AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Tujuh puluh Dua


__ADS_3

Rencana apa yang sedang mereka susun


⏳⏳⏳


El masih di depan ring, dia menatap pintu yang tertutup, sewaktu laki laki bertubuh kekar melintas didepannya, El lantas menghentikan lelaki itu.


"Boleh minta rokok" pinta El saat lelaki itu berhenti didepannya


"Tumben" lelaki itu menatap wajah El dengan lekat


"Lagi pengen"


Lelaki yang baru saja dimintai rokok lantas berjalan kearah pintu tertutup. Saat lelaki itu mendorong pintu, El mendengar samar samar suara Ibnu yang sedang berbicara dengan telfon, suara nya terdengar gembira, seperti sedang membicarakan sesuatu yang membuatnya senang.


"Tenang aja bos, pasti kita akan gerak cepat" ujar Ibnu diselingi tawa


"Besok, Oh oke, besok kita juga siapkan anak buah" katanya


"Baik bos, kita tunggu kedatangan bos kesini"


Ibnu menutup panggilan lalu menoleh, tidak sengaja mata keduanya saling bertatap, tapi El lantas mengalihkan kearah depan. Lelaki dengan kaos bewarna abu abu itu keluar, dia memberikan El rokok.


"Nih" lelaki itu menyodorkan sebatang rokok yang diterima El, beserta koreknya.


El lantas menyulut rokok, menghisapnya dan menghembuskan asap.


"Makasih ya" dia menepuk lelaki itu lalu berjalan keluar.


El masih terus memikirkan, dengan siapa Ibnu berbicara di telfon, apakah dia sedang membicarakan El, atau hal lain. Siapa orang yang akan datang ke gedung ini besok? Pejudi paling kaya atau calon investor untuk Ibnu?


⏳⏳⏳


Al hanya bisa memandangi bangku tempat duduk milik El, mendatangi roftof tempat mereka dulu sering habiskan waktu disana. Mengulas kembali semua memori kebersamaan mengenai dirinya dan El. Semakin keras Al memikirkan tentang El, maka semakin terasa sakit pula hatinya. Al menangis sesegukan lagi.


Al menyeka air mata ketika dia berdiri menatap siswa siswi yang berlalu lalang, berharap El akan datang kesini menemaninya. Pintu roftof terbuka, Al menoleh dengan penuh harap bahwa orang yang akan keluar dari balik pintu adalah El.


Tapi ketika lelaki tegap itu memperlihatkan wajahnya, ekspresi wajah Al lantas berubah. Itu Kharisma yang datang membawa minuman cup untuknya.


"Gue tadi nyariin elo" katanya menyodorkan minuman yang diletakkan Kharisma di pembatas roftof.


Al sesegukan, suara tangis itu bahkan membuat Kharisma menghela nafas dengan kasar.


"Mau sampe kapan sih kayak gini?" Tanya Kharisma


"Sampe El pulang" jawab Al tersedu sedu

__ADS_1


"Kalo dia gak pulang, apa elo mau nyiksa diri elo dengan cara kayak gini?"


Al menoleh, menatap wajah Kharisma yang tampak tenang bahkan disaat El sudah tidak pulang berhari hari.


"Kharisma gak merasa kehilangan El ya?"


Kharisma menatap arah depan, menatap sinar matahari yang tertutup awan.


"Buat apa, bagus dong kalau dia pergi"


"Kharisma gak boleh kayak gitu, El itu selalu sendiri ngadepin dunia, bahkan dia milih gak percaya sama siapapun karena diperlakukan gak baik selama ini"


Kharisma menoleh "terus gue gimana? Al, gue juga korban" Kharisma memandang begitu lekat "Lo pikir gue mau punya saudara tiri?"


Lelaki yang kini nafasnya menggebu itu menyeka wajah begitu kasar.


"Gue juga sendiri Al, gue cuman punya Mama, Lo tahu bokap gue, bahkan dia udah gak pernah peduli sama kami lagi. Siapa yang gue percayai di dunia ini setelah gue tahu penghianatan bokap gue sendiri. Ha?" Nada suara Kharisma begitu keras, rasanya dia sudah melampiaskan kemarahan begitu cepat jika menyangkut El.


"Kalo Lo cuman berfikir bahwa El korban, Lo salah, gue juga sama menderitanya, ngeliat nyokap gue selalu nangis, ngeliat anak dari selingkuhan bokap gue setiap hari" Kharisma berpegangan pada pembatas roftof dan menarik nafas sedalam dalamnya "Setiap hari rumah itu udah jadi neraka buat gue"


Al menatap binar kesedihan dalam mata Kharisma, perempuan berhati lembut itu merangkul Kharisma dari samping.


"Gue ada disini Kharisma" katanya


⏳⏳⏳


El menguping, mendengarkan pembicaraan basa basi antara Ibnu dan lelaki yang tidak dia kenal.


"Jadi saya akan berikan uang setelah misi ini selesai" suaranya sedikit serak


"Tenang aja bos, misinya pasti beres, kita udah dapet info"


"Bagus"


"Kita semalam dapetin info dari El"


El mengernyitkan dahi, dari dia?. Info apa yang diberikan pada Ibnu?, El berusaha keras berfikir hingga selintas percakapan antara dirinya dan Ibnu yang membahasa Al terputar.


"Al" El bergumam.


"Ngapain elo disini?" Tanya lelaki berwajah kotak, bermata kulit dengan tahi lalat dibawah dagu.


"Mau minta rokok" alibinya


"Gak ada, sana Lo pergi" usir lelaki itu.

__ADS_1


El berjalan, berganti dengan pakaian tinju sambil memikirkan mengenai percakapan Ibnu bersama lelaki itu. Rencana apa yang sedang mereka susun?. El masih memaku didepan loker sampai tidak sadar kedatangan Ibnu, lelaki yang baru saja datang dengan wajah berseri-seri itu menepuk bahunya


"Malam ini jadwal tandingan elo sama petinjunya Marko" ucap Ibnu "Kalau Lo menangin pertandingan ini, hutang elo ke gue lunas, dan elo bebas pergi kemana aja"


Ibnu lantas berjalan pergi, El hanya bisa melihatnya dari ambang bahwa si Ibnu dan tiga anak buahnya keluar dari gedung tinju. Kemana lelaki itu pergi?


El duduk di dekat ring, memandang dengan kosong arah ring.


"Alriestella Lesham Shaenette, anaknya Jovan Shaenette kan?" Kalimat Ibnu kemarin kembali terngiang di telinganya. Disusul percakapan Ibnu didalam telfon, El memejamkan mata.


Kalau benar tujuan Ibnu adalah menemui Al, maka gadis itu sedang dalam bahaya. El lantas kembali ke ruang ganti dan mengganti pakaiannya, dia mengenakan jaket hitam dan keluar dari gedung, El tidak lagi menggubris semua panggilan dari anak buah Ibnu fikirannya hanyalah menemui Al sekarang.


⏳⏳⏳


Al sedang diatas panggung, bernyanyi "lebih dari ego" dengan suara merdunya. Para penonton bersorak menikmati penampilan Al. Cafe begitu ramai, saat ditengah tengah lagu, seseorang menarik tangannya untuk turun dari panggung, dan itu membuat Al kaget, tak terkecuali juga para penonton.


Al masih mengikuti lelaki yang menariknya, sampai langkah mereka berada dibelakang cafe.


"El" panggil Al yang ternyata lelaki didepannya itu adalah El.


"El kemana aja sih, Al nyariin El"


Wajah El tidak menunjukan gestur santai sama sekali, dia sering menoleh kekanan dan kiri, begitu melihat tiga orang yang sedang berjalan kearah mereka El lantas menarik Al dan membawanya pergi dari area cafe. Al bingung, tentu saja, tidak ada kalimat penjelas apapun dari El, dan dia hanya dipaksa mengikuti langkah El dari belakang.


Mereka harus memasuki gang sempit, gang yang baru pertama kali ini dimasuki oleh Al, dan ditengah langkah Al menarik tangan El dan menghentikan langkahnya.


"Kita mau kemana sih?" Tanya Al


"Keman aja, ketempat yang aman" nada ucapan El terdengar begitu khawatir.


"Tapi kenapa, di cafe Om Welno juga aman kok"


"Gue gak bisa jelasin sekarang Al, yang jelas kita harus pergi dari sini" El berniat menarik tangan Al tapi gadis itu justru menariknya kembali.


"Jelasin dulu ke Al, ini ada apa?"


"Pokoknya sesuatu yang bahaya sedang meng___"


Bugh


Sebuah benda keras menghantam tekuk El, lelaki itu terjatuh  didepan Al.


"Elll" Al berniat membantu El untuk berdiri tapi tidak, ada dua orang yang langsung memegang tangannya.


El masih sempat melihat Al, melihat gadis itu di pegang dua anak buah Ibnu, dan wajah Ibnu perlahan lahan mulai kabur bersama senyuman menjijikan darinya.

__ADS_1


Braakkk


Sesuatu dari belokan pertama berdetum, Ibnu berjalan dan memeriksa kotak sampah didekat sana, tapi tidak ada apa apa kecuali hanya tumpukan sampah.


__ADS_2