
Biarin, dunia milik kita berdua, yang lain ngontrak
⏳⏳⏳
Kharisma sudah bersiap sejak semalaman, dia membawa barang apa saja yang di perlukan, tidak lupa Jersey yang diberi tanda tangan oleh Cristian Ronaldo. Kharisma memandangi Jersey real Madrid di genggaman tangannya sebelum di masukan kedalam koper semalam, sebuah alasan kenapa sepak bola menjadi hal paling menyenangkan selama hidupnya, semua pakaian sudah rapi dia kemas.
Pagi ini, Kharisma menyeret kopernya keluar dari kamar. Ella menunggunya dengan wajah keberatan khas ibu, rasanya terlalu sulit melepaskan anak yang selalu berada di pelukannya selama ini, namun begitu melihat senyum tulus dan bahagia dari Kharisma perlahan Ella juga mampu mengikhlaskan.
Glori sedang meminum teh diatas meja, sambil menatap koran seolah dia tidak perduli dengan keberangkatan Kharisma.
El juga mengantarkan, lelaki itu sudah bersiap dengan switer hitam berkerah putih, lelaki itu berjalan tanpa ekspresi di belakang Kharisma.
"Jaga nyokap gue ya" kata Kharisma lirih
El hanya mengangguk saja, dan Kharisma menatap Glori, berjalan kearahnya lalu mengulurkan tangan.
"Kharisma berangkat" dia menyalami Glori meski tidak sepenuhnya di perhatikan.
Lelaki itu masuk kedalam mobil bersama dengan Ella, El lelaki itu akan menyusul setelah menjemput Al dirumahnya. El menatap Glori, menarik nafas seolah tidak percaya dengan papanya yang tidak memiliki perasaan itu.
"Pa" suara El melemah, awalanya El ingin meminta Glori ikut pergi kebandara mengantarkan kepergian Kharisma, tapi rasanya percuma setelah melihat wajah santai Glori.
"El berangkat" ujarnya menyalami Glori dan pergi menjemput Al.
⏳⏳⏳
Di bandara, Kharisma duduk menunggu pesawat nya berangkat. Ella sedari tadi duduk di sebelah Kharisma, menunggunya seolah enggan kehilangan putra tunggal nya itu. Ivana, Arnol, Sena sedang asyik berfoto, sedangkan Al dan El duduk bersisihan di sebelah Kharisma tanpa suara.
Mata Kharisma menatap arah depan, ada pancaran rasa aneh yang menyelimuti hatinya. Berat rasanya memilih jalan yang tidak dilalui orang tuanya juga, berat rasanya ketika melangkah menggapai mimpi tapi tidak diberikan dukungan dari ayahnya sendiri.
Mata Kharisma berkaca kaca, saat buliran air mata hendak jatuh, Kharisma lantas menundukkan kepalanya.
"Ma, foto dulu yuk" teriak Arnol mendekati kearah Kharisma
Lelaki itu akhirnya berdiri sambil menarik sudut bibir begitu lebar. Dia mendekati Arnol dan memeluk lelaki itu dari belakang, disusul oleh Sena yang juga merangkulnya dari belakang.
"Satu dua tii___" ucapan Arnol terhenti
"Bentar adek gue belom ikut" celetuk Kharisma yang membuat Sena dan Arnol tertawa
"Cie yang udah punya adek" goda mereka
"El, sini ikut foto" teriak Kharisma yang membuat El berdiri
Lelaki itu berjalan dan ikut berdiri di samping Kharisma, lalu tangan Kharisma naik ke bahu El dan memeluk lelaki itu.
"Cisss"
Kilatan cahaya langsung menyambut kalimat Arnol dan mengenai wajah mereka. Sungguh empat laki laki itu berdiri dengan gagah, tampak sempurna
"Heh yang cewek cewek sini" ajak Arnol
__ADS_1
Al lantas berlarian dan memeluk lengan El, sedangkan Ivana, perempuan itu memilih berdiri disebelah Arnol.
Mereka tersenyum begitu Arnol mengangkat ponselnya dengan tongsis, kali ini Sena yang memberi aba aba, mereka semua tersenyum menunjukan deretan gigi, kecuali El, lelaki berwajah dingin itu hanya menatap kamera dengan kaku.
Arnol menurunkan ponsel dan menatap hasil jepretannya, lalu mengoceh.
"El Lo bisa gak sih gak usah ngerusak pemandangan, liat nih semuanya senyum kecuali elo" oceh Arnol tidak terima dengan hasil jepretannya yang begitu buruk
"Ih Arnol, kan El tetap ganteng disitu" Al membela El yang diangguki si El
"Yang bener aja" Arnol kembali mengangkat ponsel yang di sangga tongsis, lalu melirik El dengan tajam
"Senyum El, awas aja elo gak senyum" katanya memperingati El
Semuanya kembali berpose, tak terkecuali Kharisma yang memeluk Sena, Ivana yang mengangkat dua jarinya dan Al yang memeluk lengan El, tapi sungguh El masih saja menarik sudut bibirnya tanpa menunjukan deretan gigi.
"Cissss"
Ponsel langsung menyimpan hasil jepretan yang kembali di turunkan Arnol dan diperiksanya, lagi lagi lelaki itu langsung menatap El dan melototkan matanya
"Lo itu senyum El, tunjukin gigi elo yang putih itu" Arnol gemas sendiri dengan ekspresi wajah El yang masih saja sama.
Mendengar ocehan Arnol yang begitu keras, teman temannya tertawa semua. Kharisma menepuk bahu Arnol, lelaki itu masih tertawa.
"Udahlah, si El emang gitu, yang penting muka gue ganteng disitu" kata Kharisma
"Yaudah deh" Arnol melipat tongsis dan memasukan kedalam tas. Saat sesi perpisahan selesai, seluruh penumpang menuju Portugal di minta untuk segera bersiap siap.
Lelaki itu mendekati Ella dan memeluk ibunya, mengusap bahu Ella dan memejamkan mata.
"Mama jaga diri baik baik ya, jangan nangis. Kalau kangen Kharisma telfon aja" kata Kharisma
Ella mengangguk menahan air matanya, perempuan itu menarik nafas, tapi dari samping El lantas memeluk bahu Ella, memberi kekuatan darinya. Meski dengan wajah datar khas El Nevaro Semanding.
"Gue nitip nyokap, kalo bokap gue terserah elo mau apain dia" kata Kharisma yang memancing tawa teman temannya, termasuk El yang menarik sudut bibir begitu tipis.
Kharisma hendak putar balik tapi ada yang kurang untuknya, hingga dia berbalik arah dan memeluk El begitu kencang. Yang dipeluk hanya diam memaku tanpa kata, tidak lama pelukan itu terhenti , karena Kharisma melepaskannya
"Sorry gue belum rela elo jadi adek gue" katanya lantas pergi yang membuat El menarik nafas.
Menatap punggung lelaki itu berlalu, Ella meneteskan air mata, apalagi El, entah kenapa El merasa ada yang hilang dari dirinya. Padahal El dan Kharisma tidak begitu dekat, aneh.
⏳⏳⏳
Sudah dua jam Kharisma pergi, kini Al dan El berjalan jalan di sekitar monas sambil menikmati masa pengumuman. Arnol dan yang lainnya langsung pulang kerumah, ada yang harus dia persiapkan sebelum mendaftar ke perguruan tinggi, sedangkan Ella, tentu saja perempuan itu pulang kerumahnya.
Kaki mereka terus berjalan, menuju megahnya Monas yang berdiri ditiup udara
"Besok kalo kita nikah El pengen punya anak berapa?" Tanya Al begitu antusias
"Emmmmm" El hanya berdehem "mau punya anak 2" katanya menatap wajah Al
__ADS_1
"Ih gak mau" Al menggoyangkan tangan kanan El "Al maunya punya anak 10" ujar Al begitu antusias
Mendengar itu reaksi yang diberikan El hanyalah sebuah tawa garing, dia mengusap puncak rambut Al. El kembali menarik tangannya dan memasukan dua tangan itu ke dalam saku.
"Kalo gue maunya 20 gimana?" Goda El
Al justru mengangguk yakin dan memeluk lengan El begitu kencang.
"Jakartaaaaa aku cinta Ellllll" teriak Al yang membuat El lantas melepaskan gandengannya dan menoleh kekanan dan kiri.
Kini berkat tingkah konyol Al tadi, dia sedang menjadi bahan tatapan orang orang di sekeliling, Al menoleh kebelakang dimana El masih berdiri kaku.
"El kenapa?" Tanyanya mendekati El
"Lo, kalo mau teriak tahu tempat dong, kita dikira orang gila" bentak El
Al justru tertawa "Biarin, dunia kan milik kita berdua, yang lain ngontrak" katanya masih tersenyum dan kembali menggandeng tangan El.
Mereka kembali melanjutkan gandengan tanpa mengingat betapa malunya dia tadi. Mereka menghabiskan waktu menikmati hari dengan berkeliling ke Jakarta, kemana saja asal berdua, karena sejatinya dunia akan indah kalau mereka saling berpelukan.
Sore hari, ketika matahari hampir kehilangan cahaya. Al dan El masih duduk menikmati udara di taman mini. Kala itu senja benar benar gagah menyapa, tapi kemudian dengan hebatnya suara halilintar terdengar. Al panik, dia sudah berdiri tapi tangannya ditarik oleh El dan kembali duduk disebelah El.
"Mau hujan El, ayok pulang" ajak Al
"Disini aja, lagian hujannya masih lama" kata El dengan santai
Tidak, bahkan setelah kalimat El barusan, air turun tepat diatas mereka, hujan yang begitu kencang sampai membuat Al benar benar berdiri dan hampir berlari.
"Elll hujan" rengek Al
El berdiri memeluk Al, pada tetesan air, bibir El menyentuh bibir Al dan menciuminya. Mata El tertutup karena mereka berpelukan dibawah hujan, persetan dengan tatapan orang orang yang jelas kini baik Al dan El benar benar berciuman dibawah hujan dengan mata tertutup.
El melepaskan ciumannya "gue sayang sama elo" katanya lantas mencium dahi Al.
Perempuan itu melingkarkan tangannya di pelukan El, lalu dibalas El dengan begitu tulus.
"Al juga sayang sama El" kata Al hampir hilang ditelan suara hujan
El mendekatkan bibirnya ditelinga Al lalu berbisik "list kencan nya sampe sini aja ya, yang masang cicin, nanti pas lulus"
Mendengar bisikan itu Al melepaskan pelukannya dan menatap El "jadi Al udah baca itu" teriak Al
El mengangguk dan karena anggukan itu Al bergegas pergi karena malu, begitu cepat tapi disusul El dengan senyuman yang merekah
"Tunggu" teriak El
"Ih jangan deket deket Al malu" katanya menutup wajah dengan telapak tangan
Saat Al sudah berkata seperti itu El justru memeluknya dari belakang dan menciumi leher Al.
Sekarang yang tersisa hanya bahagia saja dihidup El selama tangannya masih bergandengan dengan tangan Al, tidak masalah apakah itu badai atau hujan yang akan dia temui nanti, yang jelas memiliki seseorang yang selalu dibelakangnya benar benar menyenangkan.
__ADS_1
Terimakasih sudah menjadi saksi cerita mereka, sudah menjadi bagian cerita mereka, ini hanya bukti kecil kalau batu akan terkikis karena air, dan Al sama seperti air yang tidak pernah lelah menetesi batu, menghancurkan betapa kerasnya batu itu. Menghancurkan betapa kakunya El, dan melelehkan lelaki itu.