AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Tujuh Puluh Lima


__ADS_3

Dia akan ada di hati ku tidak penting seberapa menderitanya aku


⏳⏳⏳


El menatap kepergian Al sambil menggenggam tangannya, tapi dia bergegas pergi kearah Utara, padahal arah yang El tuju adalah arah dimana Leo dan anak buahnya, El sengaja mengecokkan mereka. Saat Leo keluar bersama anak buahnya, lelaki itu sudah bersiap dengan senapan.


"Dimana Alriestella?" Tanya Leo sudah berjalan kearah El.


Lelaki yang ditanyai justru menyunggingkan senyum tanpa arti, bodoh kalau El memberitahu dimana Alriestella. Yang jelas sekarang, El harus mengulur waktu sampai Al benar benar sudah pergi jauh.


"Di hati gue" guraunya tanpa rasa takut sama sekali.


Leo melemaskan otot-otot leher, dia berkecap, menahan kekesalan yang sudah membeludak.


"Masih bisa ngelawak?" Tanya Leo.


Kini tidak hanya anak buah Leo yang bersiap menyerang, anak buah Ibnu pun sudah ikut bergabung dan mengepung El. Tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini selain pasrah


"Dimana Alriestella?" Teriak Leo sekali lagi.


El masih menatap Leo tanpa rasa ketakutan sama sekali, baginya  lebih baik mati tapi Al baik baik saja ketimbang dia selamat tapi Al harus Jatuh ketangan lelaki bejat seperti Leo.


Dari belakang seseorang menendang punggung El, lelaki itu tersungkur, dada bidang yang tidak tertutup apa apa mengenai bebatuan. El masih bisa bangkit, dengan sisa tenaga yang dimilikinya El berusaha melawan, tapi gagal, bagaimanapun hebatnya El, disini dia hanya sendiri.


El duduk lemas setelah dipukul habis habisan oleh empat petinju asuhan Ibnu, lelaki berkarang gigi, dengan tubuh cungkring itu berjongkok didepan El. Dia menekan kuat rahang El, dan menggeretakkan giginya seperti ingin memangsa


"Gue tanya sekali lagi, dimana Al?" Tanya Leo


"Sampai mati gue gak akan ngasih tahu dimana dia" tekan El.


"Brengsek" Leo merogoh sesuatu dibelakang sakunya lalu pisau lipat yang mengkilat diarah kan tepat kemata El.


"Lo mau mati, sekarang mati buat pacar elo" Leo berniat menekannya tapi tertahan oleh suara Ibnu.


"Bos bos, jangan" Ibnu menahan Leo, lelaki yang kini dipenuhi kemarahan menoleh nya


"Yang tahu keberadaan Al cuman El, kalo sampe kita sakiti dia, kita gak akan tahu dimana dia sekarang" kata Ibnu menyakinkan Leo


"Lo ****, sekarang pasti Al udah kabur" Leo membanting pisaunya dengan kesal, dia menyeka wajah dengan begitu keras. "Lo kalo punya otak dipakek" maki Leo pada Ibnu


Ibnu diam saja, "kalo bener sekarang Al udah kabur, berarti cewek itu akan lapor polisi, dan kalo bos bunuh El, kita yang akan dalam bahaya bos"


Tidak tidak, jangan berpikir saat ini Ibnu benar benar mengatakan kalimat jujur pada Leo, karena sesungguhnya sejak mengejar El, lelaki itu selalu mengulur waktu supaya El dan Al bisa kabur. Ibnu tidak benar benar ingin membunuh El, bagaimanapun perasaan sukanya pada lelaki yang tersungkur di antara musuh itu sudah memenuhi hati Ibnu .


Ibnu sengaja membiarkan El lolos dengan mudah, kalau tidak ada niatan semacam itu, mana bisa El mengalahkan empat petinju senior ditambah Ibnu.


Leo tampaknya sedang memikirkan kalimat Ibnu barusan, dia menatap anak buahnya


"Seret dia, kita pindah markas" kata Ibnu memerintah pada dua anak buahnya


⏳⏳⏳

__ADS_1


Ginanjar sampai didepan gedung tua kumuh, penuh debu dengan sisa drum drum tidak terpakai didepannya, Ginanjar membuka pintu, tidak ada siapapun yang dia temui disini.


"Kita pisah, kalian cari El sampai belakang" kata Ginanjar.


Sampai setengah jam pun ketika Kharisma, Arnol, dan Erik kembali mereka tidak menemukan siapapun yang berada disini, bahkan ring tinju yang seharusnya dipenuhi dengan petinju dalam keadaan sepi.


"Gak ada sama sekali bang" kata Erik


"Gak mungkin, gedung ini gak pernah sepi sama sekali, bahkan gak ada kata libur untuk gedung ini" kata Ginanjar


"Gue rasa mereka sengaja ngosongin gedung ini supaya gak bisa dilacak polisi" celetuk Kharisma


"Sekarang kita kudu gimana? Semakin kita nunda waktu, El dalam keadaan bahaya" timpal Arnol


"Si Leo, Leo Leo itu pamannya Al kan?" Tanya Ginanjar pada Arnol dan Kharisma


"Gue sih baru denger tadi kalo Al punya Paman" Arnol menggaruk tekuknya


"Coba lo telfon Al sekarang" titah Ginanjar


Arnol merogoh saku, mendial nomor Ivana, tidak lama suara Ivana terdengar.


"Gue mau ngomong sama Al" kata Arnol langsung pada intinya


Ada jeda yang lama pada panggilan itu, tapi lantas tersambung kembali, kali ini suaranya sedikit lemas.


"Al, Lo tahu dimana Paman Lo biasanya ngabisin waktu kalo di Surabaya?" Tanya Arnol


Al diam saja, tidak ada suara jawaban, atau mungkin gadis itu sedang memikirkannya.


"Lo tahu tempatnya?"


"Kalo gak salah di Banyuwangi, Oh deket sama gunung Ijen"


Setelah mengetahui tempatnya, Ginanjar dan yang lainnya lantas pergi kesana, ketempat yang tidak mereka ketahui. Kali ini Kharisma yang menyupir dia sengaja membawa mobil dengan kecepatan tinggi, begitu cepat sampai semuanya harus berpegangan


Belum jauh mereka pergi dari posisi gedung, Kharisma melihat tiga mobil sedan yang berjalan didepan mereka, menuju arah yang sama seperti tujuannya.


"Ma Ma" Erik menepuk nepuk bahu Kharisma


"Lo liat mobil itu" tunjuk Erik "itu salah satu mobilnya Edwar, anak buahnya Ibnu"


Mendengar itu Kharisma semakin mempercepat laju mobil, awalnya mobil didepan itu begitu sulit di kejar, tapi karena kegigihan Kharisma akhirnya mereka berhasil memberhentikan ketiga mobil sedan dengan paksa.


Yah, Erik benar, pemilik mobil itu salah satunya adalah Edwar, lelaki bertubuh kekar yang baru saja keluar, disusul yang lainnya.


"Ngapain lo disini?" Suara Edwar amat meninggi


Edwar ini sering melawan diatas ring dengan Erik, keduanya sering imbang dalam permainan bahkan diluar ring pun keduanya masih saling berkompetisi untuk mendapatkan predikat juara.


"Gue nyari El" kata Ginanjar

__ADS_1


Ibnu keluar dari mobil sambil bertepuk tangan, kini ekspresi Ibnu benar benar kaku.


"Lo udah berani sama gue?" Tanyanya mendekati Ginanjar.


Lelaki yang didekatinya kini semakin muak, tanpa aba aba dia menendang perut Ibnu hingga lelaki yang memberikan biaya kuliahnya tersungkur kebawah


"Brengsek" umpat Ibnu


Petinju yang lain ambil kuda kuda, Kharisma mengambil sesuatu dari dalam dan melemparkan pada Arnol. Sebuah tongkat basboll.


Pertarungan terjadi, empat petinju beserta Ibnu melawan Ginanjar dan yang lainnya, sedangkan didalam, El mencari celah untuk kabur, dia menendang dengan keras anak buah yang sedang kehilangan kewaspadaan. Tendangan itu begitu kuat sampai kaca mobil Leo pecah. El berhasil keluar, musuh mereka kini bertambah dari anak buah Leo.


"Hoi, sini Lo" Ibnu berjalan dan menendang dengan kuat tubuh Arnol tapi di halau oleh El dari samping kanan, lelaki itu berhasil merubuh kan Ibnu.


Sedangkan Edwar dan Erik tengah bertarung satu sama lain. Kharisma, Ginanjar, dan Arnol berlari ke perkebunan di kejar lima orang bertubuh kekar. Sedang Leo dan El kini saling berhadapan, lelaki itu tidak segan mengeluarkan sebilah pisau, El memukul wajah Leo tapi pisau itu tepat mengenai lengannya. El mendorong Leo kedepan tapi lelaki itu menendangnya tepat didada dan menodongkan pisau kearah El, tangan Leo mengambil ancang-ancang, saat tangan itu hendak menikamnya, Erik memberi tendangan pada punggung Leo.


"Lari El" aba aba itu membuat langkah keduanya dengan gesit memasuki perkebunan, Leo dan Edwar tidak akan membiarkan mereka lolos.


⏳⏳⏳


Bugh, giliran Arnol yang sudah kehabisan tenaga, lelaki itu dihajar habis habisan oleh dua orang petinju, Kharisma pun juga demikian.


Ibnu menarik kerah Kharisma dan meninjunya, menarik kembali tapi gagal meninju karena ditarik oleh El dari belakang, lelaki yang bertelanjang dada itu menatap Ibnu.


"Udah jadi sodara kalian sekarang?" Ibnu tertawa nyengir


Kharisma bangkit mengambil tongkat besbolnya. Dia sudah memberi gerakan memukul dan berniat memukulnya tapi tendangan dari Edwar membuat Kharisma rubuh dan terjatuh. Lelaki bernama Edwar itu menarik Kharisma dan memukulnya bertubi tubi.


El sekuat tenaga nya mendorong Edwar dan memberi pukulan balik ke Edwar. Meski tidak berhasil tapi setidaknya bisa menjauhkan Edwar dari Kharisma.


Arnol sekuat tenaga tetap berupaya melawan, Ginanjar dan Erik sedang berjuang dengan caranya. Kharisma bangkit dari arah belakang, tapi El melihat langkah Leo yang berniat menodongkan pisau kearah Kharisma .


"Kharisma" El menarik Kharisma dan menggantikan posisi mereka.


Jleb


Pisau itu mengenai pinggul El dan dapat ditahannya, El mendorong tubuh Leo, dan membuang pisau yang di pakainya. Menarik kerah Leo dan meninju lelaki itu hingga lemas.


Tepat pada tinjuan ketiga, suara tembakan dari polisi terdengar


"Jangan bergerak"


Semuanya berlari, termasuk Ibnu, dan anak buahnya namun langsung di kejar polisi.


Melihat ada kesempatan, Leo berdiri dan mengambil pisau miliknya, dia  kembali menusuk El dengan kuat.


Merasakan are perutnya pedih, El menggeram, menahan bertapa sakitnya terkena tikaman pisau, sedangkan Leo lelaki tampak sangat puas, El terjatuh dan hanya bisa menatap orang orang  yang memanggil namanya.


⏳⏳⏳


Duh maaf ya agak berantakan tulisannya, lagi gak mood nulis tapi kepikiran kalo gak apdate, jadilah tulisan asal asalan

__ADS_1


jangan lupa kasih bintang ya, masing masing kudu ngasih bintang, ini bintangnya rendah bangettt,. apa jangan jangan kalian gak suka sama cerita ini.


yah maaf deh, namanya nyari ide sudah banget,


__ADS_2