
Bahkan aku satu satunya orang yang tahu ekspresi mana yang menggambarkan ya darimu
⏳⏳⏳
Kharisma diam menatap televisi tanpa menikmati tayangannya, fikiran Kharisma terlalu kacau, terlebih kalimat Ella tempo hari selalu membuatnya kepikiran. Aneh, kalau tiba tiba dia berdamai begitu saja dengan El, dia mengusap rambut karena frustasi. Tidak lama Glori datang menghampirinya.
"El belum datang kesekolah?" Tanyanya tanpa basa basi terlebih dahulu, dan ini yang membuat Kharisma merasa kesal dengan sikap Glori.
Lelaki yang lebih besar dengan keriput diwajahnya ini tidak pernah bersikap manis sama sekali dengannya. Kharisma berdiri dan memandang Glori dengan penuh kebencian.
"Gak" katanya beranjak pergi.
"El udah dua miggu ini gak pulang ke rumah" kata Glori "Papa minta tolong, tolong kamu tanyain sama temennya El, tanyain dia dimana, papa khawatir"
Baru kali ini Kharisma mendengar lelaki itu mencemaskan orang lain, biasanya kapanpun dan berapa hari pun Kharisma tidak pulang, lelaki itu tidak akan bertanya ataupun protes.
"Bagus dong kalau El gak pulang, berarti dia udah sadar posisinya" dan Kharisma lantas beranjak pergi.
⏳⏳⏳
Al masih berdiri didepan gedung tua menunggu Ginanjar ataupun Erik keluar dari sana. Dia masih setia bahkan ditengah gelap seperti ini, udara dingin menebus kulitnya, tapi dia tidak beranjak, tidak juga merasa takut.
Tidak lama Ginanjar datang dari belokan pertama, sedikit kaget saat melihat senyuman dari Alriestella.
"Al kira kamu ada didalam tadi" Al lantas menyetop langkah Ginanjar.
"Mau ngapain elo?" Ginanjar memasukan tangan kedalam saku.
"Al pengen tahu dimana El sekarang, tolong kasih tahu keberadaannya El sama Al"
Lelaki didepannya ini menghembuskan nafas dengan keras. El benar, jika perilaku gadis didepannya ini begitu ajaib.
"Gue kan udah bilang, gue gak tahu" Ginanjar menjawab dengan lembut, lelaki yang bertubuh tegak, tinggi dengan lesung pipi itu tidak akan berani membentak seorang perempuan.
"Please, El gak bilang mau pergi kemana. Tapi Al pengen tahu, Al janji gak akan bilang ke siapapun"
Ginanjar menarik nafas dan menghembuskan nya "ini bukan masalah orang tahu atau gak, tapi masalahnya gue beneran gak tahu" katanya
__ADS_1
"Bohong" Al cemberut "Al tahu kok, orang disini tahu dimana keberadaannya El, kalian itu udah jadi keluarga keduanya El, bahkan keluarga pertama setelah keluarga Semanding" tidak terasa saat berkata seperti itu air matanya tumpah.
"Al mau minta maaf " katanya menangis "Al bahkan gak pernah tahu ceritanya El tapi hiks " perempuan itu sesegukan "tapi Al malah jahat sama El, Al malah belain Kharisma dibandingkan El, pasti pas camping itu El sebel sama Kharisma" Al masih menangis dan semakin membuat Ginanjar kebingungan.
"Jangan nangis, gue gak bisa liat cewek nangis"bentak Ginanjar
Melihat Al yang menangis tersedu sedu, Ginanjar jadi tidak tega, tapi mengatakan dimana posisi El berada itu akan membahayakan El dan juga Al, bagaimana jika Al nekat menyusulnya ke Surabaya? El pernah bilang padanya kalau Al itu ajaib, dia bisa berbuat nekat sekalipun.
"Mau lo nangis sampe pagi, gue gak tahu dimana El berada " dan Ginanjar beranjak pergi, menahan rasa tidak enak.
Dia terus berjalan masuk kedalam ruangan tinju dan menyendiri di dalam ruang ganti, dia mengamati nomor barunya El. Ginanjar menimangnya, memberitahukan bahwa Al begitu hebatnya menangis hanya ingin tahu keberadaan dia atau tidak perlu.
Akhirnya setelah pertimbangan yang begitu matang, Ginanjar memutuskan memanggil El, tapi tidak dijawab oleh El, yah, Ginanjar paham kalau lelaki itu pasti sedang diatas ring, mempertaruhkan tahta raja tinju jalanan disana.
Ginanjar mengetik beberapa kalimat lalu kembali dan mengamati perjudian yang sedang terjadi.
⏳⏳⏳
El ngos ngosan, menatap lantai kotak kotak yang kini berubah mengabur. Dia benar benar kelelahan, apalagi dihajar habis habisan diatas ring, di adu dengan lima petinju, El benar benar tidak sanggup, tidak, tidak ada petinju yang berbuat seperti ini selain dirinya. El berdiri dengan tubuh pegal pegal, membuka loker, mengambil handuk dan melihat ponselnya, ada pesan dari Ginanjar.
Ginanjar
Dia sering kesini, nanyain keberadaan elo
Tadi dia nangis
El hanya membacanya, menyenderkan tubuh didepan tembok, menatap arah depan dengan berkunang kunang. Sebuah pintu yang tadinya tertutup dibuka oleh Ibnu, lelaki itu berjalan, berdiri didepan El lalu menyodorkan sebotol susu murni.
"Kita menangin taruhan" katanya memberitahu
El tidak membalasnya, dia masih setia membisu, rasanya malas, apalagi saat ini tenaganya benar benar habis terkuras.
"Kira kira kabar bokap baru elo gimana ya?" Ibnu menyulut rokok yang sudah dia selipkan di mulut.
El tidak menjawab, masih diam saja, baginya mulut sampah seperti Ibnu tidak perlu dia jawab perkataannya.
"Lo kenal dia" Ibnu menyodorkan foto Al kehadapan El, tentu saja lelaki itu mengeraskan rahang, ada perlu apa Ibnu menanyakan hal mengenai Al.
__ADS_1
"Gak" jawabnya sakraktistik, lalu berdiri dan membuka loker, mengambil handuk.
Ibnu justru menyeringai "Cantik gak?" Tanya nya lagi
El diam saja, masih mencari baju yang akan dia gunakan sebelum kembali ke kostannya yang kumuh
"Kira kira cewek secantik dia tingginya berapa ya?"
El masih diam, dia memakai bajunya tanpa menyahuti kalimat dari Ibnu sama sekali.
"Kayaknya cocok kalau kita jadiin model tinju"
Braakkk
Suara hentakan dari pintu loker itu begitu keras, El menatap wajah Ibnu dengan pias, ada kemarahan yang lantas memancingnya saat mendengar Ibnu membicarakan mengenai Al. Lelaki yang kini memandang Ibnu seperti hendak memangsa benar benar jijik jika Ibnu harus membicarakan Al dengan mulutnya.
"Lo bisa diam gak" Tutur El sebelum pergi tapi tertahan oleh kalimat yang keluar dari mulut Ibnu.
"Alriestella Lesham Shaenette, anaknya Jovan Shaenette, bener kan?"
El menarik nafasnya menahan mati matian untuk tidak tertarik dan tidak membuat Ibnu mengambil kesempatan untuk memperalatnya menggunakan Al.
"Gue gak tahu, dan gue gak kenal sama anak itu"
Ibnu tertawa "El El, Lo itu pernah jadi petinju gue, gue tahu ekspresi mana yang bilang ya sama yang bilang gak" Ibnu mendekati El dan menyunggingkan senyum.
"Mau lo apa?" El maju selangkah
Ibnu menggeleng "gak sih, gue cuman nanya" Ibnu berlalu tapi tepat disebelah El dia tersenyum kecut "ngeliat ekspresi elo tadi, gue yakin anak ini bukan sekadar kenalan" dan Ibnu berlalu
Lelaki itu berjalan ke ruangannya, sebuah persegi empat yang dipenuhi Putung rokok, botol alkohol dan beberapa anak buah yang sedang menghitung pendapatan judi mereka.
"Okii, cari tahu mengenai El di sekolahnya di Jakarta" perintah Ibnu pada Oki.
"Siap bos" lelaki itu lantas menghadap layar monitor memeriksa semua data, baik media sosial, ataupun profil sekolahannya.
"Cari tahu ada hubungan apa El sama anak yang ada di foto ini" tukas Ibnu mendekati Oki.
__ADS_1
"Tugas dilaksanakan" Oki memencet keyboard dengan lihai. Lalu berhenti dan memberikan senyuman kearah Ibnu.
"Kita akan jadi orang kaya sekarang" ucap Ibnu lirih