
Sepintar apapun seseorang kalau sudah jatuh cinta, pintarnya tidak berguna
⏳⏳⏳
Mereka terus berjalan sampai berada didepan rumah Al. Lelaki ini memasukan tangannya kedalam saku celana, lalu menoleh kanan dan kiri.
"Makasih ya El" kata Al saat mata mereka berhadapan
El hanya mengangguk, dia masih berdiri menunggu Alriestella melangkah kedalam rumahnya
"El boleh pergi" kata Al juga menunggu El pergi.
Tidak ada yang melangkah, baik El ataupun Al. Mereka berdiri berhadapan didepan gerbang rumah. Seperti orang yang kebingungan oleh sesuatu. El menunggu gadis itu masuk kedalam rumah tapi terlalu gengsi untuk mengatakannya.
"El gak mau pulang? Atau mau mampir kerumah Al?" Tanya Al karena El tidak bergerak sama sekali.
El bingung bagaimana mengatakan kalau dia menunggu Al masuk ke dalam rumah.
"Hmm" El berdehem "gu-gue" tiba tiba El merasa gugup "hmm" dia berdehem lagi "gue cabut" kata El melangkah pergi dari halaman rumah Al.
Langkah kakinya sengaja di langkahkan pelan, dia menunggu suara pintu gerbang dibuka. Perlahan suara yang dia tunggu tunggu berbunyi, El berhenti, lalu membalikkan badannya dan menoleh kearah gerbang rumah Al.
Tidak, perempuan itu tidak masuk kedalam rumah, dia masih ada disana, berdiri ditempatnya tadi sambil menatap kearah El.
Langkah kaki El rasanya terlalu berat untuk pergi meninggalkan Al. Lelaki itu Diam saja, lalu berjalan secepat mungkin kearah Al. Dipeluknya gadis bermata hitam kecoklatan dengan erat, El sempat memejamkan mata menikmati pelukan yang mereka lakukan
"Biar besok gue yang coba ngomong ke Ivana" suara El begitu lirih "Lo jangan sedih" katanya
Al memaku, ini pertama kalinya El memeluk Al dengan perasaan lembut. Tidak sekuat sebelumnya.
"Hmm" deheman dari seseorang membuat El melepaskan pelukannya.
Astaga, El tidak sadar kalau Jovan tengah berdiri memegangi gerbang rumahnya.
El memaku, berdiri kaku tanpa bisa bergerak sedikitpun dan Al sudah berhasil meloloskan tubuhnya dari pelukan El.
Lelaki yang memiliki tatapan tajam dan berhati dingin itu tiba tiba diam membeku, seolah deheman Jovan mengandung ribuan suhu yang mampu membekukan seorang El Nevaro.
"Papa ngagetin tau" merasakan ada atmosfer canggung Al berusaha mencairkan ketegangan yang dirasa.
"Papa kan dari tadi bukain kamu gerbang" kata Jovan langsung merubah ekspresi wajah seramnya menjadi rileks.
El benar benar berdiri kaku, dia tidak bisa barang mengambil nafas sedikitpun.
"Yaudah sana dilanjutin lagi, tapi jangan keterlaluan ya" kata Jovan berbalik arah dan masuk kedalam rumah.
Ditinggalkan Jovan tanpa terasa membuat El menghela nafas dengan berat. Nafasnya yang tertahan tadi mampu di keluarkan, tubuhnya yang membeku langsung mencair seketika.
__ADS_1
"Gak papa El papa orang___"
"Gue cabut" El langsung lari, apalagi telinga dan pipinya sudah merah seperti itu.
Melihat langkah kaki El yang begitu cepat, diam diam Al tertawa. ah dia bisa melupakan kejadian siang tadi disekolahan, tentang Ivana yang marah secara tiba tiba padanya.
Sambil menarik nafas Al melangkah menuju rumahnya, menemui Jovan yang entah kenapa bisa berada didekat jendela.
"Papa ngintipin Al ya?" Tuding Al dengan nada suara menaik
Jovan membenarkan letak bingkai didepan jendela lalu berisik
"Siapa bilang?, orang papa lagi benerin bingkai foto kok" elaknya
Jovan menoleh kearah Al "El udah pulang?" Tanya Jovan
"Udah" Al berjalan kearah Bella yang sedang mencuci piring di wastafel, lalu memeluk perempuan itu dari belakang
"Tumben" Bella mencuci tangannya dan berbalik, menerima pelukan putrinya
"Al marahan sama Ivana" Al bersembunyi di dada mamanya
"Kenapa? Kalian kan jarang berantem"
Dari pelukan itu Bella merasakan Al menggeleng, merasakan sesuatu basah diarea dadanya, Bella mengusap punggung anaknya perlahan lahan
Al mengangguk "Tapi dia gak bilang kenapa bisa marah ke Al, tiba tiba dia marah"
Bella mengelus punggung anaknya, dia mencoba menenangkan.
"Cie yang kurang pelukan sama pacarnya minta dipeluk pacar papanya" goda Jovan
Al menyeka air matanya dan menatap Jovan "Al lagi curhat ke mama, pa"kata Al dengan suara lucu
"Kok papa gak di curhati?" Tanya Jovan mendekat ke putrinya
Al berjalan dan memeluk tubuh gendut milik Jovan , mengusap usapkan bekas air mata ke kaos Jovan
"Papa tumben gak kerja?"
"Papa lagi gak enak badan"
Al melepaskan pelukannya "gak sehat tapi kok ngintipin Al pacaran" kata Al dengan nada suara yang lucu
⏳⏳⏳
Di atas ring tinju, El merebahkan tubuhnya disana. Para penonton sudah pulang sedari tadi, hanya ada dirinya , Erik, dan Gilang.
__ADS_1
Pikiran El entah kenapa berlayangan kearah Al, memikirkan gadis itu bisa membuat dadanya berdetak dengan kencang, nafasnya sedikit sesak, matanya dipenuhi oleh bayangan Al. Bagaimana gadis itu tertawa, bagaimana gadis itu menatapnya penuh riang memenuhi tatapan mata El. Bahkan El tidak merasa saat ini sedang berada di atas ring tinju, dia merasa bahwa saat ini dia sedang menatap wajah Alriestella
"Maen Lo buruk banget hari ini?" Erik yang badannya lebih kekar dibandingkan El menendang paha El dengan pelan, mencoba membangunkan
El menoleh begitu lamunannya buyar. Menatap Erik lalu berdecak kesal.
"Gue lagi gak mood main" kata El menanggapi dengan nada suara yang malas
"Tumben" Erik memegangi tali ring, lalu bersiul sehingga siulannya memantul di ruangan
El menggeleng "Entah" katanya, dia merasa sedari tadi bermain diatas ring, bayangan mengenai saat dia memeluk Al dan ditatap oleh Jovan selalu menghantuinya, tiba tiba jika mengingat kejadian itu El merasa malu sendiri, pipinya langsung merona, telinganya merah
"Lo demam?" Tanya Erik sok sok peduli tapi masih berdiri bersandar di tali ring tinju.
El menggeleng begitu menyadari wajahnya terasa panas. Kenapa?, setahunya suhu ruangan ini stabil, tidak terasa panas juga tidak membuatnya dingin, El juga tidak demam, badannya sehat sehat saja, lalu kenapa.
"Lo" Erik menaikan alis "Lo ditagih bang Ibnu lagi?" Tanya Erik sambil duduk jongkok dan menatap wajah El seksama
El menggeleng, memangnya kalau ditagih hutang bisa membuatnya merah merona.
"Gue kira elo di tagih bang Ibnu" Erik berdiri kembali "siapa tahukan ditagih bang Ibnu bisa buat elo demam"
El segera berdiri dan mengelap rambutnya dengan handuk. Lalu menatap kearah Erik sekilas
"Gue cabut dulu ya, takut dicariin bokap" katanya bergegas mengambil tas ransel sekolah.
El menyusuri arah jalan, mengikuti arah kakinya sambil terus melamun. Apa benar dia sudah jatuh cinta dengan Al?. Tapi kenapa? Maksudnya El tidak berniat memacari gadis itu, niatnya hanya sekadar ingin berteman.
Udara berhembus kencang menerpa wajahnya tanpa sadar langkah kaki El langsung berhenti. Dia terbelalak saat sadar saat ini dia berdiri di gerbang rumah Alriestella.
"Ngapain gue kesini?" Tanyanya bingung
Kadang memang, sepintar apapun lelaki kalau sudah mengenal cinta kepintarannya akan segera turun. Menyadari kelakuan bodohnya El langsung berlari pergi sebelum Al mengetahui keberadaannya.
⏳⏳⏳
Selamat pagi
Dapat salam dari El Nevaro Semanding yang dinginnya seperti kutub es
Gimana harinya?
Suka sama ceritanya?
Semoga bikin mood kalian membaik ya ?
⏳⏳⏳
__ADS_1