AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Dua puluh tiga


__ADS_3

Al selalu mengikuti El dari belakang, tidak penting seberapa marahnya lelaki itu. Toh dulu, dia pernah di lempar bola oleh El. Jadi ketakutan seperti apa lagi yang ditakutkan oleh Al.


"Tungguin Al ihh" Al menarik lengan El penuh tenaga. Lelaki itu berhenti ketika diambang pintu. Dia menoleh, menatap wajah Al yang meneteskan keringat di bagian pelipis.


"Kenapa marah?" Tanya Al dengan nada lembut seperti biasa.


"Lo ada hubungan apa sama Kharisma?" Hanya itu yang keluar dari mulut El tanpa mengelap keringat Al.


"Dia mantan Al" jawab Al dengan jujur.


El mendegus, kenapa makhluk didepannya ini selalu ajaib. Sesantai itukah dia bertemu mantan kekasihnya, tidak ada kegugupan atau rasa canggung.


"Mantan?" Ulang El tidak percaya.


Al mengangguk, dari anggukannya , El yakin gadis ini dulu juga bersikap sama kepada Kharisma. Dan kenyataan itulah yang justru membuat El muak.


"Kenapa?" Tanya El.


Al mengangkat wajahnya, menatap wajah El yang Berubah masam


Kenapa? Kenapa apanya ?


"Kenapa? " Ulang Al bingung


"Iya kenapa?" El memanas, entah kenapa rasanya dia sungguh kepanasan.


"Kenapa apa?" Tanya Al masih tidak paham.


"Pusing ngomong sama elo"


El langsung pergi tanpa masuk kelas, entah lelaki itu aku pergi kemana lagi. Al berniat mengejarnya, tapi cekalan dari Kharisma membuat Al berhenti.


"Udah cowok kayak gitu gak usah di kejar" ujar Kharisma melarang.


"Tapi kan Al mau ngejelasin sama El" jawab Al


"Udah gak usah" Kharisma menarik tangan Al pelan sehingga gadis itu menatapnya.


"Lagian dia siapa sih?" Tanya Kharisma pura pura tidak tahu.


"Pacarnya Al" jawab Al masih menatap ke arah El.


Kharisma semakin mengembangkan senyum, fikiranya permainan akan semakin menarik jika Kharisma menyertakan Al dalam permainan. Gadis lugu yang polos.


"Udah biarin, nanti juga dia sadar sendiri" ujar Kharisma menarik tangan Al untuk menjauh didepan kelasnya.


Al hanya berjalan dibelakang Kharisma tanpa mengatakan sepatah kata pun. Baginya saat ini El lebih penting dibandingkan Kharisma, tapi meninggalkan lelaki ini begitu tidak enak rasanya.


"Udah lama kita gak jalan jalan, rasanya beda ya" kata Kharisma tiba tiba memecah keheningan.

__ADS_1


Al mendongak "beda kenapa? " Tanya polos


"Dulu kita jalan sebagai pacar sekarang cuman sebagai mantan pacar"


Pembicaraan Kharisma itu menyeret Al pada bayangan masa lalunya, dimana saat dia melihat Kharisma berboncengan dengan gadis lain. Al menggelengkan kepalanya secepat kilat, dia hanya perlu melupakan itu dan menganggap sebagai bagian masa lalunya


"Udah Kharisma jangan dibahas" katanya lembut.


Kharisma menarik sudut bibir, apalagi saat menatap keatas roftof dimana seseorang berdiri menatap mereka. Tangan Kharisma terarah mengusap pipi Al dengan lembut, selembut saat mereka masih bersama.


"Lo masih sama ya, masih gemesin kayak jaman SMP dulu" kata Kharisma sambil tersenyum


Sejujurnya Al ingin menepis itu, merasa bahwa perlakuan Kharisma membuat Al merasa risih, tapi saat tangannya hendak terangkat, Kharisma sudah menarik tangannya kedalam saku. Secepat itu, tidak ada beberapa detik tangan orang yang ada di bagian masa lalunya mengelap pipi.


"Kita mau kemana?" Tanya Al saat sudah menyadari kebersamaan mereka dirasa semakin risih


"Kemana aja, asal elo bisa lupa sama pacar elo"


"El maksud Kharisma?"


Kharisma mengangguk. Menatap arah depan tanpa bergerak sedikit pun. Apa yang difikirkan Kharisma tentu berbeda dengan apa yang difikirkan Al, Al berfikir dimana El berada? Apa dia baik baik saja? Seberapa marahnya dia?


"Kharisma" Al menarik tangan Kharisma sehingga lelaki itu menoleh kearah Al


"Maaf ya, Al gak bisa ikut Kharisma jalan jalan disekolahan. Besok aja Al temenin, Al harus nyari El" kata Al buru buru pergi.


"Ell" panggil Al sekuat tenaganya


El menoleh, menghentikan langkah kakinya, tanpa ekspresi seolah yang memanggilnya bukan siapa siapa.


"Masih marah?" Tanya Al sambil menarik narik kemeja putih El.


El menepisnya, sekasar itu sampai tangan Al jatuh lemas kebawah. Ivana dan Arnol saling pandang.


"Maaf" ucap Al lirih sambil menunduk.


Maaf untuk apa Al ?, sedangkan Al tidak tahu kesalahannya apa. El menatap wajah kecil milik Al lamat lamat.


"Gue bosen denger orang minta maaf" ucapnya berlalu pergi.


"Astaga itu hati apa kulkas" cicit Arnol yang sedari tadi gatal untuk mengomentari sikap El.


"Heran deh gue, dia sadis banget jadi orang, anaknya DPR apa gimana?" Ivana mengelus lengan Al.


"Kalian berantem kenapa sih Al?" Sambung Ivana


Al menunduk, bingung dengan situasi saat ini.


"Gak tahu, tiba tiba El udah kayak gitu" ucap Al dengan murung

__ADS_1


"Mungkin emaknya dulu pas hamil kerjaannya kesel terus jadi anaknya tempramental kayak si El" hibur Arnol


"Tau ah" Al menghentakkan kaki dan berjalan menuju kursi El. Lelaki dingin itu masih menatap buku paketnya sambil mengerjakan soal soal yang sebenarnya tidak akan dibahas nanti


"Kenapa sih marah?" Tanya Al dengan nada suara lembut.


El tidak menatap wajah Al ataupun menghentikan fokus otaknya pada. Soal fisika. Dia terus menatap buku paket sambil menghitung.


"Elll" Al menggoyangkan lengan El.


Lelaki itu, lelaki kasar yang bernama El Nevaro Semanding langsung menatap tajam kearah Al.


"Lo bisa diem gak sih" ucap El dengan tajam


Al menggeleng, karena memang benar dia tidak akan diam apapun yang terjadi.


"Gak mau. Dan gak bisa diem sampe El jelasin kenapa marah sama Al"


"Lo bego atau emang budeg sih" kali ini ucapan El terdengar lantang sampai teman sekelasnya menatap mereka


Ivana dan Arnol yang ada diluar kelas buru buru masuk.


"Jelasin dulu ke Al kenapa marah?" Tanyanya


"Lo punya otak kan, kalau lo lupa otak fungsinya buat mikir" ujar El dengan tajam.


"El, Lo jadi cowok kasar banget sih, Lo ngerasa pinter ya disini, sampe ngata ngatin cewek sekasar itu" Ivana yang sudah tidak tahan melihat sahabatnya dimaki maki ikut bersuara


"Kenapa? Ada masalah di elo?" Tanya El dengan songong


"Wahhh gaya Lo ngalahin anak presiden ya" tunjuk Ivana geram


"Ivana udah Ivana, El gak bermaksud maki maki Al kok" ucapnya


"Alll Lo sadar dong, si El ini gak pernah cinta sama elo, dia Setega itu maki maki elo didepan temen sekelas, kenapa elo pakek belain segala sih, sadar Al sadar" pekik Ivana


"Allah hu Akbar, ni cewek bego gak ketulungan. Mak nya hamil nyidam tembok kali, keras banget ngalahin semen tiga roda" ujar Ivana geram


El kembali mengerjakan soal seolah tidak merasa terganggu dengan keributan disebelahnya.


Srekkkk


Bruukkkk


Buku paket fisika itu sudah jauh melayang ke lantai, bahkan membuat Ivana maupun Arnol kaget. Kharisma berdiri disamping Al dengan lagak pahlawan.


"Broo, jangan kasar sama cewek" Kharisma menepuk bahu El dengan keras.


"Kalo elo gak bisa jaga Al, gue rela jagain dia" ujarnya bergegas menarik Al pergi dari hadapan El.

__ADS_1


__ADS_2