AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Tiga belas


__ADS_3

"Tidak perlu menjelaskan apa yang mereka salah pikirkan,karena yang salah paham akan terus salah paham"


⏳⏳⏳


El sudah berdiri, mungkin dia akan pergi ke arah meja Miss Ani.


"Ih kalian kok gitu"


Al mengejar El, meski jarak dirinya dan El belum jauh, tapi Al tetap berlari.


"El, maafin mereka"


Al menarik seragam El, lelaki itu berdiri menghela nafas dan menepis cengkraman Al.


Saat dia berniat berjalan, suara Miss Ani membuat El berhenti


"Dengar ya, nama kelompok ini sudah saya catat di laptop. Jadi tidak ada acara minta ganti kelompok" setelah mengatakan itu dia pergi begitu saja.


El dan Al sama sama terpaku dengan isi hati yang berbeda.


"Ya udah El, gak papa, kita diskusi lagi aja" senyum Al mengembang.


Mau tidak mau El kembali ke kursinya, dia tidak ada minat diseni budaya. Ivana melipat tangan, bersidekap sedangkan Arnol dia sibuk dengan cemilan.


"Jadi kita latihan dimana?" tanya Al pada ketiganya.


El hanya menatap wajah Al, wajah yang baru dia sadari bahwa gadis itu sangat mungil, mata sipit, alis tidak terlalu lebat serta mata kecoklatan yang bersinar. El bahkan baru menyadari ini, menyadari bahwa Al memiliki tahi lalat di leher.


"Terserah elo aja Al" jawab Ivana. Sambil memperhatikan kuku kuku nya


"Gimana kalo di cafe nya om Welno, disana tempatnya adem selain itu ada wifi" saran Al dengan sumringah


"Gue ok" timpal Arnol


Ivana mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata, giliran Al menoleh kearah El, gadis itu malah dibuat gugup dengan tatapan tajam dari El.


"Gimana El mau latihan di cafe om Welno?"


Suara nya terdengar lirih, ditatap seperti itu jantung Al justru berdetak kencang.


El mengangguk tanpa ekspresi sama sekali.


"Jadi mulai besok aja ya, kan besok weekend" saran Al. Mereka mengangguk. Tidak untul El, lelaki itu justru menatap Al dengan lekat.

__ADS_1


⏳⏳


Wekend terasa cepat, sesuai dengan janji mereka, kini Ivana dan Al sudah duduk menunggu kedua lelaki itu datang. Mereka memesan coklat panas, sambil mendengarkan lagu lagu mellow dari pengeras suara.


Sura bel dari pintu membuat mereka berdua kompak menoleh, Arnol lelaki itu berjalan dengan cengiran polos.


"Haiii cinggu"


"Cinggu cinggu apaan, cingur kali" cela Ivana.


"Cinggu itu bahasa Korea pe'a, artinya teman"


Arnol mengambil duduk di samping Ivana. Mengangkat kaki kanan untuk di tompangkan diatas kaki kiri. Merogoh saku celana. Mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi game.


"Ini si El kemana sih lama banget?"


Ivana sudah tidak sabaran, berkali kali berdecak sambil menyeruput coklat yang  sudah mendingin.


"Sabar Ivana, palingan dia ada keperluan" Al berusaha meredamkan kemarahana Ivana yang sudah berjalan ke jarum lima.


"Palingan lagi ngerjain soal UN" seloroh Arnol semakin memancing Ivana panas.


Arnol masih asyik bermain game, Ivana sudah larut dengan youtubenya. Membuka aplikasi makeup tanpa mengalihkan arah pandang.


Al mengetuk jari di meja, berulang ulang dia menoleh kearah pintu, setiap mendengar bunyi bel yang dihasilkan oleh pintu dia selalu menoleh. Kalau kalau itu El.


"Kita latihan duluan aja gimana Al?" tanya Ivana sudah menghentikan diri dari tontonan youtube


"Gak bisa, kita harus tahu dulu suara kalian masing masing. Siapa tahu El punya nada tinggi" tukas Al


"Tapi udah jam segini si El belum dateng, apa jangan jangan dia emang gak bakal dateng?" kata Arnol merubah posisi duduk


"Udah kembung perut gue nungguin si El" cicit Ivana kesal


"Sabar, siapa tahu El masih ada dijalan"


Al masih berfikiran postif mengenai sesuatu.


"Setengah jam lagi gue mau cabut, gue ada janji sama Febri" kata Arnol.


"Ya udah kita tunggu setengah jam lagi, kalau sampe si El itu gak dateng. Kita bakal cabut beneran nih" timpal Ivana


Mereka memutuskan menunggu kembali, Al ingin menghubungi El jika saja dia punya nomor ponsel lelaki itu. Sayangnya satu kelas pun tidak memiliki nomor ponsel nya. Al mendegus, dia sangat takut membuat Ivana dan Arnol makin membenci El.

__ADS_1


Waktu terus berjalan tanpa ada kata pelan. Sekarang sudah empat puluh lima menit dari mereka menunggu. Bahkan Arnol sudah mematikan game dan memasukan di saku celana, Ivana juga turut merapikan ponsel kedalam tas, memoles bibir dengan lipstik dan merapikan rambut.


"Gue mau cabut" Arnol berdiri. Mengibaskan celana hitam yang sudah terkena sedikit debu.


Kring


Seseorang dari pintu membuat ketiganya menoleh, El Nevaro Semanding, tengah berlarian dengan tas ransel di pundak, keringat bercucuran serta sedikit goresan di pipi.


"Lo kemana aja sih. Kita udah nunggu elo sejam setengah" seloroh Arnol mulai panas.


El mengatur nafas yang tidak beraturan, menelan air ludah dan bersiap menjawab


"Gue___"


"Udahlah, telat elo dateng, kita udah mau pulang" potong Ivana cepat.


Al berduri, berusaha melerai teman temannya


"Si El kan udah dateng, kita latihan sebentar aja" kata Al


"Gak bisa Al, gue udah ada janji sama Febri"


Arnol sudah merasa muak menatap wajah tidak bersalah dari El.


"Gini deh, kita denger penjelasaan si El dulu. Kalau masuk akal kita bakal tetep lanjutin latihan kalau gak. Yah kita bakal cabut" tukas Ivana


"Lo dari mana sih?" tanya Arnol tidak sabaran


Arnol memperhatikan keringat yang menetes di pelipis El, memperhatikan wajah lelah lelaki itu. Memperhatikan nafas yang tidak beraturan.


"Ngeliat gaya elo kayak gini, gue yakin elo abis olahragakan ?"


Alis El terangkat meski begitu dia tidak akan mengatakan kalau dia habis bertengkar dengan kakak tirinya. Dia menarik nafas, mengangguk pelan dengan rasa bersalah meski tidak terlalu ketara.


"Brengsek ya elo, kita nunggu di sini berjam jam elo asyikan olahrga" decak Arnol memamas.


"Kalau sekiranya kelompok ini gak penting buat elo, mending sekalian elo gak usah berangkat"


Ivana langsung menyabet tas dan berlalu pergi. Dia tidak ingin berdebat lebih panjang lagi dengan El. Sedangkan Arnol dia menjambak rambutnya pelan


"Kalau gak karena Al yang masukin elo ke kelompok ini gue gak mau sekelompok sama elo"


Arnol pergi meninggalkan Al dan El yang masih terpaku.

__ADS_1


__ADS_2