AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Enam Puluh


__ADS_3

Aku pikir aku satu satunya orang yang mengenalmu, ternyata aku hanya orang asing untukmu


⏳⏳⏳


Perempuan dengan topi hitam yang sedang berada dikerumunan orang orang lantas memandang ponsel hitam dengan aneh.


"Kenapa Nun?" Tanya Della menyodorkan es bomba pesanan Ainun.


"Gak tahu nih ada yang nelfon di hp yang kita temuin tadi" Ainun lantas memasukan ponsel itu kedalam saku dan menerima bomba pesanan nya.


"Balik ke tenda yuk, takut dicariin, kita udah pergi lama banget soalnya" ajak Della


Mereka sedang menikmati waktu setelah pencarian Al tadi, pergi ke mall yang jaraknya memakan waktu berpuluh puluh menit. Namun saat ini mereka sedang berada di Jogja, tidak lengkap rasanya kalau tidak jalan jalan meskipun malam hari dengan tubuh lelah. Karena sudut Jogja itu romantis. Setiap sudutnya selalu terlihat manis apalagi jika menatap orang orangnya.


⏳⏳⏳


Arnol yang memilih menyetir motor El, tidak tahulah kapan lelaki dibelakangnya itu memiliki motor sekeren dan semahal ini. Arnol hanya mendengar rintihan El yang lirih sambil memegangi lengannya, Arnol tahu pasti luka itu begitu menyakitkan untuk El.


Setelah mengambil keputusan di atas motor akhirnya Arnol memilih membawa El ke klinik di desa yang dekat dengan area camping.


Lelaki dibelakangnya sudah melayangkan protes tapi siapa yang perduli, lelaki yang bebal di dunia ini adalah Arnol, jadi dia tidak perduli jika El melompat sekalipun.


Di klinik, El tetap Keukeh tidak mau masuk, dengan paksaan berpuluh puluh kata romantis akhirnya El masuk kedalam dengan sungutan dari wajahnya. Disana ketika dokter mengoles alkohol dan beberapa obat untuk lukanya, El sempat meringis bahkan wajahnya pucat.


"Gila, elo se galak itu bisa takut sama dokter" goda Arnol masih menahan tawanya.


El hanya melirik lelaki yang memiliki nyawa empat puluh lebih bernama Arnol didepannya itu. Arnol permisi pergi sebentar, tidak lama dia kembali dengan paperbag yang tertenteng ditangan dan melemparkan kearah brangkar El yang sudah tidak ada dokter sama sekali disini.


"Tuh baju, elo buruan ganti, baju elo udah sobek sobek soalnya" perintah Arnol, "Oh ya sekalian deh lo bersihin tubuh elo yang bau got itu, gue gak mau tar radius ketampanan gue mengurang"

__ADS_1


El menatap paperbag lalu menatap Arnol yang kini berkacak pinggang.


"Oh ya Jan lupa ini semua gak gratis, elo kudu bayar gue nanti" katanya


El memilih tidak menggubris kalimat Arnol dan pergi kekamar mandi. Arnol menghabiskan sepuluh lagu yang dia dengarkan, hanya menunggu lelaki bernama El Nevaro selesai mandi. Apa saja yang dia lakukan dikamar mandi, kenapa El bisa selama itu disana.


Saat berniat berdiri, El sudah keluar dengan langkah terburu buru kearahnya.


"Lo liat hp gue gak?" Tanyanya


"Hp?" Arnol mengangkat alis "lah mana gue tahu, gue cuman tahunya elo bdw"


El menarik nafas, mencoba mengingat ingat dimana dia menjatuhkan ponselnya tadi, pertama kali yang dia ingat adalah, dia kehabisan baterai ponsel, dan memasukan ke saku celana, tapi selanjutnya..


"Gue gak mau ya harus nemenin Elo dihutan buat nyariin HP elo yang harganya gak seberapa itu" Arnol bersidekap saat berhasil membaca wajah El


⏳⏳⏳


"Dimana Al?" Tanyanya tanpa basa basi sama sekali


"Waw" kharsima justru bertepuk tangan "Gue kira elo udah mati tadi" Kharisma menyunggingkan senyum miring "Lo emang anak yang kuat, meskipun di bunuh pakek cara aborsi Lo tetep hidup sampe saat ini" Kharisma memukul lengan El dengan keras tepat diperban lukanya.


El lantas menepis pukulan kepura puraan ramah dari Kharisma, lelaki itu sudah menatap wajah Kharisma dengan tajam.


"Kenapa? Lo ngerasa tersinggung dengan kata aborsi dari gue?" Kharisma maju selangkah "Atau papa ah bokap gue belum cerita kalau di awal usia kehamilan nyokap elo, bokap gue pernah ngirim uang buat aborsi elo"


Telinga El sudah tidak tahan lagi mendengar apapun dari mulut Kharisma, terlebih kalimat aborsi yang dia tuturkan terakhir kali, apa El sehina itu hingga Glori menginginkan untuk membunuh dirinya? Karena ketidak sabaran darinya, El lantas menendang dada Kharisma hingga lelaki itu tersungkur kebelakang, menarik kerah lelaki itu dan meninjunya berulang ulang.


El tidak perduli jika hari ini dirinya menghabisi nyawa Kharisma, yang jelas lelaki itu harus sekarat berkatnya. Sepertinya Kharisma memiliki tenaga untuk memberontak, atau karena tubuh lemah El yang sudah berjuang di jurang tadi Kharisma dapat membalikan keadaan, kini dia yang meninju El meski hanya sekali.

__ADS_1


Lelaki tinggi itu bisa berdiri tegak, dan menghindari membalas pukulan Kharisma. Keadaan semakin memanas apalagi saat Kharisma mengambil kayu bakar yang di arahkan ke tubuh El, digunakannya sebagai senjata untuk membuat goresan di lengan kanan El yang masih terluka serta di wajah tampan El.


"Shitttt" saat Kharisma tidak mendapatkan kesempatan untuk membuat El tumbang lelaki itu kewalahan, namun dapat diatasi oleh El yang langsung menendang di bagian dada lelaki itu.


"Brengsek" El meninju wajah Kharisma "gue kasih tahu sama elo, gue bukan anak haram" ucapnya disela tinjuan wajah Kharisma.


"El stopppp" Al lantas menarik tubuh El kebelakang dibantu oleh Hafiz dan teman temannya yang lain.


"El apa apa an sih" Al mendorong tubuh El untuk menjauh kebelakang, sedangkan Kharisma, lelaki itu tergeletak dengan darah yang mengalir dari hidung.


"El bisa bikin Kharisma mati" Al memekik amat keras.


Sena, dan anak yang lainnya membantu Kharisma berdiri. Ada yang menyeka darah Kharisma sedangkan tidak ada yang memperdulikan luka El di lengan bahkan diwajahnya yang tergores.


"El udah janji sama Al kalo gak akan mukulin orang sesuka hati El" Al masih memarahi El dengan nada suaranya yang meninggi "El kenapa mukulin Kharisma?" Tanyanya


El menarik nafas, menatap dengan tatapan tajam kearah mata Al yang kini sedang meminta penjelasan atas ulahnya.


"Lo gak perlu tahu" ucap El sudah berniat pergi karena tidak tahan disini.


Tidak, Al menarik paksa tangan El untuk menatapnya, sambil tetesan bening itu keluar dari mata Al, perempuan yang kini mulai terisak menatap mata tajam El yang sudah melemah.


"Al bener bener kecewa sama El" katanya "Al gak tahu lagi El itu orangnya kayak gimana, bahkan di satu sekolahan ini Al pikir Al satu satunya orang yang tahu tentang El, tapi enggak, ternyata Al bukan siapa siapa buat El" Al menyeka air matanya


"El gak pernah dengerin Al, bahkan El gak pernah beneran ngagep hubungan kita ada" Al menyeka air matanya sekali lagi "Sekarang, mulai saat ini, Al nyerah buat ngeluluhin hati El yang beku, yang gak akan pernah nyair sama sekali"


El tidak bisa berkata terlebih melihat derasnya air mata Al yang mengiris hatinya, El tidak bisa barang sepatah menjelaskan perlakuannya pada Kharisma tadi.


"Al mau kita putus" kalimat itu keluar bagaikan sesuatu yang mematahkan dirinya, bahkan dunia El harus patah hari ini tanpa bisa El perjuangkan dan hanya melihat kepergian Al dengan terpaku.

__ADS_1


__ADS_2