AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Enam Puluh Satu


__ADS_3

Tidak ada rahasia di dunia ini, semua nya hanya menunggu waktu terungkap saja


⏳⏳⏳


El hanya bisa kehilangan Al saat ini, membiarkan perempuan itu pergi dengan tangisannya. Saat El berniat kembali ke tenda Arnol, perempuan dengan kuncir saat menghadangnya.


"Elo El Nevaro Semanding kan?" Tanyanya


El menaikan alis, terlebih dia sedang tidak ingin berbasa basi dengan orang lain selain dirinya. Bagi lelaki tidak populer seperti El, tidak penting untuk dikenal orang lain.


"Lo lupa sama gue?" Perempuan itu berkecap "Gue yang elo tabrak di belakang tenda tanpa kata maaf" ujarnya menambahkan.


El tidak menggubris dan melewati perempuan itu begitu saja. Dia sedang di tahap muak hingga merubah tujuan awal ke parkiran motor yang tidak begitu jauh.


"Woy tungguin ngapa" perempuan itu justru mengikutinya dari belakang sambil merogoh saku celana.


"Saudaranya Kharisma"


Saat perempuan itu menyebutkan kata saudara Kharisma, El lantas berhenti dan memandang perempuan yang kini berada didepannya, lalu memiringkan kepala dan mengernyitkan alis.


"Bdw tinjuan elo tadi keren" puji perempuan itu


Perlukan El tersanjung untuk perlakuan kotornya tadi, atau perlukan dia merasa terhina sedangkan apa yang dia lakukan sedang diapresiasi oleh seseorang.


"Oh ya" perempuan itu mengeluarkan ponsel dari sakunya "Nih hp elo" ujarnya menyodorkan ponsel.


Benda Pipih bewarna hitam mengkilap itu adalah miliknya yang tadi sempat membuat khawatir dan hampir kembali ke hutan hanya untuk mencari keberadaan ponsel.


"Gue tadi nemuin hp ini pas nyariin Al" perempuan yang tidak El kenali lantas memegang tangan El dan memberikan ponsel ke telapak nya.


"Sory karena penasaran jadi ponselnya gue cas, ternyata hp Lo gak dikunci jadi kekepoan gue mulai muncul" perempuan itu menggaruk tekuk


"Oh ya, nama gue Ainun Sofia Maimunah, akrab dipanggil Ainun, gue anak XII IPS" perempuan itu mengulurkan tangan yang hanya ditatap oleh El.


Selanjutnya El pergi melintas begitu saja membawa motornya.


⏳⏳⏳


Al berdiri didepan pohon besar sambil bertudungkan switer tebalnya, mata hitam kecoklatan itu sedari tadi menatap El yang sedang berdua bersama wanita lain. Al tidak tahu siapa perempuannya, dan mengapa perempuan itu bisa terlihat bersama dengan El.


"Al" panggilan dari Ivana membuat Al menoleh

__ADS_1


Dengan wajah bengap, Al masih memaksakan giginya untuk memunculkan cahaya dibalik senyum yang dia paksakan.


"Gue mau nengok in si Kharisma, elo mau ikut?" Tanya Ivana


Ngomongin soal Kharisma lelaki itu sudah dibawa ke klinik terdekat dengan area pantai. Mimisannya tidak berhenti, takut jika Kharisma kekurangan darah.


Al menarik nafas amat panjang lalu mengikuti langkah Ivana dengan murung, entahlah semua terasa tidak seperti awal awal tadi, tidak sesemangat seperti diawal.


⏳⏳⏳


Penutupan acara camping selesai sekitar pukul 10.00 an , para siswa sedang membereskan barang dan tendanya masing masing, lalu ada yang mengembalikan tenda kepanitia. Begitu juga dengan El, setelah semalam dia pergi untuk menenangkan dirinya, kali ini dia sudah membantu Arnol dan Febri membereskan tenda.


Tidak ada percakapan yang berarti diantara mereka bertiga. Mungkin hanya Arnol dan Febri yang saling bercakap tanpa mengikut sertakan El kedalamnya. Setelah selesai membereskan semua barang barang dan membuang sampah, kini acara camping benar benar telah selesai.


Mereka sedang bersiap siap naik kedalam bus yang disiapkan oleh sekolahan. El membawa tas ransel dan berjalan sedikit pelan, dia menoleh kekanan dan kiri, begitu yang dicari sudah dia temukan, El lantas berjalan dan mendekati Al.


"Mau pulang bareng gue?" Tawar El untuk pertama kali.


"Gak, makasih" Al justru mempercepat langkahnya dan langsung memasuki bus tanpa basa basi seperti dulu.


Melihat sikap Al yang sudah berubah ratusan derajat, hanya membuat El berdiri memaku dan melihat Al dari jendela bus. Semuanya terasa menyakitkan. Dan El masih tidak percaya bahwa hubungan mereka berakhir dalam semalam.


Dengan perasaan penuh luka, Apalagi saat melihat bus sudah mulai berjalan, El kini menaiki motor nya dan memacu mengikuti bus.


Apa yang dia perjuangkan selama ini ternyata harus berakhir sampai disini, semuanya, bahkan disaat Al berharap El akan mengusahakan untuk membuatnya kembali pada pelukan El, ternyata lelaki dingin itu masih bersikap sama, sedingin biasanya tanpa usaha apapun lagi.


Air mata itu terus bercucuran membuat Al memejamkan mata karena menahan sesak di dada.


"Mulai sekarang, Al mau berhenti suka suka lagi sama El, terserah El mau gimana sekarang" lirihnya pada diri sendiri


⏳⏳⏳


El sempat mampir sejenak ke gedung tempatnya bertinju, lalu kembali pulang dan menemukan aura rumahnya yang terasa mencekam lebih dari biasanya.


Kharisma, Glori dan Ela sedang menunggunya untuk memberi penghakiman paling adil menurut mereka. Begitu El masuk kedalam rumah dan berdiri diantara mereka, wajah Ela tampak begitu pias menahan kemarahan sedangkan Glori seperti sedang menunggu sesuatu


"Papa mau tanya sama kamu, kamu berantem lagi sama Kharisma?" Tanya Glori dengan suara berat berwibawa.


El melirik kearah Kharisma yang babak belur, syukurlah, kalau lelaki itu babak belur separah itu, andai wajahnya masih ada celah mulus mungkin El akan kembali menghajarnya.


"Ya" jawab El dengan tegas tanpa ketakutan sama sekali.

__ADS_1


Glori lantas menoleh nya dan seperti tidak percaya dengan jawaban yang duceletuskan oleh El. Raut wajah dari putra keduanya itu benar benar tidak menunjukan sesuatu perasaan bersalah sama sekali.


"Anak kurang ajar!!" Teriak Ela begitu menggema "Kamu lupa siapa kamu dirumah ini?" Ela menunjuk nunjuk wajah El.


Lelaki itu masih berwajah dingin tanpa perasaan ketakutan sama sekali. Dia masih berdiri dan menatap Ela seperti sedang menatap orang yang beraktivitas seperti biasa.


"Saya sudah mau menampung dan ngasih makan kamu, apa itu kurang?" Ela seperti tersulut emosi "Dan sekarang kamu selalu mukulin anak saya!" Ela berkacak pinggang


"Cukup Ela" kini Glori melerai keduanya


"Cukup untuk apa, ibu mana yang rela melihat putranya dipukuli oleh orang lain" nafas Ela memburu "Saya tidak menyalahkan sikap bruntal kamu, memang semuanya ada keturunan, ibu mu ******* dan kamu anak haram"


Kalimat itu membuat mata El membulat, rahangnya mengeras, dadanya terasa sesak.


"Jaga ucapan Tante" kini mata El begitu berkobar.


"Ela El " bentakan dari Glori tidak mengakhiri keduanya dalam perang tatapan, justru semakin menghunuskan tatapan keduanya.


Kharisma tampak menikmati semua adegan didepan matanya.


"Jelaskan ke papa, apa alasan kamu memukul Kharisma?" Tanya Glori penuh penekanan


El tersenyum "El gak perlu alasan untuk mukul seseorang yang udah ngerendahin martabat ibu El sendiri" katanya penuh berani


Glori menatap mata El yang tanpa keteduhan sama sekali. Putra keduanya itu tampak seperti terasingkan oleh dunianya sendiri, tampak seperti tidak pernah bisa mengendalikan kemarahan, tampak seperti sama sekali tidak bisa berperan seperti lelaki. Dan ketika melihat bola mata yang menyorotkan kelemahan dari El, perasaan bersalah dari Glori muncul, andai saja Glori menyadari sejak awal mengenai kehadiran El, mungkin anaknya ini bisa bertingkah layaknya laki laki yang lainnya. Tidak sekasar dan sedingin sekarang.


"Papa anggap semua masalah ini disebabkan oleh Kharisma" ujar Glori membelakangi kedua putranya


Mendengar kalimat Glori itu, Kharisma tentu saja tidak percaya. Kenapa harus dia yang disalahkan sedangkan seharusnya El yang harus disalahkan.


"Pa" nada Kharisma Menaik "papa gak bisa gitu, lihat muka Kharisma, anak papa ini babak belur karena dia" Kharisma memprotes


"Stop bersikap kekanakan Kanakan Kharisma, kamu ini calon atlet, seorang atlet memang udah biasa terluka kan"


Kharisma mengeraskan rahangnya, dia tidak menyangka jawaban seperti itu yang harus dia dapatkan dirumahnya sendiri.


"Papa emang gak pernah adil sama Kharisma" Kharisma menghadap Glori yang sedang mengalihkan arah pandang


"Mulai sekarang, Kharisma bukan lagi anak papa" Kharisma menatap El "Selamat udah lebih milih anak haram ini dibandingkan anak kandung papa sendiri"


Prak

__ADS_1


Diarah belakang, Al menjatuhkan kamera milik Kharisma sambil menatap keluarga Semanding.


__ADS_2