
Lebih baik nya masa lalu itu ditempatkan ke bagian yang lampau tidak perlu berjalan dan menghalangi jalan masa depan
⏳⏳⏳
"Al duduk sini" panggilan itu membuat Alriestella menoleh, dia tersenyum lebar apalagi yang sedang melambaikan tangan duduk di sudut meja dekat dengan dinding kantin adalah Ivana.
"El" Al memukul lengan El sehingga membuat lelaki berwajah dingin menoleh nya
"Duduk sana yuk, disitu ada Ivana" Al menuju ke arah meja di sudut.
Mata tajam El menatap Kharisma yang juga ada disana, kakinya enggan tapi entah kenapa tubuh El terasa lemah saat Al menarik untuk kearah sana. El hanya bisa pasrah apalagi begitu dia duduk dihadapan saudara tirinya yang mengaduk semangkuk bakso tanpa minat.
"Sen" Kharisma menaikan alis sambil diselingi tawa keduanya, seperti panggilan Kharisma tadi hanya untuk mengejek El.
"El ini" Al datang sambil membawa semangkuk bakso dan El hanya menatapnya
"Bucin banget sih elo, dikurang kurangin bentar lagi ujian" komentar Sena
Al hanya cengengesan saja tanpa membalas kalimat dari Sena, sedangkan Kharisma, bakso di mangkuknya hanya di aduk aduk sampai mabuk.
"Al Lo ikut acara camping gak?" Tanya Ivana disela mulutnya mengunyah nasi goreng.
"Ikut dong, soalnya acaranya se tahun sekali, kalau Al gak ikut kan sayang nanti gak ada yang nyanyi pas acara api unggun" jawab Al sepanjang rel kereta api.
Sena dan Kharisma tertawa saja. Ivana geleng geleng mendengar kalimat Al yang begitu panjang, perempuan yang kini memakan baksonya tersenyum saat mendengar reaksi temannya yang tengah menertawakan dirinya.
"Lo gimana El ikut gak, kasihan si Al kalau Lo gak ikut ntar gak ada objek bucin nya elo" kata Ivana
El mendongak, tanpa sengaja matanya dan mata Kharisma bertatap, ada arti dari pandangan menghunus milik Kharisma seperti dia membenci El yang selalu merepotkan keluarganya. Tentu saja biaya camping sangat mahal dari mana El mendapatkan nya kalau tidak dari Glori.
"Gak" jawab El kembali memakan bakso
"Ya sih gue gak heran lagi sama jawaban elo, soalnya elo kan antisosial" cibir Ivana tajam.
Al hendak menyahuti namun dari bawah meja El langsung menggenggam tangan Al seolah dari genggaman nya itu dia berkata "tidak apa apa". Al dengan lemah menatap bulatan mata El yang tidak sepakat sebelumnya. Dan hanya bisa menghembuskan nafas dengan pasrah karena tidak mampu membela pacarnya.
⏳⏳⏳
Al berdiri diatas panggung dengan menatap wajah satu persatu pengunjung cafe. Dia manggung sendiri, Ibrahim tidak datang lagi untuk manggung katanya kucing peliharaannya melahirkan
Sambil menarik nafas Al mulai mengetuk mikropone dan menggenjreng gitar. Lagu yang terpikir saat ini hanyalah lagu "kesayanganku", lagu soundtrak dari sinetron Indonesia, lagu milik Al Ghazali.
__ADS_1
🎶🎶🎶🎶
Dengarlah cinta
hatiku remuk redam
Jika tak ada kamu, menemani aku
Dengarlah cinta, ku memanggil namamu
Di setiap malam ku, ku memikirkan kamu
Aku sepi sepi sepi sepi jika tak ada kamu
Aku mati mati mati mati jika kau pergi
🎶🎶🎶
Lirik itu selalu mewakili perasaan sayangnya kepada El, bagaimana membayangkan saat wajah El mendekati dirinya di ruang ganti tinju, saat tangan kekar yang selalu bersikap kasar akhirnya mengelus telapak tangan Al dengan lembut.
🎶🎶🎶
Dengarlah kesayanganku, jangan tinggalkan aku
Dengarlah kesayanganku hidup matiku untuk mu
Kumohon pertahankan aku
🎶🎶🎶
Ya, Alriestella, usaha berkerja keras untuk meluluhkan kutub es sudah membuahkan hasil, meskipun kerap kali El masih bersikap seenaknya. Di akhri lagu yang Al nyanyikan rasanya El sedang ada disini menonton dirinya dari meja tempat mereka bertemu pertama kali.
Tepuk tangan begitu riuh disoraki para pengunjung. Saat Al meletakkan gitarnya, dia menarik nafas dan tersenyum. Al belum beranjak tapi ada seseorang yang menghampiri dengan sebuket bunga, orang itu yang kini tersenyum padanya.
"Happy failed Al" kata Kharisma mengulurkan sebuket bunga mawar pada Al.
Perempuan dengan dres mini, hanya menatap Kharisma tanpa mampu bergerak. Apakah ini hari jadi mereka dulu?.
"Pegel nih, cepet dong diterima bunganya" kata Kharisma membuat Al mengambil bunga
Para pengunjung yang semula di suguhkan dengan penampilan Al mendadak seperti tengah melihat tayangan romantis difilm, mereka bertepuk tangan dan bercie cie, sebuah budaya Indonesia yang tidak boleh pudar.
__ADS_1
Al berjalan bersama Kharisma kearah meja yang disiapkan Kharisma, lelaki dengan setelah kemeja rapi menarik kursi untuk mempersilahkan Al duduk, Al merasa canggung, tentu lelaki didepannya ini adalah mantan kekasihnya.
"Kharisma kok tahu kalau Al ada disini?" Tanya Al menutupi kecanggungannya
"Gue tanya sama Ivana tadi" Kharisma tersenyum "Lo gak lupa kan sama tanggal jadian kita dulu?"
Al diam saja, tidak lupa, justru Al sudah melupakan semua memori diingatannya dan sekarang semua sudah tergantikan dan dipenuhi oleh El.
"Itukan udah bagian dari masa lalu Ma, jadi Al udah gak inget, Al orangnya pelupa soalnya, kemarin aja Al lupa udah makan apa belum, padahal Al udah makan" Al mengakhiri dengan cengiran
"Gak papa kok, lagipula selama elo pacaran sama gue Lo gak pernah bahagia kan?"
Bahagia? Dulu pertama kali saat Al duduk di bangku kelas dua SMP, Al begitu menyukai lelaki dihadapannya ini, sungguh apalagi saat dia di tembak didepan kerumunan orang orang dengan sebuket bunga dan boneka beruang besar. Al tidak akan melupakan momen romantis untuknya, tapi bagaimana dengan penghianatan terkahir kali yang dilakukan Kharisma?
"Al" panggil Kharisma
"Eh iya" Al terperajat "Maaf tadi flasback bentar" kata Al
"Flasback soal apa?" Kharisma memancing Al dengab obrolan yang bisa membangkitkan kembali memori yang sudah mulai ditempati oleh El di hati Al.
"He he enggak kok" Al hanya menatap bunga berwarna merah ditangannya.
Terakhir kali Kharisma memberikan ini saat Valentine di semester dua, saat Kharisma Dengan penuh senyum memberikannya beserta es cream, waktu itu Al yang belum tahu apa apa merasa bahagia, apalagi Kharisma orang pertama yang mengajari apa itu jatuh cinta.
"Ma. Al mau pulang dulu, soalnya udah malam takut dicariin papa" kata Al buru buru berdiri
"Gue anterin ya" tawar Kharisma juga bersiap berdiri
"Gak usah, Al bisa jalan sendiri kok"
"Al ini udah malem, gak baik buat cewek kayak elo jalan sendiri"
Kharisma bahkan masih sehangat saat mereka berpacaran dulu, lihatlah lelaki yang kini sudah bersiap untuk mengantarkan.
Al mengangguk pasrah, dia berjalan mengambil bayaran manggung pada Welno tanpa menanggapi pertanyaan darinya lagi.
Dengan tas ransel berisikan buku sekolah serta seragamnya, Al berjalan kearah Kharisma dan duduk di kursi penumpang, selama perjalanan Kharisma seperti sengaja membahas masa di masa lalu, mengenai prilaku manisnya. Kharisma lupa ada bagian yang dia menggoreskan luka di hati Al, tapi bagian itu tidak di ceritakan oleh Kharisma, seolah lelaki itu sudah lupa pernah membuat Al menangis selama tiga hari berturut-turut.
Sampai didepan rumah Al, mobil sedan bewarna hitam itu berhenti, Al melepaskan seatbelatnya, lalu tersenyum kearah Kharisma.
"Makasih ya Kharisma" ucap Al bersiap membuka pintu tapi tangannya ditahan oleh Al.
__ADS_1
Lelaki yang mengenakan kemeja rapi itu menatap Al dengan tatapan manis lalu mengusap rambut Al. Sebuah kecupan hangat mendarat di dahi Al yang membuat Alriestella melongo.
"Good night my princess, have A nice dream" ujar kharsima dengan romantis.