AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Tujuh Puluh Tiga


__ADS_3

Tidak ada peraturan untuk pertandingan semacam ini


⏳⏳⏳


Arnol duduk di kursi cafe belakang, dia melihat penampilan Al yang begitu memukau. Ditengah tengah lagu, El datang dan menarik tangannya, hingga meninggalkan bunyi mikrophone yang berdengung.


"Busyet pasti mau pacaran" keluar otak jahil Arnol yang tiba tiba berniat mengikuti mereka.


Al dan El masih berjalan begitu cepat, kearah lorong yang begitu gelap. Arnol mengeluarkan ponsel, berniat mendokumentasikan apa pun yang akan mereka lakukan disana.


"Gila mereka mau mesum" katanya mengikuti Al dan El lalu bersembunyi dibelakang kotak sampah, mereka seperti membicarakan sesuatu, tapi arah bicaranya begitu aneh.


Arnol masih setia menatap mereka berdua sebelum sesuatu melayang ke tekuk El, dan munculah tiga orang yang datang  entah dari mana.


Arnol melihat kedua tangan Al di tarik oleh mereka, dua lelaki yang tidak Arnol kenali. Nafas Arnol begitu sesak, dia gugup, sampai tidak sengaja  menendang kumpulan botol soda. Saat Arnol mengetahui mereka mulai curiga, Arnol lari terbirit-birit dan bersembunyi di belakang pagar, syukurlah lelaki itu tidak menaruh curiga lebih dan membawa Al san El masuk ke dalam mobil sedan, Al tampak memberontak. Bahkan sudah menangis kencang memanggil nama El.


"Apa yang gue harus lakuin ini?" Arnol duduk jongkok sambil mengigiti kuku kukunya.


Entahlah yang jelas dia harus segera mencari pertolongan, disituasi seperti ini hanya keluarga Semanding lah yang terlintas, kantor polisi? Ah sepertinya nama itu tidak ada dalam otak Arnol saat ini. Lelaki itu mencari sebuah taksi sampai lupa meninggalkan mobilnya di cafe Welno.


"Arnol" Ivana menurunkan kaca mobil begitu melihat Arnol berdiri di tepi jalan "Lo ngapain?" Tanyanya


Arnol tampak bingung, dia lantas naik kedalam mobil Ivana, dengan wajah pucat dingin.


"Anterin gue kerumah Kharisma Please" pintanya dengan nada suara gemetar.


"Ada apa?" Meski begitu Ivana sudah menginstruksikan pada supirnya untuk segera kerumah Kharisma, tidak ada percakapan lagi disana.


Semuanya diam terutama Arnol yang memilih mengigiti kuku kuku untuk menghilangkan ketakutannya, sampai didepan rumah Kharisma, lelaki itu lantas turun, Ivana mengerutkan dahi, sebegitu pentingkah Arnol sampai kesini?


Tok tok tok


Daun pintu itu di ketuk berulang ulang, tapi belum ada yang membuka pintu sampai Kharisma yang membukanya dengan kaos oblong dan celana pendek, lelaki itu mengernyitkan dahi.


"Ada apa?" Tanya Kharisma, Arnol tidak mungkin bertamu selarut ini, apalagi dengan wajah seperti ketakutan yang jelas tergambar.


"Gue, anu, eee Al sama El eeee" kalimatnya tidak beraturan


"Lo kalo ngomong bisa yang jelas dikit gak?"


Ivana sudah berdiri disebelah Arnol, dia memandang Arnol dan Kharisma bergantian. Lelaki itu berulang ulang menelan ludah, mengingat bayangan yang memukul otaknya. Penculikan?


"Tadi kan gue di cafe Om Welno, gue liat El narik tangan Al buat keluar, gue Kira mereka mau berbuat mesum tapi tahunya ada tiga orang yang bawa mereka pergi, itu si El dia dia di pukul di sininya " Arnol menepuk bagian tekut "dan mereka di bawa masuk kedalam mobil"


"Lo ngaco, apa Lo habis minum alkohol?" Ivana melotot


"Sumpah, gue gak bohong, demi Tuhan" wajah Arnol tampak begitu menyakinkan, Ivana ikut panik.


"Kenapa Lo baru ngomong sekarang sih, ini ceritanya mereka dalam bahaya" nada suara Ivana panik


Kharisma berjalan masuk, tidak lama keluar dan sudah membawa kunci mobil.


"Ayok naik" ajaknya pada Arnol dan Ivana


⏳⏳⏳


El membuka mata setelah tubuhnya diikat di sebuah gudang, setelah dipukul menggunakan kayu, tubuh El harus dibius terlebih dahulu. Sehingga lelaki itu tidak sadarkan diri amat lama.


El menoleh kekanan dan kiri, tidak ada Al disini, hanya ada Ibnu, dan empat petinjunya sedang menikmati sebuah makanan dan berkumpul.


El mendongak, memikirkan rencana apa yang akan dia gunakan untuk lolos disini.


"Bos, kita udah dapat bayaran?" Lelaki bertahi lalat itu menatap Ibnu

__ADS_1


"Tenang aja setelah dia puas sama cewek itu, pasti kita dibayar"


********, batin El dalam hati. Apakah mereka menculik Al hanya untuk memuaskan lelaki investor untuk Ibnu itu?. El berupaya menggesekkan ikatan tangannya dengan senderan kursi, sedikit demi sedikit tangannya terasa panas namun ada hasilnya, tanpa sepengetahuan Ibnu. El menatap arah pintu, ada kunci yang tergantung disana.


El menatap Ibnu dan empat petinju yang tampaknya sedang menikmati makanan mereka tanpa memperhatikan El. Lelaki yang kini menatap langit langit gudang menarik nafas dan El berlari sekuat tenaga, menarik pintu ruangan dan mengunci mereka yang masih berada didalam.


"El, bukak, brengsek elo" suara dari Ibnu tidak membuat El takut


Saat ini El menaiki tangga gedung menuju kelantai dua, dimana ruangan atas tidak pernah di gunakan kecuali untuk investor Ibnu , seperti menikmati narkoba di ruangan atas.


⏳⏳⏳


Al begitu gemetar, nafasnya sesak, apalagi kini melihat lelaki didepannya tersenyum smirk.


"Hai Al, apa kabar?" Lelaki itu mendekati Al, tetapi Al mundur menjauhi


"Om, Om ngapain" Al menelan Saliva susah payah


"Om kangen sama Al, sini peluk dulu" lelaki gila bernama Leo itu merentangkan tangan


Al masih mundur sambil menggeleng, astaga bahkan kini ketakutannya bertambah parah saat bayangan dimasa lalu datang, saat Leo masuk kedalam kamarnya dan mengusap paha Al, saat Al berteriak dan kaget melihat Leo ada disana, belum lagi menyusul bayangan ketika Leo membawanya ke ruangan gelap dan menelanjanginya.


Al jatuh kelantai, menatap ketakutan wajah Leo, lelaki cungkring dengan kumis tipis serta karang Gigi memenuhi rongga mulutnya


"Jangan takut sayang, Om cuman mau kita main main, seperti dulu" Leo mengusap wajah Al, tetapi gadis itu memalingkan wajahnya


"Jangan Om" Al memohon "jangan"


Tapi Leo justru mengusap wajah Al, membuat perempuan itu merinding akibatnya. Leo mendekatkan wajahnya ke wajah Al, berniat menciumnya tapi Al mendorong sekuat tenaga sambil menangis terisak isak.


"Jangan takut, kita teruskan permainan dulu ya" Leo meraba tubuh Al dan ditepis oleh gadis itu


"Al bisa laporin Om ke polisi" pekik Al begitu keras sambil mencoba tetap menutup pahanya setelah rok yang digunakan Al diangkat oleh Leo.


Plak


Tamparan itu didapatkan Al begitu keras, sampai sampai Pipi mulus Al merah karenanya


"Kamu lihat sekarang, Om masih bisa berkeliaran setelah papa mu masukin Om kepenjara" kelakar Leo


Kali ini kemeja Al di tarik paksa oleh Leo hingga robek, menyisahkan bra yang membuat tangis Al kencang.


Brak


El berada di ambang pintu dan menatap kelakuan Leo, melihat Al menangis sambil menutupi payudaranya. El mengeraskan rahang, kemarahannya sudah naik level.


"Lo sentuh dia, Lo mati" katanya dengan penekanan


Leo tersenyum smrik, bahkan dia sengaja memajukan jari jemarinya untuk menyentuh payudara Al.


"Brengsek" El melangkah maju, menarik kerah Leo dan melemparnya hingga lelaki tua itu tersungkur kelantai.


Kemarahan El tidak berakhir disitu, dia menarik kerah Leo dan memukulnya sekali lagi. Leo belum sempat melawan, lelaki itu kewalahan, kemarahan El benar benar mempengaruhinya, membuat tenaganya berubah begitu kuat.


El menarik Leo dan menendangnya, hingga punggung lelaki itu menabrak meja. El mengambil vas bunga, berniat memukulkan Leo dengan itu tapi tendangan dari arah belakang membuatnya tersungkur. El langsung bangkit, menatap Ibnu dan keempatnya sudah berdiri memasang kdua kuda dibelakang.


"Udah bisa keluar" ejek El yang memancing kemarahan Ibnu


"Brengsek Lo" katanya mulai menyerang, beruntung El bisa menghindarinya meskipun harus dipukul berulang ulang.


El memukul petinju Ibnu, tapi dari belakang El ditendang oleh Ibnu. Wajah El sudah penuh dengan lebam, sedangkan tenaganya sudah ikut terkuras, bagaimana sekarang?


Pilihan pertama adalah membawa Al lari dan mengunci mereka dalam ruangan ini. El mundur selangkah, mundur sampah dia benar benar berada didepan Al.

__ADS_1


"Sekarang berdiri" bisiknya yang diikuti Al dengan isakan.


Kalau El gagal berlari dan mengunci ruangan ini, kemungkinan dia akan benar benar mati disini. Dengan cepat El menarik tangan Al dan membawa gadis itu berlari, begitu kuat karena berhenti dan mengunci pintu benar benar tidak ada kesempatan.


El menarik tangan Al dengan begitu cepat, menarik gadis itu untuk bersembunyi di toilet yang sudah lapuk. El menariknya, mengunci pintu dari luar dan bersembunyi di dalam bilik.


Al masih menangis, begitu kencang memegang tangan El . Lelaki itu lantas melepaskan kaos yang membalut tubuhnya dan mengenakan kaos itu untuk Al, lelaki yang kini bertelanjang dada menyeka air mata Al.


"Jangan takut, ada gue" El menarik Al kedalam pelukannya, gadis itu masih sesegukan.


Suara Ibnu dan anak buahnya terdengar di depan toilet, tidak ada pilihan saat ini selain melawan mereka, El mengambil besi potongan dari kursi, cukup kuat, dan menarik tangan Al supaya gadis itu tetap dibelakangnya. Diujung besi yang dipegang El,  berbentuk lancip, terbersit niatan untuk mengancam mereka menggunakan itu.


Brak


Ibnu mendorong pintu begitu kuat, saat itu terjadi El lantas menarik Ibnu dan membekapnya, mengancam menggunakan besi lancip yang sudah dia todongkan. Tidak sia sia, melihat ekspresi wajah Ibnu yang ketakutan El bisa memanfaatkannya dengan menggeretak empat petinju Ibnu.


"Mundur Lo semua" titah El pada petinju Ibnu.


"Mundur **** jangan maju, Lo gak liat El mau bunuh gue" mulut Ibnu langsung nyerocoh saat melihat satu dari anak buahnya melangkahkan kaki.


"El kita bisa bicarain ini, lo kan petinju, gak ada petinju yang main pakek senjata" Ibnu berusaha membujuk


"Brengsek Lo, gue udah percaya sama elo, tapi kenapa elo bawa Al kesini" El menarik kaos Ibnu hingga menekan leher Ibnu.


"Gue cuman disuruh Leo, Lo tahukan dia janjiin mau ngasih uang ke gue"


El terus mendorong Ibnu untuk berjalan, diikuti keempat petinju yang berjalan mundur.


"Mundur" El berteriak


"E,l petinju gak gini"


Kali ini El benar benar menekan leher Ibnu hingga ujung besi mengenai lehernya, Ibnu diam bahkan tidak berani bergerak, ujung lancip nya sedikit merobek kulit Ibnu.


"Gak ada peraturan dalam pertandingan kayak gini"


Tepat saat mereka sudah memasuki ruangan , El mendorong tubuh Ibnu dan mengunci mereka. El langsung membawa Al lari, jauh menuju pintu depan, tapi berhenti saat melihat anak buah Leo sedang mencarinya, El menuju gudang, dekat dengan toilet bekas. Memecahkan kaca ruangan dan keluar dari jendela.


El terus membawa Al berlari, tapi dia harus berhenti ketika melihat tempat ini sudah dipenuhi oleh anak buah Leo dan Ibnu.


"Al" El melepaskan genggamannya dan menatap wajah Al.


El jongkok melepaskan heels milik Al dan menggantinya dengan sepatu yang dia kenakan.


"Sekarang Lo lari ya" perintah El memegang bahu Al


Al menggeleng "Al gak mau ninggalin El disini"


"Dengerin gue, Lo sayang gue kan?"


Al mengangguk. Air matanya menetas, gadis itu menoleh kekanan dan kiri dengan cemas.


"Sekarang Lo lari, pergi sendiri, biar mereka gue yang ngelawan"


"Kita kabur bareng bareng El"


"Gak bisa Al, mereka bisa nangkap kita, Lo yang lari, cari bantuan buat gue, yah" El meyakinkan dengan memegang bahu dan menatap mata Al.


Mau tidak mau, Al mengangguk dengan berat hati, gadis itu berniat berjalan tapi ditarik oleh El, dan dipeluknya.


"Gue sayang elo Al, gue sayang banget sama elo" peluknya.


note ; jangan lupa kasih bintang yang banyak, terus vote, dan spam komen, kan udah crazyy up nih

__ADS_1


__ADS_2