AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Keenam


__ADS_3

"Selalu ada kebaikan yang ditinggalkan setelah kejahatan terjadi"


Karena pulang terburu buru semalam, meninggalkan rasa sakit ditempat gelap itu. Pagi pagi Al kembali ketempat itu, dengan seragam sekolah yang sudah melekat di tubuh. Masalah Jovan dia beralasan akan pergi kesekolah dengan Ivana.


Al berjalan sedikit pelan, menuju gedung tua yang saat pagi tidak terlalu menyeramkan. Dia berjalan pelan, membuka pintu tua dan sedikit melihat sarang laba laba tergantung di sudut ruangan.


Sepi, pertama kali yang dia rasakan adalah itu. Dia berjalan mendekat ke pintu ring. Langkahnya terpaksa berhenti, mendengar suara ricuh dari arah depan.


"Gue kan udah bilang, kalau hutang harus dibayar"


Suara itu berat, tidak ada unsur bersahabat sama sekali.


"Gue bakal bayar semuanya"


Al ingin lebih mendekat kepintu, tapi dia masih takut. Memilih berdiri mematung dipintu saja, sampai pintu terbuka. Al terperajat, ketika melihat sosok El yang berdiri dengan iris hitam yang tidak terlalu dalam


"Elo lagi" adalah kata sapaan yang dituturkan El.


Al nyengir, tentu saja dia senang bertemu El sepagi ini.


"Pagi El"


Seperti tidak ada masalah sebelumnya, Al masih bisa tersenyum, tidak keberatan jika hari ini dia akan dicampakan oleh El lagi.


"Berapa kali sih gue bilang jangan ikuti gue?" intonasi suara El memberat, rahangnya mengeras.


"Al gak ngikuti El kok"


"Lo bego, lo budeg, apa omongan gue semalam gak cukup buat nyadarin elo?"


Kali ini diluar bayangan Al, kemarahan El terlalu berlebihan. Al berusaha menjelaskan kalau kedatangan dia untuk mengambil gitar yang tertinggal di dalam.


"Al kesini bukan nyari El, Al nyari gitarnya Al yang ketinggalan"


Dengan susah payah Al menjelaskan.


El mendegus, masuk kedalam dan keluar dengar tas gitar warna hitam


"Lo nyari ini?"


El menjinjing tas gitar Al. Gadis itu mengangguk senang, binar matanya terlihat memancarkan kebahagian.

__ADS_1


Brakkk


Oh tidak, gitar kesayangan Al harus terbanting ketanah. Al menganga, tidak terima dengan sikap berlebihan El.


Ingin mengambil gitar yang jatuh dilantai, El justru menginjaknya, terkahir melempar lebih jauh.


"Ellll" suara Al terdengar mendayun, seperti ingin menangis.


"Al kesini cuman mau ngambil gitar bukan nemuin El"


Nafas El masih memburu, dia menarik sudut bibir. Tersenyum kecut, senyum yang menjijikan


"Sekarang elo tahu kan siapa yang elo sukai" dia mendorong bahu Al, membuat gadis itu jatuh kelantai.


"Sekarang elo jauhi gue"


El berlalu, tanpa meminta maaf, tanpa mengucapkan kata apapun yang bisa menenangkan Al.


Al menangis, membuka tas gitar miliknya, memandangi benda kesayangan itu.


Sudah hancur, bahkan tidak berbentuk dimana bagian tabung sudah remuk. Al menangis, tidak tahu lagi bagaimana membalikan semuanya.


Dia memandangi gitar itu, menyeka air mata, dan berusaha meredakan tangis. Sesuatu benda putih terurur di depannya. Sebuah sapu tangan.


Itu suara El, lelaki yang memaki maki dirinya memberikan sebuah sapu tangan. Kemudian dia pegi, tanpa kata, tanpa apapun. Meninggalkan Al yang hanya menatap kepergian El sedirian.


Entah kenapa kedatangan El seperti cahaya untuk Al, dia menyeka air mata, menyimpan sapu tangan ditas, membawa tas gitar. Kemungkinan gitar ini akan dai titipakn dicafe Welno sebelum pergi kesekolah.


Hampir tiga puluh menit dia menitipkan gitar, menerima banyak pertanyaan seputar kondisi gitarnya. Akhirnya Al sudah ada di sekolah, untungnya kedatangan dia tidak terlambat.


Dikelas, El duduk menatap buku catatan, membaca tiap kata, mencoret dan mengerjakan soal soal yang belum di kerjakan.


Arnol mengintip, memberi kesan risih pada El.


El menoleh, menghadiahi tatapan tidak senang yang terlalu dia perlihatkan.


"Sorry" ujar Arnol tidak enak.


Al, gadis yang dia maki maki tadi pagi masuk kedalam kelas dengan wajah cerah, mungkin tidak seperti hatinya.


Al berjalan kearah El, memberikan sebuah roti dan air putih, memberikan sapu tangan tadi pagi.

__ADS_1


"El dimakan rotinya, jangan lupa minum, semangat belajar" katanya


Tidak, Al tidak bisa marah pada siapapun, termasuk El. Keistimewaan Al yang luar biasa. Dia selalu bisa memaafkan siapapun, tidak terkecuali Leo, pamannya.


El melirik Al lalu berpindah menatap bungkus roti dan air putih. Dia berdiri membawa air putih dan roti yang diberikan Al. Tujuannya adalah kotak sampah.


Brakk


Dua benda itu sudah masuk kedalam kotak sampah, tidak ditolehnya atau tidak disesalinya sama sekali.


Mungkin Al tidak tahu, atau dia pura pura tidak tahu.


Kembali duduk dan menunggu guru yang akan mengisi kelas.


Hari ini pelajaran matematika, pelajaran yang membuat Al bisa mersakan kantuk sepuluh kali dibandingkan mata pelajaran yang lain.


Al merapikan buku, membuka buku paket dan meneliti tugas yang diberikan bu Anita barusan.


"Ih nyebelin deh si X, kenapa dia pakek ngilang segala, kan si Y ikut ikutan" Al berdecak dari arah samping membuat Ivana menoleh.


"Kenapa lo?"


"Ini, lagi sebel sama X kenapa dia pakek acara ngilang segala, kan si Y kasihan, dia nyariin"


Ivana menggeleng, meladeni Al memang harus membutuhkan kesabaran. Al masih mencoret coret buku, mencari nilai X yang hilang. Sebanyak apapun dia mencari rasanya si X tidak akan pernah dia temukan.


"Ada yang sudah selesai?" suara bu Anita membuat semua siswa mendongak.


"Saya"


Fokus Al langsung teralihkan. Lelaki itu berdiri, merapikan rompi dan celana, maju tanpa sebuah buku.


"Silahkan El"


Bu Anita memberikan spidol, El maju kedepan menyelesaikan tiga soal dalam waktu sepuluh menit. Seperti menyalin ,dia begitu cerdas.


Al menyangga dagu dengan dua tangan ,mengedipkan mata sambil menarik sudut bibir.


"Tu kan Al gak salah pilih pacar"


"Calon pacar" koreksi Ivana

__ADS_1


"Sebentar lagi El bakal jadi pacar Al kok"


__ADS_2