
Kesalahpahaman hanya akan melebar jika kita tidak menjelaskannya
⏳⏳⏳
Melihat bertapa seriusnya wajah Ainun, lalu perempuan itu mengangkat jari V yang dia tempelkan di sebelah mata membuat El tertawa melengking.
Hampir saja dia kira Ainun benar benar mengungkapkan perasaannya, tapi melihat gadis itu ikut tertawa perasaan El menjadi lega.
"Gue keliatan beneran kan?" Ainun tertawa "yaelah mana bisa cewek disini suka sama elo, Lo liat kan si Al aja gimana sikapnya sama elo" Ainun berjalan kearah mejanya
"Bangke Lo" El menimpuk kepala Ainun "gue mau turun, jam olahraga gue udah selesai" katanya bergegas turun, saat membuka pintu dia melihat kotak bekal bewarna pink sudah terjatuh ditangga, beserta nasi goreng yang berserakan. Dilihat dari warna kotak bekalnya, El yakin ini milik Al.
Astaga, gadis itu pasti sudah lari sambil berpikir yang tidak tidak dengan apa yang dia dengar barusan. El langsung memungut kotak bekal dan menuruni tangga secepat mungkin, seragam SMA nya sudah keluar dari dalam celana, dia mencari kearah kelas tapi tidak ada siapapun disana, di kantin pun tidak ada Al, hanya teman kelasnya yang sedang melepaskan dahaga.
"Arnol, Lo tahu dimana Al?" Saat melihat Arnol melintas disebelahnya, El langsung menghadang langkah lelaki itu.
Arnol menyisir rambutnya terlebih dahulu sebelum menjawab "Sama Ivana, kalo gak salah tadi dia kearah taman belakang"
Setelah mendapatkan jawaban, kaki panjang El membawanya berjalan kearah taman, mencari keberadaan Ivana dan Al, begitu melihat dua gadis yang saling mendekap dibawah pohon, El menarik nafas lega dan berjalan mendekati mereka.
Ivana yang tahu kedatangan El langsung berdiri dan berniat mengomel.
"Lo kebiasaan deh selalu bikin Al nangis" omel Ivana
El langsung duduk didepan Al, duduk jongkok saling mendekap dua tumit Al yang di rapatkan hampir menyentuh dada milik El. Lelaki itu mendongak kearah Ivana
"Lo bisa tinggalin gue gak?" Tanya El yang membuat Ivana berjalan pergi.
El menatap Al yang sedang menangis sesegukan, dugaan El memang benar, kesalah pahaman antara dirinya dan Al terjadi karena begini, tidak ada yang mau mencari kebenarannya terlebih dahulu, dan El tidak mau hal ini terjadi.
"Kenapa? " Tangan El terurur menyeka air mata Al, lelaki itu pindah ke sebelah Al dan mendekap gadisnya. Memeluk Al dengan kehangatan, mengelus elus lengan Al.
"El pacaran ya sama Ainun?" Suara El terputus putus.
"Kata siapa?" El menangkup wajah Al.
Gadis itu menatap mata El dengan mata basah, wajahnya sudah memerah dengan rambut berantakan. El memeluk Al sambil tangannya bergerak menenangkan. Setelah tangis Al reda, lelaki itu perlahan lahan melepaskan pelukannya dan merapikan anak anak rambut yang menghalangi wajah cantik Al.
"Gue sama Ainun gak pacaran, tadi dia cuman becanda ngomong gitu ke gue" katanya sembari merapikan rambut Al.
"Bener?" Al sesegukan
__ADS_1
Lelaki itu menarik sudut bibir sambil mengangguk membuat Al lantas memeluknya, pelukan itu terjadi sangat lama, wajah Al bersandar di dada bidang milik El tanpa banyak suara.
Jepret
Sesuatu yang mengkilat menyinari mereka berdua, dari arah samping, Arnol berdiri membawa kamera yang dia gunakan untuk membidik mereka.
"Wow, nih kalo Bu Marta tahu, kalian berdua bisa di keluarin dari sekolah" kata Arnol melihat bidikannya tadi.
El melepaskan pelukan Al, dan berdiri, berniat merampas kamera milik Arnol tapi lelaki itu lebih gesit melarikan diri. Sangking gesitnya sampai tidak melihat lihat lagi kalau didepannya ada akar menimbul yang besar. Akibatnya Arnol tersungkur dan hampir memecahkan kamera DSLR mahalnya.
El hanya perlu berjalan santai dan merampas kamera milik Arnol.
"El El, jangan Lo apa apain kamera gue" Arnol berdiri sambil membersihkan tubuhnya
"Gue janji deh gak laporin ke guru, suer deh" Arnol mengangkat tangan nya tanda bersumpah.
Sedangkan El, lelaki itu tidak menggubris kalimat permohonan dari Arnol, justru dia melihat isi galeri hasil potretan dari Arnol.
"Lo jago juga motret" komentar El saat melihat beberapa gambar dirinya dan Al,
"Itu ada beberapa foto yang gue ambil pas pertama elo sekolah disini"
Al ikut bergabung dan melihat hasil jepretan dari Arnol. El memberikannya tanpa menghapus sama sekali foto yang di ambil oleh Arnol.
"Udah kan, puas Lo ngeliatin galeri gue" katanya mengambil kamera yang di sodorkan El.
"Lain kali Arnol kalo mau ngambil gambar kita berdua bilang bilang dong biar kita bisa pose" ucap Al yang di balas dengan cengiran dari Arnol.
"Dah ya, lanjutin lagi mesum kalian gue mau cari spot foto" kata Arnol berjalan pergi.
⏳⏳⏳
Sekitar jam tujuhan, keluarga Semanding duduk di meja makan sambil menikmati hidangan yang dibuat Ella. El hanya memakan beberapa lauk tanpa suara, sedangkan Kharisma, lelaki itu juga melakukan hal yang sama bedanya Kharisma banyak makan sayur sayuran dan bahkan tidak menyentuh lauk sama sekali.
"Ma, kamu kok cuman makan sayurannya doang, makan lauk juga" kata Ella menyodorkan ikan dan ayam yang sudah dimasaknya
"Lagi diet ma" Kharisma melanjutkan makannya
"Habis ini papa mau kamu ambil manajemen, papa mau kamu nerusin yayasan milik papa" kata Glori sambil menyantap makan nya
Kharisma meletakkan sendok hingga menghasilkan dentingan yang nyaring. Dia menatap wajah Glori yang masih tenang.
__ADS_1
"Kharisma udah pernah bilang kan, mimpin yayasan bukan cita cita Kharisma, cita cita Kharisma jadi pemain sepak bola" ujarnya
"Kamu bisa main sepak bola sambil ngelola yayasan kan, apa susahnya?"
Kali ini Kharisma benar benar menyudahi makan, dia meneguk segelas air putih dan meletakkan dimeja.
"Kharisma mau sekolah di Sporting Lisbon" ujar Kharisma mantap
"Mau jadi apa kamu? Sepak bola gelandangan yang gak jelas nasibnya?" Glori menaikan suara "kamu tahu, banyak pesepak bola Indonesia yang nasibnya gak jelas, kamu mau seperti mereka?"
"Pa" Kharisma ikut meninggikan suara "sepak bola emang gak janjiin materi buat Kharisma, tapi dia janjiin bahagia buat Kharisma" lelaki itu menggeser kursi dan berniat berjalan
"Apa selama ini kamu gak bahagia?"
"Ya" belum selesai Glori bertanya Kharisma sudah menjawabnya lebih dulu "Kharisma gak pernah bahagia sama sekali, dulu bahkan sekarang" dan Kharisma berjalan keluar rumah.
Ella bangkit berniat menyusul Kharisma tapi El lebih dulu berdiri dan menatap Ella.
"Biar El aja" katanya ikut menyusul Kharisma
⏳⏳⏳
Kharisma dan El duduk di lapangan futsal komplek perumahan mereka. Dua lelaki yang sedang mencari arti dan tujuan hidup itu hanya bisa diam tanpa suara. Mata Kharisma tertuju kearah gawang, sedangkan El dia menatap rerumputan didepannya.
"Lo bisa jadiin sepak bola sebagai sampingan setelah Lo ngurus yayasan" adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut El.
Kharisma manarik sudut bibir sambil tertawa "Kenapa gak Lo aja yang mimpin yayasan, Lo juga sama sama anaknya Papa kan?"
"Kalo gue bisa gue mau gantiin posisi elo, tapi gue sadar gue siapa disana, gue cuman anak haram yang gak ada di daftar KK keluarga elo" nada El sedikit menaik
"Bagus Lo sadar posisi Lo sekarang" Kharisma menoleh nya "Setidaknya Lo gak bangun image anak mata duitan dimata gue"
Khatisma menatap kearah gawang kembali, tidak ada suara apapun, baik El dan Kharisma sama sama bungkam.
"Lo pernah punya mimpi kan?" Tanya Kharisma "Sepak bola itu mimpi gue dari kecil, gue selalu senang saat kaki gue bawa bola kearah gawang, gue selalu percaya bola yang gue bawa itu adalah kebahagiaan yang sedang gue tabung ke dunia gue" kata Kharisma "Yayasan bukan mimpi gue, gue gak mau berakhir kayak papa, ngabisin masa hidupnya cuman buat yayasan"
Kharisma menatap El dan berdiri "Gue tahu niat Lo ke sini baik, tapi sampai kapanpun gue gak bisa jadi pemimpin yayasan"
El ikut berdiri dan menatap Kharisma "Gue juga pernah punya mimpi, mimpi gue sederhana, punya keluarga setidaknya kalo gue gak punya papa, gue gak lahir sebagai anak haram" kata El datar
Mereka menatap kearah yang sama, sama sama menatap arah gawang yang sedang kosong, Kharisma menarik nafas, begitu pun juga dengan El.
__ADS_1
"Sadar gak sih, papa udah matahin mimpi mimpi anaknya, buat dunia anaknya gak pernah ada kata bahagia. Bahkan sekadar ngewujud tin mimpi kita " Kharisma menatap El "sorry El, gue belum sepenuhnya nerima elo, Lo bisa sebut saat ini gue lagi berupaya lari dari kenyataan, gue pengen ke Portugal, setidaknya disana gue bisa ngeyakinin hati gue kalo gue punya sodara" kata Kharisma berjalan pergi.