
Al selalu mengikuti El kemanapun, bahkan mengikuti lelaki itu pergi ke toilet, Al itu bucinya El tingkat dewa.
"El, El gak pengen ya ngajak Al ke rumahnya El?" Al menoel noel lengan kekasihnya
El hanya diam, membawa Al kerumah El?, itu tidak mungkin, sama saja El memberitahu rahasia besarnya, mengenai dia adalah anak simpanan dan mengenai hubungannya dengan Kharisma.
"Kapan kapan" kata El tanpa menyadari ucapannya
"Ha" Al menoleh ke arah El, melangkah lebih cepat dan berjalan mundur, kebiasaan dari Al.
"Bener ya, pokoknya El udah janji sama Al" suara Al begitu semangat, bahkan disaat punggungnya membawa gitar dia masih bisa berlonjak riang
"Iya" El memasukan tangan kedalam saku dan berhenti di perempatan jalan menuju gedung tua tempatnya tinju
"Lo balik duluan aja, gue masih ada latihan" kata El meminta Al pulang
Wajah Al langsung berubah sedih, inikan masih sore. Kenapa El meminta Al untuk pulang, dia kan ingin bersama dengan El.
"Gak mau" Al menggeleng berulang ulang "Al mau ikut El, mau liat El main tinju" katanya memohon sambil memperlihatkan wajah memelasnya
"Gak bisa!!" Suaara El justru menaik
"Kenapa?"
"Gue gak suka elo ngikutin gue terus" kata El tajam
Al hanya menunduk dengan wajah sedihnya, kapan El bisa berubah, menjadi lebih lembut pada Al, bahkan memperlakukan Al layaknya kekasih El sesungguhnya.
"Gue anterin elo pulang" ucap El yang merasa tidak enak, dia menatap rambut Al yang menutupi wajahnya
"Bener ya" meski kecewa karena tidak bisa melihat El main tinju setidaknya Al bisa diantar pulang oleh El.
Mereka berjalan di bawah sinar matahari yang kehilangan cahaya, menyusuri tiap trotoar sambil terdiam, El terlalu keras untuk Al yang kekanak-kanakan.
"El punya berapa saudara dirumah?" Tanya Al disela langkah keduanya
El diam saja, memandang jalanan didepan, memandang kilatan lampu kendaraan yang melintas. Saudara? El tidak yakin dia punya saudara, hubungannya dengan Kharisma tidak lebih dari sekadar saudara seayah.
"Gue gak suka elo nanya nanya masalah pribadi gue" tukas El tajam
Mendengar itu Al hanya bisa meneguk air liurnya sendiri, di belokan komplek rumah Al, El berhenti, sengaja tidak mengantarnya sampai depan rumah, toh rumah Al juga dekat.
"Sampe sini aja" kata El cuek
Al cemberut, tapi hanya bisa pasrah, kalau dia ngotot minta diantar El rasanya percuma, jawaban El akan tetap sama untuk menolaknya
"Yaudah" Al menatap wajah El yang dingin tanpa senyum, pernah Al berharap, nantinya El bisa tersenyum dan yang menjadi alasan senyum El adalah dirinya, Alriestella.
__ADS_1
Al menunggu El mengucapkan kata "hati hati", tapi percuma sampai sepuluh detik pun El masih saja berdiri kaku untuk menunggu kepergian Al.
"Al beneran pulang Lho" kata Al berharap El mau mengucapkan sepatah kalimat
Tidak, El hanya mengangguk saja, matanya terus menatap jalanan didepan El.
Al hanya pasrah, menarik nafasnya perlahan lahan.
"Al jalan Lho ya" katanya sekali lagi, berharap setidaknya El mau mengucapkan "hati hati"
"Ya"
Sudahlah menunggu lelaki kaku, berwajah dingin seperti El rasa rasanya sia sia. Al balik badan melangkah sambil menunduk, menatap langkah sepatunya yang beradu untuk mendahului.
Empat meter dari kepergian Al, bibir El terbuka, matanya tetap menatap perempuan itu. Bahkan menunggu perempuan itu sampai didepan gerbang rumahnya.
"Hati hati" kata El lirih pada diri nya sendiri.
⏳⏳⏳
Dimeja makan, Jovan dan Bella menatap piring tanpa sepatah kata, mereka terlalu menikmati hidangan yang dibuat Bella.
"Ma, Mama dulu sama papa pernah pacaran gak?" Tanya Al disela sela dia mengunyah nasi
Jovan mengangkat kepala, menatap putrinya yang secara tiba tiba ingin tahu soal masa muda orang tuanya, biasanya Al tidak peduli hal semacam itu.
"Kan Al punya pacar" Al mulai bercerita tanpa malu
"Kamu punya pacar?" Bella kaget mendengar kejujuran putrinya, ini pertama kali seorang Alriestella menceritakan tentang pacarnya.
Al mengangguk tanpa takut, bagi Al, tempat cerita paling aman adalah kepada orang tuanya.
"Iya, baru dua hari" Al nyengir
"Anaknya gimana?" Jovan ikut penasaran mengenai kisah cinta putrinya
"Ih, kan Al mau cerita, dengerin dulu" Al kesal sendiri begitu Jovan tertarik dengan pacarnya.
"Iya, cerita apa, buruan papa dengerin" Jovan sengaja menggeser kursinya
"Itu, namanya El" Al menyendok nasi "Dia cuek banget, masak tadi nganterin Al cuman sampe perempatan jalan, terus dia gak hilang hati hati ke Al" cerita Al
Jovan mencerna cerita putrinya, sambil mengunyah lauk, Jovan angkat bicara.
"Namanya El?" Tanya Jovan "kok sama kayak kamu, Al, El. Dul nya mana?" Jovan malah membuat lelucon menggunakan nama Al dan El
"Ihhh papa, kan Al seriussss" Al yang sudah selesai makan menghentakkan kaki, merajuk
__ADS_1
"Iya iya" Jovan berhenti tertawa begitupun dengan Bella "Mungkin dia punya alasan sendiri buat nganterin kamu sampe perempatan jalan" imbuh Jovan bijak
"Alasannya apa?" Al memajukan kepalanya, memajukan bibir berlagak manja
"Ya mana papa tahu, kamu tanya dong sama pacarmu, katanya pacaran" Jovan meneguk segelas air putih
"Gimana caranya, orang nomor dia aja Al gak punya" Al cemberut, membayangkan hubungan nya dengan El yang tidak ada kemajuan justru semakin membuatnya sedih
"Hubungan macam apa itu?" Jovan garuk kepala "pacaran kok gak punya nomor telpon?" Tanya Jovan bingung
"Al, kamu beneran pacaran sama dia?" Tanya Bella yang mulai ragu mendengar cerita anaknya
"Beneran ma, orang kemarin El bilang gini kok "Lo mau gak jadi pacar gue?" Gitu" Al menirukan suara serak El
"Tapi kok bisa gak punya nomornya?" Tanya Bella yang ikutan bingung
"Itu dia" Al merengek "tadi aja pas Al nanya El punya saudara berapa, eh dia malah marah" Tutur Al
Jovan mengetuk ngetuk meja, memikirkan sikap pacar dari putrinya
"Mungkin dia punya alasan" Jovan berusaha membuat putrinya berpikir positif.
Iya El memang punya alasan, apa alasan itu termasuk dia tidak menyukai Al.
⏳⏳⏳
El pulang ke rumah selepas magrib, dia membuka pintu, menemui Kharisma selonjoran bersama temannya tengah main game. Mata mereka beradu sebentar, tidak lama karena El memilih menapaki tangga menuju kamarnya
Sejujurnya El benci rumah, baginya ini adalah neraka yang lebih menyakitkan dibandingkan penjara, El selalu tertekan. Dikamar, El membasuh tubuhnya, keluar dan mengerjakan tugas tugas serta soal yang belum di jawab.
Kharisma membuka pintu tanpa mengetuk, tidak sopan.
"Lo bisa ketuk dulu gak?" Suara berat El terdengar, tapi lelaki bermata tajam itu tidak mengalihkannya
"Terserah gue, rumah rumah gue" jawab Kharisma menohok
Kharisma melempar dua buku paket keatas meja, sehingga buku itu dengan sengaja memukul tangan El. Kharisma berkacak pinggang
"Dari bokap elo" kata Kharisma langsung membanting pintu
Demi Tuhan, kalau El tidak ingat mengenai pendidikannya, mungkin dia akan pergi dari rumah ini, diperlakukan seperti sampah benar benar tidak menyenangkan.
"Brengsek" umpat El pada diri sendiri
⏳⏳⏳
Akhirnya bisa fokus ke cerita Al dan El (Passage Of Time)
__ADS_1