
Dunia akan terasa baik baik saja asal kamu ada disini , dipelukanku
⏳⏳⏳
Setelah Glori pergi, Kharisma menenteng paperbag dan meletakkan diatas meja. Kedatangan Kharisma ditatap kosong oleh El. Bahkan El tidak berniat bertanya kedatangan Kharisma sama sekali setelah berdebat dengan Glori tadi. Dirumah sakit yang berbau obat obatan ini semakin membuat El merasakan stres yang menekan otaknya.
El menarik nafas, apalagi melihat Kharisma duduk di kursi samping brangkarnya, sesuatu yang semakin terasa aneh, apa dirinya mengindap penyakit hingga orang orang bersikap baik padanya?
"Papa emang kayak gitu kalo ngomong" adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Kharisma "dia gak pernah minta maaf, Bahkan atas kesalahan yang dia sadari" imbuhnya
El hanya menatap arah depan tanpa memperhatikan Kharisma lebih jelas, dia tidak berniat menjawabnya. Ada hening yang lama, baik Kharisma dan El sama sama bungkam, mungkin canggung, yah mereka adalah dua orang yang sering bertengkar dan saling membenci dulu.
"Gue pergi dulu" akhirnya Kharisma bangkit , dia berjalan selangkah dan menoleh ke arah El
"Cepet sembuh, gue tunggu Lo main PS di kamar gue" katanya langsung berjalan pergi.
El menatap punggung Kharisma yang menjauh, ada yang menghangat dihatinya, aneh, kenapa semua tiba tiba baik padanya?
⏳⏳⏳
Kursi El didorong oleh Arnol ketaman rumah sakit, menatap rumah sakit Surabaya tempat ibunya meninggal dulu membuat El merasakan duka bertahun tahun kembali lagi. El menoleh kekanan dan kiri, udara sore hari berhembus mengenai wajahnya, El menghirup udara sangat dalam.
"El gue tinggal bentaran ya, gue pengen kencing" Arnol melangkah kan kakinya tapi sebelum pergi dia melambaikan tangan ke arah Ainun
"Eh Nun jagain si El tolong, gue takut dia di culik lagi" dan Arnol pergi begitu saja
Ainun mendekati El, mendorong sedikit kursi roda yang di duduki kearah bangku taman rumah sakit, Ainun duduk di bangku itu sambil menatap El yang terus menatap langit.
"Seneng banget sih sama matahari yang mau tenggelam" ledek Ainun
El menoleh nya, menatap Ainun tanpa minat sama sekali.
"Erik sama bang Ginanjar kemana?" Tanya El
"Masih di kantor polisi, kayaknya mereka bakal keseret juga sama kasus ini" Ainun menarik nafas
"El" panggil Ainun yang di toleh El dengan sebelah alisnya
"Lo kenapa sih gak pernah cerita tentang masalah elo ke orang?" Ainun mengibaskan lima jarinya "maksud gue gini, elo pastinya punya temen dari kecil, kenapa elo gak berbagi sama dia? gue tadi denger cerita tentang elo dari Abang gue, dan gue gak habis pikir kenapa elo sekuat itu"
__ADS_1
El menarik sudut bibir, amat jelas hingga membuat Ainun tersedak oleh senyum tiba tiba yang dipancarkan oleh El itu.
"Gue gak punya temen" ujarnya terdengar miris "siapa juga yang mau temenan sama anak haram kayak gue?" El menatap bola mata Ainun, dan perempuan berambut sebahu itu gelagapan ditatap dengan bola mata seteduh itu.
"Yah kan eee, eLo bisa cari tempat curhat" katanya "melalui tulisan contohnya"
"Gak semua orang pinter nuliskan?"
"Tapi mending jadi anak haram Lo El ketimbang gak jadi anak sama sekali"
El menoleh mendengar kalimat Ainun yang terasa janggal, maksudnya tidak jadi anak seperti apa? Perempuan itu melempar pandangannya jauh menembus kumpulan awan sore, menghirup dalam dalam udara rumah sakit yang hampir seperti bau alkohol.
"Setidaknya Lo tahu, Lo anak siapa, Lo kenal ibu elo, Lo kenal bokap elo, ketimbang gue sama bang Erik" Ainun memindahkan pandangannya ke wajah El "Gak ada diantara kami yang tahu orang tua kami siapa? Sejak kecil kita cuman tahu kenyataan kalau kita dititipin di panti asuhan, tanpa tahu gimana wujud orang tua kita" Ainun tersenyum
"Yang gue dan bang Erik tahu cuman, kita tumbuh di satu lingkungan yang sama, kita tumbuh sebagai anak yang gak pernah ngenal orang tuanya dan gue tahu kalau gue udah mengindap asma dari kecil, Lo harus nya bersyukur"
El menatap wajah Ainun yang kini berkaca kaca, sebentar lagi air mata itu akan terjun bebas ke pipi mulu Ainun, dan El tidak menginginkan hal itu terjadi, baginya melihat perempuan menangis sama saja melihat ibunya bersedih, El tidak suka itu
"Setiap orang punya beban masing masing, Lo, gue , Erik semuanya punya penderitaan sendiri sendiri" kata El menenangkan, El tidak pandai menghibur hanya bisa melemparkan senyum sembari memberi tatapan seteduh mungkin.
"Yah gue jadi curhat" Ainun menyeka matanya yang berkaca-kaca .
"Iya sih, tapi malu gue jadi mellow gini ha ha" Ainun tertawa diujung kalimat "mau jalan jalan ke arah sana gak? Ngeliat anak anak kecil"
Ainun sudah berdiri dibelakang El dan mendorong lelaki itu, ketempat taman yang dipenuhi anak anak, melihat rumput berwarna hijau, dengan para orang tua yang sedang menjaga anak anak mereka. Dorongan Ainun terhenti, saat melihat pasangan suami istri sedang duduk dan berbagi roti.
"Mesranya" komentar Ainun tanpa sadar
"Lo pengen?" Tanya El
"Pengen, tapi sama orang yang gue sukai" Ainun menatap mata El sambil duduk di kursi taman bersebrangan dengan pasangan suami istri yang saling menyuapi roti
"Cepet nikah" El tersenyum menggoda
"El, gue boleh nanya gak?"
El menaikan alisnya, memangnya bertanya sesuatu harus membutuhkan izin?
"Tanya apa?"
__ADS_1
"Salah gak kalau cewek ngungkapin perasaannya duluan?" Mata Ainun masih menatap bulatan hitam milik El, begitu dalam dan dengan perasaan lembut
Memangnya mengungkapkan sebuah perasaan memerlukan peraturan. El membalas tatapan Ainun dengan begitu lekat, apa yang salah dari mengungkapkan perasaan?.
"Menurut gue gak ada yang salah, sejak awal perasaan hadir dia gak pernah bawa peraturan siapa yang berhak mengungkapkannya lebih dulu, cuman gengsi yang kadang nahan kita buat jujur" El menjedanya "Perasaan itu kan punya elo, jadi udah hak elo mau ngungkapin atau gak, beda ceritanya kalo perasaan itu punya orang lain, Lo gak berhak ngungkapin perasaan dia"
⏳⏳⏳
Al yang sedari tadi berjalan mencari keberadaan El menoleh kekanan dan kiri, hingga langkahnya terhenti ketika melihat senyum dari bibir El dan Ainun terbit di wajah keduanya bersamaan.
Aneh, ada yang menohok di hati Al, rasanya begitu menyakitkan, dan Al tidak menyukai saat senyum manis itu harus terbit hanya untuk Ainun bukan untuk dirinya.
"Elll, Al nyariin dari tadi" Al lekas berjalan mendekati El, perempuan itu langsung berdiri dibelakang El.
"Lo dari mana aja sih?" Tanya El menoleh kearah Al.
"Dari kantor polisi, ngasih kesaksian" Al memaksakan tersenyum kearah Ainun "makasih ya Ainun udah jagain El, sekarang biarin Al aja yang jagain El"
Perempuan itu berdiri dari duduknya dan menarik senyum paksa. Ainun mengangguk lemah sambil berjalan pergi, sebelum pergi dia melemparkan senyum kepada El yang dibalas lelaki di atas roda itu.
Al mendorong El setelah Ainun pergi, dia mendorong untuk kembali keruangan dimana El dirawat disana.
"Tadi Ibnu marah marah pas diintrogasi" cerita Al ke El.
El hanya mengangguk, hingga kursi roda yang didorong Al berbelok ke kamar El.
"Dia minta Om Glori bayar semua hutang hutang El, masak hutangnya udah jadi 1 triliun, kan Ibnu gila" cerocos Al yang membuat El tersenyum karenanya
Al membantu El untuk pindah ke brangkar, lalu memindahkan selang infus.
"El udah makan?" Tanyanya
El mengangguk sambil tatapan matanya tidak berpindah pada Al, wanita dengan wajah mungil, bibir tipis, alis tebal, dengan bola mata hitam kecoklatan yang terlihat begitu riang.
"Yah padahal Al pengen nyuapin El" wajah Al sengaja ditekuk hingga El tersenyum karenanya.
Al berniat pergi mengambil buah tapi tangannya ditarik oleh El dan di bawa Al kedalam pelukan hangat lelaki itu. Al membalasnya melingkarkan tangan ke dalam tubuh El.
"Gue kangen sama Lo" adalah kalimat yang hadir sebelum El membenamkan kepalanya kedalam tekut Al, menghirup aroma gadis itu hingga membuat Al merinding karenanya.
__ADS_1
Pelukan itu semakin erat, Al merasakan sangat nyaman berada ditempat ini begitu pun El, lelaki itu merasa semua nya sudah menjadi baik baik saja asal gadis ini tetap berada di pelukan El.