AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Tiga Puluh


__ADS_3

Dunia harus tahu kalau kamu pacarku


⏳⏳⏳


Kharisma mengantarkan Al dengan mobil mamanya, mengantarkan sampai masuk ke pelataran rumah, lalu ikut mengantarkan sampai ke depan pintu


"Kharisma mau masuk? " Tanya Al


Lelaki yang ditanyai itu hanya mengamati rumah Al lebih seksama. Karena ya, Kharisma baru pertama kali ini bertamu dirumah Alriestella. Agak aneh padahal mereka mantan


pacar, meski berpacaran di kelas satu SMP.


"Boleh" kata Kharisma


Lelaki itu mengekori Al untuk masuk kerumah, Jovan yang tengah berada diruang tamu, melemparkan senyum kearah Kharisma


"Malam Om" ujar Kharisma sopan


"Malam kembali" Jovan tersenyum meski matanya menyorotkan sebuah tanya pada Al.


"Kenalin pa, namanya Kharisma dia temennya Al di sekolah, kebetulan tadi dia nganterin Al" kata Al memperkenalkan Kharisma


Jovan manggut manggut "Om deg deg an" kata Jovan


"Deg degan kenapa Om?" Tanya Kharisma sambil duduk di sofa ruang tamu


"Om kira kamu pacarnya Al, bisa bahaya kalau pacarnya" Jovan tertawa diujung  kata.


Kharisma tidak lama di rumah Al, lelaki itu segera berpamitan dengan alasan sudah malam, lekas pergi dan hanya diantarkan oleh Al dari pintu rumah. Setelah mobil Kharisma tidak terlihat Al langsung berlarian menuju Jovan, ke kamar papanya yang ada di sebelah ruang televisi.


Papanya itu tengah memainkan ponsel, tampak tidak perduli saat Al naik keatas kasur dan tidur disebelahnya.


"Papa, kirimin nomornya El" kata Al langsung memeluk Jovan.


Bella yang masih bersisir didepan cermin hanya mengamati anaknya dari pantulan cermin


"tadi kenapa gak mau minta sendiri?" Tanya Jovan


"Gak berani"Al nyengir "takut kalo El gak punya Hp" imbuhnya


Mendengar itu Jovan dan Bella tertawa. Jaman sekarang yang namanya ponsel sudah menjadi kebutuhan sehari-hari, bahkan terasa aneh jika anak jaman sekarang tidak punya ponsel.


"Nih" Jovan menyodorkan ponselnya, sambil menunggu Al menyalin nomor El, Jovan berdehem.

__ADS_1


"Udah berapa lama pacaran sama El?" Tanya Jovan


Al berhenti mengetik "baru empat hari mau jalan lima hari besok" Al membangkitkan tubuhnya "oh ya, lusa Al sama El mau ngerayain aniv Lo, papa mau ikut?"


Jovan mengernyitkan dahi "aniv?" Tanyanya "aniv apa?"


"Merayakan seminggu hari jadi kami" dan Al tertawa malu malu.


Astaga, Jovan hanya bisa geleng geleng sendiri melihat tingkah putrinya yang sedang jatuh cinta.


⏳⏳⏳


"Selamat pagi pacarnya Al" sapaan itu mulai terasa akrab ditelinga El, lelaki yang kini tengah menapaki anak tangga bersama Alriestella.


El duduk di kursi sambil mengamati udara pagi yang berhembus, menikmati beberpaa siswa siswi yang berhamburan masuk, roftof sudah menjadi rumah bagi El.


"Al bawain Makanan Lo" Al mengeluarkan bekal berisi roti tawar yang di olesi slai kacang, tadi pagi Al memang sengaja membuatkan untuk El, lelaki yang hampir tidak pernah sarapan pagi.


Bekal itu di buka oleh Al dan di sodorkan kearah El, lelaki yang kini mengamati kotak bekal tanpa bergerak.


"Ayo dimakan" kata Al "ini yang bikin bukan Al, yang bikin tukang Sari roti, katanya sih mengandung gandum, tapi gak tahu, yang jelas rasanya tawar. Tapi tadi udah di olesi sama slai kacang sama Al, jadi rasanya gak tawar lagi" cerocos Al "ayo dicobain"


Perlahan El tertawa mendengar  Penuturan jelas dari pacarnya, perempuan yang rambutnya sudah diterpa oleh angin.


"Emmmm" Al berdehem "bentuk pengabdian Al sebagai pacar" katanya dengan cengiran.


Alriestella adalah gadis satu satunya yang pernah melakukan hal senekat ini, mungkin jika Al tidak mendobrak pertahanannya, mungkin selamanya El tidak akan merasakan yang namanya pacaran, kalau saja Al tidak mati matian mengejar El, mungkin El tidak akan pernah merasa menjadi orang yang berharga untuk seseorang.


Roti itu dimakan oleh El, mengamati lapangan bawah dari atas roftof. Entah sejak kapan, Al sudah menyender dibahu El, menyenderkan kepalanya sambil memakan roti yang juga dia bawa.


"Jadi kapan El bawa Al kerumah El?" Tanya Al ditengah kunyahannya


El berhenti mengunyah, membayangkan membawa seseorang ke nereka rasanya El tidak akan Setega itu.


"Gimana gitarnya, Lo suka?" El mengalihkan dan itu berhasil buktinya perempuan itu sudah menegakkan kepala dan menatap El dengan binar kebahagiaan.


Membicarakan dunia yang paling disenangi seseorang memang sesuatu hal yang bisa membangkitkan mood.


"Suka, El kok tahu gitar yang dipengenin Al dari dulu" kata Al berlonjak girang


"Syukurlah kalo suka" El tersenyum tipis.


Merasakan hawa panas bercampur hangat ketika udara menerpanya.

__ADS_1


⏳⏳⏳


Al dan El berjalan beriringan, Al yang paling mendominasi dengan pembicaraannya, menceritakan tentang pertemuan Jovan dan Bella juga kelakuan kedua orang tuanya. El selalu menjadi pihak pendengar dan entah kenapa mendengarkan cerita Al rasanya sudah menjadi bagian dari El mulai sekarang.


"Selamat siang pak" sapa El kepada pak Jacksen


Lelaki yang berkacamata itu sedikit menurunkan kacamata, mengamati kedua siswa yang tengah menyapa.


"Kamu si biduan itu kan?" pak Jacksen menatap Al


"Bukan biduan, tapi penyanyi" Al selalu sebal kalau disama sama kan dengan biduan, dan itu hanya dilakukan oleh pak Jacksen , guru fisika nya yang senang memberi ujian dadakan.


"Ah sama saja, sama sama bernyanyi diatas panggung" kata pak Jacksen enggan menanggapi perdebatan Al "Ngomong ngomong kalian mau kemana kok berduaan?" Tanya pak Jacksen pada keduanya


Al tersenyum "kita lagi pacaran pak, sekarang Al udah resmi jadi pacarnya El"


Astaga gadis disebelah El ini punya masalah hidup apa sih, kenapa dia bisa seberani itu berkata jujur mengenai hubungannya. El menahan malu, merasa malu sampai sampai ingin memindahkan kepalanya dan mengganti dengan kepala kerbau


"Kamu pacaran sama biduan ini?" Tanya pak Jacksen yang tampaknya sedikit kaget


"Iya pak. Kan tadi udah Al kasih tahu" Al justru yang menjawab


"Iya pak" kata El sedikit lebih berani memberitahukan hubungan mereka


Pak Jacksen mengamati lebih rinci wajah Alriestella yang saat ini sedang tersenyum sambil melirik El sekilas.


"Astaga" pak Jacksen geleng geleng "kamu yang sabar ya" katanya menepuk bahu El


Sabar? Sabar untuk apa?, El sebenarnya ingin bertanya mengenai ucapan pak Jacksen itu tapi tidak jadi begitu pak Jacksen meneruskan ucapannya.


"Sini, dari pada kalian berjalan tidak berfaedah, lebih baik kalian kembalikan buku fisika ini ke perpus" pak Jacksen memberikan setumpuk buku paket ke pada El.


Al tampak ingin melayangkan protesnya, mereka kan bukannya berjalan jalan tidak berfaedah, tapi sangat berfaedah.


"Iya pak" jawab El menerima perintah pak Jacksen sebelum Al memperpanjang dengan memprotesnya.


Pak Jacksen lelaki gemuk berkacamata itu berjalan seperti pinguin kearah kantor. Meninggalkan cemberutan di wajah Al.


"Kok El mau?, ini kan berat" kata Al sudah menghentakka kakinya


"Yang bawa kan gue bukan elo" El sudah berjalan dan diikuti Al dari belakang.


Setidaknya, Al harus berterimakasih dengan pak Jacksen, berkat keduanya mereka jadi punya banyak waktu meski harus bisik bisik saat mengembalikan buku paket ke lemari semula.

__ADS_1


__ADS_2