AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Enam Puluh Tiga


__ADS_3

Lelaki terdingin sekalipun juga memiliki rasa cemburu


⏳⏳⏳


El tertahan dirumah saat dia hendak mengejar Al, Ela meraung raung begitu melihat Kharisma benar benar sudah meninggalkan rumah dengan tas ransel, apalagi melihat suaminya tidak berbuat apa apa.


Bahkan dirumah pun El tidak bisa lantas pergi, Ela menahannya, memohon sekuat tenaga untuk meminta Kharisma kembali.


Mana bisa, sedangkan El dan Kharisma tidak sedekat itu, memintanya kembali sama saja memintanya menerima El di hidup Kharisma


"Tolong El tolong, Tante akan ijinin kamu tinggal disini tapi tolong bawa Kharisma pulang" tangisan Ela itu benar benar menyayat hati El, apalagi tangisan serupa yang pernah dilakukan ibunya.


El hanya bisa menahan diri, sungguh, dia tidak bisa berbuat apa apa ketika melihat seorang perempuan menangis. Glori hanya berdiri terpaku, entahlah apa yang ada di otak lelaki itu


Apakah dia sudah merasa puas karena menjadi objek perebutan saat ini. Atau dia merasa bersalah sudah menjadikan Kharisma dan El korban dari perselingkuhannya


Meski begitu, setelah lama ditahan oleh Ela, El sudah bisa pergi dari rumah. Dia lantas menemui Al, akan menjelaskan semuanya, semua yang terlewatkan .


Ketika di depan latar Al, El hanya bisa memaku, apalagi saat Al memeluk Kharisma dengan mesra. Apa alasan berakhirnya hubungan mereka bukan karena keegoisan dirinya tapi karena ada orang lain yang sudah menggantikannya?.


El mengepalkan tangan lalu putar badan dan lantas memacu motornya menuju gedung tua tempatnya tinju. Percuma, sungguh berusaha menjelaskan pada Al pun percuma karena di hati gadis itu sudah tidak ada dirinya lagi.


Di area tinju, Ginanjar tampak sedang mempersiapkan taruhan juga petinju petinju yang akan di adu sedang bersiap siap.


"Gue mau maen" kata El begitu dia sudah mendekati Ginanjar.


Lelaki yang sedang memasang taruhan menoleh kearah El, mengernyitkan dahi lalu berkecap.


"Malam ini kan bukan jadwal elo maen" tolak Ginanjar lalu kembali masang taruhan


"Gue mau maen bang" nada suara El Menaik, tapi tidak begitu keras.


Dan Ginanjar menyadari ada aura kemarahan yang muncul dari diri El. Ginanjar memandangi El, lalu menimbangkan permintaan El barusan, apakah menyetujui atau menolaknya.


"Oke" ujar Ginanjar.


⏳⏳⏳


Setelah menyiapkan segala ***** bengek untuk pertandingan El dan Erik, mereka berdua kini berada di atas ring berdua


Erik tampak memasang kuda kuda lalu menyerang lebih dulu, sayang tinjuan pertama itu bisa dihindari oleh El dengan baik. Erik merasa heran lalu kembali menyerang dan mampu di hindari oleh El. Serangan ketiga berhasil dilakukan oleh Erik tapi langsung diserang balik oleh El.


Erik tersungkur kebawah, rasanya pukulan kali ini bertenaga ekstra, El tidak pernah memberikan pukulan se keras itu.

__ADS_1


Meski tahu Erik terjatuh, El tetap menghampirinya, menarik Erik dan meninjunya kembali. Ginanjar yang berada di luar ring, menatap kelakuan El dengan aneh, rasanya El tidak pernah melanggar aturan permainan. Sampai saat Erik hampir menyerah dan El masih memukulinya, Ginanjar berdiri dan masuk ke ring, lelaki itu menarik bahu El dan memintanya berhenti.


"Lo bisa bunuh Erik" kata Ginanjar.


El mantap Erik yang juga menatapnya, El melepaskan sarung tinju dan melemparnya, lalu keluar dari ring dengan kesal.


Ah kesal saja , apalagi sedari tadi hanya bayangan Al lah yang selalu memenuhi otaknya, El tidak memperdulikan apapun lagi dari dirinya, apapun kecuali dia ingin menemui Al dan memintanya untuk menjauhi Kharisma, apa itu sulit?


El sudah berada diatas motor tapi begitu dia ingin pergi, perempuan berambut panjang terurai menghadangnya, perempuan itu mendekati dengan tampang serius. Perempuan yang sama, yang dulu menemukan ponselnya saat dia kehilangan ponsel di acara camping


"Lo kenapa pergi gitu aja, kenapa gak minta maaf sama abang gue?" Tanya perempuan itu, ah El lupa namanya siapa.


El membuka kaca helm dan menatapnya, lalu mengernyitkan dahi.


"Siapa Lo?"


"Astaga udah tiga point kesalahan elo sama gue, pertama elo nabrak gue dan gak minta maaf, kedua elo mukulin Abang gue tanpa minta maaf, ketiga Lo lupa nama gue" wajah perempuan itu tampak berang tapi El tidak perduli, memangnya siapa dia hingga El harus memperdulikannya


"Minggri!" Kata El dingin


"Gue mau minggir, asal elo minta maaf dulu sama bang Erik"


Tuhan, apakah perempuan memang diciptakan sekeras ini, pertama Al dan sekarang perempuan dihadapannya yang meminta dia untuk menemui Erik kembali.


"El" panggilan dari arah samping membuatnya menoleh


"Lo minta maaf dulu sama Erik baru boleh pergi" kata yang sama dengan perempuan di hadapannya


"Untuk apa? Itukan hanya permainan, udah biasa kita kalah menang di ring" El masih keukuh menolaknya


"Gue tahu" Ginanjar menepuk bahu El "tapi Erik ataupun gue tahu, kali ini Lo bukan maen tinju tapi elo ngelampiasin semua kemarahan elo ke Erik"


El diam saja karena apa yang diucapkan oleh Ginanjar memang benar, dia tidak benar benar ingin bermain tapi dia ingin meluapkan kemarahannya.


El menarik nafas lalu mendegus begitu saja, meminta maaf oleh pertandingan diatas ring. El menatap wajah Ginanjar, lalu turun. Mau tidak mau dia harus menurut jika dengan Ginanjar.


Lelaki itu berjalan mendahului Ginanjar dan perempuan yang tidak dikenali, masuk kedalam ring dan menemui Erik ditempat ganti yang tengah mengobati luka memar diwajahnya. El mengulurkan tangan, entah kenapa meminta maaf kali ini terasa sulit untuknya.


"Maaf" kata El lirih


Erik memandanginya dengan kosong, lalu menerima jabatan tangan itu dan tersenyum getir.


"Gue kira elo ada masalah sama gue, makanya gue diem aja pas elo mukulin gue tadi"

__ADS_1


El duduk di sebelah Erik, lalu menatap arah depan, menatap loker loker ganti yang difasilitasi Ibnu.


"Enggak kok, gue salah udah ngelampiasin semua sama elo" katanya


Perempuan tadi mengintip, menatap Erik dan El bergantian.


"Nun sini, Abang kenalin sama temennya Abang" kata Erik meminta Ainun untuk masuk kedalam.


Perempuan tadi seperti ragu untuk melangkah tapi akhirnya dia masuk juga kedalam dan duduk disebelahnya Erik.


"Kenalin El, dia adek gue" Erik memperkenalkan Ainun "Dia satu sekolahan sama elo, cuman yah dia anak IPS" sambung Erik


El hanya meliriknya saja lalu masukan tangan kedalam saku dan menatap arah depan.


"Aku udah kenal kok bang sama dia, dia itu cowok super dingin di sekolahan, bahkan nih ya, ada salah satu anak yang ngebucinin dia eh malah sama dia di sia sia in" cerocos Ainun yang di toleh tanpa minat oleh El.


"Gue cabut dulu ya" El bangkit tapi belum jauh dari posisinya tadi, suara Erik terdengar menggema.


"Gue boleh nebengin adek gue gak?" Erik meneguk air ludah "Soalnya tar gue baliknya malem, gue harus tanding sama petinjunya bang Marko"


El membalikan badan dan menatap satu persatu orang didepannya, pertama wajah memelas Erik yang membuat hatinya berdesir merasa bersalah setelah memukulinya tadi. Kedua wajah congkak Ainun yang dipasang semenyebalkan mungkin, bahkan tidak ada perasaan memohon sama sekali dari wajahnya.


"Please lah El, Lo tolongin gue, anggap aja permintaan maaf elo ke gue karena bikin gue babak belur" katanya


El menarik nafas lalu menganggukinya , tapi lelaki itu lebih dulu berjalan keluar gedung, mungkin Ainun akan tergopoh-gopoh hanya untuk mengejarnya.


⏳⏳⏳


Di pertengahan jalan menuju rumah Ainun, perempuan itu memukil-mukul bahu El dengan begitu keras, sampai El harus menoleh karenanya.


"Gue pengen beli sesuatu di supermarket" teriak Ainun.


El itu tidak tuli, jadi kalimat apapun bisa dia terima dengan baik, olehnya di supermarket sebelum belokan rumah Ainun, El sempat menurunkan gadis itu dan menunggunya di depan supermarket saja.


Tidak lama gadis yang belanjanya super lama itu sudah keluar dengan kantong plastik yang dia sembunyikan dalam jaket.


"Gue bisa pulang sendiri kok dari sini, Lo gak perlu nganterin gue"


"Ck" El berdecak sebal, sialan kenapa tidak bilang dari tadi, kalau tahu begitu kan dia tidak perlu menunggunya berbelanja.


Saat El hendak menghidupkan suara mesin, gadis itu mengeluarkan sesuatu dari kantong belanjaannya dan memberikan sebotol minuman ke El.


"Gue gak mau punya hutang budi sama elo" katanya mencoblos minuman itu dengan sedotan lalu menyodorkan sampai ke mulut El.

__ADS_1


El menolaknya dan menepis minuman itu, lalu membunyikan mesin motor dan benar benar pergi.


Tapi sayang El, seharusnya kamu pergi dari tadi, sebelum Al dan Ivana menontonmu dari dalam mobil.


__ADS_2