AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Enam Puluh Enam


__ADS_3

Kau sudah menemukan rumah untukmu bertukar lelah disaat aku menganggap kamu sebagai rumah


⏳⏳⏳


Kepala El terasa begitu berat, dia berjalan keluar ruangan dengan berpegang pada dinding. Tatapannya kabur, nafasnya terasa sesak. Dia bersandar pada dinding begitu lama, El berusaha menghilangkan tekanan kepala yang tiba tiba menekannya begini. Namun kali ini dia tidak mampu membuka mata, tatapannya begitu menyulitkan.


"El" ada suara yang tidak asing, suara seorang laki laki.


"Lo kenapa men?" Tanya nya


El mendongak , melihat dengan tatapan mata kabur. Erik dan Ainun berdiri bersebelahan menatapnya. Lelaki yang bertubuh kekar itu lantas membantu El agar bisa berdiri dengan tegak, tapi lelaki keras kepala bernama El justru melepaskan bantuan Erik.


"Gue bisa sendiri" katanya menolak bantuan.


"Lo udah gila, muka Lo pucet kayak gini Lo bilang bisa sendiri" suara Erik menaik "Nun lo jagain El dulu, Abang mau panggil dokter Hari" Erik lantas pergi menuju ke ruangan dokter Hari.


"duduk dulu duduk" Ainun membawa El duduk di kursi tunggu. Ainun menyodorkan air mineral yang tadi berada di genggamannya.


"Nih minum, lo beneran gak papa?" Tanya Ainun memastikan saat melihat wajah El begitu pucat.


El menggeleng lalu memegangi kepalanya, rasanya begitu berat sampai dia tidak bisa melihat apapun, ada bagian yang menekan kepalanya. El menyenderkan kepala di bahu Ainun, dan perempuan itu hanya bisa diam memaku.


"Bentar aja" ucapnya berusaha menetralkan nafas.


El memandang arah depan, mencoba tidak membuat fikirannya kacau, mencoba tidak membuat nafasnya memburu.


⏳⏳⏳


"Al mau keluar bentar ya" katanya permisi pada Ivana dan yang lainnya.


Al buru buru pergi, karena belum sempat menanyakan keadaan El. Lelaki itu dimana sekarang, Al menyusuri lorong, hampir semua lorong dia lalui tapi tidak ada, ketika Al berjalan kearah lorong pintu belakang, langkahnya harus terpaksa dihentikan.


El yang didepan matanya sedang menikmati menyandar di bahu perempuan lain. El yang dia lihat saat ini sudah menemukan wanita yang dia sandari beban hidupnya.


Air mata Al menetes begitu saja, Al tidak bisa tegar masalah hati. Dia sudah memberikan hampir semuanya kepada El, dan lelaki itu tidak memberikan barang sedikit saja untuknya.


Al putar badan dan berlarian kembali keruangan mamanya Kharisma dirawat. Disana, begitu pintu digeser Al lantas mengambil tas.


"Al pulang dulu" ujarnya masih sesegukan.


⏳⏳⏳


Keadaan El sekarang dirasa sudah lebih membaik dibandingkan sebelum belumnya, dia menegakkan kepala dan menatap Ainun.


"Makasih udah minjemin bahu" katanya berjalan pergi begitu saja.


"Eh kan dokternya belum dateng" teriak Ainun yang tidak lagi di dengar El.


Tidak lama Erik datang membawa dokter langganannya, tapi disini hanya ada Ainun yang berdiri memaku dengan pipi merona.


"El nya mana?" Tanya Erik cengo

__ADS_1


"Udah pulang gitu aja, gak pamit lagi"


"Lah tuh anak bebal banget sih, udah di bilangin mau gue panggilan dokter malah cabut" Erik menatap dokter Hari.


"Maaf dok pasiennya udah kabur" katanya merasa bersalah


"Yasudah tidak apa apa, Ainun jangan lupa cake up Minggu depan, jangan lagi bolos" pesan dokter Hari sebelum pergi.


⏳⏳⏳


El berjalan keluar rumah sakit dan menemukan Al tengah berlari dengan air mata yang bercucuran. El tidak ingin menyia-nyiakan, ini saatnya dia menjelaskan apa yang perlu diperjelas selama ini.


Tangan El lantas meraih tangan Al dan menatapnya, air mata yang membasahi pipi itu, justru membuat El diam saja. Kenapa Al menangis?


"Lo_lo gak papa?" Tanya El bersiap menyeka air mata Al tapi lebih dulu tangan Al naik dan menyeka air matanya sendiri.


"Ada apa?" Tanya Al dengan suara tercekat


"Gue mau jelasin semuanya, tentang gue yang anak haram, tentang hubungan gue sama Kharisma"


"Gak perlu, Al udah tahu" air matanya masih banjir


"Gue minta maaf gak ngejelasin ke elo lebih awal, gue cuman takut__"


"Itu udah gak penting lagi buat Al, Al udah bukan siapa siapa El lagi sekarang"


"Maksud Lo?"


Bahkan bulatan mata yang hampir tidak pernah menggambarkan tangis itu justru membuat El merasa teriris. Mengapa kalau Al tidak membutuhkan apapun penjelasan dia harus menangis sederas itu? Apa yang membuatnya menangis?


"El gak perlu jelasin apa apa atau ngasih tahu ke Al lagi, karena El udah punya tempat buat El ngasih tahu semua beban El kan?"


El masih diam, mencernanya. Apa maksud kalimat Al barusan?.


"Dia pasti lebih baik dari Al" imbuhnya "Jangan lagi temui Al" ujarnya lantas pergi dengan air mata yang membanjiri pipi.


Kepergian Al membuat hati El teriris, dia merasa baru saja kehilangan separuh jiwanya. Apa kesalahan El yang bisa membuat Al menangis sehebat itu? Melihat mobil yang dikendarai Al bergerak pergi, El lantas ikut pergi dengan motor nya, dia pergi menuju gedung tua, melampiaskan semuanya disana.


Kemunculan El di gedung ternyata tidak pada waktu yang tepat, saat dia membuka pintu, Ibnu sedang menunggunya dan sudah memberikan pukulan pada semua petinju yang ada di markas. Mata hitam pekat Ibnu memandang El dengan sinis, lalu tersenyum miring penuh kekecutan.


"Dari mana Lo?" Tanya Ibnu


"Rumah sakit"


"Gue denger ada empat hari elo gak main tinju sama sekali, Lo mau main main sama gue?" Suara Ibnu menggema saat nadanya tinggi.


El hanya diam saja tanpa suara, percuma dia menjawab Ibnu, lelaki didepannya jauh lebih memiliki kuasa untuk itu.


"Gue kasih tahu, Lo gak bisa lepas dari cengkraman gue" Ibnu menepuk bahu El dengan keras "Ko sarung tinju"


Lelaki yang namanya disebut lantas memberikan sarung tinju yang langsung dipakai oleh Ibnu.

__ADS_1


Bugh


Tanpa aba aba wajah El langsung diserang oleh Ibnu dengan membabi buta.


"Lo tahu kan, gue paling gak suka petinju gue males malesan, setiap tetes darah adalah uang buat gue" Ibnu menarik keras El yang hanya bangkit tanpa ekspresi


Bugh


Pukulan terkahir membuat El terjatuh kelantai. Ibnu melepaskan sarung tinju dan mengajak petinju nya untuk pergi. El mendudukan tubuhnya, pukulan Ibnu benar benar payah, El tidak merasakan sakit apa apa.


"Lo gak papa?" Ginanjar mengulurkan tangan untuk membantu El bangkit.


"Maaf El, gue gak tahu kapan bang Ibnu sampai ke Jakarta"


El dan Ginanjar duduk di kursi penonton, menatap arah ring dengan kosong.


"Pasti karena bang Marko" suara El lemah. "Gue denger bang Marko nawarin petinju ke bang Ibnu" imbuhnya


"Gue juga sempet denger" Ginanjar menarik nafas "Dia udah gak punya petinju adalan makanya dia suka neken elo di Jakarta"


"Dia pengen gue ke Surabaya, dengan dia datangi gue ke Jakarta dan ngabisin gue, dia pikir gue bisa kembali ke sarang nya" tatapan El masih kearah depan.


"Dia cuman menginginkan uang"


"Gue bakal ke Surabaya bang"


Mendengar kalimat El, Ginanjar menoleh dengan terkejut.


"Lo gila, Lo tahukan Surabaya seperti apa, Lo sama aja mau jadi bonekanya Ibnu" Ginanjar berusaha menolak


"Setidaknya gue petinju asal Surabaya kan?" El menatap Ginanjar


"Ibnu akan nekan elo terus kalo elo disana, gue gak ngijinin" tolak Ginanjar


"Gue gak punya harapan lagi di Jakarta, Lo lihat kan, selama gue disini berapa kali gue di hajar sama bang Ibnu?, Kalo gue ke Surabaya gue emang di kontrol tapi gue, Erik dan elo gak akan di hajar bang Ibnu terusan"


"El, ini bukan masalah Simple, kalo elo sampe ke Surabaya semua waktu elo ada di ring, gimana sama sekolah elo?"


"Gampang" kata El menunduk


Hanya helaan nafas dari Ginanjar yang terdengar, baik El maupun Ginanjar masih menikmati diam hingga saat ini.


"Ibnu emang brengsek, dia selalu pinter manfaatin kelemahan anak anak terlantar, dia ngasih kehidupan layak buat Erik dan bantu pengebotan adiknya Erik, dia nyekolahin gue, dia minjemin duit buat pengobatan ibu elo" Ginanjar menjeda "tapi gak ada satupun dari kita yang berhasil lolos, kita udah terjebak sama pertolongannya"


El menarik sudut bibir "Gue cabut bang" El berdiri, mengulurkan tangan pada Ginanjar


"Besok gue berangkat ke Surabaya" kata El


"Lo serius?"


"Gue serius, bilangin ke Erik, makasih buat semuanya" El hendak berlalu tapi kembali berhenti "kalo ada yang nyari gue, bilangin Lo gak tahu apa apa"

__ADS_1


Dan lelaki itu hilang dibalik pintu meninggalkan rasa sedih di hari Ginanjar. Lagi pula untuk apa lagi El bertahan disini, dia sudah jenuh dengan keluarga barunya, dia jenuh dengan Glori , dia putus asa dengan sikap Al. Sekolah? Ah masa bodoh, sejak pertama lahir dunia memang tidak memihak nya kan.


__ADS_2