hati Glori. El selalu punya sifat sekaku itu, kapan putra nya itu memanggil Glori dengan panggilan papa, baru hari ini.
Glori menekan telepon di mejanya dan meminta Patter untuk segera keruangannya. Setelah panggilan itu tidak lama Patter sudah mengetuk pintu dan berdiri didepan Glori.
"Patter, urus perubahan kartu keluarga milik keluarga saya" kata Glori menyerahkan selembar akta kelahiran
Patter menerima dan tersenyum "Saya akan segera laksanakan pak" Patter mengambil akta dan beberapa perlengkapan surat yang sudah di masukan kedalam map berwarna kuning.
Glori menarik nafas "Silahkan kamu lanjutkan pekerjaanmu" kata Glori meminta Patter untuk pergi.
⏳⏳⏳
Sudah empat minggu mereka dihajar habis habisan oleh ujian, kini hanya tinggal berleha leha setelah ujian yang mereka laksanakan hampir sebulan lebih. Menunggu pengumuman, itu paling mendebarkan apalagi sekarang adalah hari terakhir mereka sekolah.
"Jadi udah nyiapin buat daftar SBMPTN?" Tanya El kepada Al, yang dijawab dengan gelengan.
"Lo mau kuliah dimana?"
Al mengerucutkan bibir sambil merebahkan kepalanya diatas meja, mata Al melihat Arnol yang tampak antusias mengganggu teman temannya.
"Al bingung, maunya Al sama El, tapi El malah ke UI"
El mengusap rambut Al sambil bertompang dagu, melihat perempuan itu sedih memang mengiris hatinya, tapi mau bagaimana study tidak sebercanda itu, El harus benar benar memikirkan mengenai study nya dengan matang agar tidak ada penyesalan dikemudian hari.
"Kan Universitas di Jakarta masih banyak, gak harus UI"
Al menegakkan kepalanya dan menatap El dengan wajah cemberut.
"Tapi Al gak mau pisah sama El, kalo nanti El macam macam gimana?" Tanyanya
El masih mengelus Al dengan begitu lembut, tersenyum dengan lekat kearah Al. Tangan El bergerak menuju pipi Al, mengelus pipi perempuan itu , naik mengelus matanya dan turun mengelus bibir tipis Al, mata El tidak terlepas sedetik pun darinya.
"Gak akan, seluruh dunia ini bahkan tahu, kalau El Nevaro Semanding itu milik Alriestella Lesham Shaenette" kata El meyakinkan
Al menarik sudut bibirnya begitu lebar, nyengir kuda dan memejamkan matanya.
"Janji ya"
El hanya mengangguk sambil mengusap rambut Al
⏳⏳⏳
Kharisma sedang bermain PS sendirian, dia memandangi layar begitu fokus, sebelum ketukan pintu kamar membuatnya menoleh dan menghentikan permainan. Ella masuk kedalam kamar putranya, tersenyum lebar.
"Dipanggil papa" kata Ella mendekati putranya
Dipanggil Glori, mengapa lelaki itu memanggilnya? Apakah ada sesuatu yang membuat lelaki kaku itu marah dan memanggil Kharisma.
"Tumben" Kharisma berdiri
"Sekalian El juga dipanggil papamu" ujar Ella sudah keluar lebih dulu.
Kharisma semakin di buat heran, kerutan di dahinya cukup menjelaskan semua. Kenapa tiba tiba Glori memanggil mereka. Meski begitu Kharisma berjalan ke atas dan masuk begitu saja dikamar El. Lelaki yang hanya terpaut beberapa bulan itu sedang menatap layar ponsel sambil memainkan permainan PUBG.
"Lo main PUBG juga?" Tanya Kharisma basa basi.
__ADS_1
El segera menegakkan badan, dan menatap Kharisma, wajahnya masih sama, kaku dan tidak berekspresi. Meski begitu El hanya mengangguk tanpa menjawab dengan sepatah kata pun.
"Dipanggil papa" ucap Kharisma lekas pergi begitu saja.
El langsung mematikan game dan berjalan mengikuti Kharisma dari belakang. Tujuan mereka adalah ruang kerja Glori, ruangan yang hanya beberapa kali di masuki El. Begitu Kharisma mengetuk pintu, El hanya mengikuti dari belakang tanpa ekspresi.
Kedatangan mereka hanya disambut tatapan datar dari Glori, lelaki itu berulang ulang menarik nafas dan menghembuskan nya. Kharisma yang lebih dulu duduk di sofa sambil mengangkat kaki kiri yang ditumpukan keatas kaki kanan, sedangkan El dia juga ikut duduk di sebelah El hanya saja tanpa ekspresi, tidak seperti Kharisma yang saat ini bola matanya menjelajahi ruangan Glori.
Lelaki tua yang sudah keriput itu berjalan sambil membawa sesuatu ditangannya, dia kemudian duduk di depan kedua putranya, lalu menggelengkan kepala tanda dia sedang tidak percaya bahwa dua pemuda tampan dihadapannya ini adalah anak Glori.
"Papa gak nyangka bisa punya anak seperti kalian" ujar Glori mengungkapkan ketidakpercayaan nya.
El hanya menarik nafas dengan pelan, sedangkan Kharisma sudah berkecap berulang ulang.
"Ada apa?" Kharisma lantas to the point
"Kharisma kamu bener bener mirip sama papa waktu muda, keras kepala, susah diatur dan seenaknya sendiri" komentar Glori sambil menatap Kharisma, yang ditatap justru masa bodo.
"Kamu El" mata Glori kini bertatapan dengan El, dan hanya dibalas dengan tatapan tajam, tanpa arti dan tanpa ekspresi sama sekali "Kamu itu gak bisa berekspresi sama kayak papa, hati kamu itu udah beku, yah kalau anak jaman sekarang ngomongnya kamu itu dingin" Glori menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi
Dan El sudah berniat berdiri "kalo gak ada hal penting yang diomongin El permisi"
Niatnya pergi harus dicegah saat deheman dari Glori dipertegasnya. Lelaki keriput itu mengeluarkan sesuatu dari dalam map.
"Ini mengenai masa depan kalian" ujar Glori yang akhirnya membuat El duduk kembali.
"Kharisma, kamu yakin dengan mimpi mu?" Tanya Glori "papa tidak akan menghalanginya lagi, tapi papa tidak mendukungmu"
Dia mengeluarkan seamplop tiket menuju Portugal, amplop berwarna putih yang isinya sudah di keluarkan oleh Glori.
"Kamu bisa memilih, tetap melanjutkan mimpimu tapi kamu tidak dapat warisan apapun dari papa, atau kembali menjadi pewaris utama yayasan dan perusahaan papa"
Kharisma menatap tiket yang ada didepan matanya, dia menggenggam tangannya amat keras.
"Meskipun kamu sudah resmi menjadi keluarga kami, tapi bukan berarti kamu akan menggantikan Kharisma untuk mewarisi perusahaan dan yayasan"
Glori menarik nafas "tidak ada dari kalian yang akan mendapatkan sepersen sahampun dari papa, kalau kalian mau, usaha dengan cara kalian sendiri" Glori menjedanya "kecuali Kharisma mau meninggalkan mimpinya itu"
Mereka berdua diam saja, tapi tangan El teruruh mengambil kartu keluarga yang ada diatas meja
"El udah biasa hidup susah dari kecil" katanya bergegas pergi yang juga diikuti Kharisma dari belakang.
Mereka berdua sudah memilih jalan mereka masing masing, tidak ditentukan oleh Glori yang memandangi kepergian anaknya dengan terluka.
Di kolam, keduanya diam saja, menatap air yang beliau liuk. Kharisma menarik nafas begitupun dengan El.
"Jadi Lo mutusin buat ke Portugal?" adalah kalimat pertama yang muncul dari bibir El selama mereka diam
"Lebih baik gagal karena mengejar mimpi sendiri daripada berhasil diatas mimpi orang lain" kata Kharisma menarik sudut bibirnya
"Tapi Lo gak akan punya apa apa setelah Lo ke Portugal" ujar El
"Lo juga gak punya apa apa setelah ini bdw" Kharisma menyenderkan tubuhnya di tembok
"Gue udah biasa hidup susah dari kecil, cuman gak punya harta warisan" El tersenyum "dari kecil gue gak punya bapak"
Mendengar itu Kharisma tertawa "Kadang yang matahin mimpi seorang anak itu bukan orang lain, tapi orangtuanya sendiri" Kharisma menatap arah depan
"Gue gak pernah nyesel dengan mimpi gue, sejak kecil, gue udah harus milih jalan yang gue sukai, sejak kecil bokap emang lebih suka sama hal yang dia sukai dari pada keluarganya" Kharisma menatap arah depan.
__ADS_1
"Besok, kalo gue gak berhasil, gue nebeng hidup di elo" Kharisma nyengir
"Gue siksa dulu tapi"
Mendengar itu mereka tertawa bersamaan, yah lega rasanya sudah memilih jalan yang mereka kehendaki, tanpa mengikuti kemauan Glori lagi.
"Kapan Lo berangkat?" Tanya El
"Besok"
El mengangkat alisnya, cepat sekali, kenapa harus besok. Yah memang ujian sudah dilakukan semuanya. Tapi kenapa harus besok
"Kenapa besok?"
"Gue males ketemu elo" Kharisma meninju lengan El pelan dengan senyuman dan lelaki itu berjalan keluar dari area kolam.
⏳⏳⏳
El mengetuk pintu rumah Al, hanya tiga kali karena perempuan itu lantas membukukannya, El datang dengan senyuman paling manis yang tanpa sungkan dia kembangkan sekarang. Sedangkan Al perempuan itu mengenakan kaos warna pink, dengan celana pendek diatas lutut, Al tersenyum saat melihat kedatangan El kerumahnya
"Kok gak kasih tahu Al dulu kalau mau kesini" kata Al dengan senyuman yang belum pudar
"Gue ada kejutan buat elo" kata El merogoh sesuatu dari dalam jaketnya
"Apa?" Al justru menutup matanya dengan kedua tangan ,meski begitu jari jari tangannya melebar memberi celah pada mata untuk melihat apa yang dilakukan El dengan jelas.
"Taraaaa" meski dengan nada kaku dan terdengar tidak pantas, Al beraksi terkejut
"Apa ini?" Al mengambil selembar kertas yang baru saja di berikan El "Kartu keluarga?" Tanya Al tidak percaya
El mengangguk dengan begitu mantap "Gue udah punya keluarga sekarang"
"Oh ya, kamu jadi adeknya Kharisma sekarang" Al membaca nama nama di kartu keluarga
"Cieeee yang udah gak sendiri lagi" goda Al
Mendengar itu El tertawa lebar, ah lucunya mendengar percakapan yang aneh ini. Tangan El mengusap rambut Al dengan lembut. Dia tersenyum, dengan tulus.
"Besok Kharisma ke Portugal, ikut nganterin dia gak?" Tanya El mengikuti Al masuk kedalam rumah.
"Kharisma di ijinin ke Portugal?" Al tampak antusias mendengar cerita El.
"Gak diijinin tapi gak di larang juga"
Al mendekati El dan melingkarkan tangannya ke dalam lengan El, menyandarkan kepala Al ke bahu El dan menutup kedua mata. Al menikmati bersandar di pelukan lelaki itu.
"Al seneng banget sekarang El udah terbuka sama Al" ujarnya masih menutup mata
El menatap tangan Al yang masih menggantung di lengannya, lalu mengambil jari jemari mungil itu dan memasukan di sela sela jari jemari kekar El. Genggaman itu begitu lembut, El mengangkat tangan Al dan menciuminya, mengusapkan punggung tangan Al ke pipi, lalu diciumi hingga punggung tangan itu basah.
"Kayak gini terus ya, sampai tua" kata Al meletakkan dagunya di bahu El.
El menoleh, sehingga mata mereka bertatapan dengan dekat, El mengelus rambut Al dengan tangan sebelahnya, dia tersenyum lembut
"Sampai tua, sampai gue mati" El mencium tangan Al.
Perempuan itu melingkarkan tangannya dan memeluk El dari samping dengan begitu kuat, seolah esok mereka sudah tidak memiliki waktu untuk ini.
⏳⏳⏳
__ADS_1
TINGGAL SATU PART LAGIIIIIIIIIIIIIIIIII
⏳⏳⏳