
Sekeras apapun kita berteriak, kalau dia tutup telinga juga percuma
⏳⏳⏳
El berjalan dengan langkah pelan memasuki rumahnya, ada yang membuat hatinya bimbang, apalagi melihat Kharisma tampak begitu murung setelah kejadian di meja makan kemarin. El meletakkan tas nya didalam kamar dan merebahkan tubuhnya, dia menatap langit langit kamar.
Menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan, El berdiri dan mengganti pakaian dengan kaos hitam biasa, lalu menuruni tangga. Di undakan tangga terkahir dia bertemu dengan Ella yang baru saja berjalan dari arah ruangan kerja Glori.
"Sudah pulang?" Tanya Ella basa basi
El hanya menarik sudut bibir sekilas saja tanpa menyahuti basa basi dari Ella.
"Dia gak pergi bekerja?" Tanya El tanpa menyebutkan nama Glori atau papa.
Yah El memang belum pernah memanggil lelaki itu dengan sebutan papa atau bahkan namanya, El selalu menyebutkan dengan istilah yang lain, atau sengaja tidak memanggilnya dan hanya bicara seperlunya saja.
"Siapa?" Ella tampak bingung
"Pa__" El seperti kaku mengucapkannya
"Oh papa mu" Ella tersenyum "Hari ini dia bekerja dirimah" kata Ella
"Oh" El mengangguk lalu berjalan ke ruang tamu, duduk disana sambil membaca tabloit yang tergelatak di atas meja.
El memandangi sebentar pigura diatas dinding, foto keluarga mereka, Kharisma tampak tersenyum begitu bahagia, Ella pun juga, mungkin foto itu diambil sebelum mereka tahu bahwa ada anak yang juga lahir berkat ****** Glori.
El menarik nafas lalu menghembuskan nya, dia mengusap wajah begitu sangat frustasi. Dari arah dalam, Kharisma keluar dengan seragam bolanya, mata mereka saling bertatap sekilas lalu Kharisma berjalan begitu saja.
Bagaimana perasaan Kharisma setelah mimpinya di tutup oleh Glori? Seperti dirinya yang memimpikan memiliki keluarga utuh dengan seorang ayah? Pemikiran itu yang justru membuatnya tergerak untuk berjalan keruangan Glori, lelaki itu mengetuk pintu kerja Glori, ada sahutan dari dalam, El mendorongnya dan berusaha menarik sudut bibir kearah Glori.
"Ada apa El?" Tanya Glori akhrinya melepaskan kaca mata
El masih berdiri didepan meja kerja Glori tanpa duduk di kursinya. Lelaki itu menatap wajah Glori dengan dingin, tidak ada senyum yang terkandung didalamnya.
"Ada yang mau El bicarakan" katanya dengan suara berat
"Apa?" Glori bersidepak sambil bersender di senderan kursi.
"Tentang Kharisma" kata El melemah
Glori menaikan alisnya, tapi dia tidak berkomentar hanya menunggu putranya itu menyelesaikan ucapan yang dia jeda begitu lama. Glori masih dalam posisi yang sama, dengan tampang kaku yang hampir mirip dengan El.
"Ijinin Kharisma ke Portugal" El mati matian menekan tangannya untuk mengucapkan kalimat itu.
"Kenapa? Kasih papa alasan kenapa papa harus ngijinin dia ke Portugal?"
"Karena itu mimpi Kharisma sedari kecil, El paham gimana sakitnya saat mimpi kita nihil untuk terwujud" El menatap dalam dalam bola mata Glori.
"Hanya mimpi kan?" Glori menaikan alisnya " Dirumah ini tidak ada yang boleh memiliki mimpi selain papa, karena apa? kita tidak boleh menggantungkan semuanya dari mimpi, karena yayasan, perusahaan itu adalah mimpi keluarga yang sudah nyata" Glori masih menatap wajah El "Tidak untuk sepak bola"
Mendengar kalimat Glori itu, El justru merasa ketidakadilan dan batasan yang begitu di ciptakan Glori dengan kejam. Kenapa lelaki itu selalu tidak bisa memahami orang lain? Bahkan bukan hanya dirinya saja , putra sah pun di beri ketidakadilan yang begitu kejamnya.
"Kalau Kharisma main sepak bola, perusahaan dan yayasan siapa yang akan memimpinnya?" Tanya Glori "kita serahkan ke orang lain yang belum tentu bisa mengelolanya, kamu tahu__" Glori memajukan tubuhnya "Diluar sana banyak yang ingin menjadi Kharisma"
__ADS_1
"Kalo gitu El siap jadi apa yang papa inginkan, menggantikan Kharisma bila perlu"
Ada kecapan dari mulut Glori, lelaki itu kembali menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi, menatap anak lelakinya yang masih berwajah dingin tanpa perubahan sama sekali.
"Kamu gak bisa minpin yayasan?"
"Kenapa? Karena El anak haram?" Celetuk nya yang membuat Glori memandang El dengan kaget
"El__" ucapan Glori terhenti
"El sadar kok, disini El cuman tikus, yang harus sembunyi kalau ada orang, yang mengais sisa sisa makanan dari pemilik rumah" El menatap Glori "El permisi, El mau ke rumah Al" katanya pamit undur diri.
Melihat kepergian El itu, hati Glori justru tertohok, dia mengusap wajahnya begitu frustasi, kenapa kalimat sebiasa itu bisa menyakiti hatinya
⏳⏳⏳
Pukul empat sore, El sudah berada diruang tamu Al sambil mengajari perempuan berambut sebahu, bermata hitam kecoklatan itu matematika. Karena Minggu Minggu ini sudah ujian, maka mereka harus belajar agar bisa lulus sekolah.
"Gunakan phytagoras untuk menghitung panjang sisi yang ketiga (sisi samping)" El mendongakan wajahnya, dia menatap butiran bulat mata Al yang cerah. Perempuan itu ternyata tidak memperhatikan penjelasannya, justru dia sedang memperhatikan wajah El.
"Lo dari tadi merhatiin gue gak sih?"
Al menggeleng sambil nyengir "Kita istirahat bentar yuk, otak Al udah capek" keluhnya
"Al mata Lo harus liat soal ini, besok ujian matematika lho, dan kita baru belajar beberapa menit, masak elo udah capek sih"
Al mengerucutkan bibirnya, perempuan itu menggeleng dan sudah merengek.
"Otak itu punya kapasitas El, dan kebetulan kapasitas penampungan di otak Al itu sedikit" alasan Al
"Apa?"
"Besok gue mau kuliah di UI"
"Jangan" Al memegang lengan El begitu kuat "Jangan di universitas yang susah dimasukin Al nya, UI itu bagaikan istana, jauhhhh dari pandangan" Al mendramatiskan keadaan
"Makanya elo kudu belajar biar bisa masuk UI" kata El kembali menatap buku paket yang ada didepannya.
"Ya tapi Al nya capek" wajah Al berubah sedih dan itu membuat El menghembuskan nafas dengan berat.
Ada hening yang lama, El diam saja memikirkan bagaimana caranya bisa membuat Al belajar, sedangkan Al perempuan itu sudah menyender di bahu El.
"Mau jalan jalan?" El menoleh kearah Al sehingga perempuan berambut sebahu itu mengangkat kepala dan wajahnya berubah bersinar.
Memang paling mudah mengembalikan mood seorang Alriestella. Perempuan itu mengangguk berulang ulang dan lantas berdiri.
"Ayo" katanya "Ma Al sama El mau jalan jalan bentar" teriak Al begitu keras, hampir merobek gendang telinga El.
"Iya, hati hati ya" sahut Bella dari dalam.
El dan Al kini berjalan keluar rumah, menyusuri trotoar jalan, sambil masih diam. Mereka terlalu menikmati udara sore di komplek rumah Al. Udara sore itu begitu menyegarkan, apalagi sore lah yang mengantarkan pada malam hari, dulu El sangat menyukai malam, karena malam tidak perlu membuatnya berpura pura dan sembunyi pada apapun, malam itu selalu jujur, El bisa menikmati megahnya dunia pada malam hari.
"Kenapa sih kita gak naik motor aja, cape tahu jalan kaki" keluh Al dibelakangnya El
__ADS_1
Dia melepaskan cekalan di bawah baju Al, yang membuat lelaki itu menoleh nya.
El menarik sudut bibir saat melihat Al cemberut "Gue kan maunya jalan berdua lama lama sama elo" kata El lantas menarik tangan Al dan menggenggamnya.
Hanya diperlakukan seperti itu saja Al bisa berbunga bunga, apalagi diperlakukan yang lain coba.
"Tadi gue udah ngomong sama bokap" sambil berjalan El bercerita mengenai kejadian sebelum dirinya datang kerumah Al.
"Terus?"
"Dia masih keukuh buat nyuruh Kharisma jadi penerus yayasan" El menatap arah depan sambil memasukan genggaman tangan keduanya ke saku jaket El.
"Bokap gue terlalu menutup semua pendapat orang rumah, sekuat apapun kita teriak kalo bokap gue tutup telinga juga percuma" imbuh El.
"Sabar ya" Al menyenderkan kepalanya di bahu El sambil berjalan.
"Mau gak Al bantuin?" Perempuan itu tersenyum senang
"Dengan cara?"
"Udah pokoknya El terima beres aja, nanti biar Al sama Arnol yang usaha nyari ide"
El berhenti didepan cafe, dia melepaskan gandengannya dan mengusap rambut Al berulang ulang, mencubit pipi perempuannya.
Cup
El mendaratkan bibirnya didahi Al dengan lembut, lalu tersenyum.
"Otaknya biar dingin" ucap El langsung berjalan lebih dulu sambil menggandeng tangan Al.
"Tapi sekarang masih panas" godanya
"Selamat datang, mau pesan apa?"
Ketika Al melihat Barista didaharapannya itu mulut Al lantas menganga. Pantas saja dari semua cafe yang dekat dengan rumah Al, El membawanya kesini.
"Itu kan orang yang sering Al liat di tinjunya El dulu" bisik Al tapi masih didengar oleh Ginanjar.
Yah lelaki yang kini melayani El itu adalah Ginanjar.
"Namanya bang Ginanjar" kata El memberi tahu "Americano dua bang" El mengeluarkan uang dan membayarnya
"Americano dua ya, nanti kami antarkan " kata Ginanjar tersenyum ramah
⏳⏳⏳
Ginjar mengantarkan minuman kearah meja Al dan El setelah dia mengganti pakaiannya, jam kerja Ginanjar sudah berakhir sejak tiga menit yang lalu, Ginanjar duduk didepan El, sambil melihat dua pasangan itu menikmati hidangan yang telah dia buat.
"Enak gak kerja disini?" Tanya El setelah menyesap minumannya
"Emmmm" Ginanjar berdehem "Kalo masalah duit dan tenaga enakan di markas, cumann gue bersyukur karena bisa cari duit yang halal" Ginanjar tersenyum
"Oh ya Erik apa kabar bang?"
__ADS_1
"Dia ikut gabung latihan persiapan tinju WBA" kata Ginanjar "mimpi nya jadi petinju dari dulu"
Ah lagi lagi El harus mendengar mimpi, kalimat yang tidak dia ingin dengar sama sekali.