
Aneh, aku kan tidak menyukainya tapi kenapa selalu segugup ini
⏳⏳⏳
Setelah Bella dan Jovan pergi, ruang tamu jadi terasa canggung, apalagi El, rasanya El sudah ingin kabur saja dari sini. Lihat Al yang sudah mulai menemukan dunianya bersama gitar baru yang dibelikan El.
El mengamati ruangan tamu milik Al, sebuah potret keluarga bahagia, diam diam El merasa hangat hanya memandangi foto keluarga itu.
"Oh ya, El mau belajar lagu apa? Sini biar Al ajarin" kata Al menggeser duduknya
"Tadi Al udah nyetel gitarnya" Al memberikan gitar itu pada El
El menolaknya, kenapa dia harus belajar gitar sedangkan dia bisa bertinju.
"Lo aja" kata El
"El mau dengerin Al nyanyi?" dengan wajah tersenyum Al kembali menarik gitar dan memetiknya
Al itu bagikan kaset indah yang terputar perlahan dan harmonis untuk didengarkan, perempuan yang ikat rambutnya hampir terlepas ini asik memetik gitar, matanya bulat sipit menatap kearah iris mata El.
Entah kenapa, ada debaran yang hinggap di dada El, apa ini? Tidak mungkin asmanya kambuh. El memegang dadanya, merasakan debaran aneh yang baru pertama kali dia temui.
"Gimana, bagus gak?" Tanya Al dengan penuh semangat.
El diam saja , dia masih terhipnotis dengan lantunan suara dari Al.
"Ihh Elll"
El berdiri sebelum tangan Al menggoyangkan lengannya lebih keras lagi. Dia sudah berdiri dan hendak pergi.
"Gu-gue gue mau pulang" katanya gugup
Apa? El gugup, itu tidak mungkin, lelaki kaku yang keras kepala dan pemarah seperti El tidak cocok tergugup hanya didepan Alriestella.
"Kok buru buru?" Tanya Al yang tidak senang berpisah dengan pacarnya
"Udah malem" katanya berjalan keluar rumah Al.
"Gitarnya" Al mengejar El, lelaki yang dikejarnya sempat berhenti tapi tidak menoleh
Entahlah kenapa dekat dengan seorang Alriestella bisa membuatnya gemetar dan gugup seperti ini. Kehilangan kepercayaan diri dan bebtengan kokoh nya hancur
"Gitarnya buat elo" kata El lirih dan melangkah lebih cepat untuk meninggalkan rumah aneh Al.
Besok lagi El tidak akan kesana, kerumah Al yang bisa membuatnya tergagap seketika.
Ditinggalkan El dengan cepat seperti itu membuat Al menarik sudut bibir lebih tinggi. Jantungnya berdegup, apalagi melihat semu merah di wajah El yang tiba tiba muncul saat mata Al menatapnya.
__ADS_1
Al melompat kehirangan, sangking senangnya gitar yang dia pegang jatuh mengenai kaki Al. Bukannya meringis sakit, Al malah tertawa cekikikan.
"Ye ye ye" Al berlonjak girang
Jovan, yang ada diruang tv, menatap kelakuan Putri nya saat berjalan melintasi ruang televisi, tersenyum cerah seolah baru mendapatkan sekumpulan uang, ah bukan bukan mendapatkan tangga nada yang paling sempurna
"Kenapa kamu Al?" Tanya Jovan
"Al dikasih gitar Sama El" katanya sambil tersenyum cerah.
**
Hal yang El benci selain berada dirumah ini adalah, duduk di meja makan bersama. Dia harus terdiam dan pura pura menikmati hidangan disaat dia ingin memuntahkannya.
"Gimana sekolahmu El?" Tanya Glori kearah El yang tengah mengunyah nasi
El melirik kearah Glori yang menunggu jawabannya "Baik pa" katanya lirih
"Ada yang kamu butuhkan disekolahan?" Tanya Glori sekali lagi
El terdiam, menimang kata dibutuhkan dalam dirinya. Ada, El membutuhkan ketenangan di sekolahan tanpa Kharisma juga dirumah ini, tapi rasanya tidak mungkin jika El mengatakan kalimat itu
El menggeleng"tidak ada" katanya
"Papa berniat beliin kamu motor, gimana menurut kamu?" Tanya Glori yang membuat Kharisma dan Ela menatap kearah Glori
El tidak menjawab, diam saja saat mata Kharisma menyorot kearahnya. Yah El sepenuhnya sadar posisi dia dirumah ini, mendapatkan fasilitas semewah itu akan ada orang yang cemburu dibaliknya
"Buat Kharisma mana?" Tanya Kharisma yang gatal untuk angkat suara sedari tadi
Glori menoleh kearah putra nya "Kamu kan bisa naik mobil " kata Glori cuek
Kharisma tertawa "Papa terlalu pilih kasih" caci Kharisma tajam "Kenapa gak papa kasih semua harta papa sama anak haram itu" tunjuk Kharisma pada El
Lelaki yang ditunjuk hanya diam saja, dongkol setengah mati. Kenpa Kharisma menyalahkannya, El tidak meminta sebelumnya untuk diberi kendaraan pribadi, lagipula untuk apa dia membeli motor, toh selama ini juga dia selalu pergi dengan kaki nya Kemana mana.
"Tutup mulut mu!!" Glori membela El "El ini kemana Mana selalu jalan kaki, sedangkan kamu, kamu sudah memakai mobil mama" imbuh Glori
"Tapi mobil itu bukan mobil pribadi Kharisma kan?" Kharisma tidak akan berhenti sampai disitu, dia sudah berdiri menggeser kursinya "Papa gak pernah ngasih kendaraan pribadi sama Kharisma" ujarnya langsung berjalan pergi
Ela, menatap Glori yang terlihat masa bodo dengan Kharisma "mas" kata Ela angkat bicara
Glori hanya melirik Ela sekilas, melirik tanpa minat sama sekali
"Ini udah keterlaluan" kata Ela dengan suara meninggi "Mas tahu kan, dari dulu Kharisma pengen punya kendaraan sendiri" katanya ikut menatap El yang sedang menatap arah depan
"Dan sekarang, bukannya menuruti kemauan Kharisma, mas malah mau memberikannya ke El" setelah mengatakan unek uneknya Ela ikutan pergi dari meja makan.
__ADS_1
Glori dengan santai memakan kembali makan malamnya, El kehilangan selera makan dia menggeser kursi, mengangguk hormat pada Glori
"Permisi pa, ada tugas sekolah yang harus El selesaikan" katanya langsung menaiki tangga
⏳⏳⏳
Kharisma duduk di kursi depan supermarket sambil meneguk sekaleng soda. Semenjak kehadiran El dirumahnya, semuanya semakin berantakan, Glori selalu lebih perhatian pada El, lelaki yang dia inginkan tidak pernah ada.
Kaleng soda yang sudah habis itu dia tekan dengan kuat lalu dilemparkannya kearah kotak sampah, cukup bersuara dengan keras, mengundang beberapa orang untuk menoleh nya.
"Kharisma" suara tinggi dari orang yang memanggilnya membuat Kharisma menoleh
Alriestella membuat Kharisma tersenyum, gadis yang kini berjalan kearahnya
"Kharisma kok disini?" Tanyanya
Senyum itu semakin mengembang, apalagi melihat wajah Al yang masih seramah dulu.
"Nongkrong aja" katanya "Lo sendiri ngapain?" Tanya Kharisma yang duduk kembali di kursi depan supermarket, Al ikut duduk didepannya
"Mau nganterin makanan ke Om Welno " Al mengangkat plastik yang dia bawa
"Om Welno?" Ulang Kharisma
"He he" Al tertawa "temennya papa" kata Al lagi "Tadi katanya Om Welno ada disini, makanya dia ngajak ketemuan di supermarket ini" Al toleh kanan dan kiri
"Kenapa gak langsung kerumahnya?" Tanya Kharisma
Al menggeleng "Al belum tahu rumah barunya Om Welno" katanya "Oh ya, rumah Kharisma didekat sini?" Tanya Al menatap wajah Kharisma yang perlahan kehilangan raut marahnya
Kharisma mengangguk lemah "Deket sini" katanya
Al menarik sudut bibir, apalagi saat melihat lelaki tua berumur empat puluhan dengan jaket tebal kearahnya.
"Al" panggil Welno
"Om Welno kebiasaan deh lelet" protes Al kepada Welno
"Nih, dari Mama" kata Al menyodorkan sebungkus makanan kearah Welno
"Repot repot banget sih, bilangin makasih ya sama mamamu" Welno menerimanya "mau mampir gak kerumah Om?"
Al menggeleng "Enggak Om, lain kali aja, Al mau pulang, besok harus sekolah" Al berpamitan
"Gue anterin" Kharisma yang mendengarkan percakapan mereka langsung ambil tugas untuk mengantarkan Al.
Gadis itu menoleh, menimang untuk menerima tawaran Kharisma atau tidak.
__ADS_1
"Boleh deh, tapi agak cepetan ya " kata Al pada Kharisma