
Kesuksesan paling besar seorang anak itu bukan dengan cara memiliki uang banyak, tapi menyakinkan orang tua adalah kesuksesan paling besar bagi seorang anak
⏳⏳⏳
Kharisma duduk didepan kolam sambil memandangi formulir pendaftaran sekolah sepak bola impiannya. Dia menatap formulir itu dengan nanar, rasanya Kharisma ingin pergi kesana, apalagi pendaftaran dilakukan dalam Minggu Minggu ini. Kharisma menarik nafas dengan begitu dalam, menghembuskannya seolah tidak ada kekuatan sama sekali. Percuma kalau dia memaksa untuk pergi ke Portugal, penyumbang dana sekolahnya adalah Glori jika lelaki itu tidak setuju, bersih keras hanya akan membuatnya hancur.
Ada suara langkah yang mendekat di belakangnya, Kharisma buru buru melipat formulir pendaftaran dan menoleh ke belakang. El berdiri sambil memasukan tangan ke saku celana, ketika mata mereka saling bertatap, El memilih putar badan tapi suara deheman dari Kharisma membuat langkahnya berhenti
"Lo_" Kharisma menjedanya setelah El berbalik dan menatapnya "Setelah ini Lo mau lanjut kemana?"
El menelan air liur dan berjalan mendekati Kharisma, dia duduk di kursi sebelah Kharisma, tidak begitu jauh tapi juga tidak dekat.
"Kayak nya UI" jawab El setelah menggantungkan pertanyaan Kharisma begitu lama
"Pasti Al jerit jerit kalo dia tahu Lo masuk UI" Kharisma tertawa di sela kalimatnya
El ikut tertawa dengan kalimat Kharisma barusan, memang benar Al akan kesulitan untuk masuk UI, nilainya begitu kecil, tapi setidaknya masih ada universitas di Jakarta yang bisa di masuki Al selain UI.
"Lo gimana?" El menoleh dan menatap wajah Kharisma yang sedang menatap air berliuk didalam kolam
"Gue" Kharisma menatap El, mereka saling bertatap "Dengan nilai gue, gue yakin bisa masuk Universitas manapun" kata Kharisma sambil menarik sudut bibir.
El juga tahu, kalau nilai Kharisma tidak jauh dengan dirinya, El unggul di fisika dan matematika sedangkan Kharisma unggul di olahraga, kalau mereka satu kelas, mungkin , El dan Kharisma akan merebutkan posisi pertama secara ketat.
"Lo gak jadi ke Por__" El berhenti, tidak jadi menyelesaikan kalimatnya saat Kharisma berdiri seolah memberi tanda dia enggan mendengar pertanyaan itu.
"Besok gue ada tandingan sama SMA Garuda, datang ya" kata Kharisma lantas pergi.
El hanya mengangguk tanpa di lihat oleh Kharisma, lelaki itu sudah berjalan pergi dan membuang formulir pendaftaran di dalam kotak sampah dekat dengan pintu menuju ruang keluarga. El sudah melihatnya, melihat kertas yang dibuang Kharisma tanpa sengaja tadi.
⏳⏳⏳
El pulang sekolah sekitar pukul dua sore, dia buru buru mengganti pakaiannya dan sudah bersiap dengan switer warna biru, dia juga menggunakan sepatu Kets warna putih. Kini El membunyikan suara motor dan membawa motornya menuju perusahaan Glori. El ingin menemui lelaki itu hari ini.
Setelah menempuh perjalan tiga puluh menit diatas motor, El memarkirkan motor di parkiran dan berjalan kearah lobi. Disana El disambut senyuman ramah dari satpam yang sedang berjaga di pintu utama, lalu El menemui karyawan di resepsionis. Kalau kalian tidak tahu, Glori ini memiliki perusahaan yang bergerak di bidang tekstil dan sebuah yayasan sekolah SMA di Jakarta . El menemui karyawan yang berjaga di meja resepsionis, disambut senyuman ramah khas pegawai.
"Ada yang bisa kami bantu?" Tanyanya
"Saya ingin bertemu dengan pak Glori" ucap El
"Sebelumnya sudah membuat janji?"
El menggeleng, "Bilang sama pak Glori, ada El Nevaro di sini" ujarnya, ah El sengaja tidak mengatakan nama Semanding disini, El takut jika Glori menyembunyikan dirinya dari karyawan perusahaan.
Tidak lama karyawan itu menghubungi seseorang dari dalam telepon dan meminta El untuk menunggu.
"Bapak El, silahkan anda ke ruangan pak Glori, beliau sudah menunggu" kata Karyawan itu setelah membuat El menunggu hampir lima belas menit.
El mengangguk dan ada karyawan laki laki yang mengenakan kemeja warna biru mengantarkannya ke ruangan Glori. Sampai disana, El disambut senyuman dari Glori.
"Terimakasih Patter" kata Glori tersenyum pada karyawan laki laki yang mengantarkan El
__ADS_1
Karyawan bernama Patter undur diri dengan senyuman seramah tadi. El duduk di sofa dimana Glori memintanya , dan menunggu Glori duduk didepannya dengan sabar.
"Maaf papa buat kamu menunggu" kata Glori setelah menyelesaikan satu map dokumen
"Gak papa" El menjedanya "Pa"
Mendengar itu Glori menarik sudut bibir sangat lembar, dia menatap El dengan tatapan melunak.
"Ada apa tumben kamu datang kesini?"
"El mau ngajak papa ke sesuatu tempat, bisa?" Tanya El tampak begitu kaku dan terlihat dagu
Glori menaikan alis, lalu melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangannya, lelaki itu seperti tengah menimang nimang dengan permintaan El.
"Apa ada seustau yang sangat penting?, Papa harus memeriksa laporan karyawan papa"
"Tidak penting, tapi papa akan nyesel kalau gak ikut El" kata El berusaha membujuk Glori
"Tapi laporan karyawan papa_" Glori menatap mata El yang begitu penuh harap, rasanya baru kali ini Glori melihat bola mata El selemah itu.
"Baiklah, papa ikut kamu" Glori lantas mengambil jasnya dan berjalan keluar dengan El. Sebelum menuju lift Glori menemui Patter sebentar, ternyata lelaki yang menemui nya tadi adalah sekretaris Glori.
"Patter, tolong gantikan saya memeriksa laporan karyawan, saya mau keluar bersama putra saya sebentar"
Ah, El sampai menoleh karena Glori menyebutnya sebagai putra, apakah karyawan disini sudah tahu mengenai status dirinya. Di lift baik Glori maupun El sama sama diam, mereka seperti dua orang yang canggung berada di satu ruangan, bahkan sangking diamnya, setiap gesekan lift yang membawa mereka turun begitu kuat terdengar.
Mereka berdua berjalan sangat serasi untuk keluar dari perusahaan, saat Glori ingin berjalan ke arah mobil, El tersenyum.
"Kamu serius?" Glori menatap El sangat kaku, naik motor itu belum pernah dia lakukan sama sekali.
"Papa belum pernah kan naik motor sama El?" Tanyanya
"El naik mobil lebih aman" ucap Glori berusaha menolak
"Naik motor lebih cepat" kata El tetep keukuh untuk naik motor.
Meskipun ragu Glori naik keatas motor dan El langsung membawanya melesat meninggalkan perusahaan. Glori memegangi El begitu kencang, seolah lelaki itu takut terseret angin dan jatuh di tengah tengah jalan. El membawa Glori menuju SMA Garuda. Saat El memarkirkan motor disana, Glori turun dengan lipatan dahi.
"Kamu serius kita akan disini?" Tanyanya memastikan
"Ayok pa" El berjalan lebih dulu yang diikuti Glori dari arah belakang, di kerumunan siswa siswi yang sedang duduk, Glori terus mengikuti El hingga mereka menemukan tempat duduk yang kosong.
"El, jadwal papa sangat sibuk, papa gak ada waktu untuk disini" kata Glori sudah berniat berdiri.
"Sebentar aja, mereka masih istirahat, pa bentar aja ya" kalimat El itu begitu melunak, sungguh seolah El tidak pernah lahir dengan sikap sekaku sebelumnya, dan itu yang akhirnya membuat Glori bertahan duduk disini.
Saat para pemain kembali kelapangan, El tersenyum , apalagi begitu melihat permainan benar benar dimulai.
"Pa" El menatap Glori "papa tahu nomor punggung 23 disana" El menunjuk kearah laki laki yang sedang memimpin bola
Glori menyipitkan matanya "Papa gak jelas ngeliat wajahnya" kata Glori karena punya masalah dengan penglihatan
__ADS_1
"Itu Kharisma pa" kata El membuat Glori menatap laki laki yang kini bersiap menendang bola kearah gawang
"Papa lihat, orang orang yang berdiri disana" El menunjuk sederetan orang tua yang menggunakan seragam sangat rapi berdiri di pinggir lapangan
"Siapa dia?" Tanya Glori
"Mereka itu kepala sekolah, mereka itu wali murid dari SMA nya El, mereka itu fansnya Kharisma, bahkan mereka datang kesini cuman buat nonton Kharisma" kata El berhenti dan menunjuk sekumpulan penonton yang membawa banner foto Kharisma "Papa liat mereka, mereka fans Kharisma nomor satu dari berbagai sekolahan di Jakarta"
El tersenyum puas, seolah niatnya membawa Glori ke sini akan berbuahkan hasil, padahal masih belum jelas apakah hati lelaki itu akan luluh atau tidak.
"Mereka semua bangga banget sama Kharisma" lanjut El "apalagi para orang tua disana, mereka rela pa ninggalin jadwal mereka cuman buat nonton Kharisma" mata El dan Glori saling bertatap "Orang tua yang lain bisa Lo pa bangga sama Kharisma, masa papa enggak"
Saat seluruh orang di lapangan berteriak dengan keras begitu Kharisma memasukan gol kegawan Glori menatap putranya yang begitu senang dan berlonjak girang dipeluk oleh teman temannya
"Mimpi Kharisma itu cuman sederhana, dia pengen main sepak bola" kata El
Tapi tepat setelah El selesai, Glori berdiri dan tersenyum kearah El, lelaki itu menepuk bahu putranya
"Papa harus ke kantor, sebentar lagi papa ada meting" ujarnya sudah berjalan meninggalkan area sekolahan, El bergegas menyusul Glori.
Saat mereka sampai diparkiran, Glori menatap El begitu serius, meski tampang Glori tidak kaku tapi tetap membuat El menahan untuk menelan air ludah.
"El, terimakasih sudah bawa papa kesini, papa selalu bangga sama anak anak papa, tapi untuk mengijinkan Kharisma ke Portugal hanya untuk mimpi konyolnya itu papa tidak bisa" kata Glori "Biar papa pulang naik taksi, kamu lanjutkan menonton Kharisma" ujar Glori sudah pergi.
⏳⏳⏳
El kembali ke lapangan dan bergabung dengan Arnol, Al dan yang lainnya. Kedatangan Al itu disambut senyuman paling lebar dari Al, juga harapan kalau usaha yang mereka lakukan berhasil. Ah iya, ini memang rencana buatan Arnol dan Al yang meminta El membawa Glori ke lapangan
"Gimana?" Tanya Arnol
El menaikan bahu tanda tidak tahu, dia kemudian duduk disebelah Al dan disambut elusan di lengannya.
"Yaudah lah yang penting kita udah usaha" kata Ivana menyemangati.
Arnol melipat bibir dan menghembuskan nafas dari mulutnya "Gila ya bokap elo kaku banget, pantesan kekaku annya di turunin ke elo"
Arnol berjalan kearah deretan orang tua yang tadi ditunjuk El . Lelaki itu tersenyum satu persatu kepada mereka.
"Om, makasih ya udah bantuin Arnol" lelaki itu menyisir rambut kebelakang
"Kamu ini, udah tahu Om sibuk" mereka semua menurunkan banner yang bertuliskan "semangat Kharisma" membuat Arnol hanya bisa meringis
"Kalo bukan karena kamu anak metri pendidikan, udah Om cubit kamu" salah satu dari mereka berkomentar
"He he" Arnol hanya bisa tersenyum "Tapi nanti Arnol kasih tahu proposal Om sama Tante semua, biar bisa dilihat papa"
"Yah setidaknya seneng bisa bantu kamu" ujar mereka sudah beranjak pergi satu persatu.
Arnol kembali lagi ke tempat duduk teman temannya dan tersenyum.
"Demi Kharisma aja nih gue gunain kekuasaan bokap" katanya terdengar mengeluh
__ADS_1
"Pokoknya kalo berhasil ini semua berkat elo Nol" jawab Ivana