AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Dua Puluh Enam


__ADS_3

Apapun akan aku lakukan , asal dia bahagia, bahagia ku nanti nanti saja


⏳⏳⏳


"Ivanaaaa" suara cempreng Al langsung menggelegar di koridor sekolah.


Ivana hanya menoleh, mempunyai sahabat semacam toa masjid memang harus kebal kebal telinganya. Al suka teriak, bahkan menganggap dimana pun dia berada dia selalu di hutan, bisa berbuat semaunya.


"Apa?" Begitu Al berada didekat Ivana, gadis berkuncir satu itu langsung menjawab panggilan Al.


"He he gak papa" seperti biasa itulah yang akan dijawab oleh Al


"Pacar Al udah Dateng belom ya?" Tanya Al celingukan saat memasuki kelas, mencari keberadaan El


"Good morniing" Arnol mengangkat tangan, menyapa isi kelas.


"Ha ha" Arnol meniup telapak tangannya lalu di usapkan ke rambut "diucapin selamat pagi dari orang ganteng kok gak dijawab sih, terkutuk Lho kalian nanti" Arnol menunjuk Ivana dan Al yang menatap mereka


"Astaga, kelas ini kayaknya lebih cocok di sebut rumah sakit jiwa deh" komentar Ivana melihat kelakuan Arnol


"Yang paling ganteng di kelas ini ya cuman pacarnya Al" kata Al menjawab ucapan Arnol barusan


"Bucin mah emang buta matanya. Gak bisa bedain mana kerikil sama berlian" cicit Arnol


"Biarin, yang penting punya objek buat di bucinin"


Jleb


Kalimat itu rasanya menohok hati Arnol, lelaki yang mulutnya jauh lebih toa dibanding Al langsung beringsut kesal. Febri, masuk kedalam kelas sambil mengunyah gorengan, mulutnya penuh dengan minyak.


"Nol, minjem duit dong" Febri menengadahkan tangan


"Berapa?" Tanya Arnol melirik mulut Febri "Lap dulu mulut elo, jijik gue" cela Arnol


Febri langsung mengelap menggunakan tangan kanannya, sehingga minyak minyak itu menempel di lengan Febri


"Sepuluh ribu aja, buat bayar uang kas, gue udah ditagih terus sama Selin" kata Febri


"Pagi pagi udah ngutang" Arnol bedecak


Saat Arnol dan Febri dengan berdebat, Ivana dan Al duduk ke kursinya, tidak lama El datang dengan tas ransel warna hitam. Dia melewati begitu saja Febri dan Arnol yang menatapnya.


"Coba lo minjem dia berani gak?" Tanya Arnol pada Febri


Lelaki itu lantas menggeleng, gila saja meminjam uang pada El, dipinjami penggaris saja mukanya sudah semenakut kan itu.


"Gak berani gue, mukanya kayak dep rentenir" kata Febri bergidik ngeri.

__ADS_1


"Ha ha ha" Arnol tertawa sambil merogoh saku, memberikan uang kepada Febri "awas kalo gak dibayar" ujarnya sambil berjalan menuju tempat duduknya


Di meja, El tengah memejamkan mata, dia bersidekap, entah tertidur atau tengah pura pura tidur.


"El, Lo udah ngerjain tugas Bu Anita?" Tanya Arnol, berharap lelaki bernama El Nevaro Semanding itu mau mencontekinya


"Udah" jawab El tanpa membuka mata


"Gue boleh nyontek gak?" Sebenarnya Arnol sudah tahu jawabannya tapi masih ingin mencoba, siapa tahu El mau berbaik hati mencontekinya, kan Wahyu dari malaikat Jibril tidak tahu jadwal turunnya.


"Gak!!" Satu kata itu meruntuhkan harapan Arnol, dia mengelus dada dan geleng geleng.


"Asataga pelit amat" cicit Arnol kesal, dia mengeluarkan buku matematika dan mencari objek contekan.


"Kalo mati gotong keranda sendiri ya" imbuh Arnol mencela El


El membuka mata, menatap Arnol yang super aneh dimata lelaki itu.


"Apa Lo bilang?" Tanya El tajam menatap Arnol


Lelaki yang ditatap nyengir kuda sambil menggeleng, Arnol mah beraninya main belakang.


"Enggak kok, gue gak bilang apa apa" ucap Arnol langsung berlari kearah Hafiz.


Al yang baru selesai menyalin tugas matematika milik Ivana langsung berjalan kearah meja El, lelaki itu masih bersidekap sambil menutup mata. Rambut hitamnya diterpa angin pagi, sinar matahari seakan sengaja menyinari wajah El supaya dia terlihat semakin bersinar.


Al duduk di kursi Gandi sambil bertompang dagu, dia menatap semua pahatan wajah El secara rinci. El membuka mata, menatap mata Al yang tersenyum menatap matanya.


"El udah ngerjain Pr?" Tanya Al dengan suara seperti biasa


"Lo mau nyontek?" Tangan El merogoh loker bawah meja, mengambil buku tapi di urungkan saat mendengar jawaban Al


"Enggak kok, justru Al mau nyontekin El" kata Al polos


Mendengar itu rasanya El baru saja mendengar lelucon yang garing tapi mampu membuatnya tertawa meski hanya menghela nafas saja.


"Gak kebalik?" Tanya El


"Besok aniversary kita, mau di rayain dimana?" Tanya Al masih bertompang dagu


Arnol yang kembali ke mejanya sambil membawa buku Pr milik Hafiz merasa heran, dia mengernyitkan dahi


"Emangnya Lo udah pacaran sama El berapa tahun?" Tanya Arnol


El pun nampak bingung, alisnya terangkat, wajahnya menunjukan bahwa dia tidak paham kalimat Al.


"Ih apaan sih Arnol, gak usah ikut ikutan" Al memukul mukul Arnol

__ADS_1


"Ye, gue kan cuman nanya" Arnol duduk di mejanya, menyalin dengan khidmat pr milik Hafiz


"El, besok aniversary kita mau dirayain dimana?" Ulang Al pada pertanyaan awal


"Emangnya kita pacaran udah ada setahun?" Tanya El bingung, seingatnya dia baru pacaran dengan Al tidak lebih dari dua hari, mungkin tiga hari, hari ini.


"Aniversary yang seminggu"


Mendengar ucapan Al, Arnol justru tertawa terbahak bahak, dia benar benar tertawa amat keras.


"Astaga Al, Lo aniv atau arisan?" Cicit Arnol sambil menggebrak meja


El hanya memandangi wajah Al, diam diam dia merasa gemas sendiri dengan tingkah laku yang ajaib dari Al. Gadis berkepang dua itu cemberut oleh kalimat Arnol meski begitu wajahnya amat sangat menggemaskan


"Dicafe Om welno" kata El yang entah kenapa justru tergerak untuk menuruti kemauan Al


Mata Al berubah menjadi berbinar  "beneran?" Tanyanya dengan antusias


El mengangguk, menatap lebih seksama wajah cantik dari pacarnya, Alriestella. Hati El merasa hangat saat senyum Al begitu mengembang sempurna, rasanya mata hitam kecil milik Al mengingatkan pada mata ibunya.


⏳⏳⏳


Jam Bu Anita, terjadi ujian harian dadakan, Al kebingungan, dia tidak belajar semalam, mana letak duduk diacak lagi, jadi Ivana duduk di depan sedangkan Al duduk bersama Gandi yang otak nya sebelas dua belas dengan dirinya.


El duduk dengan Hafiz jadi keduanya tidak berniat menyontek jawaban satu sama lain, Hafiz anaknya pintar dia selalu mendapat nilai hampir sempurna sedangkan El lelaki itu juga sama pintarnya dengan Hafiz mungkin lebih pintar El.


"Gandi, Lo usaha cari contekan dong" suara bisik bisik Al bisa didengar oleh El


Lelaki itu melirik Al yang kebingungan, juga melirik gadisnya yang tengah memaksa Gandi untuk mencari contekan


"Nunggu hikmah aja udah Al, Lo diem aja" Gandi masih saja santai sedangkan jam pelajaran Bu Anita tinggal dua puluh lima menit lagi


"Nyesel Al berangkat hari ini, kalau tahu duduk sama Gandi" Al bersungut, meletakkan kepalanya diatas meja dan menatap El yang duduk  di pojok belakang, mata mereka bertatapan, El menatap mata Al yang tengah menyipit lemah.


Jam pelajaran Bu Anita tinggal Lima menit lagi dan Al belum mengisi sama sekali, jangankan mengisi satu, membaca soalnya saja bisa membuat Al mual mendadak. Gandi juga nampaknya santai, dia mengisi asal asalan, bahkan hampir menjumlahkan semua angka.


"Kumpulkan sekarang" intrupsi Bu Anita membuat Al kelabakan,


"Duh gimana?" Al mengangkat kertas kosong miliknya "bimsalabim berubah" Al masih mengangkat lembar soalnya, berharap ada keajaiban yang datang untuk Al.


Percuma, semua orang sudah mau mengumpulkan lembar jawabn masing masing, Al beringsut, dia tidak mempunyai jawaban sama sekali.


Saat El menggeser kursinya, Al menoleh tapi tidak mampu berbuat apa apa, karena Al tahu El tidak akan menconteki dirinya.


El tidak melewati lorong pertama tapi melintas ke lorong kedua dimana itu adalah lorong meja Al.


"Kumpulin" El meletakkan Selembar kertas berserta jawaban yang sudah dia tulis, dan semuanya tertera dengan nama Al.

__ADS_1


Gadis itu menatap kepergian El yang tengah mengumpulkan jawaban dengan tersenyum senang.


"Al gak salah pilih pacar" katanya pada diri sendiri.


__ADS_2