
"Suasana baru tidak selalu buruk"
⏳⏳
El terus menendang kerikil saat berdiri di trotar jalan. Pulang awal membuat dia dilema, apalagi saat hari jum'at seperti ini, dia bingung harus pulang kerumah dan menemui mama tirinya atau pergi ke mana gedung tua seorang diri.
Di gedung tua itu, pada jam seperti ini tidak ada yang ada disana, pergi ke cafe hanya akan membuang buang uang, di perpustakaan, pada jam seperti imlni banyak perpustakaan yang tutup. Dia ingin tetap disekolah, setidaknya sampai jam empat sore nanti, agar dia tidak melihat Kharisma dirumah.
"Ell" panggilan dari seseorang membuat dia menoleh.
Gadis itu sudah berdiri disampingnya. "Mau ikut Al ke rumah Arnol?"
Sebuah kebetulan, El tidak ingin pulang juga tidak ingin bergaul dengan seseorang. Tapi ajakan Al sangat menguntungkan dirinya untuk tidak berada dirumah.
El menagngguk. Anggukan pertama dari semua ajakan yang pernah Al inginkan di setujui oleh El. Gadis itu menarik sudut bibir, melonjak kegirangan.
"Ayok sini"
Tanpa sadar Al menarik tangan El, hampir menggenggam nya.
Mereka menuju mobil sedan hitam, pantulan cahaya membuat mata El menyipit. Al membuka pintu dan meminta El untuk duduk di sampingnya.
Arnol dan Ivana menoleh kearah kursi penumpang, membulatkan mulut.
"El ikut kita"
Meski sorot mata Al tampak bercahaya, Arnol justru sebalik nya, dia kurang menyukai El, dari semuanya teemasuk segi penampilan, menurutnya ketampanan El sungguh tidak bisa ditoleransi lagi.
Mau tidak mau dia menarik gas menuju rumahnya, membawa ketiga temanya untuk pergi ke rumah megah Arnol. Sampai disana pun, Al tidak berhenti berdecak, dia kagum melihat rumah megah Arnol yang pantas disebut istana.
"Masuk" ajak Arnol.
Sampai didalam pun mereka masih disambut dengan kemewahan yang luar biasa. Beberapa peembatu menyambut mereka.
"Bi, makanan ringan sama jus ya. Anterin ke atas"
Mereka mengikuti Arnol menuju kamarnya, kamar yang tiga kali lebih luas dibandingkan kamar Al. Dengan fasilitas wifi dan pendingin rungan yang nyaman.
"Lo bisa main game gak?" tanya Arnol pada El tiba tiba.
Main game, El sering melajukan itu saat SMP dulu. Bersama dengan anggukan dari kepala El, Arnol melempar stik ps.
"Temenin gue maen, males gue maen sendirian"
Mereka duduk berdua menghadap layar. Permainan jatuh pada bola, memencet stik ps untuk menggerakan ava mereka.
Al dan Ivana sibuk berlesehan sambil membuka ponsel, melakukan streaming gratis mumpung ada wifi.
"Wuii kenceng juga maen lo El"
Arnol berdecak saat kewalahan melawan El.
"Elo kudu liat stategi lawan" jawab El.
Kalimat itu membuat pergerakan tangan Arnol berhenti, dia tidak menyangka El seayik itu. Tidak seperti yang dia fikirkan.
__ADS_1
"Lo udah sering main ginian?" tanya Arnol disela mengegeser stik ps.
"Gak terlalu sering, palingan kalau gue ada duit"
El tidak sadar membagi tentang dirinya pada Arnol, membagi sesuatu yang tidak pernah terniatkan untuk dia bagikan.
"Gue sebenarnya gak terlalu ahli sama game ini"
"Gimana kalau kita main Fortnite?" ajak Arnol
El menoleh "lo punya?"
Arnol sudah mengganti program "punya lah, gue hoby banget sama game ini"
"Bdw lo bisa maennya gak?" tanya Arnol
El tidak mengalihkan arah pandang, masih fokus pada layar meski dengan ekspresi seperti biasa "gue cuman pernah main game ini dua kali" jawab El
"Ya udahlah, kita coba dulu, kalau gak bisa nanti elo gue ajarin"
"Permainannya sama kayak maen PUBG. Kita harus bertahan hidup" tambah Arnol.
El mengangguk, dia menatap layar dimana peemainan sudah dimulai.
"Arnol, kamu ngajak Al sama Ivana kesini buat apa?"
Al yang sudah bosan akhirnya menyelinap ditengah tengah Arnol dan El.
Mereka bedua tampak sibuk menggeser stik tanpa memperdulikan Arnol dan El.
Al berdecak, akhirnya ditoleh oleh Arnol
"Gue tadi bosen aja dirumah sendirian, jadi ngajak lo berdua, eh ternyata elo ngajak El, dan El bisa maen game. Jadi lo berdua gak berguna di sini" jawab Arnol enteng
"Jadi elo bawa kita cuman buat ngusir waktu suntuk elo doang? "
Ivana yanhg dari arah belakang berdecak.
"Nyebelin banget sih Arnol"
Al berdiri menghentakkan kaki berulang ulang.
"Lo yakin El baru maen game ini dua kali?" tanya Arnol memastikan
El mengangguk
"Kenapa lo lincah banget? Yah kalah gue"
Arnol membanting stik ps asal. Dia berdecak kesal, saat itu El bangkit dari duduk.
"Udah jam empat gue pamit pulang"
Arnol mengangguk, Al dan Ivana juga ikut bangkit.
"Gue juga mau balik, sopir nyokap udah didepan nungguin gue" Ivana keluar duluan
__ADS_1
"Al juga ikutan pulang"
Al dan El sama sama keluar pintu, pergi meninggalkan Arnol yang langsung mendengkur halus.
Mereka keluar dari kawasan rumah Arnol. Memasukan tangan disaku sambil berjalan santai. El lupa kapan dia main game, main bersama dengan Arnol sedikit membuat dia terhibur, membuat dia lupa kalau anak haram ini bisa bahagia.
"El, Al gak tahu lo kalau El bisa main game?"
Al tetap mengekori El dari belakang kadang dia menarik narik kemeja El dari belakang.
El tidak menjawab terus fokus pada jalanan.
"Abis ini El mau kemana?" tanya Al
El tetap tidak menjawab, terus berjalan tanpa menoleh kearah Al.
"Al ikut El ya?"
Rengekan dari Al tidak membuatnya risih, dia sudah terbiasa dengan kelakuan dari gadis ini.
"Gue mau ke gedung tua" jawab El dingin
"Al ikut"
Al menarik seragam El, lelaki itu menoleh, melirik dimana wajah gadis itu penuh dengan hadar.
El mendegus, lalu mengangguk yang langsung merubah eksprsi wajah Al.
Mereka menyusuri gang sempit, masuk kedalam gedung tua dan disambut dengan Ginanjar, palatih El.
Ginajar sempat mengalihkan arah pandang ke Al, gadis itu nyegir.
"Siapa?" tanya Ginajar pada El
"Temen" jawab El singkat lalu berjalan kearah tempat ganti.
Gadis itu setia mengekori El bahkan ikut masuk kedalam ruangan ganti tanpa rasa takut sama sekali. Ginanjar sempat heran, El tidak pernah membawa siapapun ke tempat ini.
"Lo ngapain masih disini?" El yang hendak mengangkat baju mengurungkan niatnya saat melihat wajah Al tetap tersenyum
"Ikutin El" jawab Al
"Gue mau ganti, sana keluar" usir El
"Gak mau"
Al menggeleng, tetap berdiri ditempatnya dengan setia
"Gue mau ganti" ulang El dengan kesal
"Keluar gak?"
Kali ini ucapan El di ikuti dengan lirikan tajam dari matanya. Al kicep, memutar badan dan keluar dari ruangan ganti.
Setidaknya El sudah membawanya ketempat ini, membiarkan dia tahu apa saja kegiatan El. Sebuah kemajuan dalam hubungannya
__ADS_1