
Semuanya terluka tidak ada pihak baik baik saja setelah di kecewakan orang tersayang
⏳⏳⏳
Begitu turun dari bus, Arnol lantas mendekati Al dengan wajah cemberut. Sejak peristiwa hilang nya Al semalam, Arnol memang terkesan menjauhi Al, padahal jika dipikir pikir Arnol lah yang salah .
Lelaki dengan rambut hitam, mata kecoklatan, kemeja rapi itu menyodorkan kamera kearah Al.
"Tolong kasihin Kharisma" ujarnya lantas pergi begitu saja setelah kamera yang diberikannya berada di tangan Al.
Tentu saja, begitu Arnol pergi dengan mobil sedannya, Al hanya bisa memaku, terutama tidak mengerti kenapa harus dia yang memberikan kamera ke Kharisma. Padahal ada orang lain, ada Sena dan ada Ivana.
"Kok Al" meskipun telat akhirnya dia bersuara
Setelah pulang dari sekolah dan beristirahat sejenak, Al harus mengantarkan kamera milik Kharisma, siapa tahu lelaki itu membutuhkan kameranya . Setelah mengirimi pesan pada Ivana untuk menanyakan rumah Kharisma, akhirnya perempuan itu datang kesana dengan menaiki ojek online.
Rumah Kharisma ini bergaya Amerika, dengan cat dinding putih, di luar, gerbang bewarna hitam itu sedikit terbuka, tidak ada penjaga disana. Ada motor hitam yang terparkir didepan serta dua buah mobil sedan. Al menoleh kanan dan kiri sambil melangkah maju, dia memperhatikan betul detail detail halaman rumah Kharisma.
Apalagi banyak tanaman anggrek yang menjalar di dekat pagar. Dia melangkah sedikit pelan lalu berhenti didepan pintu. Tidak ada siapa siapa yang dia temui disini.
Tok tok tok
Al mengetuk daun pintu, berharap dari ketukan itu Kharisma muncul dibaliknya, lelah juga kalau harus menunggu disini.
"Kharisma" panggil Al
Tidak ada sahutan sama sekali, tapi dia seperti mendengar suara orang didalamnya, saat hendak mengetuk lagi, Al memegang knop pintu dan tanpa sengaja pintu itu terbuka. Awalnya Al berniat menutup pintu itu, tapi saat dia melihat orang yang familiar didalam sana, Al lantas masuk dan hanya bisa memaku setelah ada didalam.
El, El Nevaro Semanding sedang berdiri disana, berdiri dengan tatapan kakunya, sedangkan Kharisma lelaki itu tampak berwajah pias.
"Jelaskan ke papa, apa alasan kamu memukul Kharisma?" Tanya Glori penuh penekanan
"El gak perlu alasan untuk mukul seseorang yang udah ngerendahin martabat ibu El sendiri"
"Pa" nada Kharisma Menaik "papa gak bisa gitu, lihat muka Kharisma, anak papa ini babak belur karena dia" Kharisma memprotes
__ADS_1
"Stop bersikap kekanakan Kanakan Kharisma, kamu ini calon atlet, seorang atlet memang udah biasa terluka kan"
"Papa emang gak pernah adil sama Kharisma" Kharisma menghadap Glori yang sedang mengalihkan arah pandang
"Mulai sekarang, Kharisma bukan lagi anak papa" Kharisma menatap El "Selamat udah lebih milih anak haram ini dibandingkan anak kandung papa sendiri"
Prak
Tanpa sengaja kamera yang sedang dipegangnya jatuh kelantai. Al begitu terkejut, terlebih bahwa El adalah saudara Kharisma, kenapa lelaki itu tidak pernah menceritakan soal ini.
"A a" Al tergugup, apalagi mereka sedang menatapnya
"Kharisma Al mau balikin kameranya" Al memungut kamera yang sempat dia jatuhkan lalu buru buru pergi begitu saja.
Kepergian Al membuat El lantas berlarian mengejarnya, ada yang harus dia jelaskan pada Al.
Perempuan dengan rambut hitam itu tengah berjalan dengan cepat, dan El berusaha mengimbangi langkahnya, El lantas menarik lengan Al dan membuat perempuan itu menghadapnya. Wajah Al, seperti benar benar terkejut.
"Gue bisa jelasin" kata El memulai dengan suara seraknya
"Gak perlu" Al berbalik badan dan berniat pergi , tidak El tidak akan mengijinkan hal itu, El menarik tangan Al dan menggenggamnya dengan tulus.
"Gue bisa jelasin semuanya, gue emang saudara sama Kharisma tapi_"
"Elll" suara Al membentak "Al gak mau denger apapun dari El, apapun yang El jelasin saat ini udah terlambat El" Al melepaskan cekalan tangan El lalu menatap lelaki itu dengan berkaca kaca.
"Banyak hal yang Al gak tahu tentang El, dan itu yang bikin Al kecewa, karena nyatanya Al pikir Al udah kenal El lebih dari siapapun tapi ternyata " Al menjedanya "tapi yang Al kenal itu cuman bagian depannya aja El, gak ada satupun yang Al tahu tentang El " air mata Al turun berjatuhan
"Gue punya alasan kenapa gue kayak gini" El tampak memohon, bahkan raut wajahnya tidak sekaku sebelumnya
"Percuma El, Al udah terlanjur kecewa" ujarnya beranjak pergi namun ditahan oleh El
"Al, jangan pergi"
Percuma, bahkan kalimat itu tidak mempan untuk membuat Al tinggal, perempuan itu melepaskan genggaman tangan El dan pergi berlari.
__ADS_1
⏳⏳⏳
Al menangis sesegukan dibelakang pintu kamarnya, dia merasa begitu dilukai saat tahu kenyataan yang selama ini sengaja disembunyikan oleh El. Terlebih mengenai keluarganya, Al menebak nebak, apa begitu tidak berartinya Al untuknya hingga banyak hal yang terlewatkan untuk diketahui darinya.
Al begitu terisak, dia menangis sesegukan. Pantas saja, cara memandang El ke Kharisma terkesan berbeda, Al pikir El hanya cemburu dengan Kharisma karena lelaki itu pernah jadi masa lalunya, tapi kini? Apa yang selalu membuatnya yakin bahwa El mencintainya hanya sebuah kesalahan, lelaki itu tidak lebih menganggapnya sebagai orang asing
"Al, Alriestella" ketukan dari pintu membuat Al lantas mengusap air mata dengan punggung tangan.
"Apa?" katanya sumbang
"Ada yang nyari kamu"
Al diam sejenak, lalu membuka pintu dan melewati ibunya begitu saja, bahkan Bella tidak sempat melihat wajah bengkak Al. Diruang tamu, Kharisma sudah menunggu dengan tatapan kosong, dia membawa tas ransel besar, seperti sedang persiapan untuk pergi ke sesuatu tempat.
"Kharisma ada apa?" Tanya Al tanpa mau basa basi, perempuan itu duduk, agak jauh dan menatap wajah Kharisma yang begitu lelah.
"Lo udah tahu kan mengenai keluarga gue" kata Kharisma membuka suara "Gue gak mau jelasin apa apa ke elo, karena hak elo punya pemikiran aneh mengenai keluarga gue" katanya
Al diam saja, dia menunduk, menatap kuku jempolnya dan menekan berulang ulang, dia tengah menahan tangis, terlebih bayangan El lah yang selalu melintas di otaknya
"Lo harus tahu ini Al" Kharisma tetap berada di tempatnya "Bokap gue selingkuh sebulan setelah dia nikah sama nyokap gue, waktu nyokap gue ngandung gue, selingkuhan bokap gue ngandung El" Kharisma menjedanya "Gue gak tahu yang gue lakuin ini bener atau salah, cuman anak mana yang gak sakit hati pas tahu tiba tiba bokap kita balik dari luar kota sambil bawa anak seusia kita"
Kharisma menatap arah depan, memperlihatkan lukanya, memperlihatkan sisi dia, mungkin El juga sama menderitanya dibandingkan dia, tapi tidak adil jika menyebut semua kesalahan ini adalah ulahnya, Kharisma juga sama menderita, mendapat kenyataan bawa Glori mempunyai anak dari wanita lain, anak yang sesuai dengannya, anak yang selalu membuat ibunya sendiri menangis setiap malah karena mengetahui penghianatan Glori.
"Gue" Kharisma menunduk "gue tahu keputusan gue benci si El itu salah, tapi gue juga punya alasan buat ini semua"
Al menatap Kharisma. Menatap wajah Kharisma yang meperlihatkan semua bebannya. Dan bagaimana dengan El, bahkan lelaki itu tidak kesini sama sekali, apa menjelaskan hal semacam ini tidak penting intinya?
Kharisma menunduk, terisak dalam diamnya, setetes air mata itu mengenai punggung tangan, dan Al merasa iba melihat air mata Kharisma, perempuan itu lantas berpindah, dia menepuk bahu Kharisma, menyalurkan kekuatannya
"Kharisma Al tahu kok rasanya gimana, Kharisma yang sabar ya"
Kharisma lantas mengangkat kepala dan memeluk El, memeluknya hingga perempuan itu diam saja.
"Gue gak tahu sekarang gue harus berbuat apa Al" ujarnya
__ADS_1