AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Empat Puluh Satu


__ADS_3

Berbuatlah menghangat , jangan kembali dingin seperti kemarin


⏳⏳⏳


Erik berdiri sambil menempelkan telinganya di daun pintu. Bahkan lelaki kekar dengan otot otot bahu yang begitu ketara tidak mendengar kedatangan Ginanjar.


"Lo ngapain Rik?" Tanya Ginanjar masih dengan tas ransel penuh buku


"stttt" Erik menempelkan jari telunjuk ke bibir dan menarik Ginanjar


"Kayaknya si El lagi berbuat sesuatu yang mesum deh didalam sana" kata Erik menoleh kanan dan kiri "Masa tadi gue denger ceweknya El bilang gini "aw, sakit El pelan pelan"" Erik geleng geleng


Ginanjar menatap wajah Erik yang begitu serius. Mungkinkah lelaki seperti El bisa berbuat seperti itu?. Rasanya tidak mungkin. Buru buru tanpa mengetuk pintu Ginanjar langsung membuka pintu ruang ganti begitu saja.


Pemandangan pertama kali yang dilihat Ginanjar adalah, El tersenyum kearah Al yang sedang memejamkan mata.


Ginanjar menghela nafas, dan menatap kearah Erik yang sekarang bertampang cengo


"Kenapa bang?" Tanya El sambil berdiri dan mengambil kotak p3k untuk dikembalikan ke tempatnya


Ginanjar tersenyum apalagi saat mata Al terbuka dan menatap keduanya "Gak papa El, gue kira gak ada orang" kata Ginanjar langsung berjalan pergi.


Al mengerucutkan bibir saat Ginanjar maupun Erik tidak terlihat lagi, merasakan kegagalan untuk dicium oleh El.


"Lo mau gue anter pulang atau masih mau disini?" Tanya El yang terdengar mengusir


"Al lagi gak mau pulang" kata Al mendekap tas ranselnya


"Gue harus bersih bersih" El sudah berjalan


"Al bantuin El ya" perempuan yang sering disebut tergila gila oleh cinta itu langsung menyeimbangi langkah El dan menyenggol nyenggol lengan El dengan tumbuh kurusnya


"Gak usah" kata El, kembali dengan tongkat pel dan ember "Bagian mana yang udah Lo sapu?" Tanya El pada Erik


Lelaki yang sedang menunduk sambil di tatapan tajam oleh Ginanjar memukul lantai dengan sapu dan melanjutkan kembali menyapu tanpa sepatah kata. Tumben.


El kembali mengepel, dan Al hanya berdiri mengikuti El yang mondar mandir mengepel

__ADS_1


"Itu disitu belum El" tunjuk Al pada pinggiran ring.


El kembali mengepel bagian yang sempat terlewatkan


"Itu itu" kata Al lagi


El jengah dan menarik nafas, lalu menatap dengan tajam wajah Al yang tanpa dosa menatapnya sambil berkedip. El mendekati Al hingga wajah keduanya begitu dekat, menarik punggung Al sampai tubuh Al menyentuh dada bidang milik El. Dan Al merasakan tubuhnya ringan, El mengangkat Al dan meletakkan gadis itu di pinggiran ring.


"Lo duduk disini dan jangan banyak bicara" kata El


Al menarik sudut bibir dengan manis, merasakan malu apalagi saat El menariknya, merasakan jantung yang masih berdetak saat mengingat dada bidang milik El ternyata se kekar itu.


⏳⏳⏳


Kharisma menatap layar televisinya dengan pandangan yang melayang jauh. Ucapan Al tadi siang entah kenapa membuat dirinya terus kepikiran dengan keberadaan El.


"Ma" suara Benz membuat lamunannya buyar


"Oy, apa?" Tanya Kharisma buru buru memencet ava nya kembali


"Ben, Lo biasanya kalo gak dirumah kemana?" Tanya Kharisma disela sela permainan mereka


Benz menoleh, "Ke hotel sama cewek gue" ucapnya asal


"Emang Lo ada cewek?"


"Ha ha becanda Ma, gue mah biasanya nongkrong, paling kerumah elo atau kalau enggak gue kebut kebutan dijalan"


Kharisma menidurkan tubuhnya menjadikan tangan sebagai bantal dan menatap langit langit rumah. Kalau El, lelaki itu pergi kemana ketika dia tidak pulang? Kerumah teman? Kharisma paham bagaimana watak El yang tidak pandai bergaul, lelaki seperti El tidak akan memiliki teman.


"Lo kenapa sih?" Benz melirik arah Kharisma dan mengganti game yang akan dia mainkan.


"Dari semalam El gak balik kerumah" kata Kharisma membuat Benz menoleh


"Bagus dong, bukannya itu yang elo pengenin"


"Masalahnya, gue yakin itu anak pasti punya tempat buat lari dari rumah ini" Kharisma menatap arah Benz "tempat yang mungkin jadi kelemahan dia" tatapan mata Kharisma mengisyaratkan keseriusan , Benz meletakkan stik PS dan ikut berpikir

__ADS_1


"Tempat apa yang cocok buat orang kayak El?"


⏳⏳⏳


Al dan El sedang berjalan kaki berdua menuju cafe Welno, mengantarkan Al manggung kecil kecilan yang menjadi rutinitasnya.


"Lo jarang bawa gitar sekarang, kenapa?" Tanya El ditengah langkah beriringan keduanya


"Sayang aja kalau gitarnya rusak, kan yang beliin El"


El menatap arah depan sambil terus berjalan, matanya melihat sepeda motor yang berjalan memepet trotoar dan dengan laju yang begitu kencang. Saat motor itu hampir menyentuh lengan Al, dengan sigap El menarik tangan Al ke arahnya hingga tubuh Al mendorong tubuh El dan mereka jatuh di sebelah trotoar. Beberapa pejalan kaki menatap mereka, El berdiri dan menatap sepeda motor yang sudah jauh.


"El gak papa, ada yang luka gak?" Tanya Al bertubi-tubi, sambil memeriksa tubuh El.


Entah, ini kali pertama ada seseorang yang khawtair dengannya. Merasakan khawatir bahkan membuat jantung El berdetak.


"Tangannya El" Al menarik tangan El yang mengeluarkan sedikit darah, hanya sedikit garis bawah sedikit.


"Kita bawa kedokter ya, ini ada luka di telapak tangannya El" ucap Al penuh kekhawatiran


"Gue gak papa Al" suara El melunak, benar benar melunak, bahkan tangan Al yang memegang tangan El di genggam penuh kehangatan. Mata El menatap kearah iris mata Al, keduanya bertatapan.


Dunia itu memiliki keajaiban yang begitu luar biasa kata Al, dan perempuan yang kini jantungnya sedang berdetak ini mempercayai bahwa El adalah salah satu keajaiban dunia untuknya. El yang hampir membekukan seluruh dunia, bisa berkata selunak dan menatapnya sehangat itu, seolah El yang tadi sekeras es, sudah mencair.


"Tapi Al takut El kenapa napa" Al memegang dan memperhatikan telapak tangan El.


"Gue gak papa" ucapan El masih selembut tadi "Ayok gue anterin, ntar Lo bisa telat" kata El menarik tangan Al dan berjalan bergandengan


Kalau ada dunia yang lebih baik dari ini maka Al tidak akan pergi ke dunia itu jika tidak bersama El, bahkan gandengan tangan itu terasa hangat saat Al menempelkan kepala ke lengan El.


"El" panggilan dari Alriestella membuat El menoleh


"El jangan berubah ya, boleh berubah tapi berubah hangat sama Al, jangan berubah dingin lagi" kata Al "Al seneng El kayak gini, gandeng tangan Al, ngomong lembut ke Al" kata Al menegakkan kembali kepala dan menatap kearah El


"Kalau El masih belum suka sama Al, Al gak papa kok, asal El bisa bersikap sehangat ini sama Al"


Entah kenapa kalimat dari Al itu membuat hati El begemuruh. Bukan rahasia lagi bagi diri El bahwa kedatangan Al dihidupnya membawa pengaruh banyak, termasuk yang di bilang Al bahwa El sudah menghangat, padahal dia hanya berisikap selayaknya yang hati El inginkan, dan saat dia berkata seperti tadi, El rasa dia berbicara seperti biasanya, tapi apa benar yang dikatakan Al bahwa dia baru saja berkata lembut padanya?. Kalau iya, kenapa hatinya bisa memprogram diri dia sendiri dan mengendalikan segalanya. Padahal hati lah yang sering menghancurkan semua.

__ADS_1


__ADS_2